Loving You

Loving You
Maya naik jabatan


__ADS_3

Jayden dan Maya berjalan menyebrangi jalanan tanpa berbicara apapun. Restoran yang dituju hanya berada si seberang perusahaan, jadi tidak perlu membawa kendaraan.


Maya sedang bingung dengan suasana yang dia lihat tadi, dimana Jayden begitu perhatian pada Aylin.


Pikiran Maya menjadi mumet, sehingga dia sibuk dengan pikirannya sendiri dan sama sekali tidak memulai percakapan.


Selama mengenal Jayden belum pernah dia melihat Jayden begitu perhatian dan lembut terhadap seseorang.


Hatinya bergejolak dan tidak tenang, Maya sungguh tidak rela kalau sampai Jayden menyukai Aylin.


Dia merasa tidak adil baginya, dia sudah menunggu Jayden begitu lama.


Otaknya terus berpikir tapi tidak bisa terpikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan untuk mencegah kedekatan Aylin dan Jayden.


Sedangkan Jayden memang sudah biasa jarang memulai pembicaraan, apalagi saat ini dia sedang membayangkan wajah cantik Aylin yang kaget tadi.


Dia senang karena dia sudah bisa melakukan pendekatan pada Aylin walaupun dia tidak tahu Aylin suka atau tidak, yang penting Aylin tidak menolaknya.


Saat ini Jayden merasa dia di atas angin, apapun yang dilakukannya pada Aylin, Aylin tidak pernah menolaknya, bahkan Aylin pasrah.


Jayden memang orang yang sangat percaya diri, bahkan saat ini dia tidak perduli kalaupun Aylin sudah punya Denny.


Tidak ada peraturan yang bisa mengikatnya kalau dia menginginkan sesuatu. Jadi kalau dia ingin merebut Aylin dari Denny, dia juga tidak merasa bersalah.


Yang lebih parah lagi, menurut dia Aylin adalah miliknya dari dulu, orang lain tidak berhak mengambil Aylin dari dia.


Itulah sifat egois dan mau menang sendirinya Jayden!


Sampai di dalam restoran, Pak Sunjaya dan Bu Sunjaya sudah menunggu, bahkan sudah memesan makanan.


Muka Jayden terlihat cerah, walaupun tidak tersenyum, karena moodnya sedang bagus.


.


Sedangkan Maya yang biasa selalu terlihat cerah, dan ramah, malah mukanya kusut seperti orang kurang tidur.


"Ada hal penting apa Bu sampai memanggilku ke sini?", tanya Jayden pada ibunya sambil duduk di bangku sebelah ibunya. Karena dia kesal juga tadi sedang pendekatan dengan Aylin menjadi terganggu.


Sedangkan Maya mengikuti Jayden ikut duduk di sebelah Jayden.


"Makan dulu nanti baru diomongin sesudah selesai makan", sahut ibu.


Karena mood Jayden sedang bagus dia menuruti perkataan ibunya dan langsung makan tanpa protes.


Saat makan dia malah teringat Aylin yang sepertinya belum makan.


"Heran, tidak bisa menjaga diri sendiri", pikirnya khawatir. Sebenarnya tadi dia ingin mengajak Aylin ikut makan, tapi karena Maya berkata Ibu ingin membicarakan hal penting, akhirnya tidak jadi.


Akhirnya sesudah selesai makan Ibupun memulai pembicaraan.


"Jayden, menurut ibu sekarang Frame mu sudah makin berkembang, dan perusahaan kain kita juga sedang meningkat pesat. ibu merasa kamu perlu dibantu yang ahli dan mengerti seluk beluk perusahaan, ibu merasa Maya cocok jadi wakil presiden direktur. Jadi saat kamu ke Frame, ada Maya yang mewakilimu", tegas ibu Jayden.

__ADS_1


Maya kaget dengan ucapan ibu Jayden, dan berkata,


"Saya tidak yakin bisa menangani Tante,"


"Kamu harus percaya dengan pandangan Tante, Tante yakin kamu pasti bisa", jawab ibu Jayden meyakinkan Maya.


Akhirnya Maya mengangguk setuju.


"Bagaimana menurut pendapatmu Jayden?", tanya ibu pada Jayden.


Jayden terlihat berpikir sejenak, tidak butuh waktu lama buat Jayden mengiyakan usul ibunya.


"Baiklah Bu , selama Maya tidak keberatan, aku juga tidak masalah", jawab Jayden menyetujui ibunya.


Tidak seperti saat ibunya menawari Maya menjadi sekretarisnya.


Sebenarnya Jayden tahu kalau Maya menyukainya, karena itu, dulu dia menolak Maya sebagai sekretarisnya.


Dia tidak mau Maya terlalu dekat dengannya. Dia mau perasaan Maya padanya hilang


Jayden selama ini selalu baik pada Maya karena dia merasa bersalah pada Maya.


Karena dulu dia telah memanfaatkan Maya untuk menjauhi Aylin.


Jadi selama ibunya membuat peraturan yang tidak mengganggunya, dia tidak akan membantah.


Lagipula menurut Jayden, Maya memberikan kontribusi yang cukup besar pada perusahaan mereka.


Maka disepakatilah kalau Maya akan diangkat jadi wakil presiden direktur dan akan diumumkan dalam meeting, sesudah istirahat.


Setelah kejadian tadi Aylin hampir bisa dipastikan tidak konsentrasi lagi, tidak seperti saat pertama dia tadi mempelajari data-data di komputernya.


Komputernya masih menyala, tatapan Aylin juga ke monitor, tapi pikirannya tak menentu.


Dia tersadar ketika seseorang memanggilnya.


Aylin menatap ke orang yang memanggilnya, ternyata pak Ridwan.


"Oo, ada apa pak Ridwan", sahut Aylin dengan sopan.


Ternyata Ridwan tadi diruang sebelah, bekas ruang kerjanya.


Sesudah selesai membuat kopi, tanpa sadar dia melihat ke ruang marketing dan melihat kalau Aylin sedang sendirian dan terlihat sedang mengerjakan sesuatu.


Akhirnya dia tertarik untuk mendekati Aylin, sebenarnya dari kemaren dia sudah tertarik melihat Aylin yang cantik, tapi baru hari ini dia memiliki kesempatan untuk mendekati Aylin.


"Jam istirahat sedang mengerjakan apa Lin?", tanya Pak Ridwan sok akrab.


"Ah tidak pak, cuman iseng melihat-lihat saja", jawab Aylin sambil tersenyum.


Bagaimanapun juga dia merasa harus sopan kepada pak Ridwan, karena pak Ridwan jabatannya cukup tinggi.

__ADS_1


Tapi karena senyum Aylin, malah membuat Ridwan semakin terpana pada kecantikan Aylin dan makin betah berada di ruangan marketing.


"Aduh koq gak pergi-pergi sih, bisa gawat nih kalau sampai Lulu datang, bisa-bisa aku dibilang menggoda pak Ridwan lagi!", pikir Aylin mulai ketar-ketir.


Bagaimana juga dia masih baru di sini, dia tidak ingin cari masalah.


Karena Aylin tahu dari Bu Desy, kalau Lulu sedang mengincar Ridwan.


"Kamu sudah makan siang?", tanya pak Ridwan lagi.


"Sudah pak", sahut Aylin tersenyum lagi.


Karena Aylin benar-benar bingung menghadapi Ridwan, akhirnya dia hanya bisa tersenyum agar kelihatan sopan sambil dalam hati dia berharap ada yang segera kembali ke ruangannya, asal jangan Lulu.


Benar saja tidak lama kemudian ada yang datang ke ruangan Aylin, tapi bukan Lulu, melainkan Jayden dan Maya.


Aylin sudah senang mendengar langkah orang ke ruangannya, tapi begitu melihat yang datang senyumnya langsung lenyap.


Jayden yang sempat melihat senyum Aylin , malah menjadi kesal.


"Dasar penggoda, dengan laki-laki lain dia bisa tersenyum!" pikirnya dalam hati. Jayden memang sangat posesif.


Akhirnya Jayden menatap tajam ke pak Ridwan dan bertanya,


"Sedang apa disini?"


Ridwan bingung dan menjawab, "Ah sedang ngobrol aja pak".


Tetapi dalam hatinya dia bingung, ini masih jam istirahat, koq kayanya Pak Jayden marah ya?


Aylin tanpa sadar menatap Jayden, dan dia buru-buru menunduk ketika Jayden menatapnya tajam.


"Aduh aku salah apalagi?", pikir Aylin dalam hati.


Untung saja akhirnya Maya memecahkan kecanggungan itu.


"Pak Ridwan, nanti sesudah istirahat ada meeting ya", ucap Maya pada Ridwan


Ridwan mengiyakan dan mengangguk, sesudah itu segera beranjak pergi.


Dia sungguh merasa tidak enak karena ditatap Jayden terus, padahal dia masih betah di ruangan itu.


Menurutnya dia tidak bersalah, karena ini masih jam istirahat, tapi dia tidak mau bermasalah dengan Jayden.


"Aylin, kamu sampaikan juga pada pak Yanto, kalau nanti ada meeting sesudah jam istirahat!', ucap Maya memerintah.


"Baik kak Maya, nanti saya sampaikan", jawab Aylin sopan.


Jayden dari tadi sudah tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya menatap Aylin dengan intens.


Tapi akhirnya Jayden memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan Aylin, karena dia tahu kalau dia tidak pergi, Maya juga tidak akan pergi.

__ADS_1


Aylin akhirnya bisa menarik nafas lega, dia bertekad mulai besok jam istirahat dia tidak mau berada di kantor lagi, lebih baik dia keluyuran tanpa tujuan daripada harus berada dalam suasana tegang terus.


Bersambung........


__ADS_2