Loving You

Loving You
Jayden yang semakin perhatian


__ADS_3

"Bu, Lin mandi dulu ya, gak enak badan terasa lengket", ujar Aylin pada ibunya yang sedang memasak di dapur.


Aylin bersyukur ibunya sedang sibuk memasak sehingga tidak begitu memperhatikan mata Aylin yang agak sembab, bekas menangis dan berjalan agak tertatih-tatih, karena kakinya terkilir tadi.


Aylin segera menuju ke kamar mandi, dia ingin menyegarkan tubuhnya, sesudah mengalami kejadian-kejadian yang mengganggu ketenangan hatinya.


Dari pagi di rumah Jayden sampai berpergian dengan Denny, dia sungguh tidak menyangka peristiwa tersebut beruntun terjadi hari ini.


Padahal hari ini dia sebenarnya ingin merefreshingkan diri, dan mau membuang jauh-jauh masalah Jayden, Maya dan Denny dari pikirannya.


Tapi dia tidak menyangka ternyata hari ini malah terjadi hal-hal yang menegangkan.


"Bagaimana besok aku harus menghadapi kak Jay kalau ketemu, bagaimana aku harus menghadapi kak Denny jika bertemu? Belum lagi menghadapi Maya yang sekarang sepertinya memusuhiku.


Pikiran itu terus muncul dalam kepalanya, akhirnya saat makan malam, Aylin hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya, sedangkan yang dimasukkan ke mulutnya hanya sedikit, dia benar-benar sudah tidak nafsu makan, padahal ibunya hari ini memasak menu kesukaannya.


"Kenapa Lin? Apakah gak enak badan?koq dari tadi makanannya hanya diaduk-aduk dan tidak dimakan? tanya ibunya agak cemas, akhirnya ibunya menyadari kalau Aylin agak berbeda hari ini, tidak seperti biasanya.


Walaupun Aylin sekarang sifatnya agak pendiam di luar, tapi biasanya di rumah dia ceria dan suka bercerita dengan ibunya, apalagi kalau habis pergi-pergi.


"Enggak bu, mungkin capek sesudah seharian pergi, jadi gak nafsu makan", alasan Aylin pada ibunya agar tidak curiga.


"Tapi kamu harus tetap makan beberapa suap agar tidak masuk angin, ayo! jangan hanya diaduk-aduk saja makanannya",ucap ibunya menasihati.


"Baik Bu", sahut Aylin berusaha menghabiskan makanan di piringnya.


Selesai makan, seperti biasa Aylin merapikan meja dan membawa piring yang kotor ke tempat cuci piring.


"Kakimu kenapa Lin?", tanya ibunya baru sadar kalau Aylin berjalan tertatih-tatih.


"Kayanya terkilir bu".


"Makanya kalau jalan lebih berhati-hati, kamu dari dulu koq sering jatuh sih! Makanya jangan sering diet, udah kurus koq masih diet, enggak ada tenaga, gimana gak jatuh terus", omel ibunya.


Memang ibunya tidak suka kalau Aylin diet, karena kalau menurut versi ibunya kalau orang yang makannya sedikit lemah.


"Teori darimana Bu?", tanya Aylin tersenyum menggoda ibunya.


"Koq diomongin ngotot ya?", omel ibunya lagi.


"Iya Bu, mulai besok Lin gak diet lagi", sahut Aylin agar ibunya tidak memperpanjang omelannya.

__ADS_1


"Lin tidur dulu ya Bu, besok sudah mau kerja lagi", ucap Aylin setelah selesai mencuci piring.


"Iya, cepat tidur, biar kamu cepat pulih", sahut ibunya.


Untungnya keesokan harinya Denny tidak datang menjemputnya, jadi Aylin tidak usah bingung bagaimana menghadapi Denny.


Aylin memilih untuk naik transportasi online kali ini, karena kakinya yang masih terkilir. Tidak leluasa kalau dia naik kendaraan umum di saat seperti ini.


Sampai di perusahaan, Aylin melihat jam baru menunjukkan pukul 8.30 kurang.


"Aduh aku kepagian lagi", pikirnya dalam hati resah.


Aylin termenung di pintu gerbang masuk, sebenarnya dia ingin sekali ke tempat lain dulu , biar bisa masuk ke ruang kerjanya tepat waktu saja, dia ingin menghindari Jayden, rasanya Jayden sering sekali datang pagi.


Tapi karena kakinya yang masih sakit, Aylin menjadi ragu untuk berkeliling dulu sebelum masuk kerja. Apalagi pada dasarnya Aylin paling tidak bisa menahan rasa sakit.


Belum sempat memutuskan, malah Jayden yang ingin dihindarinya lewat .


Jayden yang di dalam mobil, sebenarnya dari jauh sudah melihat Aylin yang termenung di pintu gerbang.


Tapi kali ini di dalam mobil ada Maya, dan Deddy yang mengemudi mobil.


Ada saja alasan ibunya. Akhirnya dari pada dia ribut dengan ibunya terus, Jayden membiarkan saja kelakuan ibunya.


Tapi setiap Maya datang, Jayden sudah jarang sekali ikut bergabung walaupun kadang ibunya beralasan membicarakan masalah perusahaan.


Jayden berusaha menjaga jarak, agar Maya tidak berharap padanya lagi.


"Berhenti sebentar di depan gerbang!", perintah Jayden pada Deddy


Deddy yang melihat Aylin di depan gerbang tentu mengerti keinginan bosnya itu. "Baik bos".


"Huh kenapa di mana-mana selalu ketemu dia sih", pikir Maya yang semakin kesal, karena dari tadi saja dia sudah kesal dicuekin Jayden.


Hatinya agak terhibur karena ibu Jayden yang sangat baik padanya.


"Kamu masuk dulu sama Bu Maya", Jayden kembali memberikan instruksi kepada Deddy, tanpa menunggu jawaban langsung turun dari mobil.


Aylin yang baru sadar dari lamunannya, setelah mobil silver itu berhenti di depannya, sudah tak bisa menghindar lagi, hanya bisa menatap Jayden yang mendekatinya.


"Aduh kenapa sih harus ketemu terus sama kak Jay, coba aku datang lebih lambat kan sudah tidak ketemu. Mau dihindari malah makin sering ketemu", pikir Aylin dalam hati, mulai gelisah dan meremas tangannya sendiri.

__ADS_1


"Ngapain lagi turun, padahal di dalam mobil ada kak Maya, aduh habis deh aku kali ini!"


"Ngapain kamu bengong di depan gerbang", ucap Jayden setelah dekat dengan Aylin.


"Ih sok tahu, siapa yang bengong. Lin lagi tungguin Bu Desy", sahut Aylin yang bersyukur kali ini otaknya lumayan pintar mencari alasan.


"Kenapa harus tunggu di depan, kamu tunggu di dalam ruanganmu juga nanti ketemu Bu Desy", sahut Jayden yang ternyata lebih pintar, sehingga kali ini membuat Aylin terdiam dan tidak bisa menjawab lagi.


"Ayo cepat masuk, di sini sudah panas!", ajak Jayden lagi.


Karena tidak sabar, melihat Aylin yang terdiam, akhirnya Jayden menarik tangan Aylin agar mengikutinya masuk.


Tentu Aylin kaget dan cepat-cepat berusaha melepaskan genggaman tangan Jayden, karena dia takut digosipin di tempat kerja.


Aylin sama sekali tidak tahu kalau dia sudah digosipin jadi simpanan Jayden.


"Aku bisa jalan sendiri kak". Mau tidak mau Aylin berjalan masuk ke dalam perusahaan menuruti keinginan Jayden.


Kali ini Jayden membiarkan Aylin yang berjalan dulu, dia berjalan di belakang Aylin.


Akhirnya Jayden menyadari kalau Aylin berjalan agak tertatih-tatih.


Jayden kembali menarik tangan Aylin dan bertanya, "kakimu kenapa? koq jalannya gitu? sakit ya?"


Sambil menatap ke kaki Aylin, dan Aylin bersyukur kalau hari ini dia mengenakan rok di bawah lutut, jadi tidak mungkin diprotes Jayden lagi.


"Gak sakit koq cuman terkilir", akhirnya Aylin menjawab, sambil melepaskan tangan Jayden dan segera melangkah lagi.


Jayden tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dari belakang Jayden langsung memeluk pinggang Aylin, "Kak Jay bantu".


Jayden yang bermuka tembok tentu saja tidak perduli dilihat beberapa pegawainya yang sudah datang.


Maya yang tadinya masih menunggu Jayden di pintu masuk kantor, akhirnya langsung masuk ke kantor dengan marah setelah melihat hal tersebut.


"Lepaskan kak Jay, nanti kita jadi bahan gosip di perusahaan", ucap Aylin yang masih kaget dengan perlakuan Jayden yang mesra itu.


Lagipula Aylin malu, melihat beberapa karyawan yang sudah datang, yang


menatap ke arah mereka.


"Untuk apa kamu perduli gosip mereka, bahkan sebelumnya saja kamu sudah digosipin jadi simpananku", sahut Jayden yang membuat Aylin terperangah.

__ADS_1


__ADS_2