Loving You

Loving You
Jayden yang memihak Aylin


__ADS_3

Yang paling terkejut dengan kedatangan ibu Jayden tentu Aylin. Apalagi melihat di belakangnya ada Maya yang menatap dia dengan tajam. Untungnya saja tadi Jayden sudah melepaskannya dan dengan cepat Aylin bangun dari pangkuan Jayden dengan pipi merona karena malu.


"Ah..kak Jay sih, aku sekarang harus bagaimana? sungguh memalukan!", pikir Aylin dalam hati dan mulai meremas tangannya ketakutan.


Apalagi teringat dia sudah menyetujui permintaan ibu Jayden agar dia menjauhi Jayden. Aylin yakin kali ini pasti dia akan dicap sebagai penggoda lagi.


"Apa yang kalian lakukan di ruang kerja!" tegur Ibu Jayden marah, dia tidak menyangka kalau Aylin bersama Jayden, bahkan bermesraan, padahal Aylin sudah berjanji padanya untuk menjauhi Jayden.


"Bagaimana kalau sampai dilihat pegawaimu!", omel ibu Jayden marah


"Siapa yang bisa melihat selain ibu. Semua pegawaiku tak akan masuk ke ruanganku sebelum kuijinkan masuk", sahut Jayden dengan santai, malah menarik tangan Aylin yang dari tadi menunduk.


Jayden tahu Aylin sedang ketakutan. Jayden berusaha memberi ketenangan pada Aylin dengan menggenggam tangannya.


Aylin tambah salah tingkah dan serba salah, mau menarik tangannya dari genggaman Jayden, takutnya malah menarik perhatian ibu Jayden dan Maya. Akhirnya Aylin hanya pasrah dan tidak berani melihat siapapun, hanya menunduk.


"Ah..kak Jay tidak melihat situasi, habislah aku hari ini", desahnya dalam hati.


"Kamu tidak malu dilihat ibumu?", tanya ibu Jayden dengan nada tinggi, dia sungguh merasa tidak enak pada Maya.


"Tidak, Jay kan sudah bilang sama ibu, Jay mau melamar Aylin, buat apa malu? nanti dia juga jadi istri Jay. Mesra sama calon istri sendiri kan gak pa pa", sahut Jayden yang sama sekali merasa tidak bersalah dan malu. Pada dasarnya Jayden memang bermuka tembok.


Akhirnya kesabaran ibu Jayden habis, kali ini dia sudah tidak memikirkan kalimat yang keluar dari mulutnya, apakah bisa menyakiti perasaan orang atau tidak.


"Kenapa kamu selalu memilih orang-orang bodoh dihidupmu. sekretarismu satu itu saja sudah cukup.


Sekarang bahkan memilih istri pun kamu begitu? Kamu pikir kamu sangat pintar, sampai mencari orang yang bukan membantumu, tapi orang yang akan menyusahkan hidupmu nanti?"


Kali ini Jayden benar-benar marah mendengar perkataan ibunya yang menghina.


"Kata siapa Aylin bodoh? Aylin hanya masih muda dan kurang pengalaman, nanti Jay bisa membimbingnya, ibu tidak perlu khawatir. Jay tidak akan pernah menyesali pilihanku sendiri", sahut Jayden dengan nada tinggi juga, mulai terpancing emosi.


Aylin hanya diam, berusaha menahan air matanya, mendengar perkataan ibu Jayden.


Sedangkan Maya merasa sakit hati mendengar perkataan Jayden yang begitu membela Aylin, dan kali ini dia sadar tidak mungkin lagi ada kesempatan baginya mendapatkan hati Jayden.


Mendengar jawaban Jayden, ibunya sadar percuma dia berbicara pada anaknya, harusnya yang diajak bicara dan dipengaruhi adalah Aylin.


"Aylin tante ingin berbicara padamu", ujar ibu Jayden memandang ke Aylin yang masih menunduk.


"Iya,.. tante", sahut Aylin dengan tergagap akhirnya menatap ke arah ibu Jayden


"Ayo", ujar ibu Jayden yang mau mengajak Aylin keluar dari ruangan Jayden.

__ADS_1


Aylin hanya menurut, dan bersiap melangkah mengikuti ibu Jayden, tapi tangannya bukan dilepas Jayden, malah digenggam Jayden tambah erat.


"Ibu kalau mau bicara dengan Aylin disini saja, tidak ada yang perlu disembunyikan. Jay sudah bilang, Lin calon istrinya Jay", ujar Jayden tegas, tidak mau membiarkan Aylin hanya berbicara berdua dengan ibunya.


Jayden tahu sifat ibunya, dia takut ibunya mempengaruhi hubungan Aylin dengannya. Dan dia tahu kalau Aylin juga sangat mudah dipengaruhi.


Akhirnya ibu Jayden menghela nafas kesal, dia sudah tahu anaknya yang keras kepala ini susah diatasi.


"Aylin kamu ingat janjimu pada tante tidak waktu kamu resign dari sini? kamu kan bilang akan menjauhi Jayden. Kenapa kamu sekarang kembali lagi?


Kenapa kamu tidak menepati janjimu pada tante?"


"Iya tante saya ingat, saya...", Aylin sungguh bingung mau menjawab apa lagi.


"Ternyata ibu yang menyuruh Aylin menjauhiku ya?", tanya Jayden memutus pembicaraan ibunya dan Aylin.


"Iya! Pokoknya Ibu tidak akan setuju kamu menikahi Aylin", sahut ibu Jayden tidak mau kalah.


"Aku juga punya kemauan dan prinsip sendiri. Aku juga tidak mau menikah, kalau bukan dengan Aylin.


Lagipula ibu menyuruh Lin menjauhiku percuma! Kemana saja dia pergi, aku pasti akan mencarinya sampai ketemu.


Jadi ibu tidak perlu menyalahkan Lin, Lin memang menghindariku seperti permintaan ibu, tapi Jay lah yang mencarinya", sahut Jayden lagi agar ibunya tidak menyalahkan Aylin lagi.


"Maafkan sikapnya Jayden, Maya. Dia sungguh tidak bisa membedakan mana yang permata dan bukan. Tante juga minta maaf padamu, sudah membuatmu kecewa", ujar ibu Jayden merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Tante, Tante sudah baik dan mendukungku selama ini. Tante juga sangat baik padaku, mungkin Jayden memang bukan jodohku. Dulu Aylin tidak ada di sini saja, Jayden juga tidak tertarik menjalin hubungan denganku. Sekarang dia sudah mempunyai orang yang disukai, mana mungkin dia melirikku lagi", sahut Maya berusaha tabah, tapi dalam hatinya seperti diremas-remas, tidak rela.


Akhirnya ibu Jayden tidak berkata apa-apa lagi, dia takut akan membuat Maya semakin terluka hatinya.


Yang pasti acara ngopi bareng juga dibatalkan.


Lagipula Jayden mana mungkin mau ikut lagi, pujaan hatinya mau diajak keluar untuk bicara saja tidak boleh, pikir ibu Jayden masih kesal.


********


Sesudah ibu Jayden dan Maya beranjak dari ruangan Jayden, Aylin masih tertegun dan tidak bergerak sedikitpun.


Aylin masih kaget dan teringat kata-kata ibu Jayden yang cukup menusuk tadi.


Aylin tersadar ketika Jayden menggoyangkan tangan Aylin yang masih di genggamannya.


"Kenapa? Koq melamun? Lin jangan masukkan dalam hati ucapan ibu,

__ADS_1


Ibu kak Jay kalau sedang marah memang suka bicara seenaknya, nanti kalau sudah lewat gak pa pa", ujar Jayden menghibur Aylin.


Aylin hanya mengangguk lesu dan tidak menjawab.


"Ayo kita berangkat sekarang dan sebelumnya kan kamu mau ketemu Bu Desy dulu kan?", tanya Jayden berusaha mengalihkan kesedihan Aylin.


"Iya kak Jay, aku mampir ke ruang Bu Desy dulu ya", sahut Aylin akhirnya.


Begitu sampai di ruang Marketing, Deddy ternyata sedang ngobrol dengan pak Yanto. "Aduh ada bos!", ujar Deddy pada pak Yanto segera menghampiri Jayden dan Aylin sebelum sampai di pintu Marketing.


"Bos mau ke mana?" tanya Deddy


"Aku mau pergi sama Aylin, kamu di kantor saja!" ujar Jayden.


Melihat Jayden dan Deddy yang sedang berbicara, Aylin segera menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam ruangan menemui Bu Desy.


"Bu Desy!" , panggil Aylin tersenyum, kemudian juga menyapa pak Yanto, Aylin juga menyapa Lulu, walaupun suasananya agak kaku.


Sedangkan Lulu tersenyum untuk mencairkan suasana, dia sadar kali ini dia sudah tidak boleh memusuhi Aylin lagi, dia harus mengalah.


Sepertinya sudah dipastikan Aylin akan menjadi nyonya pimpinan mereka kalau dilihat dari cerita Deddy.


Sesudah menyapa semuanya, Aylin langsung duduk di samping Bu Dessy dan ngobrol soal dia yang mendadak berhenti kerja. Tapi tentu Aylin beralasan dia berhenti karena ingin bekerja yang sesuai hobinya.


Aylin yang sudah lama tidak ngobrol dengan Bu Desy, akhirnya ngobrol dengan seru, Bu Desy juga menceritakan anaknya yang bertambah aktif dan nakal.


Sampai Aylin lupa dengan Jayden yang dari tadi sudah menunggunya di depan pintu ruang Marketing dan menatapnya dari tadi.


"Lin sudah ditunggu pak Jayden tuh", ujar Bu Desy merasa tidak enak, melihat Jayden yang berdiri menunggu di depan dan menatap ke Aylin dari tadi. Sedangkan Deddy sudah tidak kelihatan.


"Ah, aku sampai kelupaan", sahut Aylin tersipu, "Besok-besok kalau ada waktu senggang lagi saya akan mampir lagi Bu Dessy!", sambung Aylin. Sesudah itu tidak lupa dia berpamitan pada pak Yanto dan Lulu.


Begitu menghampiri Jayden, Jayden langsung memeluk bahu Aylin dan membawa Aylin pergi dari sana.


Ketiga orang di ruang Marketing itu langsung terpana melihat tingkah pimpinan mereka yang selama ini dingin terhadap wanita.


"Wah Aylin sungguh beruntung, baru bekerja belum 2 bulan sudah siap-siap mau jadi nyonya pimpinan kita" , ujar pak Yanto entah kepada siapa.


""Itulah namanya jodoh, gak pernah ada yang menyangka", sahut Bu Desy.


"Ah untung aku sudah baikan sama dia, walaupun tidak akrab. Untung dia bukan orang yang pendendam. Sepertinya dia akan menjadi calon nyonya pak Jayden.


Tapi dia memang beruntung, begitu mudah mendapat perhatian laki-laki, entah punya ilmu apa dia? Sedangkan aku untuk mendapatkan hati pak Ridwan saja susah, padahal banyak yang bilang aku cantik", pikir Lulu dalam hati penasaran.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2