
Mendapat dukungan dari ibu Jayden, akhirnya otak Maya menjadi jahat.
Sudah kepalang tannggung, kali ini dia terpaksa menghalalkan segala cara.
"Mungkin saja Jayden tidak suka pada Aylin, tapi bagaimana kalau Aylin yang berusaha mendekati Jayden? Terus terang saja Aylin itu cantik tante, bisa saja Jayden tergoda", akhirnya Maya mengungkapkan perasaannya ke ibu Jayden.
Ibu Jayden terdiam sesaat, otaknya langsung berpikir, dia ingat dulu waktu jaman sekolah memang Aylin sering sekali berusaha menarik perhatian Jayden. Bahkan boleh dibilang cukup agresif, suka datang ke rumah, juga suka meminta Jayden mengantarnya ke mana-mana.
Tapi waktu bertemu Aylin setelah dewasa, dia merasa sifat Aylin sudah berubah banyak, tidak seperti dulu lagi. Atau mungkinkah Aylin hanya menjaga sikap di depannya? pikir ibu Jayden mulai curiga.
Dia bukan tidak suka dengan Aylin, tapi kalau disuruh memilih saat ini, tentu dia lebih memilih Maya.
Maya pintar, penampilan juga lumayan cantik walaupun tidak secantik Aylin, sifatnya dewasa, sabar, juga untuk masa yang akan datang bisa membantu Jayden meneruskan perusahaan mereka. Itulah yang membuat ibu Jayden lebih suka pada Maya.
Sedangkan Aylin walaupun cantik, Aylin anak yang manja dan mau menang sendiri, seingat ibu Jayden. Dan seingat ibu Jayden tidak memiliki prestasi apapun. Bagaimana kelak dia bisa mendampingi Jayden, dan Aylin juga tidak mungkin bisa diharapkan untuk membantu Jayden di perusahaan.
"Apakah Aylin sudah memiliki kekasih?", tiba-tiba ibu Jayden bertanya, dia teringat laki-laki yang pernah menjemput Aylin.
"Sepertinya sudah tante, masih teman seangkatan kami tante, teman Jayden juga", jawab Maya.
"Kalau begitu apa yang kamu khawatirkan?", jawab ibu Jayden.
"Akhir-akhir ini beredar gosip di perusahaan kalau Aylin itu simpanan Jayden", jawab Maya.
Ibu Jayden terdiam kembali setelah mendengar jawaban Maya, dia berpikir tidak ada asap, jika tidak ada api.
Jika tidak ada penyebabnya, tidak mungkin orang-orang akan bergosip seperti itu.
"Baiklah, nanti coba Tante bicara dengan Aylin, kamu tidak usah khawatir, kamu yang penting sabar dulu dengan kelakuan Jayden", ujar ibu Jayden mengakhiri pembicaraannya.
"Baik Tante", ujar Maya mengangguk.
__ADS_1
"Ini bukan salahku, aku sudah bertahun-tahun menunggu Jayden, seharusnya kamu tidak muncul tiba-tiba dan menghalangiku, aku terpaksa menggunakan segala cara untuk melawanmu, agar kamu tidak bisa mengambil milikku!", pikir Maya dalam hati, membenarkan tindakannya.
Saat istirahat siang Aylin mendapat video call dari Cika, Aylin tentu saja senang, karena setiap jam istirahat dia sering sendirian di ruangannya, karena Aylin sering membawa bekal sendiri, dia malas ke luar ruangan, belum kalau siang hari cuacanya yang panas.
Waktu dia ingin menghindari Jayden, jam istirahat dia pernah coba keluar berkeliling tanpa tujuan, untuk menghabiskan waktu istirahat, tapi malah membuat dia kapok, karena sudah capek, panas lagi.
Sedangkan teman satu ruangannya sudah hilang semua, apalagi Bu Desy, yang pasti paling cepat keluar.
"Wah senyummu senang banget hari ini? ada apa?", tanya Cika langsung begitu Aylin menerima video callnya.
"Kamu telpon aku, ya pasti senang dong", sahut Aylin.
"Ada kabar bagus Lin, aku sudah diberitahu bosku, ada lowongan. kamu kapan mau pindah?", tanya Cika.
Aylin langsung tertegun, sebenarnya dia sudah lupa permintaannya pada Cika sejak hubungannya dengan Jayden membaik, tapi dia tidak mungkin mengecewakan Cika yang sudah berusaha
"Nanti ya, aku secepatnya tunggu waktu yang tepat untuk resign dari sini", jawab Aylin akhirnya, sambil melihat-lihat kalau ada orang yang mendengarkan pembicaraannya tidak.
"Cika nanti baru sambung lagi ya, ada orang lewat", ujar Aylin terburu-buru memutuskan panggilan dari Cika.
"Untung saja aku sadar", pikir Aylin menenangkan hatinya yang berdebar.
Hatinya tambah berdebar, ketika mendengar suara Jayden berkata, "tunggu sebentar!" entah kepada siapa, sesudah itu Jayden melangkah masuk ke ruangannya dan menghampirinya.
"Kamu gak makan siang?", tanya Jayden.
"sudah kak, bawa sendiri", jawab Aylin cepat, dia merasa tidak enak pada orang yang menunggu Jayden di depan ruangannya.
"Ya udah, kamu jangan suka makan tidak teratur, nanti sakit maag", ujar Jayden yang makin hari makin perhatian pada Aylin.
"Iya kak", jawab Aylin lagi dengan cepat, agar Jayden cepat pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Kak Jay mau ke tempat pameran mesin, nanti sore kami pulang sendiri ya, jangan suka keluyuran", ujar Jayden lagi.
Aylin sempat tertegun, akhirnya cepat-cepat mengangguk tujuannya agar Jayden cepat-cepat pergi.
Untungnya sesudah itu Jayden berjalan keluar sambil berkata, "kak Jay pergi dulu".
"Aduh kak Jay makin hari makin aneh, kan bukan kewajibannya ngantarin aku pulang, kenapa harus beritahu aku pergi ke mana segala sih, entah yang diluar dengar omongan kak Jay gak ya? mana ada kak Maya dan Chandra lagi!", pikir Aylin dalam hati khawatir, sesudah dia tahu kalau yang disuruh tunggu oleh Jayden itu, Deddy, Maya dan Chandra.
Ketika jam menunjukan pukul 16.45, Bu Sunjaya tiba-tiba masuk ke ruangan Marketing.
Semua yang berada dalam ruangan marketing langsung tegang seketika, karena biasanya Bu Sunjaya kalau datang pasti hanya menuju ke ruangan Maya.
Saat ini memang Maya sedang tidak ada di tempat, sedang pergi bersama Jayden, tapi mereka berpikir kenapa Bu Sunjaya sampai ke ruang Marketing, pasti ada masalah tertentu.
Lulu, Desy dan Pak Yanto akhirnya dapat bernafas lega setelah Bu Sunjaya menghampiri Aylin dan berkata, "Lin, ayo ke ruangan Jayden, tante mau bicara denganmu".
Gantian Aylin yang menjadi tegang, walaupun dia mengenal ibu Jayden sudah lama, mereka jarang berbicara ataupun mengobrol, karena Bu Sunjaya dari dulu selalu sibuk di perusahaan.
Kalau dengan Pak Sunjaya mungkin dia tidak akan setegang ini. Akhirnya Aylin hanya bisa meremas tangannya sendiri karena merasa gugup. Hatinya menerka-nerka apa yang ingin dibicarakan ibu Jayden padanya, tapi sama sekali tidak kepikiran.
Menurut Aylin tidak ada hal yang perlu dibicarakan antara dia dan Bu Sunjaya, apalagi pekerjaannya.
"Pak Yanto, saya bawa Aylin dulu ya!", ujar Bu Sunjaya meminta ijin pada pak Yanto, atasan Aylin, karena masih jam kerja.
"Iya Bu", sahut pak Yanto.
Akhirnya Aylin dengan pasrah mengekor di belakang Bu Sunjaya dengan hati berdebar-debar.
Apalagi setelah mereka sampai di ruangan Jayden, dan setelah pintu ditutup, Aylin merasa suasana semakin horor.
Aylin hanya bisa mengedarkan pandangannya di ruangan Jayden, untuk menghilangkan rasa gugupnya. Dan pandangannya sempat terhenti di atas meja Jayden, dan melihat sebuah pen yang sangat familiar.
__ADS_1
"Kak Jay masih menyimpan hadiah dariku?", pikir Aylin dalam hati, dia masih ingat dengan hadiah pemberiannya untuk Jayden, saat Jayden mau kuliah di kota lain, yang mana hadiahnya masih sempat ditolak oleh Jayden, yang membuatnya sempat sakit hati dan hampir menangis!