Love In Silent

Love In Silent
Harapan


__ADS_3

Pagi telah pergi sedangkan mentari telah menghilang dan tak bersinar lagi, dimalam yang sesunyi ini aku duduk sendiri sambil menatap bulan yang melingkar indah di gelapnya malam, andaikan malam yang sunyi seperti ini dapat bicara mungkin aku tak akan kesepian sendiri. kesetiaan yang aku miliki tidak akan pernah memudar oleh waktu dan kerinduan ini kepadanya tak akan pernah berhenti karena cinta ini tak terbataskan oleh waktu, mungkin tidak akan ada lagi selain dirinya yang mampu mengisi kekosongan hati ini lagi, seperti ibaratnya sebuah sungai yang kering dan tak air sedikitpun menantikan hujan yang turun dari langit untuk membasahi tanah, begitu aku sendirian tanpa ada seorangpun yang menamaniku.


kini akhirnya aku menyadari kalau dia telah pergi meninggalkan aku sendiri disini, adakah kisah cintaku yang seperti dulu akan terulang kembali, hati ini tak mampu berbohong kalau hanya mas hajunlah yang aku cintai dan akan selalu aku kenang di dalam hati.


betapa aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, dan betapa aku menyayanginya lebih dari yang dia tahu, aku masih ingin bahagiakan dirinya setiap saat bersamaku, seperti janjiku kepadanya dulu dan aku tak akan pernah mungkin mau mengingkarinya, lalu aku akan selalu ada di dekatnya dan aku akan selalu menemani hari harinya.


tapi semua janji itu kandas ketika wanita itu hadir diantara kita berdua, mengapa semua ini harus terjadi pada diriku, aku masih belum percaya kalau dia telah mendua dengan wanita itu, haruskah aku pergi tinggalkan dunia ini agar dia bisa hidup bahagia bersama wanita itu dan agar aku bisa melupakan dia seutuhnya.


entah sampai kapan aku harus terus terusan mengingat tentang dirinya, dan ketika hal itu terjadi aku hanya bisa diam dan menggenggam serta menahan sejuta kerinduan ini yang terus memanggil namanya di setiap malam, aku ingin dia datang dan hadir di mimpiku karena aku sangat merindukannya, meski hanya mimpi ataupun ilusi apakah itu semua bisa terjadi ? entahlah aku sendiri pun juga tak tahu.


dan mungkin waktu akan menjawab pertemuan aku dan dirinya, karena hingga sampai kini aku masih ada disini, hatiku tak bergerak sama sekali meski ragaku telah pergi jauh darinya.


dan bayangannya akan selalu bersandar di hatiku meski aku sudah menutup kedua mataku dari semua pandanganku, dan mungkin bila aku melihat kembali kedua matanya, aku yakin di sana pasti masih ada sebuah cinta ketulusan hati yang mengalir lembut, andaikan aku bisa lebih adil pada cintanya dan dia, maka aku ingin membiarkan hidupku yang seperti ini, karena takdir cintaku memang harus seperti ini, adanya kau dan dia bukanlah aku yang mau, lantas mengapa kau harus melepaskan aku dan memilih dia yang hanya datang lalu merusak hubungan kita bagaikan seekor hama yang datang merusak tanaman.


hidup terkadang sulit sekali diterka akan kemana membawa takdirku dan akan kemana arah yang harus aku tempuh, bila saja segala rencana berjalan apa adanya, walaupun tidak akan mudah untuk bertahan, aku tetap akan menolak kalah dengan keadaan, meski tidak ada seorangpun yang akan menjaminku disini, esok hari aku pasti masih akan melihat mentari dan harapan tak akan mati, karena aku percaya meski dalam gelap sinar akan menyala dan harapan pasti akan ada.

__ADS_1


selama tali harapan terikat di hati tidak akan mungkin aku mau berhenti mengarungi derasnya hidup ini.


karena kini baru aku sadari bahwa cinta bisa hadir kapan saja tanpa disadari dan dengan perlahan tapi pasti merasuk di jiwaku ini, seandainya cinta ini tidak pernah terjadi, mungkin tidak akan ada pula air mata yang mengalir dan hati yang perih terluka.


***


tak terasa waktu berjalan sangat cepat hingga tak ku sadari sudah lebih tiga bulan aku menetap di kota ini, keseharianku saat ini adalah berjualan jamu seduh di pasar setiap pagi, dengan keadaan perutku yang mulai terlihat jelas semakin membesar karena usianya yang sudah masuk 4 bulan dan jalan 5 bulan, tidak sedikitpun mengurangi rasa semangatku menjajakan jamu keliling di pasar sampai habis, terkadang orang orang membeli jamuku hanya karena merasa iba saat melihatku, namun tak jarang pula beberapa orang yang sudah menjadi pelanggan setiaku membeli jamu seduh yang aku buat setiap harinya, tak heran kalau jamu yang aku jajakan setiap pagi selalu habis di serbu para pelangganku. mempelajari dan mempraktekkan ilmu tentang jamu yang aku dapatkan dari nenek tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses yang panjang untuk aku bisa menirukan rasa dan aroma yang sama dengan jamu warisan mendiang nenekku, meski demikian usahaku ternyata tidak sia sia, karena kini aku sudah menemukan banyak pelangganku di pasar, dan rencananya aku masih mengumpulkan dana untuk merintis sebuah toko atau kios sederhana untuk usaha jamu yang sudah aku buat.


"mbak seng alon alon, lemahe lunyu ntesan udan !" ujar salah satu pedagang pasar yang mencoba menyapaku


"iya bu !"ucapku menyahutinya


"sampeyan iku wong wes meteng gede lha yo mbok ng umh bae ora susah dodol jamu ider koyo ngunu !"ujarnya lagi


*kamu kan masih hamil dan perutmu juga sudah membesar kenapa tidak di rumah saja, tidak usah berjualan jamu keliling seperti itu !

__ADS_1


"enggak bisa bu ! saya tetap harus kerja untuk menabung biaya persalinanku nanti !"


"ora khawatir ngunu bayimu mbok mko kenpo kenpo pie !"


*apa kamu tidak khawatir dengan bayimu, takutnya terjadi apa apa nanti !


"inya allah aman bu !" balasku


"lha bojomu neng ndi tah nduk ?!"


*memangnya "wes pirang zuine nang kene nduk ?"


*sudah berapa lama kamu tinggal di sini nak !


suamimu dimana nak ?!

__ADS_1


seketika aku terdiam dan tidak bisa membalas kata kata ibu itu, sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah tersenyum tipis kepadanya, namun hebatnya si ibu langsung tahu meski aku tidak berkata apa apa dan hanya mengekspresikan dengan mimik wajahku. dia langsung bisa menebak kalau aku sudah bercerai dengan suamiku, memang ya ucapan orang tentang orang jawa di kampung itu benar adanya, kebanyakan orang kampung itu lebih peka dan Sangat sensitif dengan perasaan hati atau kehidupan orang lain. buktinya sekarang aku baru saja merasakannya, padahal bertemu dengan ibu itu adalah untuk pertama kalinya dan hanya beberapa menit saja aku baru saja mengobrol dengannya namun semua itu terasa seperti dia sudah mengenalku selama setahun ketika kami mengobrol. meski aku tidak pandai berbicara bahasa jawa, tapi aku sudah bisa mengartikan jika seseorang berbicara padaku meski pelafalannya masih terbilang cukup rendah sekali, namun sedikit sedikit aku bisa untuk kosa kata yang mudah mudah saja.


__ADS_2