
"Lin gak berhenti kerja saja dari Aquleaf? Kak Jay kurang suka, terlalu jauh. Lagipula kak Jay masih khawatir kalau Lin tinggal sendirian", ujar Jayden dalam perjalanan untuk mencari tempat tinggal buat Aylin.
"Tapi Lin sudah terlanjur suka bekerja di sana kak Jay", sahut Aylin.
"Atau kak Jay jemput Lin saja tiap hari, biar sekalian bisa bertemu Lin?", ujar Jayden lagi mengusulkan.
"Tapi kan nanti kak Jay kecapaian, dari kantor kak Jay ke tempat kerja Lin jauh, nanti sudah sampai rumah Lin, kak Jay juga masih harus pulang ke rumah kak Jay lagi", sahut Aylin tidak setuju.
"Kalau gitu kak Jay sewain apartemen buat Lin saja ya? Nanti kak Jay tinggal di situ juga temenin Lin, biar kak Jay merasa tenang. Kak Jay gak mau kalau ketemu Lin cuman seminggu sekali!", ujar Jay lagi.
"Ih, kak Jay ngawur saja, kita kan belum nikah, koq tinggal bareng?", sahut Aylin tersipu malu dan mencubit lengan Jayden.
Tapi dalam hatinya senang kalau Jayden tidak tahan bila harus menunggu seminggu bertemu dengannya.
"Lin cari kost khusus perempuan saja, dan tinggal sendiri kan aman", sambung Aylin lagi.
"Kak Jay tahu lah, maksudnya kak Jay, kakak langsung nikahi Aylin sekarang saja!", sahut Jayden seperti membicarakan hal biasa.
Aylin tentu kaget mendengar usul Jayden,
begitu melihat mimik muka Jayden yang biasa, Aylin tambah bingung.
"ih, kak Jay ngomongin masalah nikah seperti ngomongin hal biasa saja sih.
koq gampang banget?", tanya Aylin.
"Huh gak ada romantis-romantisnya!", omel Aylin dalam hati.
Aylin karena terlalu banyak nonton film drama dia selalu membayangkan suatu hari akan dilamar oleh kekasihnya dengan suasana romantis seperti di drama-drama yang dia tonton.
Aylin tidak pernah menyangka kalau Jayden akan mengajaknya menikah, seperti mengajaknya pergi saja.
__ADS_1
"Kalau bisa mudah ngapain dibikin susah. Menurut kak Jay yang praktis saja, kita menikah di catatan sipil dulu dan secara agama saja, nanti kalau Lin mau mengadakan pesta baru nyusul. Dari pada ketemu saja susah, kan lebih baik kita menikah cepat saja. Hubungan kita nanti kan juga akhirnya menikah. Apa salahnya menikah lebih cepat!", ujar Jayden menjelaskan pikirannya.
Aylin tertegun mendengar jawaban Jayden. Sebenarnya hatinya senang juga, walaupun tidak romantis, tapi dari omongan Jayden, Jayden sepertinya benar-benar serius padanya.
Tiba-tiba Jayden menghentikan mobilnya, dan Aylin langsung tersadar dari lamunannya.
"Ayo turun di sini dulu, kita diskusi dulu sebelum menyewa tempat", ujar Jayden sambil melepas sabuk pengaman Aylin.
Aylin melihat sekitarnya, ternyata Jayden mengajaknya ke pantai.
Aylin yang dasarnya suka jalan-jalan tentu saja senang diajak Jayden ke pantai.
Begitu keluar dari mobil, Aylin langsung menggandeng lengan Jayden dengan kedua tangannya dan merebahkan kepalanya ke bahu Jayden. Jayden tentu saja suka dengan sifat manja Aylin, daripada Aylin yang suka bersikap sungkan dan menjauhinya, seperti saat pertama mereka bertemu kembali.
Ketika melihat tempat duduk yang kosong, dan tidak panas karena terlindung pohon, Jayden mengajak Aylin duduk di sana.
"Kak Jay suka ke sini kalau sedang banyak pikiran", ujar Jayden tiba-tiba.
Mendengar perkataan Jayden, kepala Aylin yang berada di bahu Jayden langsung menengadah melihat ke Jayden,
"Lin berpikir hidup kak Jay sangat bahagia, seharusnya tidak ada yang dipikirkan. Punya ayah ibu yang lengkap, punya perusahaan yang maju, dan kak Jay juga pimpinan di perusahaan, semuanya tunduk pada perintah kak Jay", sambung Aylin tanpa sadar memainkan kancing kemeja Jayden.
Tiba-tiba Jayden menangkap tangan Aylin yang memainkan kancing kemejanya, dan membuat Aylin menghadap ke arahnya,
"Mengapa dulu kamu menghindari kak Jay waktu pertama kali kita bertemu di perpustakaan?", tanya Jayden.
"Buat apa ketemu kak Jay? Kak Jay juga tidak mencari Lin walaupun tahu Lin di mana, Lin kan juga punya harga diri, apalagi waktu itu juga ada kak Maya di samping kakak", sahut Aylin.
"Kak Jay gak pernah tahu Lin dimana, bagaimana kakak bisa mencarimu? Bahkan Cika teman baikmu saja tidak tahu kamu berada di mana!", sahut Jayden menyesal kalau mengingat saat Aylin mengalami kesulitan dia tidak mendampingi Aylin.
"Ah, yang sudah lewat gak usah dibicarakan lagi kak, yang penting kan sekarang kita sudah bertemu lagi", sahut Aylin menarik tangannya dari pegangan tangan Jayden, kemudian berdiri menepuk-nepuk gaunnya dari daun yang berguguran. Jayden juga ikut bangun dari duduknya, dan mengambil daun yang menempel di rambut Aylin.
__ADS_1
Aylin jadi terbawa suasana, apalagi seharian ini Jayden sangat perhatian dan melindunginya, bahkan tadi begitu membelanya saat dia dicemooh ibu Jayden, belum lagi teringat Jayden yang sudah menolong nya dari serangan Tommy.
Tiba-tiba Aylin memeluk pinggang Jayden dengan kedua tangannya dan merebahkan kepalanya ke dada Jayden.
"Kak Jay aku sudah mencintaimu dari dulu, tidak pernah berubah, jangan pernah sakiti Lin ya".
Mendapat pengakuan dari Aylin, tentu saja Jayden merasa senang, "Kak Jay juga mencintai Lin, kakak akan selalu menjagamu", ujar Jayden yang langsung mengangkat dagu Aylin, dan mengecup bibirnya, dan kali ini Jayden mendapat balasan dari Aylin.
********
"Dari mana kamu? Koq marah-marah dan ngedumel sendiri? siapa yang sudah membuat kesal sampai begitu? Ingat jangan marah-marah terus nanti cepat tua!", ujar Pak Sunjaya.
"Siapa lagi yang berani membuatku kesal, kalau bukan anak kesayanganmu itu!", omel Bu Sunjaya masih kesal dan tidak puas.
"Memang ada yang salah dengan
perusahaan ?", tanya pak Sunjaya.
"Kalau soal perusahaan anakmu itu hebat, tidak pernah salah memprediksi, tapi mata anakmu gak benar saat memilih perempuan!", omel Bu Sunjaya yang bertambah kesal kalau mengingat Jayden yang begitu membela Aylin, bahkan ibunya juga tidak boleh menyentuh wanitanya sedikitpun.
"Aku ke perusahaan dan masuk ruangannya bersama Maya, ternyata dia malah bermesraan sama Aylin. Dasar gak malu lagi, masih berani menjawab ku yang masuk ke ruangannya langsung cuman aku, gak ada yang berani langsung masuk ruangannya selain aku.
Terus gara-gara begitu, dia boleh berbuat seenaknya di ruangannya?", omel Bu Sunjaya menyemburkan kemarahannya yang sudah ditahan dari tadi, karena tidak ada pelampiasannya.
Pak Sunjaya dengan sabar mendengar kemarahan istrinya dan hanya tersenyum.
"Ah, ayah gimana sih, koq malah tersenyum nyantai gitu? Koq gak bela istrimu?", tanya bu Sunjaya.
"Aku kan sudah bilang padamu, kalau si Jayden itu menyukai Aylin. Kenapa kamu masih ngotot pasangin dia sama Maya. Akhirnya kamu merasa gak enak sendiri sama Maya kan? Makanya jangan jadi Mak comblang Bu, kamu gak cocok!", jawab ayah Jayden tersenyum.
"Terus kamu membiarkan Jayden memilih Aylin yang tidak pintar itu, dibandingkan Maya yang aku jodohkan dengan Jayden?", tanya ibu Jayden masih tidak puas.
__ADS_1
"Buatku siapa saja yang dipilih Jayden gak masalah, yang penting si Jayden bisa menemukan seorang wanita yang disukai saja sudah membuatku tenang, kalau dilihat dari kehidupannya yang jarang bergaul dan hanya bekerja saja!", ujar ayah Jayden.
Bersambung........