Love In Silent

Love In Silent
Happily Ever After


__ADS_3

... Di tempat lain ...


Seorang pemuda berambut merah duduk di kantin sebuah universitas ternama di kota Arasen, pemuda tersebut tengah menyantap makan siang, sesekali matanya melirik ke arah buku yang terbuka di atas meja.


"Kau belajar terlalu keras saudaraku," ucap pemuda dengan warna rambut yang sama serta wajah begitu mirip, tapi wajah pemuda tersebut jauh lebih manis.


"Kau sudah selesai, Gari?" tanya pemuda yang lebih tampan.


"Hn, sudah kubilang kau tidak sepintar suami Ayana, walaupun dia bisu tapi dia itu sangat pintar," ucap Gari.


"Bodoh! Apa hubungannya aku yang sedang belajar dengan si bisu itu?" jawab Nara dengan tatapan kesalnya.


"Ayana- ...," ucap Gari dan Nara semakin tidak mengerti dengan ucapan kembarannya itu.


"Ayana tidak memilihmu karena kau tidak pintar seperti si bisu, Sky."


"Ck, maksudmu si keras kepala sombong itu? Kau ini saudaraku atau bukan?" kesal Nara pada Gari, "tapi bicara tentang Ayana, bagaimana kabarnya, ya? Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengannya." Tatapan Nara menerawang.


Gari mentertawakannya. "Bagaimana kalau kita berkunjung saja?" ajaknya pada Nara.


"Kita pikirkan nanti! Aku mau ke perpustakaan untuk mengembalikan buku ini," ucap Nara, pemuda itu beranjak dan mulai membereskan buku-bukunya, dia bermaksud melangkah tapi kejadian tidak terduga terjadi pada pemuda tersebut.


BRUK ...


Semua buku yang dibawa Nara berjatuhan, baru saja dia bertabrakan dengan orang lain yang membuat keduanya terjatuh.


"Ya ampun, maafkan aku, tadi aku sedang buru-buru, apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang baru saja bertabrakan dengan Nara dan suara tersebut milik seorang gadis.


"Tidak apa-ap- ...." Nara mendongakan kepalanya, dan dia sangat terkejut, tatapan pemuda itu terpaku pada sosok gadis yang sedang mengambil buku-bukunya.


"Sekali lagi maafkan aku!" Gadis tersebut membungkukan tubuhnya disertai sikap gugup dan jangan lupakan rona merah di wajahnya.


"Sudahlah tidak apa!" ucap Nara, pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hai?" Gari yang sejak tadi hanya melihat kejadian tersebut tiba-tiba bersuara dan menyapa gadis tersebut.


"Eh? Gari?" Gadis itu kembali membungkukan tubuhnya pada Gari.


"Kalau begitu aku permisi dulu," ucap gadis tersebut kemudian pergi meninggalkan Nara dan Gari.


"Dia sangat cantik, 'kan? Dia dari kelas sastra dan sejarah, namanya Athena, dan satu lagi dia suka padamu," ucap Gari dengan senyum jahil, tangan kanannya merangkul pundak saudara kembarnya.


"Aku tidak bertanya," jawab Nara dengan santai.


"Ya, memang tidak, tapi kau menatapnya terus," ucap Gari menggoda, "jangan khawatir, aku punya alamat email dan alamat rumahnya," lanjut Gari dengan tersenyum penuh arti.


Nara hanya menggelengkan kepala, saudaranya itu begitu perhatian, dia mengingat ucapan Ayana bahwa di luar sana banyak gadis yang sedang menunggunya, mungkin salah satunya gadis bernama Athena.

__ADS_1


"Baiklah, berikan alamat emailnya padaku!" jawab Nara dan Gari bersorak dengan jawaban saudaranya itu, mereka berdua kembali berjalan menuju perpustakaan sambil bercanda.


Nara memutuskan untuk membuka hati, lagi pula gadis yang bernama Athena sudah mengganggu pikirannya, Gari memang tidak tahu, sebenarnya Nara sudah pernah melihat gadis itu sebelumnya.


The End.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


... 8 tahun setelah pertemuan Nara dan Athena ...


Pagi hari di sebuah rumah mewah dengan gaya sederhana, sebuah keluarga kecil tinggal di sana, keluarga tersebut baru menempatinya sekitar lima tahun yang lalu, sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan di setiap harinya.


Seorang wanita muda tengah berada di dapur, kedua tanganya terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga, senyum manis terpatri di wajahnya yang cantik, rambut panjang hanya diikat dengan gaya ponytail, asap tampak mengepul di tempat penanak nasi dan di penggorengan sudah tercium aroma wangi yang membuat perut keroncongan.


"Hah, sudah selesai, tinggal membangunkan mereka," guman wanita muda tersebut.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi tembam wanita tersebut dan membuatnya terkejut. "Sky? Yq ampun kau membuatku terkejut," pekik Ayana.


"Selamat pagi, Sayang? Apa kau butuh bantuan?" Suami Ayana alias Sky menggerakan tangannya, sementara Ayana mengerucutkan bibirnya.


"Ya, aku butuh bantuanmu untuk menghabiskan semua sarapanya," ucap Ayana ketus, Sky tampak tersenyum walaupun hanya terlihat sekilas.


"Kau pasti lelah, Sayang! Maaf aku bangun terlambat." Ayana tersenyum melihat gerakan tangan Sky, memang biasanya Sky selalu membantunya menyiapkan sarapan, dia mengerti Sky hanya merasa tidak tega melihatnya kelelahan.


"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat!" ucap Ayana tidak lupa senyuman manis terukir di bibirnya, Sky hanya menatapnya.


"Mm, setelah anak-anak berangkat sekolah nanti kau harus menemaniku di rumah seharian!" Sky mengernyitkan alisnya, itu artinya dia harus libur bekerja.


"Kau akan tahu nanti," ucap Ayana kemudian mengecup singkat bibir suaminya.


"Selamat pagi, Mama?!"


"Good morning, Mom?!"


Ayana dan Sky mengalihkan perhatian kepada dua orang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang baru saja keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Hallo, selamat pagi? Kalian hanya menyapa Mama saja? Apa Papa tidak di sapa juga?" tanya Ayana pada kedua putranya yang merupakan duplikat dari Sky.


"Ups, sorry! Good morning, Dad?" ucap putra sulung mereka--Sora.


"Maaf, kami lupa, selamat pagi, Papa?!" sapa si Bungsu, Sky hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Ayana dan Sky juga kedua putra mereka sarapan pagi dengan gembira, makanan yang Ayana buat selalu membuat mereka makan dengan lahap.


"Hari ini adalah pelajaran olahraga, aku malas," ucap Sora, kepada adik kembarnya.

__ADS_1


"Kakak, itukan baik untukmu, lagi pula banyak anak perempuan yang akan melihatmu," ucap Sona--si bungsu yang duduk di kursi roda.


"Iya memang begitu, tapi diantara kita berdua kau yang paling tampan, Sona tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menarik perhatian para gadis." Ayana hampir saja tersedak mendengar ucapan anak lelakinya.


"Hey, kalian mau sekolah atau mencari pacar?Sebaiknya pikirkan pelajaran, jangan pikirkan hal-hal seperti itu, kalian masih anak-anak!" Ayana berkata dengan sedikit berteriak.


"Memangnya kenapa, Mom? itu benar para gadis itu berteriak saat melihat Sona, padahal dia hanya duduk dan tidak berbuat apa-apa," jawab Sora.


Sky yang memperhatikan dari tadi hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya, Sona yang menjadi bahan pembicaraan hanya diam. Sona memang cacat setiap waktu hanya duduk di kursi rodanya, tapi Sky bersyukur anak bungsunya itu tidak mengeluh dan tidak merasa malu pada kekuranganya.


Ayana menepati janjinya sehingga Sona tidak merasa putus asa, tapi sebaliknya Sona merasa lengkap karena kakaknya atau saudara kembarnya selalu ada untuk dirinya, saling menyayangi satu sama lain.


Kedua anak laki-laki tersebut sudah berangkat ke sekolah, Sky menyekolahkan mereka berdua di tempat yang sama, setiap hari Sora membantu Sona saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan anggota badannya seperti menaiki mobil saat berangkat ke sekolah.


Sky sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sementara Ayana sedang mandi karena merasa gerah setelah menyiapkan sarapan, Sky melihat sang istri yang keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih, wanita muda itu duduk di kursi meja rias, dia mengambil botol pelembab dan mengusapkan cairan kental itu di tubuhnya.


"Sky sebaiknya kau cepat mandi, kau harus menemaniku berbelanja, banyak keperluan rumah yang harus kubeli," ucap Ayana tanpa melihat ke arah suaminya.


Sky beranjak dari tidurnya dan menghampiri Ayana.


Cup..


Sky mengecup bahu polos Ayana, menarik tubuhnya untuk berdiri kemudian menghadap pada dirinya.


"Bagaimana jika kita rubah rencananya? Kita berdua akan bersenang-senang saja." Ayana mengernyit saat membaca gerakan tangan Sky.


Sky menarik tubuh Ayana lebih dekat lagi, dia mencium dan ******* bibir istrinya dengan gemas, sedangkan Ayana sendiri merasa seluruh pori-pori di tubuhnya meremang karena perlakuan Sky.


"Aku ingin bayi perempuan!" Ayana membulatkan mata, dia tidak sempat protes karena dengan cepat Sky menarik handuknya dan mengangkat tubuh Ayana ke atas tempat tidur.


Ayana hanya bisa menikmati saja apa yang di lakukan Sky, jujur saja dia merindukan sentuhan pria muda itu karena sudah sebulan mereka tidak melakukanya.


Sky terlalu sibuk bekerja, dan jika dia ingin bayi perempuan maka Ayanw akan memberikannya, dia hanya perlu bersiap jika bayi mereka nanti kembar lagi dan dia hanya berharap bayi mereka nanti sehat dan tidak memiliki kekurangan.


Cinta dalam diam itulah yang dilakukan Sky selama ini, walaupun Ayana tidak pernah mendengar suaranya dia tau Sky memberikan semua cintanya untuk Ayana dan anak-anaknya, tugas Ayana adalah menghilangkan rasa sunyi yang ada di hati Sky dengan suaranya dan suara anak-anaknya.


The End


Yup ... sampai di sini ya ...


Aku tidak mahir membuat cerita sampai ratusan chap ...


Cerita ini memang seperti ini porsinya .. jadi tidak akan kubuat panjang apalagi beranak pinak.


Sampai jumpa ...


See you next story ...

__ADS_1


I Love you all πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2