Loving You

Loving You
Perasaan Nyaman


__ADS_3

...“Perasaan seseorang itu tidak pernah bisa dipaksakan. Jika kamu ingin dirinya luluh dengan perasaanmu, maka teruslah berjuang untuk mendapatkan hatinya.”...


...****************...


“Buburnya dimakan, bukan diaduk mulu,” tegur Sabyla kepada Niken yang hanya mengaduk bubur miliknya. Saat ini sedang jam makan siang karena sekolah mereka selesai pada sore hari sekitar pukul 4 sore.


“Tiba-tiba aku udah nggak mood untuk makan, Byl,” ucap Niken, mendorong pelan buburnya ke samping.


“Kamu belum makan sedikit pun, Ken. Perasaan udah hampir 2 minggu sejak aku kenal kamu, aku belum pernah liat kamu banyak makan. Kamu kadang-kadang cuma makan sandwich atau roti bakar sebagai sarapan, tapi siangnya kamu nggak makan sama sekali,” papar Sabyla khawatir.


“Aku nggak cuma makan itu kok, Byl. Aku kan juga ada ngemil,” elak Niken.


“Iya, ada ngemil. Tapi, cuma satu atau dua bungkus doang, terus sisanya dikasih ke aku,” cibir Sabyla.


“Kan yang penting ada, Byl,” bela Niken.


“Kin ying pinting idi, Byl,” cemooh Sabyla.


“Kamu cuma ngemil kalau di kasih sama Kak Mahen. Kalo nggak dikasih, kamu nggak bakalan beli juga tuh cemilan,” sindir Sabyla.


“Ih, kok malah bawa-bawa Kak Mahen sih, Byl? Kak Mahen nggak ada hubungannya sama porsi makan aku,” sahut Niken tak terima.


“Terserah kamu aja deh. Aku heran, sebenarnya seberapa kecil tuh lambung kamu sampe porsi segitu bisa cukup buat kamu nahan lapar seharian?”


“Entah, aku udah terbiasa makan dengan porsi sedikit, Byl.”


“Terus kamu pas pulang ada makan lagi di rumah? Jangan bilang nggak ada!” selidik Sabyla.


“Ya, kadang-kadang ada makan sih,” jawab Niken ragu.


“Tuh kan! Emangnya kamu nggak sayang sama lambung kamu? Nanti sakit malah jadi makin repot urusannya.” Sabyla terus mengoceh, memberi nasihat pada Niken.


“Byl, lama-lama kamu udah jadi kayak ibu-ibu, tau nggak? Ngomel mulu,” dengus Niken.


“Eh! Aku ngomel gini juga untuk kebaikan kamu! Soalnya aku udah kena sakit lambung karena jarang makan dan suka makan pedas. Jadi, aku nggak mau kamu juga ngerasain apa yang aku rasain.” Sabyla menjadi sewot setelah mendengar ucapan Niken.


“Ssstt! Nggak usah bising kali, Byl. Kita masih ada di kantin,” peringat Niken karena suara Sabyla yang besar hingga membuat semua mata tertuju pada mereka.


“Eh, sorry, aku kelepasan. Salah kamu tuh!” ucap Sabyla memelankan kembali suaranya.


“Kan aku bener, Byl. Kamu itu nampaknya aja cuek, tapi aslinya perhatian banget. Bahkan orang tua aku sendiri aja nggak sekhawatir kamu, apalagi sampe cerewet,” ucap Niken sedikit terkekeh.


“Iyakah? Emang aku secerewet itu?” tanya Sabyla tak yakin.

__ADS_1


“Beneran, Byl. Kamu kalo udah mode khawatir pasti cerewet banget,” jawab Niken menggebu.


“Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Btw, udah 4 hari ini aku nggak pernah liat kamu bareng Kak Mahendra lagi, Ken. Padahal sebelumnya hampir seminggu bareng mulu,”ucap Sabyla mengalihkan topik.


Memang benar apa yang dikatakan Sabyla kalau Niken sudah tidak bertemu dengan seniornya yang satu itu. Sudah 4 hari berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu, namun Niken belum pernah melihat Mahendra menampakkan batang hidungnya.


Hukuman yang didapatkan Niken selama seminggu sudah dilaluinya dengan baik. Selama seminggu Niken terus disuguhi dengan tugas mengurus berkas-berkas yang seperti tidak ada habisnya, begitu banyak dan menumpuk.


Entah bagaimana meja yang selalu kosong setiap dia sudah menyelesaikan tugasnya, pasti akan kembali penuh dengan berkas-berkas keesokan harinya. Niken terkadang berpikir, dari mana datangnya semua berkas itu? Mengapa bisa sampai sebanyak itu? Apakah selama ini semua berkas itu dibiarkan terbengkalai? Entahlah, Niken juga tidak mendapatkan jawabannya.


Selama seminggu menjalani hukumannya, Mahendra akan selalu memberikan cemilan setelah ia selesai mengerjakan semua berkas-berkas itu. Terkadang Mahendra juga ikut membantu Niken dengan semua tumpukan kertas itu.


Terkadang mereka juga bercanda ketika sedang beristirahat. Semakin lama Niken mengenal Mahendra, ia merasa bahwa Mahendra orang yang menyenangkan. Mahendra bisa menciptakan suasana riang hingga tak ada perasaan canggung di antara mereka.


Niken menjalani masa hukumannya dengan riang karena tidak merasa terbebani. Itu semua berkat sikap Mahendra. Tapi, setelah masa hukumannya selesai, ia belum pernah sekalipun melihat Mahendra lagi.


“Aku juga nggak tau, Byl. Terakhir kali aku jumpa Kak Mahen itu hari terakhir hukuman aku,” sahut Niken. Setelah itu hening di antara keduanya.


“Byl, aku mau nanya sesuatu,” ucap Niken tiba-tiba, memecah suasana hening yang tercipta di antara mereka.


“Mau tanya apaan?” tanya Sabyla yang sudah meletakkan ponselnya.


“Kamu tau nggak?”


“Nggak tau!” jawab Sabyla cepat.


“Yaudah, mau nanya apa kamu? Serius banget!”


“Ini... aduh, mau mulai dari mana ya?” tanya Niken bingung.


“Lah? Kok jadi nanya aku? Kan kamu yang punya cerita, bukan aku,” sahut Sabyla gemas.


“Jadi gini, kamu masih ingatkan cerita aku tentang pertemuan pertama aku sama Kak Mahen?” Sabyla menganggukkan kepala sebagai jawaban. Niken memang pernah menceritakan kejadian itu padanya.


“Waktu pertama jumpa Kak Mahen aku tuh kayak deg-degan gitu, Byl. Aku bahkan sampe nggak berani natap Kak Mahen, rasanya jantung aku tuh berdetak kencang banget,” papar Niken.


“Terus?” tanya Sabyla penasaran. Niken hanya pernah menceritakan bagaimana pertemuan pertama mereka, tapi tidak menjelaskannya secara rinci.


“Tapi, pas aku udah mulai dekat sama Kak Mahen, aku udah biasa aja. Aku udah nggak deg-degan lagi, malahan aku ngerasa nyaman. Apalagi Kak Mahen pinter bangun suasana supaya nggak canggung,” lanjut Niken.


“Baguslah! Terus masalahnya di mana?”


“Ih, makanya dengerin dulu sampe selesai, Byl,” rengek Niken.

__ADS_1


“Iya, sorry. Lanjutin kalo gitu,” sahut Sabyla.


“Kan kami udah nggak pernah jumpa lagi nih sejak masa hukuman aku selesai. Tapi, masalahnya aku kayak ngerasa ada yang kurang, Byl, karena nggak liat Kak Mahendra. Kira-kira aku kenapa ya, Byl?” Niken menundukkan kepalanya, merasa malu.


“Kamu suka sama Kak Mahen, Ken?” tanya Sabyla.


“Nggak!” jawab Niken spontan.


“Aku nggak suka sama Kak Mahen, aku yakin kok,” lanjutnya.


“Kamu beneran yakin atau mencoba meyakinkan diri?” tanya Sabyla, kembali mencoba menyelidiki kebenaran.


“Beneran yakin kok, Byl!” jawab Niken gugup karena ditatap seperti itu oleh Sabyla.


“Yaudah, itu terserah kamu aja. Yang penting saran aku jangan pernah membohongi perasaan kamu sendiri. Kalo kamu sampe kayak gitu, maka siap-siaplah untuk terluka lebih banyak,” pesan Sabyla.


“Ih, Byl! Kok kamu doanya gitu sih?!” sewot Niken.


“Kan aku cuma bilang yang sebenarnya, Ken. Kalau kamu beneran nyaman sama Kak Mahen, nggak usah kamu bohongi diri sendiri dengan mengsugesti bahwa kamu merasa biasa aja.”


“Ih, Byl! Nggak usah ngomong kayak begitulah.”


“Aku cuma kasih saran loh, Ken. Jadi, sebaiknya sekarang kamu tanya ke diri kamu sendiri apa yang sebenarnya kamu rasain. Jangan cuma gara-gara berpegang teguh dengan pikiran yang rasional, kamu malah terluka ke depannya,” ucap Sabyla bijak.


Niken terdiam, merenungi apa yang dikatakan oleh Sabyla. Apakah benar jika sekarang ia sedang berusaha membohongi dirinya sendiri? Apakah benar jika ia sedang berusaha mengsugesti dirinya untuk berpikir rasional?


Niken belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta sebelumnya. Jangankan jatuh cinta, ia bahkan tak pernah dekat dengan cowok mana pun. Baru kali ini ia dekat dengan seorang cowok yaitu Mahendra.


Benar! mungkin itulah alasannya mengapa ia bersikap seperti sekarang. Karena ia belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, membuat dirinya jadi terus kepikiran. Ya, itulah alasan paling logis yang saat ini bisa dipikirkan olehnya.


“Ken, Ken!” panggil Sabyla yang membuat Niken tersadar dari pikirannya.


“Hah? Iya, Byl?” tanya Niken.


“Ayo balik ke kelas, udah hampir bel masuk tuh. Aku juga udah siap makan nasi gorengnya,” ajak Sabyla.


“Kamu jangan ngelamun terus, nanti kesambet setan baru tau rasa,” ucap Sabyla menyindir karena melihat Niken yang seperti orang bingung.


“Apaan kamu sih, Byl! Siapa juga yang melamun,” ketus Niken tak terima.


“Ya, ya, ya. Terserah kamu aja,” sahut Sabyla cuek.


“Eh, Byl! Tungguin aku, jangan langsung jalan sendiri!” teriak Niken kepada Sabyla yang sudah berjalan menuju kelas, meninggalkan Niken. Namun, ia menjadi malu sendiri karena kini orang-orang di kantin melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Makanya kamu jangan lelet jadi orang!” jawab Sabyla yang terus berjalan.


“Si Byla kebiasaan banget sih! Suka banget ninggalin orang,” cibir Niken kesal. Akhirnya pun ia sedikit berlari, menyusul Sabyla yang sudah mulai tidak terlihat


__ADS_2