Loving You

Loving You
Bos juga bisa romantis


__ADS_3

Jayden lebih cepat sadar dari keterkejutannya dibandingkan dengan Aylin yang agak telmi.


Segera dia menghampiri Aylin.


"Ada apa hujan-hujan kamu datang kesini?", tanya Jayden khawatir setelah melihat keadaan rambut Aylin yang agak basah dan sebagian bajunya juga agak basah.


"Aku...om sama Tante mana?", Aylin tergagap karena bingung mau menjawab apa, akhirnya Aylin malah balik bertanya..


"Ayah dan ibu lagi ke tempat kak Tommy", jawab Jayden sambil menatap Aylin dengan intens.


Aylin akhirnya menjadi salah tingkah dan bingung karena dipandang seperti itu, dia jadi lupa tujuannya untuk datang setelah melihat Jayden dalam keadaan baik-baik saja.


"Kalau begitu aku pulang dulu kak", karena bingung akhirnya Aylin berpikir untuk pulang saja, lagipula dia sudah melihat keadaan Jayden baik-baik saja, jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Jayden lagi.


Sambil dia menyerahkan kantong plastik berisi buah-buahan yang dia bawa pada Jayden.


Jayden langsung menerima dan meletakkannya di atas meja ruang tamu.


Tapi tentu saja Jayden tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu Aylin kali ini, sesudah beberapa hari dia kangen dengan Aylin yang kini sudah berada di depannya.


"Tunggu, jangan pulang dulu", jawab Jayden sambil menggandeng tangan Aylin membawa Aylin ke arah sofa.


Sesudah itu Jayden menekan kedua bahu Aylin dengan kedua tangannya, meminta Aylin untuk duduk di sofa.


Aylin hanya menurut saja, karena dia masih bingung apa yang harus dilakukannya.


Dia bingung dengan sikap Jayden yang sepertinya begitu perhatian padanya.


Aylin menjadi terkenang dengan sikap Jayden padanya ketika waktu masih kecil, ketika Jayden yang masih suka bermain dan menyayanginya.


Mungkin karena Aylin kembali mengunjungi tempat yang penuh kenangan waktu kecil sampai remaja, akhirnya membuat dia mudah tersentuh.


Yang membuat Aylin akhirnya menurut saja pada keinginan Jayden.


Jayden kemudian memanggil bi Ina untuk mengambilkan handuk dan menyimpan bingkisan buah dari Aylin.


Aylin tiba-tiba sadar dari kenangannya, "Gak usah kak Jay, aku hanya sebentar saja. Kak Jayden baik-baik saja kan? Aku gak sengaja mendengar dari pak Deddy kalau mobil kakak menabrak tiang.


Kakak beberapa hari tidak ke perusahaan, jadi Lin khawatir terjadi sesuatu pada kakak", tanpa sadar Aylin menjelaskan tujuan kedatangannya.

__ADS_1


Jayden tentu merasa di atas angin, ternyata Aylin masih mengkhawatirkannya, setidaknya Aylin sudah tidak marah padanya lagi.


Saat seperti ini, ternyata gosip sekretarisnya ada fungsinya juga, pikir Jayden dalam hati


Tidak berapa lama kemudian bi Ina muncul lagi, membawakan handuk yang diminta Jayden.


Jayden kemudian memberikan handuk itu di pangkuan Aylin, tetapi Aylin hanya terdiam.


Melihat Aylin hanya terdiam, akhirnya Jayden tidak tahan dan mengambil kembali handuk itu dari pangkuan Aylin dan meletakkan di atas kepala Aylin, malah Jayden akhirnya yang membantu Aylin mengeringkan rambutnya.


"Heran! sudah besar koq gak bisa jaga kesehatan sendiri", omel Jayden masih sambil mengusap-usap rambut Aylin dengan handuk.


Aylin mendapatkan perlakuan akrab seperti itu, jantungnya menjadi berdebar-debar, dan seluruh anggota tubuhnya malah merasa kaku.


Dia hanya bisa menatap bingung ke Jayden.


Bukan hanya itu saja, sesudah selesai Jayden malah membantu Aylin membetulkan letak rambutnya, dengan menyelipkan rambut Aylin ke telinganya.


Aylin seperti tersihir hanya bisa menatap Jayden, bingung dengan kelakuan Jayden.


Sedangkan Jayden juga baru sadar, menatap kagum ke Aylin, karena Aylin terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang agak berantakan.


Bi Ina yang mengantarkan tamunya ke ruang tamu, tidak memberitahu tuan mudanya lagi, karena dia berpikir tuannya juga sedang menerima tamu. Lagipula Maya dan Deddy sudah biasa berkunjung.


Sesudah mengantar tamunya ke ruang tamu, bi Ina langsung ke belakang untuk membuat minum buat tamu-tamunya itu.


Entah sudah sejak kapan Deddy dan Maya berdiri bengong menyaksikan perlakuan Jayden pada Aylin.


"Wah ternyata bosku yang dingin seperti Dewa Es itu juga bisa romantis dan hangat", pikir Deddy dalam hati kagum juga dengan keahlian bosnya yang serba bisa ini.


Berbeda dengan Maya yang hatinya bergejolak, antara marah , sedih dan frustasi. Selama dia berdua dengan Jayden, tidak pernah Jayden memperlakukannya seakrab itu.


Maya menatap marah ke Aylin, dia merasa kalau Aylin sudah merebut miliknya.


Aylin yang agak peka perasaannya tiba-tiba merasa ada kehadiran orang lain di ruangan itu.


Aylin menoleh ke jalan masuk ruang tamu, dan betapa kagetnya Aylin melihat Deddy dan Maya yang berdiri di sana.


Aylin langsung merasa malu dan menjauhkan posisi duduknya dari Jayden, Jayden yang melihat pergerakan Aylin akhirnya sadar kalau ada orang lain yang hadir di ruang itu.

__ADS_1


Jayden mengumpat dalam hati, dia merasa kesal karena sudah berhasil mendekati Aylin, malah diganggu lagi.


Akhirnya yang menjadi sasarannya adalah Deddy sekretarisnya. Dia menatap tajam ke Deddy, sambil bertanya, "Ada apa?"


"Oo saya hanya mengantar Bu Maya", jawab Deddy tak mau disalahkan bosnya.


Akhirnya Maya datang mendekati Jayden


"Ada beberapa hal yang harus kulaporkan padamu. Ada beberapa surat yang harus kamu cek juga, tidak bisa hanya aku yang menentukan semuanya. Ada beberapa masalah yang juga membutuhkan keputusanmu. Aku tidak bisa membuat keputusan semuanya. Aku tidak mau disalahkan Tante Sunjaya", jawab Maya tegas, sambil menyerahkan beberapa File yang sudah dia bawa ke tangan Jayden.


Akhirnya Aylin menggunakan kesempatan itu untuk segera pamitan, dia sungguh merasa tidak enak dan canggung pada Maya dan Deddy.


"Kak Jay, saya pulang dulu ya", ijin Aylin.


"Tunggu kakak beresin pekerjaan ini dulu, nanti kak Jay antar", jawab Jayden.


"Gak usah kak, Lin takut ibu khawatir, tadi belum ijin ibu pulang agak malam", jawab Aylin memberikan alasan.


"Ah kak Jayden ini sungguh terlalu, gak bisa lihat keadaan. Gak jaga perasaan kak Maya", pikir Aylin dalam hati merasa bersalah, karena bagaimanapun dia tahu wajah Maya sudah berubah, dan tidak ramah seperti biasa lagi.


Akhirnya Jayden memutuskan kalau Deddy yang mengantar Aylin pulang, karena langit sudah mulai gelap.


Aylin terpaksa setuju, karena keputusan Jayden tidak bisa ditolak.


Tentu Deddy lebih senang bisa mengantar Aylin pulang, dari pada mengantar Maya yang tidak terlalu bersahabat dengannya.


Bahkan dia sudah lupa misinya buat mengajak bosnya buat cepat kembali aktif di perusahaan lagi.


Tapi ternyata kesenangan Deddy hanya sementara, setelah mendengar tambahan instruksi bosnya.


"Nanti sesudah kamu antar Aylin pulang ke rumah, kamu balik lagi ya ke sini, buat antar Bu Maya pulang", perintah bosnya tanpa merasa bersalah.


"Kepalaku agak pusing", sambung bosnya lagi.


Deddy hanya pasrah dan mengangguk.


"Pusing koq tadi bisa mau antar Aylin pulang. Huh alasan gak mutu!" keluh Deddy dalam hati kesal.


Sedangkan Maya mendengar perintah Jayden mukanya bertambah gelap, bahkan dia sudah tidak memperdulikan sopan santun dan keramahannya yang biasa itu, dia sama sekali tidak menyahut saat Aylin pamit padanya!

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2