
perlahan aku berjalan mendekati suamiku yang sedang berdiri tak jauh dariku sambil menggosok gosokkan sebuah handuk pada rambutnya yang basah.
"kenapa ? kamu marah ?"
"tidak, aku tidak marah pada anda, tapi setidaknya jika anda masih punya hati nurani, maka lepaskan aku dan biarkan wanita itu memiliki perasaan anda seutuhnya !" ucapku geram pada mas hajun yang saat ini sedang menatapku dengan kesal.
aku sengaja menghampirinya dan mengatakannya tepat di depan wajahnya agar dia tahu seberapa besar aku menyimpan rasa jengkel ini di balik kesabaran yang selama ini selalu aku pertahankan.
"mau kemana kamu ?!" bentak mas hajun mencegahku dengan menarik tanganku
"lepas !"
"jelaskan dulu apa maksud dari perkataanmu itu padaku !"
"bukankah sudah aku katakan dengan jelas tadi ? aku menunggu keputusan dari anda, kapanpun jika anda akan melepas kepergian saya, saya akan terima apapun keputusan itu !"
"baik ! kalau itu maumu !"teriak mas hajun, namun aku masih terus berjalan meninggalkan rumah meski mas hajun sedang meneriaki diriku yang sudah berjalan keluar, aku pergi dari rumah untuk sementara waktu demi menenangkan pikiranku yang sudah terasa sangat kalut, aku berjalan dan terus berjalan tak henti tanpa ada satu tujuan yang ingin aku datangi, hingga tibalah langkah ini menuntunku ke sebuah perpustakaan yang cukup besar, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalamnya dan sedikit menghangatkan tubuhku yang sudah merasa kedinginan sajak tadi. Begitu aku masuk tanpa di sengaja aku bertemu dengan rekan lama di kantor dulu.
"oh kak mira !"ucapnya seraya menepuk pundakku
"yumi ! sedang apa kamu disini ? bukankah ini masih jam kerja ?"
"ah aku sudah tidak berangkat lagi ke kantor kak !"
"loh kenapa ?"
"aku sudah lama keluar dari pekerjaaan itu !"
"apa terjadi sesuatu ?"
"tidak kok semuanya baik, hanya saja ini sekedar alasan pribadi !"
"oh .. "
"kakak sendiri sekarang bekerja dimana ?"
"aku .. hmm yah masih menganggur !" ucapku sedikit malu
__ADS_1
"ah begitu rupanya !"
"iya .. itu juga karena alasan pribadi !"
akhirnya dari percakapan yang sedikit canggung itu aku menghabiskan waktu dengan yumi sebagai sesama pengangguran di perpustakaan sepanjang hari, setidaknya perbincangan itu terasa sangat menyenangkan bagiku dan lumayan sekali bisa menghibur diriku yang sedang tidak baik baik saja saat ini.
"kalau begitu saya pulang dulu kak !"
"iya berhati hatilah di jalan !" ucapku sambil melambaikan tangan
"kalau ada waktu besok datang lagi ya kak, temani aku membaca buku di sini !"
"iya tentu !" ucapku sambil tersenyum melihat tingkah lakunya yang lucu, entah mengapa saat melihat yumi aku teringat dengan intan teman lamaku saat di sekolah dulu, dia orang yang sangat ceria dan penuh semangat semoga saja anak itu bisa segera mewujudkan impiannya menjadi seorang penulis di masa yang akan datang.
***
sinar mentari kembali menyapaku pagi ini, namun rasanya aku enggan sekali untuk segera beranjak dari tempat tidurku, sepulang dari perpustakaan dengan yumi semalam, aku langsung tertidur dengan pulas karena tubuhku terasa sedikit kelelahan, meski saat ini kondisiku sedang tidak baik baik saja, aku masih memikirkan perut mereka berdua yang saat ini tengah tertidur pulas, aku bukanlah orang egois yang membuat perutku kenyang sendirian dan membiarkan mereka kelaparan di pagi hari.
Sebelum mereka berdua bangun dari tidurnya aku segera menyiapkan sarapan simpel untuk mereka nikmati bersama, tak lupa dua gelas susu hangat juga aku hidangkan di atas meja makan, setelah semua tersaji di meja makan aku kembali ke kamarku untuk mengambil istirahat.
"sayang ayo turun aku sudah siapkan sarapan buat kamu !" terdengar min sera dengan pede mengatakannya dengan lantang dari arah meja makan, meski aku memejamkan mataku serta diam di dalam kamar namun aku masih bisa mendengarkan semua suara yang ada di sekitarku dengan jelas, aku juga bisa mendengarkan percakapan mereka saat sedang menyantap sarapan yang aku siapkan tadi.
"iya .. sayang, cobalah !"
"kamu .. darimana bisa tahu kalau aku selalu sarapan dengan sandwich !?"tanya mas hajun sedikit heran
"hm ? .. itu aku tahu dari kebiasaan kamu !"
"kebiasaanku ?"
"iya kamu kan selalu bawa sandwich ke kantor setiap pagi, iya kan ?!"
"hmm iya sih, tapi bagaimana kamu bisa tahu, kamu kan "
"itu bukan hal penting kan, yasudah yuk kita sarapan sekarang !"ajak min sera
ternyata mas hajun begitu gampangnya dan mudahnya percaya dengan apa yang diomongkan oleh min sera sekarang, padahal saat ini dia hanya sedang membual dengan sarapan yang aku siapkan tadi pagi.
__ADS_1
"sayang nanti aku berangkat ke kantor bareng kamu saja ya !"
"aku tidak bisa, sebaiknya kamu berangkat sendiri, karena aku ada keperluan mendadak sebelum pergi ke kantor !"
"keperluan mendadak ?! memangnya keperluan apa ?"
"sekedar urusan kantor !"
"urusan apa ?"
"kamu tidak perlu tahu urusanku !"
"kalau begitu aku akan tetap ikut denganmu, aku bisa menunggumu di dalam mobil, lagi pula di kantor ayahku sedang tidak terlalu banyak pekerjaan hari ini !"
"lebih baik kamu berangkat sendiri, karena aku akan sangat lama !"
"tapi sayang .. aku tidak masalah jika harus menunggu .. "
"aku akan suruh sekertaris kang untuk menjemput kamu sekarang !"
saat percakapan itu berhenti seketika suasana kembali hening dan saat aku hendak bergerak serta bangkit dari tempat tidurku, tiba tiba aku melihat mas hajun sudah ada di dalam kamarku, "astagfirullah ! kamu itu sudah seperti setan saja yang tiba tiba muncul !"
"kamu kenapa ? sakit ?"
"kamu peduli sekarang ?"
saat ini dia tengah berdiri di depan pintu sambil memandangiku yang sejak tadi berbaring di tempat tidur.
"ada apa ?"ucapku sambil menyibak selimut
"aku kira kau sudah mati karena tidak bergerak sedikitpun sejak tadi !"
"katakan saja apa maumu !" ucapku agak ketus "roti sandwich itu .. apa kamu yang membuatnya ?" entah kenapa rasanya aku malas untuk menanggapi pertanyaannya.
"kenapa diam saja !"
"kalau kamu sudah tahu jawabannya untuk apa bertanya padaku !" ucapku cuek, lalu tanpa berkata apapun dia pergi begitu saja sambil membanting pintu dengan keras
__ADS_1
"dasar orang aneh !"ucapku ngedumel
lama kelamaan aku mulai merasa pusing, segera setelah aku mengambil air putih, aku langsung pergi dari rumah dengan berjalan kaki menuju ke jalan raya, sayangnya jarak antara rumah sakit dengan rumahku menempuh perjalanan yang lumayan agak jauh, namun tidak mungkin juga aku menelfon mobil ambulance untuk menjemputku dari rumah, yang ada aku pasti sangat malu karena mendadak mobil ambulance berhenti di depan rumah, akhirnya aku sedikit paksakan tubuh ini agar aku bisa sampai di rumah sakit, sesampainya di tepi jalan aku langsung menghentikan taksi agar lebih menghemat waktu serta tenaga.