
Aylin sampai di rumahnya sekitar jam enam sore karena belum terlalu malam, Aylin menawari Denny untuk mampir ke rumahnya. Dia merasa tidak enak pada Denny, karena sudah menjemputnya pulang.
"Kak Denny mau mampir ke rumah? Sepertinya ibu membuat bakso sendiri", tanya Aylin.
"Enggak Lin, lain kali saja. Kak Denny ada janjian ketemu dengan teman", jawab Denny tersenyum.
"Baiklah kak, Aylin masuk dulu. Pasti ibu sudah banyak pertanyaan mengenai pekerjaan Lin. Kak Denny hati-hati di jalan ya", sahut Aylin membalas senyum Denny. Sesudah itu Aylin juga melambaikan tangan dan melangkah masuk ke dalam rumah.
...********...
Denny menghela nafas, saat bayangan Aylin sudah hilang. Sesudah itu diapun menjalankan mobilnya, pergi dari rumah Aylin.
Dalam perjalanan untuk bertemu temannya, Denny jadi memikirkan Aylin lagi.
Denny tahu sejak malam itu, Aylin selalu berusaha menghindarinya.
Tapi karena tadi dia sudah berhasil mencairkan suasana, akhirnya Aylin sudah bisa bersikap seperti biasa lagi padanya, tidak seperti waktu itu sangat canggung.
Dia juga tahu Aylin selalu baik dan sopan padanya, bahkan selalu menurutinya, tapi sepertinya Aylin hanya ingin membalas kebaikan yang sudah diberikannya pada Aylin.
Kadang Denny tidak mengerti hati Aylin, apakah Aylin masih menyukai Jayden atau tidak.
Selama Denny mulai akrab dengan Aylin, dia sudah tidak pernah sekalipun mendengar Aylin bercerita tentang Jayden. Bahkan yang Denny tahu dulu Aylin malah menghindari untuk bertemu Jayden dan dia tidak pernah tahu apa alasannya.
Dan selama dia mengenal Aylin, Aylin juga tidak memiliki teman laki-laki yang dekat. Aylin hanya dekat padanya saja. Tapi dia bisa merasakan Aylin tidak mencintainya.
Sampai sekarang dia tidak mengerti apa yang membuat Aylin susah untuk mencintainya. Semua cara sudah dilakukannya.
Selama ini dia menyatakan cinta pada perempuan, tidak pernah sekalipun ditolak. Sebenarnya Denny ingin menyatakan cintanya pada Aylin, tapi dia takut Aylin malah menghindarinya.
Dulu setiap dia menyatakan cinta pada ex nya, dia bisa menyatakannya dengan santai, sama sekali tidak ada beban.
Tapi kalau kepada Aylin, mengapa rasanya susah sekali untuk mengucapkannya.
Sekarang Aylin sudah bekerja di perusahaan Jayden, walaupun Aylin sudah tidak seperti dulu, yang begitu menyukai Jayden, Denny tetap khawatir kalau perasaan Aylin terhadap Jayden kembali lagi.
__ADS_1
Denny tidak takut bersaing dengan siapapun, hanya kepada Jayden saja dia menyimpan kekhawatiran karena dia tahu kalau dulu Aylin begitu menyukai dan mengidolakan Jayden.
Akhirnya lamunan Denny terputus, dia sudah sampai tempat janjian dengan teman-temannya.
Denny memang pintar bergaul, jadi temannya banyak. Temannya ingin reunian dengan Denny setelah 2 tahun tidak bertemu.
...********...
Sedangkan yang dipikirkan sudah selesai mandi dan makan bersama ibunya. Seperti biasa ibu Aylin setelah seharian tidak bertemu anaknya, pasti pertanyaannya banyak sekali.
Aylin menceritakan orang-orang yang bekerja di tempatnya, yang baik padanya seperti pak Yanto dan Bu Desy. tapi Aylin tidak menceritakan tentang Lulu yang iri padanya, dia takut membuat ibunya khawatir.
Dia juga bercerita tentang om dan Tante Sunjaya yang datang ke perusahaan mengajak makan bersama kak Maya, tapi Aylin menolak karena sudah membawa bekal. Ibu mendengar cerita Aylin sambil mengangguk.
"Lho kak Maya siapa? seingat ibu, Jayden tidak punya kakak perempuan", tanya ibu penasaran.
"Oo pacar kak Jayden", jawab Aylin, tiba-tiba hatinya merasa sakit.
Aylin dan ibunya bercerita lumayan lama, ternyata seharian tidak bertemu ibunya membuat dia kangen ngobrol dengan ibunya, karena biasanya hampir setiap hari Aylin selalu berdua ibunya.
Teringat itu Aylin segera menekan pipinya dengan kedua tangannya, dia merasa malu lagi.
Akhirnya ibu menyuruh dia segera beristirahat, karena Aylin baru pertama kerja, pasti belum terbiasa dan lelah.
Aylin menurut, dan segera menuju ke kamarnya setelah mengucapkan selamat malam pada ibunya.
Aylin berbaring di kasurnya, tapi tidak bisa langsung tertidur. Padahal badannya capek juga, karena hari ini pagi-pagi dia sudah berangkat dari rumah gara-gara menghindari Denny.
Aylin menarik nafas panjang, dia mulai kesal karena belum bisa tidur juga, selalu terbayang saat Jayden menciumnya sore tadi.
Sebenarnya dulu waktu kecil Jayden pernah mencium pipinya saat dia berulang tahun. Lalu saat kelas SMP dia selalu berpikir bagaimana rasanya kalau dia dicium Jayden., saat dia masih begitu menyukai Jayden.
Dia tak menyangka bayangannya menjadi kenyataan, di saat dia sudah tidak menginginkan itu.
"Dasar jahat, mencuri ciuman pertamaku, juga mengataiku penggoda", pikir Aylin kesal.
__ADS_1
"kenapa aku begitu bodoh dan tidak melakukan perlawanan", sesal Aylin.
"Bagaimana kalau besok aku bertemu dengan kak Jayden? apa yang harus kulakukan? Kalau aku berhenti kerja nanti ibu curiga.
Belum lagi aku harus menghadapi om dan Tante Sunjaya, apa yang harus kukatakan pada mereka kalau aku berhenti kerja." pikir Aylin makin mumet dan bingung.
Tapi karena sudah lelah fisik dan pikiran, akhirnya Aylin tertidur juga walaupun belum menemukan jalan keluar untuk besok.
...********...
Sejak Jayden pulang rumah, Jayden langsung masuk ke kamar, bahkan juga tidak makan.
Dia sama sekali tidak memperdulikan urusan ibunya dan Maya.
Jayden bahkan menyuruh Deddy menunggu sampai Maya selesai, agar Deddy yang mengantar Maya pulang. Karena Jayden tahu kebiasaan ibunya, pasti nanti menyuruh dia mengantar Maya pulang.
Deddy hanya bisa mengangguk pasrah.
Jayden kali ini merasa otaknya benar-benar kacau setelah kejadian sore tadi, dia terbayang terus saat dia mencium Aylin dan Aylin begitu pasrah padanya, membuat dia merasa Aylin adalah miliknya.
Tapi saat pulang tadi dia melihat Aylin dijemput Denny, hatinya sungguh tidak rela.
Dia sendiri tidak menyangka dia akan bertindak seperti itu, pertama-tama dia hanya gemas saja dengan Aylin yang sepertinya selalu menghindarinya dan menjaga jarak, kemudian sifatnya yang posesif, tidak terima saat mendengar Aylin banyak penggemar, apalagi saat Aylin membantahnya, dia merasa Aylin seperti memanasinya, saat itulah dia merasa harus menghukum Aylin.
Tetapi karena Aylin begitu pasrah dalam pelukannya, akhirnya membuat dia semakin lupa diri.
Baru kali ini otaknya tidak bisa diajak berpikir. Biasanya dia selalu bisa mengontrol otaknya dengan baik.
"Sebaiknya aku harus menahan diri sementara ini, aku tidak boleh membuat Aylin takut, nanti dia semakin menjauh dariku. Kalau dia menjauh dariku, aku akan susah merebutnya kembali", pikir Jayden tiba-tiba.
"Aku yakin dia masih memiliki perasaan padaku", pikir Jayden karena dia teringat Aylin yang begitu pasrah dalam pelukannya dan ciumannya, kalau saja Maya tidak ke ruangannya.
Berpikir sampai sini, akhirnya hati Jayden menjadi lebih tenang. Satu masalah sudah selesai, dia sudah bisa memikirkan masalah yang lain, yaitu kemana dia harus memindahkan ruangan para sales itu agar tidak bisa menggoda Aylin lagi!
bersambung........
__ADS_1