Loving You

Loving You
Tamu tak diduga


__ADS_3

Keesokan harinya keluarga Sunjaya sudah bersiap berangkat menjenguk Bu Hutomo sekitar jam 7, karena perjalanan ke rumah Bu Hutomo lumayan jauh.


Ibu Jayden juga sudah menyiapkan bingkisan buah dan roti.


Kali ini Jayden yang menyetir mobil, Jayden tidak ikut nimbrung saat ayah ibunya ngobrol, dia sedang konsentrasi mengemudi, jadi tidak mengikuti obrolan ayah dan ibunya di dalam mobil.


Otaknya hanya ingin segera sampai ke rumah Aylin, dia ingin segera tahu apakah Ayahnya bisa membujuk Aylin bekerja di perusahaan mereka.


Jayden berpikir kemungkinan Aylin pasti menolak tawarannya, karena sepertinya Aylin tidak suka padanya sekarang. Setiap mereka bertemu pasti berakhir dengan suasana tidak enak dan membuat Aylin marah padanya.


Tapi kemampuan membujuk ayahnya biasa hebat, biasanya ayah paling pintar membujuk orang. Ibu yang galak dan keras kepala saja bisa dibujuk oleh ayah, pikir Jayden .


Untung saja tadi pagi saat Jayden bertemu ibunya, ibunya sama sekali sudah tidak membicarakan pertikaian mereka semalam.


Dengan begitu Jayden tetap akan dengan rencana nya semula, menjadikan Aylin sebagai sekretarisnya.


Saat mereka sampai di rumah Bu Hutomo, Aylin sedang menjahit. Aylin belum mengijinkan ibunya menjahit karena menurut Aylin saat ini dia juga belum bekerja, juga sudah tidak kuliah lagi, jadi sebaiknya dia yang menjahit dulu daripada tidak ada kegiatan apapun, lagipula ibunya bisa beristirahat dulu karena baru sembuh.Begitulah alasan Aylin, akhirnya ibunya setuju dan tidak mengajukan protes lagi.


Saat mendengar ada yang mengetuk pintu pagar, Aylin pun segera bangun, tapi dicegah ibunya.


" Biar ibu saja yang buka Lin, paling pencatat meteran PAM atau PLN", kata ibunya.


"Baiklah Bu, Aylin teruskan menjahit lagi deh", jawab Aylin tersenyum, dia sedang konsentrasi dengan jahitannya. Aylin merasa tertantang untuk menghasilkan jahitan yang banyak, apakah mencapai targetnya atau tidak.


Aylin akhirnya duduk lagi dan konsentrasi dengan jahitannya, dia tidak sadar kalau ibunya membawa masuk 3 orang tamu, dia juga berpikiran yang datang itu adalah pencatat meteran, karena hari ini adalah awal bulan.


Karena rumah mereka kecil, saat tamunya masuk sudah bisa melihat Aylin yang sedang menjahit, dengan posisi memunggungi tamunya

__ADS_1


"Aylin, ada tamu!", panggil ibunya memecahkan konsentrasi menjahitnya. Aylin segera berdiri membalikkan badan, dan kaget melihat ke 3 tamunya itu.


Ibu dan ayah Jayden berdiri sejajar, sedangkan Jayden berada di belakang kedua orangtuanya dan menenteng kantong bingkisan.


Aylin tertegun dia tidak menyangka Jayden akan ke rumahnya lagi, karena terakhir bertemu Jayden suasananya sangat kaku, lagipula dari dulu Jayden juga tidak pernah mencarinya, mungkin kemaren mengantar dia dan ibunya pulang, karena dia tidak enak pada ibunya, pikir Aylin saat itu.


"Koq ada tamu malah bengong Lin?, tanya ibunya lagi.


Aylin tersadar, dia segera berjalan untuk menyalami Ayah dan ibunya Sunjaya, dengan tersipu malu karena ketahuan melamun.


"Ah.. ibu payah, gak lihat situasi ngomongnya", pikir Aylin dalam hati.


"Om, Tante apa kabar?" sapa Aylin berusaha menetralkan suasana. Tanpa sadar dia kemudian melihat ke Jayden yang berdiri agak belakang.


Pipinya tambah bersemu melihat pandangan Jayden yang intens, menatapnya dari atas kebawah dan sesudah itu berhenti sebentar pada kakinya.


Saat itu Aylin sedang mengenakan kaos longgar dan celana pendek jeans, dia jadi teringat Jayden mengatai dia yang memakai rok terlalu pendek, padahal cuman di atas lutut sedikit, lalu apa pikirannya kalau aku memakai celana pendek.


Padahal Jayden sedang menatap ke luka lutut Aylin yang sudah mengering tapi masih ada bekas lecet, untuk melihat apakah sudah sembuh atau belum.


"Wah boneka om sudah dewasa dan bertambah cantik", puji ayah Jayden berusaha mencairkan suasana yang kaku. Memang ayah Jayden kadang suka bergurau.


"iya, Aylin sudah dewasa dan bertambah cantik", sambung ibu Jayden juga.


Aylin sebenarnya malu dipuji di depan Jayden, tapi dia berusaha sopan dan menjawab, "Terimakasih om, terimakasih Tante".


Akhirnya Jayden meletakkan bingkisan di meja, dan sudah tidak menatap Aylin lagi, Aylin pun bisa menarik nafas lega. Bu Hutomo mengucapkan terimakasih pada Jayden.

__ADS_1


Sesudah itu Ayah dan ibu Jayden mengobrol dengan ibu Aylin, Aylin bersyukur dia tidak jadi pokok pembahasan lagi. Sedangkan Jayden seperti biasa duduk diam.


"Huh duduk diam pun tampangnya sombong", pikir Aylin yang sempat mencuri pandang ke Jayden. Entah mengapa sekarang Aylin jadi sentimen pada Jayden.


Ternyata Jayden pun sering melirik ke Aylin diam-diam, dia merasa Aylin tambah cantik dan imut saat tadi pipinya bersemu merah (maklum saja, Dewa Es sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya).


Tapi tiba-tiba Jayden teringat sesuatu dan ngedumel dalam hati ," Dasar gak bisa diomongin, sudah dibilang jangan suka pakai yang pendek-pendek, malah makin pendek! untung saja di dalam rumah".


Itulah Jayden yang posesif, dia bahkan sudah mulai berpikir untuk membuat peraturan baru di perusahaannya saat Aylin bekerja nanti, khusus karyawan wanita tidak boleh memakai rok yang pendek.


Karena keduanya sibuk dengan lamunan dan penilaian masing-masing, akhirnya mereka tidak terlalu mengikuti obrolan orang tua mereka.


Bu Hutomo meminta maaf pada Ibu dan pak Sunjaya karena waktu perusahaan mereka bangkrut dan pindah rumah tidak memberitahu.


Dia menceritakan, bagaimana Pak Hutomo merasa malu atas kegagalannya, sehingga mengajak mereka sekeluarga pindah tanpa memberitahu siapapun juga, akhirnya sebagai istri dia hanya mengikuti keinginan Pak Hutomo.


Juga menceritakan bagaimana Pak Hutomo merasa tertekan dan stress dengan keadaannya, akhirnya penyakit komplikasinya kambuh dan akhirnya meninggal. Jadi saat Aylin kelas 10 sudah tidak memiliki ayah. Dan beruntungnya mereka bertemu perusahaan konveksi ibu Denny, yang sering memberikan pekerjaan dan selalu ada, sehingga mereka bisa melewati harinya dengan baik.


Bu Hutomo matanya sempat berkaca-kaca pada saat mengenang masa sulitnya dulu.


Bu Sunjaya yang melihat hal tersebut berusaha menghibur dan mengatakan bahwa yang penting sekarang anaknya sudah dewasa dan sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, juga pengertian.


Tadi saat Bu Sunjaya masuk, dia melihat Aylin sedang menjahit, padahal seingat dia dulu Aylin anak yang manja. Bahkan dia ingat saat dia pernah menggoda Jayden dengan menjodohkannya dengan Aylin, Jayden menjawab tidak mungkin karena sifatnya berbeda jauh, Jayden suka di rumah, sedangkan Aylin suka keluyuran jalan-jalan, Jayden suka membaca dan belajar, Aylin tidak suka, Jayden suka sendiri, Aylin suka ngumpul teman-teman.


Ternyata perjalanan hidup yang sulit sudah merubah banyak sifat Aylin, pikir Ibu Jayden. Entah mengapa face Aylin memang mudah membuat orang merasa kasihan.


Ayah Jayden dari tadi hanya menjadi pendengar pembicaraan antara istrinya dan Bu Hutomo. Dia memilih diam dari tadi, dia sedang menunggu saat yang tepat untuk menawarkan pekerjaan pada Aylin.

__ADS_1


Saat istrinya dan Bu Hutomo terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing, Pak Sunjaya berpikir inilah saatnya dia memulai pembicaraan itu.


Bersambung.........


__ADS_2