
Mendengar jawaban suaminya, ibu Jayden akhirnya menghela nafas kecewa, dia benar-benar kecewa karena merasa tidak ada yang memihak padanya, padahal menurutnya dia berusaha melakukan yang terbaik untuk Jayden.
Seperti mengetahui pikiran istrinya, ayah Jayden berkata.
"Yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Jay. Kamu sudah tahu sifat Jay yang susah diatur, kalau dia sudah menyukai sesuatu biasanya sudah susah dirubah.
Lagipula Aylin juga gadis yang baik dan cantik, sifatnya sekarang juga sudah berubah banyak, sekarang sopan dan lembut, sudah tidak seperti dulu yang mau menang sendiri dan sombong.
Bukankah dulu kamu juga pernah menyukainya?", tanya ayah Jayden.
"Ya, itu dulu sebelum aku bertemu dan mengenal Maya. Sekarang aku merasa Maya lebih cocok mendampingi Jayden, Maya lebih dewasa, tidak seperti Aylin yang kekanak-kanakan, gampang berubah pikiran, dan mudah dipengaruhi.
Sedangkan Maya bisa diajak berdiskusi kalau perusahaan mengalami masalah, Maya pintar mengambil keputusan, Maya bisa membantu Jayden menjalankan usaha bersama-sama, tentu itu lebih meringankan Jayden bila Jayden mempunyai orang yang bisa dipercaya", sahut ibu Jayden.
"Aku tidak ingin Jayden semakin repot kalau mempunyai istri, aku ingin Jayden segera mempunyai anak, bagaimana bisa kalau Aylin masih muda, dan Jayden masih harus memperhatikan dan membimbing Aylin?", sambung ibu Jayden lagi.
"Biar saja berjalan apa adanya. Namanya juga sudah jodoh. Seperti kita dulu, ayahmu dulu menjodohkanmu dengan anak konglomerat, tapi kamu malah memilih aku yang pegawai ayahmu, dan lebih tua jauh darimu. Kamu tidak berasa kalau sifatmu dengan si Jay gak berbeda jauh?", tanya ayah Jayden.
"Kamu kan tidak tahu kriteria anakmu memilih pasangan hidupnya. Mungkin saja dia tidak membutuhkan wanita yang pintar, mungkin dia lebih suka wanita yang menurut padanya dan bergantung padanya. Kamu kan tahu sendiri sifat anakmu yang suka mendominasi dan menjadi pemimpin!", sambung ayah Jayden lagi memberi pengertian pada istrinya.
Akhirnya ibu Jayden terdiam dan mencoba mencerna perkataan suaminya itu.
********
Sesudah berdiskusi lumayan lama, Aylin tetap tidak setuju dengan pendapat Jayden yang ingin langsung menikahinya, hanya karena khawatir dan ingin tinggal bersamanya.
"Gak bisa mendadak begitu kak Jay, walau bagaimana juga kita harus menghormati orang tua kita. Lin akan setuju menikah dengan kak Jay kalau ibu kak Jay sudah mengijinkan dan merestui. Lin tidak mempermasalahkan pesta pernikahannya, itu gak penting buat Lin, toh teman Lin dan saudara Lin cuman sedikit", sahut Aylin, saat Jayden memaksa terus ingin menikahi dia secepatnya.
"Ah gak masalah, nanti kalau kita sudah menikah ibu juga mau gak mau setuju saja. Apalagi kalau Lin sudah hamil, ibu kak Jay itu kan pengen banget punya cucu, dia pasti akan senang padamu!", sahut Jayden dengan santainya.
Saat ini Aylin dan Jayden sedang duduk di atas batu berbentuk bangku yang menghadap ke pantai.
Aylin yang berada dalam pelukan Jayden, langsung mendorong Jayden agar melepaskan pelukannya, saat mendengar perkataan Jayden.
__ADS_1
"Ih, kak Jay kalau ngomong koq gampang banget sih", sahut Aylin tersipu malu.
"Karena Lin baru bekerja, biasanya gak boleh langsung hamil kak Jay", sambung Aylin lagi agak malu.
"Peraturan dari mana itu? kalau gitu Lin berhenti kerja saja dari sana, Lin jadi sekretaris kak Jay saja", ujar Jayden.
"Lin gak mau jadi sekretaris kak Jay, Lin malu, lagi pula nanti kerjanya jadi tidak konsentrasi kalau ada kak Jay. Kakak kan juga sudah punya pak Deddy sebagai sekretaris ", tolak Aylin.
"Kak Jay, sementara ini Lin sewa kost dulu saja, nanti kalau ada waktu baru kita diskusi lagi. Ini sudah sore kak, sedangkan Lin besok sudah harus masuk kerja lagi", ujar Aylin memutuskan.
Jayden hanya terdiam dan tidak menjawab lagi, kelihatannya marah dengan keputusan Aylin. Aylin yang sudah tahu sifat Jayden akhirnya berusaha merayu Jayden.
Dengan kedua tangannya dia menggoyang tangan Jayden,
"Please kak, Lin janji deh kalau ibu kak Jay sudah merestui hubungan kita, Lin akan mengikuti kemauan kak Jay".
Akhirnya Jayden pun terkena rayuan Aylin, hanya bisa menghela nafas dan mengiyakan.
Jayden tersenyum menyadari kalau Aylin sudah merayu dan berusaha membuatnya senang, rasa isengnya pun kambuh.
"Awas ya kamu, sudah menggoda dan merayu kak Jay ya! Kali ini habis kamu sama kak Jay", ujar Jayden dan tidak memberi kesempatan Aylin untuk berpikir.
Langsung menarik Aylin mendekat dan menghadap padanya, melu**t bibir Aylin habis-habisan sampai kehabisan nafas.
********
Sesudah menemukan tempat tinggal yang nyaman dan aman, akhirnya Jayden pun pulang, karena tempat kostnya bukan kost yang bebas, ada ibu kost yang menjaganya.
Sebenarnya Aylin menolak untuk tinggal di sana karena harganya yang lumayan mahal, tapi Jayden tentu tidak memperdulikan pendapat Aylin kali ini, Jayden langsung membayarnya satu bulan, dia juga tidak mau menyewa untuk jangka yang panjang, karena dalam hatinya dia bertekad akan menikahi Aylin secepat mungkin.
Begitu sampai di rumah tentu yang pertama dicarinya adalah sekutunya.
Jayden tahu kalau hati ibunya yang keras itu hanya bisa dilunakkan oleh ayahnya saja.
__ADS_1
Jayden merasa beruntung saat dia pulang ayahnya sedang duduk di ruang keluarga dan menonton televisi.
Jayden tidak tahu sebenarnya ayahnya juga sengaja menunggunya.
Segera dia menghampiri ayahnya dan duduk di samping ayahnya.
"Ayah, aku ingin berbicara pada ayah", ujar Jayden.
Mendengar perkataan Jayden, ayah Jayden langsung mematikan televisi yang ditontonnya, dan langsung menatap ke Jayden.
"Ada apa? katakanlah!"
"Jay ingin segera menikahi Aylin, Jay ingin meminta restu ayah dan ibu. Kalau ayah, Jay yakin ayah pasti akan mendukung Jay.
Yang jadi masalah adalah ibu, ibu sepertinya tidak setuju kalau Jay menikahi Lin.
Jay ingin ayah bantu Jay untuk bicara pada ibu, agar ibu juga memberikan restunya", ujar Jayden langsung.
"Memang kamu yakin Lin mau dan bersedia menikah denganmu secepat itu?", tanya ayah Jayden.
Sebenarnya Ayah Jayden tidak menyangka kalau Jayden geraknya akan secepat itu, yang ingin langsung menikahi Aylin, tadinya ayah Jayden berpikir Jayden hanya ingin membicarakan hubungannya saja dengan Aylin.
"Lin sudah berjanji pada Jay, kalau ibu menyetujui hubungan kami, Lin akan mengikuti semua kemauan Jay", Jawab Jayden dengan yakin.
"Baiklah, ayah sebenarnya dari dulu juga menyukai Aylin. Apalagi Aylin sekarang sifatnya juga sudah berubah banyak, sudah lebih pengertian dan tidak manja seperti dulu lagi. Ayah tentu akan selalu mendukungmu, nanti ayah akan bicarakan dengan ibumu", ujar ayah Jayden sambil menepuk bahu Jayden.
Mendengar sahutan ayahnya, Jayden hanya tersenyum.
"Ayah belum tahu saja, kalau denganku tentu Lin masih saja manja, tapi aku suka", pikir Jayden dalam hati membayangkan pujaannya itu.
"Tapi ayah ingin bertanya padamu, bukankah dulu kamu tidak menyukai Lin, mengapa kamu bisa tiba-tiba begitu menyukai Lin dalam waktu secepat itu?", tanya ayah Jayden penasaran.
Bersambung........
__ADS_1