
...“Aku bukanlah orang yang terlalu peduli dengan orang lain. Namun, jika dia adalah orang yang spesial bagiku, maka tak perlu diragukan lagi. Aku akan mencurahkan begitu banyak perhatianku untuknya.”...
...****************...
“Ken, bangun,” ucap Mahendra berusaha membangun Niken dari tidurnya.
“Ken, Niken!” Kembali ia mencoba membangunkan Niken yang terlihat tidur dengan begitu lelapnya.
“Ken, bangun...” Kini ia sedikit menepuk pipi Niken pelan.
“Niken!” Akhirnya ia pun membangun Niken dengan sedikit berteriak dan sukses membuat Niken terbangun dari tidurnya yang begitu lelap.
“Hah? Iya, ada apa?” tanya Niken yang masih linglung karena tersentak bangun dari tidurnya.
“Udah bangun kamu?” tanya Mahendra sambil bersedekap tangan.
“Oh, Kak Mahen. Udah lama baliknya, Kak?” tanya Niken mengucek matanya dan berusaha merapikan tampilannya yang berantakan, khas orang baru bangun tidur.
“Maaf, Kak, saya ketiduran,” ucap Niken sambil mengikat kembali rambutnya yang tergerai bebas.
“Halo, Kak?” tanya Niken ketika tidak mendapatkan respon dari orang yang berdiri di depannya. Niken sudah selesai mengikat rambutnya, dan melihat Mahendra yang seperti baru tersadar dari lamunannya.
“Hah? Nggak kok, baru aja sampai,” jawab Mahendra yang sedikit gugup.
“Ooo, emangnya udah jam berapa, Kak?” tanya Niken.
“Udah jam 10 lewat 15 menit,” jawabnya.
“Ternyata saya udah tidur hampir setengah jam,” desah Niken.
“Yaudah, karena Kakak udah di sini saya pamit dulu ya, Kak.” Niken baru saja mengambil tasnya dan ingin keluar dari ruangan, tapi langkahnya langsung dicegah oleh Mahendra.
“Mau ke mana kamu?”
“Mau balik, Kak. Kerjaan saya di sini udah selesai,” jawab Niken bingung.
“Memangnya aku ada memberikan izin?”
“Eh? Kakak nggak izinin saya balik? Apa masih ada tugas yang lain, Kak?” tanya Niken semakin bingung.
Mahendra menghela napasnya. “Kamu duduk aja dulu sebentar,” ucapnya.
“Untuk apa, Kak?” tanya Niken, namun tetap menurutinya.
“Nih, untuk kamu.” Mahendra pun memberikan kantong plastik yang dibawanya kepada Niken. Niken menerimanya dengan bingung.
“Ini apaan, Kak?”
“Udah, kamu buka aja. Bisa nggak sih kalo kamu itu nggak usah banyak tanya?”
“Kan saya cuma nanya, Kak. Nggak usah marah juga kali,” dengus Niken.
__ADS_1
“Ini semua untuk saya, Kak?” tanya Niken berbinar karena di dalam kantong plastik itu ternyata berisi makanan ringan beberapa kaleng minuman.
“Iya, itu untuk kamu,” jawab Mahendra sambil mengelus leher belakangnya.
“Beneran, Kak?”
“Iya, beneran. Kenapa? Kamu nggak suka? Kalau nggak suka sini aku ambil lagi,” ucap Mahendra yang bersiap ingin mengambil kantong plastik itu, namun langsung dicegah oleh Niken.
“Eh, Kakak mau ngapain? Kalau udah ngasih sesuatu untuk orang, haram hukumnya diminta balik,” ucap Niken sambil memeluk kantong plastik itu.
“Lagian tadi kan kamu sendiri yang nggak mau,” jawab Mahendra.
“Lah? Kapan saya bilang nggak mau, Kak?”
“Itu, tadi ekspresi kamu kayak nggak suka.”
“Mana ada saya kayak gitu, Kak. Nggak usah ngadi-ngadi deh. Kan saya cuma nanya, ini semua beneran untuk saya atau saya cuma boleh milih salah satu,” jelas Niken.
“Kalau beneran kayak gitu, pasti dari awal aku udah nyuruh kamu untuk milih!” ketusnya.
“Santai, Kak. Lagian kan bukan salah saya karena tumben Kakak baik.”
“Jadi, saya selama ini selalu jahat sama kamu?” tanya Mahendra tak terima.
“Nggak sih, Kakak baik banget malahan. Kemarin aja Kakak mau ngasih saya tumpangan pulang, padahal kita baru kenal.” Niken hanya cengengesan karena menyadari kalau barusan dirinya secara tidak langsung mengatakan bahwa Mahendra itu jahat.
“Itu kamu tau! Yaudah, kamu makan terus sana! Perut kamu udah besar banget tuh bunyinya, minta diisi.”
Ucapan itu sukses membuat Niken malu karena memang benar perutnya terus berbunyi ketika mereka sedang berbicara. Bahkan suaranya semakin lama semakin besar.
“Lah, kok salah aku?”
“Iyalah, salah Kakak! Coba aja Kakak tadi balik lebih cepat, pasti saya nggak bakalan kelaperan banget kayak sekarang.”
“Jadi, sekarang kamu lagi nyalahin aku?” tanya Mahendra tak terima.
“Tadi, rencananya sih gitu, Kak. Tapi, sekarang nggak jadi,” jawabnya.
“Kenapa?”
“Kan Kakak udah ngasih saya cemilan sama minuman. Jadi, kalau saya masih nyalahin Kakak itu namanya nggak tau berterima kasih,” jawab Niken cuek. Kini ia tengah sibuk melihat-lihat isi kantong plastik itu. Ternyata ada beberapa cemilan kesukaannya seperti Hello Panda dan Chitato.
“Iya, iya, terserah kamu aja.”
“Eh, ini untuk apa, Kak?” tanya Niken memperlihatkan bungkusan yang berisi es batu.
“Itu, untuk kompres mata kamu,” jawab Mahendra sedikit canggung.
“Jangan salah paham! Aku nggak niat ikut campur, kok. Cuma mata kamu yang sembab kayak gitu kurang nyaman aja dilihatnya,” jelas Mahendra merasa tak enak
“Lah, Kakak kenapa jadi nggak enakan kayak gitu? Santai aja kali, Kak. Lagian yang Kakak bilang itu emang bener kok.”
__ADS_1
“Tapi, tetap aja aku ngerasa nggak enak. Kesannya itu kayak terlalu ikut campur,” tutur Mahendra.
“Udah, santai aja, Kak. Btw, makasih untuk es batu sama cemilannya, Kak. Kayaknya Kakak tau aja apa yang lagi saya butuhin.” Niken pun memberikan senyum terbaiknya
“Ya-yaudah, kamu habisin cemilan kamu. Kalau udah selesai baru kamu boleh balik,” ucap Mahendra salah tingkah.
“Ayo, Kak, makan bareng,” ajak Niken.
“Udah, untuk kamu aja,” tolak Mahendra.
“Tapi, ini banyak banget loh, Kak. Saya mana bisa ngabisin ini semua sendirian.”
“Kalau nggak abis sekarang, kamu bawa pulang aja. Nanti kan bisa kamu makan lagi atau bagi sama temen kamu.”
“Kakak yakin?” tanya Niken memastikan.
“Ya Allah, bisa nggak sih kamu jangan banyak tanya mulu? Aku capek harus ngejawab semua pertanyaan kamu yang nggak bermutu itu,” keluh Mahendra.
“Maklum, udah kebiasaan, Kak,” ucap Niken menyengir.
“Kakak ngapain liatin saya terus?” tanya Niken karena risih ditatap oleh Mahendra terus yang kini duduk di kursi yang ada di hadapannya.
“Aku juga nggak tau. Tapi, aku suka aja liat kamu makan lahap banget kayak gitu.” Ucapan Mahendra sukses membuat Niken tersedak dan terbatuk-batuk.
“Ini minum! Makanya, kalo makan itu pelan-pelan.” Dengan sigap Mahendra memberikan minuman kepada Niken yang masih terbatuk.
“Ini kan, uhuk, salah Kakak, uhuk!” ucap Niken yang masih terbatuk.
“Lagian Kakak ngapain ngomong kayak begituan?” lanjut Niken ketika batuknya sudah berhenti.
“Lah? Jadi, sekarang salah aku lagi?” tanya Mahendra tak terima karena selalu disalahkan.
“Jadi saya harus nyalahin siapa juga? Kan emang bener Kakak yang salah!” Niken kembali meminum minumannya untuk meredakan tenggorokan yang masih sedikit sakit.
“Hah, yaudah deh, aku yang salah. Aku minta maaf,” desah Mahendra, kembali mengalah.
“Nggak usah sok jadi korban, Kak. Emang Kakak yang salah kok!” ucap Niken sewot karena melihat ekspresi Mahendra yang terlihat sangat menjengkelkan di matanya.
“Jadi kamu maunya gimana?! Udah deh, nggak usah pancing emosi orang!” ucap Mahendra sedikit membentak. Lama-lama habis juga kesabarannya menghadapi manusia yang ada di depannya itu. Mahendra memijit pangkal hidungnya, mencoba bersabar.
“Iya, iya! Saya yang salah! Nggak usah marah-marah juga kali, Kak! Saya minta maaf untuk semua sikap saya yang nyebelin sampe buat Kakak emosi.”
Setelah mengatakan itu, Niken pun pergi keluar ruangan, meninggalkan Mahendra yang semakin pusing menghadapi keadaan itu. Tak lupa juga ia membawa semua cemilan dan minumannya yang tersisa.
“Astaghfirullah! Aku punya salah apa sih sampe harus ketemu sama manusia spesies langka kayak dia?” tanya Mahendra pada dirinya sendiri.
“Kok bisa ada orang modelan kayak gitu? Tapi, herannya aku nggak bisa sampe beneran marah ke dia apalagi sampe benci. Kalau aku sampe bentak dia, rasanya kayak bersalah banget,” ucap Mahendra kembali memijit pangkal hidungnya.
Kini kepalanya terasa pusing. Ia tak tau apa yang terjadi padanya sampai bersikap seperti itu. Ini sudah sangat melenceng dengan sikapnya selama ini. Padahal selama ini dirinya belum pernah sampai uring-uringan seperti sekarang, apalagi karena seorang perempuan.
“Terserahlah! Lama-lama pusing aku mikirinnya!” nyerah Mahendra. Ia sudah tak sanggup untuk memahami semua hal yang terjadi padanya dalam 2 hari belakangan ini.
__ADS_1
Niken, junior yang baru 2 hari dikenalnya namun sukses membuat kacau. Entah apa yang ada pada diri Niken hingga dirinya sampai bersikap seperti itu.
“Udahlah! Bagusan aku balik ke dalam kelas aja!” putus Mahendra. Ia pun pergi dari ruangan itu dan balik menuju kelasnya. Tak lupa ia mengunci pintu ruangan itu sebelum balik ke kelas. Di sepanjang perjalan, Mahendra hanya bisa terus menghela napasnya.