Loving You

Loving You
Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

...“Rasa sakit ketika dijatuhkan oleh orang lain itu tidak sebanding dengan rasa sakit ketika dijatuhkan oleh orang terdekat, terutama dari pihak keluarga yang seharusnya kita jadikan sandaran.”...


...****************...


“Ken, besok kamu ada jadwal apa?” tanya Aril sambil menyetir.


“Nggak ada, Kak. Palingan kalau hari minggu Niken cuma rebahan di kamar atau baca novel aja sih,” sahut Niken sambil berpikir tentang kegiatannya di hari minggu.


“Yaudah, kalau gitu besok jam 10 pagi Kakak jemput kamu di rumah.”


“Emangnya mau pergi ke mana, Kak?” tanya Niken menghadap ke Aril yang masih fokus menyetir.


“Hmm...ke mana ya? Kasih tau nggak ya??” ucap Aril menggoda Niken.


“Idih, sok-sokan main rahasia-rahasiaan. Padahal nanti dibilang juga tanpa Niken harus maksa untuk bilang,” ejek Niken yang membuat Aril tersenyum.


“Tau aja kamu,” sahut Aril kalem karena yang dikatakan Niken memang benar adanya. Dirinya memang sering tidak bisa merahasiakan sesuatu jika itu berhubungan dengan Niken. Apalagi jika Niken sudah melihatnya dengan mata memelas, sudah bisa dipastikan bahwa dirinya tak akan tega untuk tidak memberitahukannya.


“Jadi Kakak mau ajak Niken pergi ke mana?” tanya Niken antusias. Wajar saja, sudah sangat lama sejak dirinya diajak seseorang untuk pergi bermain. Terakhir kali seseorang yang mengajaknya pergi bermain sekitar 3 tahun yang lalu dan orang itu adalah Aril.


“Udah, nggak usah banyak tanya. Yang penting, besok pas Kakak jemput kamu udah siap, udah cantik, oke?”


“Oke!” sahut Nike sumringah.


“Tapi, Kak... urusan izin sama Mami gimana? Soalnya kalau Niken minta izin pasti Mami nggak bakalan kasih.” Raut wajah Niken berubah sedih ketika mengingat hal paling penting yang hampir dilupakannya.


Sudah berulang kali Niken mencoba meminta izin untuk pergi main ke luar, namun maminya tidak mengizinkan. Ia harus langsung balik ke rumah saat sudah pulang sekolah. Ia tidak boleh pergi ke mana pun selain sekolah dan membeli keperluannya.


“Emangnya Tante Army nggak pernah kasih kamu izin untuk pergi main, Ken?” tanya Aril.


“Nggak, Kak. Mami kasih Niken izin keluar cuma untuk pergi ke sekolah atau pergi untuk beli keperluan aja. Kalau mau main keluar harus pergi sama Mami atau Papi. Jadi ya gitu...Niken di rumah aja tiap hari,” jawab Niken tanpa kebohongan. Ia selalu berusaha untuk berkata jujur pada Aril tanpa ada yang disembunyikan. Namun, terkadang memang ada beberapa hal yang tidak bisa dikatakan dengan jujur bukan?


“Gitu ya...Oke, nanti biar Kakak aja yang minta Izin sama Tante Army,” putus Aril.


“Yey, asik!” seru Niken senang karena yakin akan mendapatkan izin jika Aril yang meminta. Sedangkan Aril hanya tersenyum tipis.


“Eh, ternyata ada 23 panggilan tak terjawab dari Mami!” Niken berseru panik. Ia mensilent hp-nya saat pergi ke sekolah dan lupa untuk menghidupkan kembali nada dering saat pulang sehingga membuatnya tidak tau jika sang mami menelepon jika tidak melihat hp-nya seperti sekarang.


“Mampus, Mami pasti bakalan marah nih.” Niken dengan cepat membuka ruang chat dirinya dengan sang mama. Sedangkan Aril hanya terdiam fokus menatap jalanan, memberikan ruang untuk Niken.


Mami :


23 panggilan tak terjawab


Niken! Kamu di mana?!!


Niken!!!


Pulang kamu sekarang!!!


Udah jam berapa?! Nggak mau pulang ke rumah lagi kamu??!!!!


^^^Niken :^^^


^^^Iya, Mi. Ini Niken lagi jalan pulang^^^


Niken menghembuskan napasnya sedikit kasar. Ia yakin pasti maminya sedang marah besar saat ini.


“Tante Army bilang apa, Ken?” tanya Aril.


“Disuruh pulang, Kak.”


“Bilang kalau kita udah jalan pulang.” Aril masih fokus menyetir.

__ADS_1


“Udah Niken bilang, Kak.” Setelah itu hening di antara mereka. Niken menyenderkan kepalanya ke jendela mobil, memikirkan bagaimana reaksi maminya ketika ia sampai di rumah nanti.


*****


“Aduh...Mami udah berdiri di depan gerbang lagi,” keluh Niken ketika melihat maminya berdiri dengan berkacak pinggang ketika melihat mobil Aril berhenti.


“Biar Kakak yang ngomong sama Tante, Ken.”


“Nggak usah, Kak! Lebih baik Kakak langsung pulang aja,” tolak Niken cepat.


“Tapi...”


“Ck! Udah, Kakak pulang aja!” seru Niken yang langsung keluar dari mobil dan menutup pintu dengan sedikit bantingan.


“Nggak ingat pulang kamu?” Pertanyaan dari sang mami yang menyambut Niken pertama kali ia sampai di depan gerbang. Raut wajahnya terlihat berang.


“Maaf, Mi. Tadi Niken ada urusan,” sahut Niken menunduk.


“Alasan aja kamu! Terus siapa yang antar kamu pulang? Cowok? Mau jadi cewek apaan kamu?!!” hardik sang mami. Niken semakin menundukkan kepalanya.


Aril yang melihat Niken seperti itu bergegas keluar dari mobil. Niatnya untuk pulang ia urungkan.


“Tante!” seru Aril menghampiri.


“Maaf, Tan. Ini salah Aril yang telat antar Niken. Kalau Tante mau marah, marahin aja Aril,” ucap Aril cepat, tak lupa ia menyalami mami Niken.


Bu Army sedikit kaget. “Eh, Aril! Kok kamu bisa di sini?” seru Bu Army yang langsung merubah raut wajahnya menjadi senang.


“Aduh, kamu udah besar aja ternyata.” Bu Army segera memeluk Aril.


“Tante kangen banget sama kamu. Kenapa nggak kasih kabar kalau udah balik ke sini? Gimana kabar kamu?” tanyanya heboh dan melepaskan pelukannya.


“O-oh, Alhamdulillah Aril baik-baik aja, Tan,” sahut Aril yang tiba-tiba merasa canggung.


“Nggak usah, Tan. Aril cuma mau antar Niken aja kok,” tolak Aril. Ia melihat Niken yang masih menunduk.


“Jadi...anu, Tan. Jangan marahin Niken lagi karena Dia nggak salah. Aril yang ngajak Niken ke rumah, padahal tadi Dia udah nolak,” jelas Aril.


“Kamu tenang aja, Ril! Kalau sama kamu, Tante nggak mungkin marah dong. Cuma lain kali dibilang, biar Tante nggak khawatir kayak tadi,” sahut Bu Army cepat.


Brakk!!!


Tanpa aba-aba, Niken langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras hingga suaranya menggema. Aril dan Bu Army merasa kaget dan reflek melihat pintu yang tak bersalah itu.


Bu Army tersenyum canggung. “Oh, yaudah, kamu nggak usah pikirin hal itu. Yang penting kamu udah antar Niken dengan selamat aja. Oh, gimana kabar Mama kamu?” Bu Army dengan segera mengubah topik.


“Apa? Oh, Mama juga baik, Tan,” sahut Aril yang merasa kebingungan dengan tindakan Niken.


“Ah, syukurlah. Kirim salam sama Mama kamu ya.”


“Hah? Oh, iya, Tan,” ucap Aril yang tak fokus. Ia mencoba melihat Niken yang sudah berada di kamarnya.


“Itu...Niken nya nggak pa-pa, Tan?” tanya Aril khawatir.


“Oh, kamu tenang aja. Si Niken emang kebiasaan kayak gitu. Dia yang salah malah dia yang marah.” Bu Army tertawa gugup.


“Oh, oke...” sahut Aril yang merasa sedikit ragu.


“Pokoknya Aril benar-benar minta maaf, Tan. Aril jadi nggak enak, gara-gara salah Aril malah Niken yang kena marah.” Aril kembali meminta maaf.


“Udah! Kan Tante udah bilang, kamu tenang aja. Tante cuma khawatir karena Niken nggak kasih kabar. Apalagi udah malam banget dan Dia belum pernah kayak gini,” ucap Bu Army yang menepuk pundak Aril pelan.


“Itu juga salah Aril, Tan. Niken udah bilang mau kabarin Tante, tapi Aril yang cegah. Aril bilang mau minta izin langsung sama Tante, tapi malah kelupaan. Hp Niken tadi juga di silent, makanya nggak dengar panggilan dari Tante,” jelas Aril membela Niken.

__ADS_1


“Iya, Tante mengerti.”


“Hmm... kalau gitu Aril pamit pulang, Tan?” tanya Aril ragu.


“Oh, kamu mau pulang! Boleh kok, boleh. Hati-hati di jalan dan jangan lupa kirim salam untuk Mama kamu.”


“Iya, Tan. Kalau gitu Aril pamit dulu ya.” Aril kembali menyalami Bu Army.


“Iya. Lain kali kalau datang ke sini, mampir dulu ke dalam. Masa udah lama nggak ke sini, tapi gitu datang langsung pulang.”


“Insyaallah, Tan,” sahut Aril tersenyum tipis.


“Aril pulang, Tan. Assalamualaikum.”


“Waalaikumussalam.”


Aril pun menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankannya. Bu Army melambaikan tangannya hingga mobil Aril tak terlihat lagi. Ia kembali merubah raut wajahnya menjadi marah.


“NIKEN!!!!” serunya berteriak, memanggil Niken yang menangis di dalam kamarnya.


Duk! Duk! Duk!


“NIKEN!!! KELUAR KAMU!!!” seru Bu Army sambil menggedor-gedor pintu kamar Niken yang terkunci.


“NIKEN!!!”


Niken tak menyahut. Ia terus saja terisak sambil membenamkan wajahnya ke bantal. Ia tak peduli dengan suara maminya yang berteriak dan pintu yang terus digedor.


“NIKEN!! KELUAR KAMU SEKARANG!!” seru Bu Army marah. Sedangkan Niken semakin terisak.


DUK! DUK! DUK!


“NIKEN!!! CK! DASAR ANAK NGGAK TAU DIRI!! APA MAKSUD KAMU BERSIKAP KAYAK TADI DI DEPAN ARIL, HAH? MAU BUAT MAMI MALU? JAWAB!!!”


DUK! DUK! DUK!


“NIKEN!!! ARGHH!! TERSERAH KAMU!! SEKALI LAGI KAMU BERSIAP KAYAK GITU, SIAP-SIAP AJA KAMU!!” ucap Bu Army kesal. Ia pergi dari depan kamar Niken dan menuju kamarnya.


“Hiks...hiks...” Niken terus saja menangis. Bahkan, tas sekolahnya dicampakkan sembarang arah.


Niken duduk. Ia berusaha menghapus air matanya, namun mulutnya tak berhenti mengeluarkan isakan.


“Ma-Mami kok beda banget sih. Ma-masa sama Kak Aril baik banget. Be-beda sam Niken,” ucapnya tersendat-sendat. Ia terus menyeka air matanya yang mengalir.


“Lu-luka semalam nggak sebanding dengan luka hati sedang Niken rasain.” Ia memegang lengannya yang lembab akibat ulah sang Mami. Ingatannya kembali melayang ke kejadian semalam.


“Niken! Ini kenapa belum ada makanan di meja?! Kamu ngapain aja emangnya sampe belum nyiapin makan malam?!!” hardik Maminya murka.


Niken menundukkan kepalanya, tak berani untuk menatap mata sang mami. Tadi sepulang sekolah Niken ketiduran karena kelelahan. Saat ia bangun, langit sudah gelap. Ia lupa pesan maminya tadi pagi yang menyuruh dirinya untuk menyiapkan makan malam karena papinya akan pulang cepat malam ini.


Niken pun segera bangkit dan membasuh mukanya. Tak dihiraukan kepalanya yang terasa pusing karena bangun secara tiba-tiba. Ia langsung bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Namun, mobil maminya sudah terdengar memasuki garasi saat ia baru memegang wajan untuk memasak. Dan akhirnya, beginilah yang terjadi.


“Kalau orang nanya itu dijawab!!”


“Ma-maaf, Mi. Niken tadi ketiduran,” sahut Niken pelan.


“Alah, alasan aja kamu!”


Setelah itu hanya terdengar suara barang-barang yang dilempar. Bahkan terdengar suara rintihan yang keluar dari mulut Niken. Itulah asal mula memar-memar di tangan dan tubuhnya. Ia berusaha menahan lemparan barang dari sang mami yang mengakibatkan lengannya kesakitan dan berujung memar.


“Hiks...” Niken kembali tak kuasa menahan isakannya. Ia terus menangis di bantal kesayangannya.


Setelah beberapa lama, akhirnya Niken tertidur pulas. Ia bahkan tak menghiraukan matanya yang sudah sangat sembab akibat terlalu banyak menangis. Tenaganya sudah cukup banyak terkuras dan ia butuh istirahat sekarang.

__ADS_1


__ADS_2