Loving You

Loving You
Aylin yang ingin pindah


__ADS_3

Suasana menjadi lebih canggung lagi , ketika tinggal Jayden , Aylin dan Maya.


Karena sesudah selesai makan, ayah dan ibu Jayden ada keperluan jadi langsung pulang, dan tidak mampir ke perusahaan lagi. Ayah Jayden juga memarkir mobilnya di tempat parkir restoran, jadi tidak perlu balik lagi ke Perusahaan.


Aylin segera berjalan kembali ke perusahaan, tanpa berkata apa-apa lagi, dia merasa tidak enak berada diantara Jayden dan Maya.


Tapi tentu tidak mudah menghindar dari Jayden, Jayden yang tidak berperasaan malah berkata pada Maya, "May, kutinggal dulu ya!" langsung mengejar Aylin yang sudah berjalan duluan, tanpa menunggu jawaban Maya.


Maya hanya bisa melihat kepergian Jayden dengan perasaan kecewa dan sakit hati. Apa yang dia takutkan dulu sudah terjadi, kalau dia harus bersaing dengan Aylin, dia akan kalah.


Apalagi sesudah melihat kelakuan Jayden, kelihatannya kali ini Jayden sudah tergila-gila dengan Aylin.


Selama Maya mengenal Jayden, tidak pernah sekalipun Jayden begitu perhatian pada seseorang, apalagi seorang wanita. Biasanya Jayden selalu bersikap dingin pada wanita, hanya dengan Maya saja Jayden bisa berbincang-bincang selama ini.


Aylin yang tangannya tiba-tiba digandeng dari belakang tentu terkejut. Aylin berhenti melangkah dan menatap bingung ke Jayden.


Setelah sadar Aylin cepat- cepat menepis tangan Jayden yang menggandengnya


"Kak Jay jangan gitu!" ujar Aylin.


"Gak pa pa, masa kak Jay harus melihatmu jalan seperti itu tanpa membantumu?", jawab Jayden yang tidak perduli dan kembali menggandeng tangan Aylin.


Maya yang melihat Aylin dan Jayden yang sedang adu mulut itu, segera berjalan melewati kedua orang itu tanpa menoleh lagi. Maya tidak ingin melihat perhatian Jayden pada Aylin, karena hanya akan membuatnya sakit hati dan bertambah kesal.


Aylin yang melihat Maya melewatinya, bertambah tidak enak hati pada Maya.


Muka Maya terlihat sedang marah dan kesal.


"Ah, kak Jay terlalu! tidak berperasaan", pikir Aylin dalam hati.


"Kak Jay jangan begitu, Lin sungguh merasa gak enak pada kak Maya", omel Aylin mulai kesal dengan Jayden yang keras kepala itu.


"Kenapa harus gak enak, biarin saja", jawab Jayden tanpa merasa bersalah.


"Dasar manusia gak berperasaan!" omel Aylin lagi.


Akhirnya kesabaran Jayden habis, menghadapi Aylin yang terus menghindarinya.

__ADS_1


"Apa perlu kak Jay menggendongmu?", tanya Jayden menatap tajam ke Aylin dengan mata mengancam.


Aylin cepat-cepat menggeleng, akhirnya membiarkan Jayden menggandengnya dan mengikuti langkah Jayden tanpa berkata apa-apa lagi, dia takut Jayden akan serius dengan ancamannya.


Perasaan Aylin semakin tidak enak ketika dia balik ke ruangannya, jam sudah menunjukkan pukul 13.20, sudah lewat 20 menit dari jam istirahat, walaupun Bu Desy dan Lulu melihat dia kembali bersama Jayden, Aylin merasa dia tetap harus memberitahu Bu Desy alasan dia terlambat kembali.


Sedangkan pak Yanto dari pagi sedang tidak ada di tempat, sedang tugas luar.


"Maaf Bu Desy, saya terlambat kembali karena tadi diajak makan bersama kak Maya, Bapak dan ibu Sunjaya", lapor Aylin pada Bu Desy.


Sengaja dia menyebutkan nama Maya, agar Bu Desy tidak salah sangka.


"Iya, gak pa pa , Pak Jayden kan juga ikut, jadi dia tahu kenapa kamu terlambat. jadi gak masalah", jawab Bu Desy mengangguk.


Lagipula Bu Desy juga tahu kalau Aylin jarang keluar saat istirahat dan tidak pernah terlambat masuk, jadi dia bisa memakluminya.


Sedangkan Lulu adalah wanita yang cerdik. Sejak dia melihat gerak gerik Jayden yang sepertinya menyukai Aylin dan sering mendekati Aylin, dia sudah tidak pernah menyindir Aylin lagi.


Bahkan dia kadang juga sudah menyapa Aylin, bahkan bersikap bersahabat, tidak bersikap ketus seperti dulu lagi.


Dia sudah terlanjur betah dan suka bekerja di perusahaan ini.


Sedangkan Aylin yang pada dasarnya bukanlah orang yang pendendam, tidak pernah mempermasalahkan hal itu, dia juga selalu menyahut kalau disapa Lulu.


Dari siang sampai sore Aylin bekerja dengan tidak konsentrasi. pikirannya benar-benar kacau.


Muka kak Denny yang kecewa, terbayang terus oleh Aylin.


Aylin terbayang terus saat terakhir bertemu dengan Denny, sepertinya Denny sangat kecewa padanya.


Bagaimanapun juga Aylin selalu merasa berhutang budi pada Denny yang sudah sering menolongnya.


Denny muncul saat dia menghadapi masa-masa sulit dan sering menjadi penolongnya.


Aylin sungguh tidak tega menyakiti perasaan Denny, dia ingin sekali menghubungi Denny untuk menanyakan keadaannya, tapi dia khawatir Denny nanti malah salah sangka lagi atas perhatiannya.


Belum lagi dia memikirkan sifat Jayden yang terlihat perhatian kepadanya.

__ADS_1


Aylin tidak merasa senang dengan keadaan itu, dia malah sering merasa serba salah.


Aylin merasa sulit untuk percaya kalau Jayden benar-benar suka padanya.


Dia masih ingat, dulu dia begitu mengidolakan Jayden dan mengejar Jayden ke mana-mana, bahkan kadang berbohong, kadang pura-pura sakit, hanya untuk mendapat perhatian dari Jayden.


Tapi sepertinya Jayden sama sekali tidak pernah tertarik padanya, walaupun kadang-kadang Jayden juga mengiyakan permintaan nya, tapi itu jarang sekali.


Dia masih ingat ketika Jayden menggandeng tangan Maya dan membela Maya di depannya, hatinya begitu sakit kala itu.


Karena itulah Aylin tidak ingin Maya juga merasakan hal yang sama sepertinya dulu.


Dia tidak mengerti hati Jayden.Dia juga tidak tahu ada masalah apa antara Maya dan Jayden, tapi setidaknya dia tidak boleh menyakiti hati Maya.


Dia tidak boleh menjadi pihak ketiga.


Berpikir sampai di situ, Aylin hanya bisa menghela nafas.


"Ah, kenapa dulu aku bisa melakukan hal-hal yang tidak berguna? Mengapa aku bisa begitu terobsesi dengan kak Jay dan sifatku bisa begitu kekanak-kanakan?", sesal Aylin.


"Sepertinya aku harus segera pindah kerja dari sini, kalau ingin hidupku tenang.


Biar tidak usah terlalu sering bertemu kak Jay lagi!", putusnya tiba-tiba.


"Mulai malam ini aku harus mulai melamar pekerjaan di tempat lain, atau aku akan minta bantuan Cika untuk mencarikan pekerjaan untukku. Aku harus bertemu Cika segera!", pikir Aylin yang mendadak menjadi semangat lagi setelah mendapatkan jalan keluarnya.


"Biar nanti baru kupikirkan lagi alasan aku keluar kerja. Aku bisa menyampaikan pada Om Sunjaya saja, om lebih pengertian", pikir Aylin lagi.


Akhirnya Aylin memutuskan malam ini juga dia akan bertemu dengan Cika, dia sudah tidak perduli walaupun harus mengganggu penganten baru, dia harus menebalkan muka kalau mau masalahnya cepat selesai.


Biasanya Cika pintar memberikan solusi.


Sesudah memutuskan hal itu, Aylin langsung melakukan chat dengan Cika.


Cika menyambut senang kedatangannya, Cika juga langsung memberikan shareloc rumahnya kepada Aylin.


"Semoga kali ini aku bisa menemukan jalan keluar", pikir Aylin menenangkan hatinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2