Love In Silent

Love In Silent
About Star


__ADS_3

"Mau dengar cerita? Aku akan bercerita untukmu!" Sepertinya hal itu lebih masuk akal, Ayana memasang senyuman yang manis untuk Sky, dia merasa sedang membujuk anak TK yang sedang merajuk.


Ayana mulai kehabisan akal, rasanya sulit sekali membujuk Sky. Keras kepala adalah sifat dasar keluarga Violet. Gadis itu memahami jika berada di posisi Sky, pasti dirinya akan jauh lebih putus asa. Saat ini Sky membutuhkan dukungan untuk membuatnya kembali semangat.


"Aku mencintaimu, Sky." Pada akhirnya Ayana mengucapkan kalimat itu. Sejak pernyataan cinta Sky beberapa hari yang lalu, dia memang belum mengatakan secara pasti dan hal itu berhasil membuat Sky berpaling ke arahnya.


"Aku bersedia menikah denganmu bukan karena uang, dan bukan karena aku kasihan padamu. Semua ada alasan, aku tidak tahu saat Harry melamarku untukmu, aku menyetujuinya begitu saja, yah, walaupun dengan sedikit bujukan dari ayah," ucap Ayana dengan tatapan lembut.


"Aku tidak melihatmu seperti orang yang cacat, kau berharga dan istimewa. Kau special, Sky."


"Tuhan mempunyai alasan kenapa seorang manusia terlahir. Dia akan jadi baik atau buruk itu adalah kehendakNya."


"Kau dan aku pun seperti itu, tidak ada manusia yang sempurna, semua orang memiliki kecacatan, jiwa ataupun raga."


"Menurutku kau orang paling sabar, kau menghadapi kesulitanmu sendiri, meski dengan kekurangan."


"Dan aku tahu alasan terlahir ke dunia ini, mungkin Tuhan ingin aku melengkapi kehidupanmu. Aku akan selalu ada untukmu, dan kau akan melengkapiku dengan semua cinta yang kau berikan padaku."


Sky tertegun, Ayana bisa mengatakan hal yang begitu indah dan berarti untuknya, satu tetes air mata lolos dari manik serupa jelaga itu.


"Percayalah kita bisa melaluinya, semua akan baik-baik saja," lanjut Ayana, senyuman tulus terukir di bibirnya. Sky berusaha untuk bangun namun dadanya terasa begitu sakit.


"Tidak. Diamlah, Sky! Karena aku yang akan memelukmu." Ayana memeluk Sky dengan erat, dan di balas oleh Sky dengan tangan kanannya.


"Aku berterima kasih pada Tuhan atas kelahiranmu, karena dirimu aku merasakan cinta yang begitu besar."


"Jadi bisakah kau tersenyum kembali? " pinta Ayana. Sky mencubit hidungnya dengan gemas, senyuman terukir di wajah tampan pemuda itu.


...


Di suatu tempat seorang pemuda berusia 19 tahun, tengah menatap pemandangan kota Arasen di malam hari, pemuda itu tengah bertelanjang dada, pemuda itu baru saja menyelesaikan ritual berkencan special dengan seorang kekasih. Pikirannya begitu kacau, memang benar setelah dia bermain cinta itu bisa membuat sedikit masalahnya berkurang tetapi tidak bertahan lama.


"Kenapa kau melamun, Sayang? Apa yang kau pikirkan?" seorang gadis yang berstatus kekasih itu memeluknya dari bekakang.


Star Violet tengah berada di apartemen kekasihnya sekarang, bukan hal yang aneh dia berada di tempat milik Lucia. Pemuda itu memang sering 'bermalam' di sana.


"Aku tidak tahu," ucap Star pelan, tanganyna menyentuh tangan si gadis yang melingkari perutnya.


"Kau pasti memikirkan adikmu dan istrinya itu, 'kan?" tanya Lucia dan Star hanya menunduk.


"Sebaiknya kau ikuti kata hatimu! Jangan sampai kau menyesal saat semua terlambat," ucap Lucia lagi, gadis itu melepaskan pelukan kemudian berdiri di hadapan Star.

__ADS_1


"Tapi bagaimana dengan ibu? Aku tidak mau ibu menjadi sedih, bukankah sudah tugas seorang anak untuk membahagiaakan ibunya?" Star berucap dengan nada putus asa.


"Lalu kau sendiri? Apa bahagia saat melakukanya? Apa kau senang melakukanya? Aku tahu kau tidak seperti itu." Star terdiam mendengar perkataan Lucia.


"Mereka berhak bahagia, terutama adikmu, dia tidak pernah mengusikmu."


"Lalu apa yang harus kuperbuat, setelah semua yang kulakukan padanya?" tanya Star.


"Aku sudah sejauh ini, Lucia. Hanya tinggal sedikit lagi." Star *** rambutnya frustrasi.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau mau, dan hiduplah dengan rasa bersalahmu seumur hidup, seorang anak menuruti keinginan orang tua itu adalah kewajiban walaupun itu hal buruk sekalipun," balas Lucia.


"Semakin kau terus menyakitinya, semakin besar pula beban yang kau pikul."


"Walaupun dia mati rasa sayangnya padamu tidak akan berubah, begitupun sebaliknya."


Star kembali menerawang, perkataan Lucia menbuatnya semakin gelisah.


"Kau orang yang baik, adik iparmu tahu akan hal itu." Lucia memeluk Star dengan sayang.


"Sky pasti rela memberikan semua padamu, bahkan tanpa diminta." lanjut Lucia.


'Apa yang harus kulakukan?' Star berpikir keras.


Flashback


Seorang wanita tengah menangis histeris di kamarnya, semua barangnya berserakan, bahkan wajah dan pakaiannya terlihat kusut.


"Ma, ada apa ini? Apa yang terjadi?" seorang pemuda berusia 15 tahun memeluk ibunya yang menangis.


"Star, semua impianku hancur," ucap wanita itu di sela tangisannya.


"Kenapa?" Star penasaran dengan apa yang di katakan ibunya.


"Kakekmu menemukan anak itu. Anak dari saudariku, isteri pertama ayahmu. Dia itu adalah adikmu." Star tidak percaya benarkah dia punya seorang adik?


"Impianku untuk menjadikanmu pewaris tunggal Violet gagal karena anak itu, kenapa dia harus kembali?"


"Ma, sadarlah! Jangan seperti ini, kalaupun itu benar, berarti dia saudaraku. Pasti sangat menyenangkan, iya, 'kan?" jawab Star dengan senyuman di wajahnya, pikiran pemuda itu menerawang karena penasaran bagaimana rupa dari adiknya.


"Apa maksudmu?" Star sedikit tersentak saat sang ibu meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Kau tidak akan tahu seberapa kerja kerasku untuk menjadi seperti saat ini."


"Kau tidak tahu rasanya dibedakan, aku tidak mau itu terjadi padamu, cukup aku yang mengalaminya!" bentak Rieta dengan sedih.


"Kakek dan nenekmu selalu membedakan antara aku dan Nikita, mereka bahkan selalu memuji dan membanggakanya di hadapanku, sakit rasanya diperlakukan seperti itu, dan sekarang anakku juga akan kalah oleh anak Nikita."


"Ma, jangan berpikir seperti itu! Mungkin saja adikku itu anak yang baik." Star mencoba menghibur ibunya.


"Ya, penuh kepalsuan seperti ibunya."


"Kau lihat bahkan sekarang kakekmu juga sibuk mengurus anak itu."


"Mama jangan begitu kakek sangat menyayangiku." tegas Star.


"Ayahmu juga bersikap dingin padamu."


"Cukup, Ma! Istirahatlah, Mama kelelahan."


"Berjanjilah, Star! Kau tidak akan peduli pada anak itu," pinta Rieta dengan lemah.


"Hn.." hanya itu jawaban yang bisa Star berikan.


Akhirnya Sky datang ke Mansion Violet, Rieta benar-benar tidak suka, sedangkan Star hanya memasang wajah yang dingin.


Star semakin terkejut saat mengetahui ternyata adiknya itu cacat, rasa iba muncul di hati pemuda itu. Ayahnya pergi seolah tidak peduli padahal Star tahu ayahnya menangis dalam diam saat melihat keadaan Sky.


Anak itu sangat kurus, sebagai seorang kakak hati Star terasa tercubit, saat melihat Rieta tersenyum puas hatinya juga terasa panas, bagaimana mungkin wanita itu bisa tersenyum atas penderitaan orang lain. Terlebih Sky adalah kerabatnya.


Star enggan berkomunikasi dengan Sky begitupun ayahnya. Bukannya tidak ingin, Star hanya takut menyakiti hati ibunya, selain itu sulit untuk berkomunikasi karena dia tidak mengerti bahasa Sky.


Star ebih melilih mengabaikan Sky demi ibu yang disayanginya. Dia tahu bagaimnana perjuangan sang ibu untuk mendapat pengakuan terutama dari ayahnya dan saat ini ibunya tengah ketakutan dirinya akan kembali dilupakan.


Star memutuskan mengikuti kemauan ibunya, dan mengabaikan Sky, bahkan dia memberikan luka fisik pada sang adik terus menerus dan itu membuat Rieta senang, akan tetapi rasa sakit juga di rasakan Star saat melukai Sky. Persahabatanya dengan Ayana pun harus dia lupakan karena dia merasa sudah terlanjur buruk di mata gadis itu.


flashback end


To be continue


See u next chapter


Jangan lupa kunjungi akun dan baca semua karyaku, oke?

__ADS_1


__ADS_2