Loving You

Loving You
Teman Baru


__ADS_3

...“Aku tak peduli apa yang orang bicarakan tentangku. Yang aku tau, aku akan melakukan apapun yang aku yakini.”...


...****************...


“Ibu, Niken pesan jus alpukat satu, es batunya diblender ya, Bu,” pesan Niken pada ibu penjual jus yang ada di kantin.


“Cuma jus alpukat, Nak? Nggak ada niat pesan yang lain?”


“Nggak usah, Bu. Berapa harga jusnya, Bu?” tanya Niken sembari mengambil dompet warna peach dari dalam tas kesayangannya.


“Satu gelasnya sepuluh ribu, Nak. Tapi ini ibu masih ada pesanan yang lain, boleh tunggu sebentar?”


“Boleh kok, Bu. Tapi, nanti boleh tolong diantar ke meja nomor 9, Bu?” tanya Niken sembari menunjukkan meja kosong yang berada dekat dengan pintu keluar kantin.


“Iya, Nak. Nanti kalau udah siap biar Ibu antar ke sana.”


“Oke, Bu. Ini uangnya dan terima kasih banyak, Bu,” ucap Niken sambil memberikan uang jus, tak lupa dirinya memberikan senyuman manis kepada ibu penjual jus tersebut.


Setelah memesan, Niken beranjak menuju meja kosong yang bertuliskan nomor 9 di atasnya. Niken membuka sosial media di ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan ketika menunggu pesanan tiba.


“Hai, di sini masih kosong?” tanya seseorang yang membuat Niken menghentikan aktivitasnya.


“Oh, iya kosong kok,” sahut Niken yang langsung meletakkan ponsel di atas meja, kemudian menatap seseorang yang kini berdiri di depannya. Ternyata yang bertanya itu adalah seorang gadis setingkat dengannya karena garis di lengan bajunya yang hanya ada satu.


“Boleh aku bergabung untuk duduk di sini?” tanyanya.


“Oh, silahkan saja, dengan senang hati,” jawab Niken memberikan senyuman.


Karena sudah mendapatkan persetujuan, gadis itu pun duduk di kursi kosong yang ada di depan Niken. Dia sedikit menyisir rambut bob miliknya ke belakang. Niken mengambil inisiatif untuk mengajak berkenalan duluan.


“Hai, namaku Niken Diva Putri, kamu bisa manggil aku dengan nama Niken,” ucap Niken sambil mengulurkan tangan kanannya, mengajak berkenalan.


“Oh, namaku Sabyla Laila Putri. Kamu bisa panggil aku dengan nama Sabyla, Byla, atau senyaman kamu aja,” sahut gadis itu membalas jabat tangan Niken.


“Aku panggil kamu Byla aja ya?” tanya Niken.


“Boleh aja kok, kan udah aku bilang senyaman kamu aja mau manggil apa,” ucap Sabyla dan melepaskan jabat tangan di antara mereka berdua.


“By the way, kamu nggak pesan sesuatu?” tanya Niken karena tidak melihat satupun pesanan yang dibawa oleh Sabyla.


“Udah, Kok. Ini lagi tunggu diantar ke sini,” jawab Sabyla.


“Kalau kamu nggak pesan?” Sabyla akhirnya ikut bertanya.


“Aku udah pesan kok. Ini lagi nunggu pesanannya diantar juga, kayak kamu.”


“Baguslah,” jawab Sabyla dan mulai memainkan ponsel miliknya yang memang sudah dipegang sejak tadi.


“Kamu udah tau kelas kamu ada di mana saat pembagian kelas tadi?” tanya Sabyla mencoba memecah keheningan di antara mereka. Dirinya mengalihkan pandangan dari layar ponsel miliknya dan melihat Niken yang melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Eh, emangnya kelas kita udah dibagi ya?” tanya Niken sedikit kaget karena tidak tau tentang hal tersebut.


“Kamu nggak tau?” tanya Sabyla heran. Niken menggelengkan kepala sebagai jawaban.


“Memangnya kamu ke mana aja saat pengumuman pembagian kelas dibagikan?” tanya Sabyla lagi.


“Aku tadi datang telat ke sekolah, jadi aku dapat hukuman deh,” jawab Niken cengengesan.


“Owalah, pantesan kamu nggak tau,” ucap Sabyla mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti.


“Yaudah, nanti siap ini mau aku temenin cari kelas kamu?” tawar Sabyla.


“Beneran?!” tanya Niken semangat.


“Iya loh, ngapain juga bercanda.”


“Hehehe, aku cuma nggak nyangka aja kamu bakalan tawarin untuk cari kelas aku bareng. Makasih banyak ya.”


“Iya, sama-sama,” jawab Sabyla.


Pembicaraan mereka terhenti ketika pesanan mereka berdua sudah sampai. Tak lupa mereka mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkan pesanan mereka ke meja yang mereka tempati.


Niken hanya memesan jus alpukat. Sedangkan Sabyla memesan satu mangkok bakso lava dan satu gelas es teh manis.


“Kamu cuma pesan jus, Ken? Nggak pesan makanan gitu? Nanti laper loh, apalagi kita masih ada orientasi lagi siap istirahat,” tanya Sabyla yang heran melihat Niken yang hanya memesan segelas jus.


“Kamu yakin? Nanti takutnya kamu lemes loh karena nggak makan, nggak ada tenaga,” khawatir Sabyla.


“Ih, beneran loh,” ucap Niken berusaha meyakinkan.


“Yaudah deh, terserah kamu. Tapi, kalau nanti kamu sampai kenapa-kenapa, aku nggak ikut tanggung jawab loh,” jawab Sabyla mengalah.


“Tenang aja kamu, Byl, nggak bakalan kok,” sahut Niken.


Sabyla masih tak habis pikir dengan teman yang baru dikenalnya itu. Jika Sabyla di posisi Niken, maka dirinya yakin bahwa tak akan sanggup untuk menahan lapar. Mereka akan dijemur hampir seharian, jadi membutuhkan tenaga yang cukup. Jika tidak makan, darimana tenaga itu akan diperoleh?


Jika dilihat, badan Sabyla sedikit berisi tapi pas dengan bentuk tubuhnya. Dirinya tidak terlalu kurus maupun terlalu gemuk. Bisa dibilang hampir seperti tubuh ideal lah.


Kulitnya yang berwarna kuning langsat sangat cocok dipadukan dengan wajahnya yang manis. Matanya sedikit sipit dan hidungnya lumayan pesek, tapi terlihat begitu pas untuk dipandang.


Gaya yang sedikit tomboy sangat cocok dipadukan dengan rambut bob miliknya. Jangan lupa wajahnya yang tanpa polesan make up, namun masih terlihat menawan. Jaket denim yang dipakai semakin menambah kesan keren pada diri Sabyla.


“Byl, kamu dapat kelas berapa?” tanya Niken yang masih asik menyeruput jus alpukat miliknya.


“Aku dapat kelas X MIPA 1, Ken,” jawab Sabyla dengan mulut yang penuh dengan bakso.


“Ih, telan dulu baksonya baru ngomong, Byl. Nanti tersedak baru tau rasa,” tegur Niken.


“Iya, sorry,” jawab Sabyla yang sudah menelan baksonya.

__ADS_1


“Hah, aku berharap semoga kita satu kelas, Byl,” harap Niken.


“Entah, kita liat aja nanti,” jawab Sabyla acuh dan kembali melanjutkan makannya.


Kini mereka berdua kembali saling diam, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Niken hanya melihat sekitar, sedangkan Sabyla masih begitu asik melahap bakso lavanya.


“Ayo, Ken,” ajak Sabyla ketika sudah selesai makan.


“Ayo kemana?” tanya Niken heran.


“Cari kelas kamu lah! masa baru sebentar udah lupa aja,” cibir Sabyla.


“Hehe, sorry kurang fokus,” jawab Niken tak enak hati.


“Yaudah, ayo jalan sekarang. Nggak sampe 10 menit lagi kita udah masuk.”


“Kamu udah bayar pesanan kamu, Byl?” tanya Niken.


“Udah daritadi, sekalian pesan. Yaudah, ayo cepat!”


“Sabar atuh, ini kan juga lagi jalan,” ucap Niken sambil mengikuti Sabyla yang sudah berjalan duluan.


Mereka berdua mulai mencari kelas Niken. Setiap list nama yang ditempelkan di setiap ruang kelas untuk siswa baru mereka baca semuanya. Ternyata Niken mendapatkan kelas yang sama dengan Sabyla.


“Alhamdulillah, ternyata aku satu kelas sama kamu, Byl,” ucap Niken ketika melihat namanya ada di ruang kelas yang sama dengan teman barunya itu.


“Iya, alhamdulillah,” jawab Sabyla sedikit cuek.


“Kok gitu banget sih ekspresinya! Lebih senang sedikit dong,” ucap Niken sambil memegang pipi Sabyla dan membuatnya tersenyum dengan paksa.


“Ck, udah lepasin, Ken! Aku paling nggak suka kalau ada yang nyentuh pipi aku,” ucap Sabyla dengan risih.


“Eh, iya kah? Sorry kalau kayak gitu.” Niken dengan segera menarik kembali tangannya dari pipi Sabyla.


Kringg!!!!


“Udah sana kamu tarok tas kamu di dalam kelas, bel udah bunyi tuh,” titah Sabyla yang dituruti oleh Niken.


“Buruan, Ken! Mereka udah pada ngumpul tuh,” desak Sabyla ketika melihat siswa lain yang sudah kembali berbaris dengan rapi.


“Iya, sebentar,” sahut Niken.


“Yaudah, ayo buruan kita ikut baris sekarang,” ajak Niken.


“Yang daritadi lama siapa hah?” tanya Sabyla sedikit kesal.


Daritadi Niken lah yang sangat lama. Tapi lihatlah sekarang? Niken berbicara seperti dirinya yang lama. Padahal Sabyla lah yang menunggu Niken daritadi.


Akhirnya pun mereka bergabung dalam barisan. Niken dan Sabyla mengikuti sisa kegiatan orientasi hari itu dengan baik. Terkadang mereka berdua bercanda saat berada dalam barisan. Mereka juga terkadang membicarakan hal yang sangat random dan absurd. Sepertinya Niken sudah menemukan seorang teman yang cocok dengannya.

__ADS_1


__ADS_2