
Jam 5.00 sore, Aylin sudah bersiap-siap mengenakan baju pesta dan berdandan.Aylin sungguh bersemangat dan senang karena akan menghadiri pesta pernikahan best friendnya Cika.
Cika bercerita kepada Aylin kalau dia mengadakan pesta pernikahan di tempat terbuka di taman yang memang khusus disewakan untuk resepsi pernikahan, katanya bisa dianggap juga reunian sama teman-teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu. Karena Cika mengundang semua teman-teman sekolahnya yang bisa dia hubungi.
Cika merancang konsep pernikahannya sudah setahun lalu, dia ingin pernikahan ini menjadi kenangan yang indah buat dia dan Dimas.
Dimas juga menyanggupi keinginan Cika, lagipula Dimas lumayan sukses dalam kariernya, jadi Dimas sanggup memenuhi keinginan Cika.
Sebelum keluar dari kamar, Aylin berputar sekali di depan cermin, dia sudah begitu lama tidak memakai gaun yang begitu indah. Gaun yang dipakainya adalah pemberian dari kak Denny. Denny pernah berkata ingin melihat Aylin memakai gaun ini suatu hari, dan Aylin merasa hari ini adalah hari yang cocok untuk memakai gaun ini. Lagipula sudah lama Aylin tidak pernah membeli gaun pesta.
Dia teringat ketika usaha keluarga mereka belum bangkrut, hampir setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya dengan memakai gaun seperti princess ini.
Aylin saat kecil, sangat suka sekali memakai gaun seperti ini, dia merasa menjadi cantik dan seperti seorang putri. Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik bukan?
Tapi saat itu dia masih kecil, lekuk tubuhnya belum terlalu kelihatan seperti sekarang ini.
Sebenarnya menurut Aylin bagian atas gaunnya agak sexy, tapi daripada dia harus membeli yang baru lagi, lebih baik dia memakai yang ada.
Apalagi dia teringat dia masih belum membayar hutangnya pada Jayden.
Gaunnya berwarna putih, tanpa lengan dengan potongan leher V dan rok agak mengembang benar-benar membuat Aylin terlihat cantik.
Aylin menggerai rambut panjangnya yang berombak untuk menutupi bahunya yang agak terbuka.
"Ah..anak ibu cantik sekali, sudah lama ibu tidak melihat Lin pakai baju seperti ini!", puji ibunya begitu melihat Aylin keluar dari kamar.
Aylin menjadi malu dipuji ibunya, karena Denny sudah datang, berdiri di belakang ibunya dan menatap kagum ke Aylin.
Denny melayangkan senyumnya pada Aylin karena dia senang melihat Aylin memakai gaun pemberiannya.
"Ah ibu apa gak malu muji anak sendiri", sahut Aylin menutupi rasa malunya.
"Benar cantik koq", sahut Denny mendukung perkataan ibu Aylin, dan masih tidak berhenti menatap Aylin.
__ADS_1
"Tuh kan, bukan ibu doang yang bilang gitu", ucap ibunya lagi membela diri.
Aylin akhirnya diam, dia tahu percuma saja dia menjawab, ibunya dan kak Denny selalu kompak.
"Ya sudah kalian berangkat saja, siapa tahu Cika memerlukanmu, dia kan teman akrabmu!"
"Baik Bu", jawab Aylin, dia juga sebenarnya sudah ingin segera bertemu dengan Cika, dia ingin sekali melihat Cika memakai gaun pengantin. Cika pasti cantik dengan gaun pengantinnya, pikir Aylin dalam hati.
Sesudah Denny berpamitan pada ibu Aylin, Denny dan Aylin pun masuk ke mobil menuju ke tempat resepsi. Selama perjalanan Denny beberapa kali mencuri pandang ke gadis pujaannya yang menurutnya sangat cantik seperti putri di dongeng.
Ketika sampai di tempat resepsi jam hampir pukul 18.00.Perjalanan lumayan lama, entah karena jauh atau Denny yang membawa mobil terlalu santai, pikir Aylin dalam hati.
Begitu sampai mereka disambut penerima tamu, Aylin sempat kaget karena salah satunya Maya.
Di telephone memang Cika pernah menyesalkan pertemuannya yang telat dengan Aylin, karena dia ingin sekali Aylin menjadi pendampingnya.Tapi sayang sekali personel-personelnya sudah ditetapkan.
Saat itu Aylin pun menghibur Cika, yang penting dia datang dan turut mendoakan Cika.
Seperti biasa Cika tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan Aylin mirip neneknya.
Aylin tersadar dari lamunannya, Aylin mengangguk hormat pada Maya, Maya hanya menatapnya. Aylin merasa tatapan Maya yang sepertinya tidak bersahabat.
Sesudah itu Aylin mengedarkan pandangan ke tamu-tamu yang sudah datang, belum terlalu ramai, mungkin belum mulai pikir Aylin.
"Kak Jay belum datang kelihatannya, aneh padahal kak Maya sudah datang", pikir Aylin dalam hati, kalau sudah datang harusnya kelihatan, karena postur badannya yang tinggi.
Ternyata pertanyaan Aylin mendapat jawabannya.
Maya ternyata hanya memusuhi Aylin, terhadap Denny dia bisa ramah.
"Kapan-kapan kita ngobrol ya Den?", ucap Maya ramah.
"Ok May. Ngomong-ngomong kamu datang sama siapa? Mana Jayden?" Tanya Denny yang memang disengaja di depan Aylin.
"Jayden ada urusan katanya, masih belum tahu datang atau tidak, Deddy sekretarisnya disuruh Jayden mengantarku", jawab Maya menjelaskan, yang memang disengaja juga karena ada Aylin yang mendengarkan, Maya ingin Aylin tahu kalau Jayden perhatian padanya.
__ADS_1
Mendengar itu Aylin memang menjadi kesal, tapi kesal karena hal lain. "Huh Kak Jay sok-sok an ngajak aku bareng, untung aku gak ikut, bisa-bisa tadi aku harus naik transportasi online", pikir Aylin bersyukur dia pergi dengan Denny, kalau tidak ongkosnya pasti lumayan mahal, karena tempatnya jauh.
Aylin tidak tahu kalau Jayden memang sengaja mulai menghindari pergi berdua dengan Maya.
Setelah itu tamu-tamu mulai berdatangan, Maya dan Denny pun sudah tidak bisa ngobrol lagi. Aylin bersyukur bisa segera pergi dari Maya.
Sampai agak tengah Aylin segera menuju ke tempat berdirinya Cika dan Dimas untuk mengucapkan selamat, Aylin tersenyum melihat Cika yang terlihat anggun dan kalem hari ini. Sungguh berbeda dengan sifatnya yang biasa.
Sedangkan Kak Dimas walaupun tidak terlalu ganteng, tapi kelihatan menarik, tegap dan berwibawa dengan jas yang dipakainya.
Tapi Aylin tidak bisa lama berbincang dengan Cika, karena masih ada tamu lain yang mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu.
Sesudah itu Aylin ditarik teman SMP nya dulu, karena waktu di SMP teman Aylin lumayan banyak, karena Aylin dulu juga pintar bergaul.
Akhirnya Aylin juga ikut terbawa suasana juga dengan mereka dan ngobrol-ngobrol seperti jaman sekolah dulu.
Kalau Denny jangan dibilang lagi, temannya juga banyak, belum lagi penggemar-penggemar cewek nya.
Tapi Aylin sekarang sudah jarang tertawa terbahak-bahak seperti dulu lagi, dia lebih banyak mendengar cerita teman-temannya, dan kalaupun lucu hanya tersenyum saja.
Sampai teman-teman Aylin takjub dengan perubahan Aylin yang paling banyak diantara semuanya.
"Untung aja cuman sifatmu yang berubah Lin, wajah cantikmu untung gak berubah, kalau enggak gue gak bisa kenal lagi sama lu", kata Lisa yang memang suka melucu.
"Lu kurang asik sekarang ", sambung Tina teman akrabnya Lisa.
Aylin hanya bisa tersenyum saja, tidak bisa berkata apa-apa.
Aylin sampai tidak sadar kalau sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan gerak geriknya terus, yang sedang berdiri santai sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak belakang orang tersebut.
"Halo Jayden, adik kecilmu tambah cantik kan, dengan gaun yang kuhadiahkan padanya?", tanya Denny yang tiba-tiba muncul dari belakang, sambil tersenyum seperti biasanya.
Bersambung........
__ADS_1