
Aylin yang dari tadi sedang serius melihat petunjuk Bu Desy langsung kaget saat namanya disebut Jayden.
"Aduh kak Jay ini kenapa lagi? kemaren kan sudah baik-baik saja. kupikir sudah aman, kalau begini terus sepertinya aku harus pertimbangkan tawaran kak Denny", pikir Aylin dalam hati merasa was-was lagi.
Tanpa memperdulikan yang lain, Jayden langsung menghampiri meja Aylin. Deddy sang sekretaris yang berada di belakang Jayden saja bingung dengan kelakuan aneh bosnya akhir-akhir ini, yang susah dia prediksi lagi sekarang.
Bu Desy bingung entah kesalahan apa yang sudah dilakukan Aylin, setahunya kemaren Aylin memang ada salah, akan tetapi dia tidak pernah memberitahu siapapun juga, entah mengapa Bu Desy kalau melihat wajah Aylin tidak tega memarahinya.
Akhirnya Bu Desy malah melirik curiga ke Lulu.
"Atau jangan-jangan Lulu yang ngadu?", pikirnya dalam hati.
"Kamu kemaren sesudah pulang dari rumah kak Jay kehujanan, gak pa pa kan?", tanya Jayden dengan santai sambil menatap Aylin yang bengong.
Aylin sampai tertegun mendengar pertanyaan Jayden dan tidak bisa berkata apa-apa, malah dia ketakutan sendiri melihat teman satu ruangannya.
Aylin takut Pak Yanto, Bu Dessy dan Lulu salah sangka.
Kagetnya belum habis, tiba-tiba Jayden menyentuh dahinya dan bertanya, "Kamu gak pa pa kan Lin, koq gak jawab?"
Dalam hal ini, sepertinya Jayden belajar dari rivalnya Denny.
Aylin pipinya langsung bersemu merah karena malu, segera memundurkan kepalanya ke belakang dan menggeleng.
"Gak pa pa pak!" sahutnya cepat, bahkan dia merubah panggilan kakak menjadi pak.
Pak Yanto dan Bu Dessy kaget melihat kejadian itu, tapi mereka berlagak bersikap biasa saja seakan tidak melihat apa-apa, mereka tidak mau berurusan dengan Jayden.
Kalau Lulu sudah tidak kaget lagi, karena dia sudah pernah melihat hal seperti itu, hanya saja dia semakin kagum pada Aylin, entah jurus apa yang sudah dipakai Aylin sampai Pak Jayden pun jatuh pada godaannya Aylin, padahal selama ini pak Jayden tidak pernah tergoda gadis manapun, hanya akrab dengan Bu Maya saja, pikir Lulu dalam hati.
"Sayang aku terlanjur memusuhinya, kalau tidak aku kan bisa tanya ilmunya itu", pikir Lulu agak menyesal.
"Ya udah kalau gak pa pa, kalau ada masalah beritahu kak Jay", sahut Jayden lagi yang beranjak pergi sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua yang di ruangan itu tambah kaget lagi melihat senyum Jayden yang langka itu.
Deddy segera mengikuti bosnya dari belakang, Deddy sampai menggeleng-geleng bingung melihat tingkah bosnya yang di luar dugaan.
Akhirnya Deddy tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
"Bos kalau mau bicara masalah pribadi, kenapa Bu Aylin gak dipanggil ke ruangan bos saja? Nanti jadi gosip satu perusahaan lho!" tanya Deddy dengan penasaran dan sok menasehati.
"Kamu tahu apa? kamu mau mengguruiku? aku tidak perduli orang mau ngomongin aku apa di belakangku!" jawab Jayden tidak mau menerima kritikan dari sekretarisnya.
"Maaf bos, bisa beritahu alasannya gak?", tanya Deddy masih penasaran, dia sudah tidak perduli kalaupun diomelin bosnya.
Ternyata mood bosnya sedang bagus, pertanyaan Deddy dijawab.
"Aku sengaja, aku hanya memberi tanda", jawab Jayden.
"Tanda apa bos?", tanya Deddy lagi semakin penasaran.
"Kalau Aylin itu milikku, biar tidak ada yang berani lagi mendekati dan menggoda Aylin, siapa yang berani bersaing denganku?", jawab Jayden dengan percaya diri.
Dia benar-benar salut dengan bosnya yang bermuka tembok itu, yang sama sekali tidak perduli dengan perkataan dan pendapat orang lain, yang dengan semena-mena menggunakan kekuasaannya itu.
"Ah.. ternyata pikiran orang kaya dan pintar susah dimengerti", pikir Deddy dalam hati.
...********...
Sedangkan Aylin benar-benar bingung dengan kelakuan Jayden. Dia makin tidak mengerti kemauan Jayden. Sekarang dia malah menjadi canggung di dalam ruangannya.
Dia melirik ke pak Yanto dan Bu Dessy, tetapi tidak ada yg berkata apa-apa.
Bahkan Lulu yang biasa suka menyindirnya, juga tidak berkomentar apa-apa.
Akhirnya Aylin tidak tahan sendiri, dia sendiri yang memberikan pengakuan ke Bu Desy, dia takut Bu Desy salah sangka.
__ADS_1
"Bu Desy, saya sama pak Jayden dulu teman waktu kecil, rumah kami juga berdekatan. Orangtua saya dan orang tua pak Jayden saling kenal, saat saya mencari pekerjaan, akhirnya Bu Sunjaya menawari saya pekerjaan di sini", ujar Aylin mengakhiri ceritanya.
Bu Desy akhirnya mengangguk, "Oo begitu ya"
Akhirnya pelan-pelan Bu Desy mulai akrab dan bersikap seperti biasa lagi dengan Aylin. Aylin akhirnya bisa bernafas lega.
Sedangkan pak Yanto, Aylin tidak terlalu bermasalah, karena Aylin jarang berhubungan langsung dengan pak Yanto, pasti melalui Bu Desy dulu. Nanti juga pasti Bu Desy bisa ceritakan ke pak Yanto.
Kalau Lulu lebih tidak masalah lagi, karena Aylin sudah terbiasa dicap jelek oleh Lulu. Buat dia tambah cap jelek sekali lagi juga tidak masalah. Yang penting sekarang Bu Desy sudah bisa bersikap biasa lagi padanya, itu sudah cukup.
Jam istirahat Dimas benar-benar datang ke perusahaan untuk membagikan undangan pernikahannya dengan Cika.
Dimas memilih yang praktis saja dan mempersingkat waktu, karena bisa langsung mengantarkan undangan untuk Chandra, Jayden, Maya, dan Aylin.
Saat Dimas sampai pada ruangan Aylin, Aylin merasa kecewa karena best friendnya Cika tidak ikut.
"Cika gak ikut ya kak Dimas?", tanya Aylin.
"Enggak Lin, Cika sibuk, jadi kak Dimas sendirian ke sini", jawab Dimas berbohong, padahal Cika gak ikut gara-gara paling anti sama Jayden dan mungkin masih dendam. Tapi Dimas tidak memberitahukan hal sebenarnya pada Aylin.
"Sampaikan salam saya buat Cika ya kak", sambung Aylin lagi.
"iya Lin, nanti kakak sampaikan. Sebenarnya Cika juga kangen ketemu kamu, nanti kalau dia sudah gak sibuk lagi dia pasti mencarimu", hibur Dimas.
Aylin sebenarnya ada beberapa kali telpon telponan dengan Cika, tapi Aylin sering merasa kurang seru kalau hanya berbicara di telpon saja. Tentu lebih enak bertemu langsung. Tapi Cika sedang mempersiapkan pernikahannya tentu sibuk, pikir Aylin.
"Ok kak ,terimakasih", jawab Aylin akhirnya.
"Jangan lupa kamu harus datang ya! Nanti kamu datang sama kak Denny ya. Kemaren kak Dimas ada telpon kak Denny, mau tanya undangannya diantar kemana, tapi kak Denny bilang gak usah repot-repot, dia akan datang bersamamu, jadi cukup satu undangan saja katanya", ucap Dimas menerangkan pada Aylin.
"Baik kak, saya pasti datang. Nanti saya akan sampaikan undangannya juga pada kak Denny", jawab Aylin mengiyakan.
Sesudah itu Dimas pun pamitan pulang, Dimas masih harus membagikan beberapa undangan lagi ke tempat yang berbeda.
__ADS_1
"Ah Cika sungguh beruntung perjalanan cintanya yang mulus, pertama kali jatuh cinta dengan orang yang tepat, yang juga mencintainya, dan akhirnya sampai menikah, sungguh bahagia ", pikir Aylin dalam hati, dan tentu dia juga turut berbahagia buat temannya Cika.
Bersambung.........