Loving You

Loving You
Dewa Es hatinya mencair


__ADS_3

Setelah jam istirahat semua kepala divisi berkumpul di ruangan meeting. Jayden duduk di tengah sedangkan Maya dan Deddy sekretarisnya, duduk di kiri dan kanan .


Akhirnya Jayden memulai meeting itu, langsung pada tujuan utamanya untuk memberitahukan tentang kenaikan jabatan Maya, beserta alasan-alasannya Bu Sunjaya mengangkat Maya sebagai wakil presiden direktur, semua kepala divisi mengangguk, bagaimanapun mereka menghormati kemauan Bu Sunjaya dan mengakui kemampuan bekerja Maya.


Seperti biasa meeting tidak membutuhkan waktu lama, kurang lebih hanya 20 menit, karena Jayden hanya perlu didengar, tidak perlu dikomentari.


Selesai meeting Jayden langsung berjalan keluar diikuti Deddy di belakangnya.


Sedangkan Maya masih beramah tamah dengan kepala divisi lainnya.


"Bos! salah arah", seru Deddy pada Jayden..


"Emang aku bodoh! di perusahaan sendiri bisa salah", sahut Jayden marah.


"Saya ambil kunci dulu bos, kalau mau pergi", sambung Deddy.


"Tidak usah, aku tidak pergi, aku mau ambil minum, haus habis ngomong." sahut Jayden lagi.


"Lho saya sudah siapkan minuman di ruang kerjanya bos", sahut Deddy masih tidak sadar.


Akhirnya kesabaran Jayden habis sudah, dia menoleh ke Deddy yang di belakangnya sambil menatap tajam penuh ancaman ke Deddy.


Akhirnya Deddy baru sadar apa mau bosnya. Dia baru ingat kalau ruangan tempat minum terletak di samping ruangan marketing, sedangkan ruangan meeting terletak di antara ruangan bos dan ruangan untuk minum.


Deddy pun sadar mengapa bosnya memilih jalur yang lebih jauh untuk mengambil minuman, padahal di ruangannya sudah tersedia minuman.


"Oo.. maaf bos", sahutnya lagi, sesudah itu tidak berani berkata apa-apa lagi.


Sedangkan Jayden melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan.


Sampai ruangan tersebut Jayden mengambil minum, sambil melihat ke arah Aylin.


Deddy yang berada di belakangnya hanya bisa melihat dan berkata dalam hati,


"Ah.. akhirnya Sang Dewa Es mencair hatinya".

__ADS_1


Jayden yang selalu percaya diri dan tidak pernah malu itu tidak perduli, kalau dia ingin memandang Aylin maka dia akan memandangnya dengan terang-terangan.


Aylin yang sedang memasukkan data tiba-tiba merasa seperti ada orang yang memperhatikannya.


Aylin tanpa sadar melihat ke ruangan sebelah, betapa kagetnya dia melihat Jayden sedang minum dan memandang ke arahnya, Aylin sempat terbelalak, namun akhirnya dia buru-buru menunduk lagi, dan tidak berani mengangkat kepalanya.


Bu Desy yang di samping Aylin, merasa kelakuan Aylin yang agak aneh akhirnya juga melihat ke ruang sebelah, betapa kagetnya dia melihat pak Jayden yang sedang memandang ke arah mereka.


Bu Desy cepat-cepat menatap ke monitor lagi, menyibukkan diri dengan pekerjaan.


"Ah, ada apa Pak Jayden lihat ke sini, jangan-jangan sedang inspeksi. Moga-moga saja tidak ada yang salah dalam tugasku. Pak Yanto belum balik lagi, padahal Pak Jayden sudah selesai meeting", pikir Desy dalam hati dan merasa resah.


Sedangkan Lulu yang melihat hal tersebut hanya tertawa sinis.


"Hu.., hebat banget rubah satu ini, Dewa Es saja bisa dibuat tergila-gila. Entah guna-guna apa yang dia pakai? ah.. gak perduli, syukuri deh, Bu Maya terlalu sombong juga sih! Biar tahu rasa." pikirnya dalam hati yang ternyata masih dendam dengan Maya.


Untung saja Lulu tidak tahu kalau waktu istirahat Pak Ridwan mendekati Aylin, kalau dia tahu mungkin sekarang yang disumpahi adalah Aylin.


"Ah.. kak Jay ini kenapa sih. Koq aku diteror terus. Apa salahku?" pikir Aylin menjadi resah juga.


"Pantas saja dulu dia tidak menyukaiku", pikir Aylin dalam hati makin kacau.


Untungnya saja tidak berapa lama sesudah Jayden puas memandangi Aylin, Jayden berjalan keluar dari ruangan tersebut dan berjalan balik ke ruangannya.


Aylin dan Bu Desy pun menarik nafas lega. Pak Yanto yang baru balik dari ruang meeting kaget bertemu dengan Jayden yang baru keluar dari ex ruang penjualan itu, tapi dia tidak berkata apa-apa, dia segera berbelok masuk ke ruang kerjanya sendiri.


"Aneh, biasanya Deddy tiap hari sudah menyiapkan minum buat bos, koq pak Jayden masih jauh-jauh minum di sini?" pikir pak Yanto bingung.


Sampai dalam ruangan Desy langsung membuat laporan kedatangan pak Jayden di ruang sebelah yang melihat ke ruangan mereka.


"Apa divisi kita ada melakukan kesalahan pak? jadi kena inspeksi?" tanya Bu Desy khawatir.


"Harusnya tidak Des, tadi meeting hanya membicarakan kenaikan jabatan Bu Maya. Bu Maya sekarang diangkat Bu Sunjaya jadi wakilnya pak Jayden. Pak Hadi sekarang yang jadi kepala Accounting." jawab pak Yanto menenangkan Bu Desy.


"Bu Maya hebat ya.Tapi Bu Maya memang kerjanya pintar dan tanggung jawab, jadi Bu Maya pantas diangkat jadi wakilnya pak Jayden", puji Bu Desy memberikan pendapatnya tentang Maya.

__ADS_1


"Sayangnya kalau dalam masalah laki-laki dia masih harus kalah dengan seseorang", ujar Lulu menyambung pembicaraan tiba-tiba,sambil melirik ke Aylin, dia teringat kejadian siang tadi yang dia lihat, saat Jayden menggenggam tangan Aylin.


"Hey, kalau bicara hati-hati Lu, nanti terdengar yang bersangkutan", ujar pak Yanto menasehati Lulu.


Lulu akhirnya sudah tidak ikutan bicara lagi.


Aylin dari tadi sama sekali tidak bicara apa-apa, dia hanya mendengarkan saja.


Dia juga tahu kalau Lulu suka menyindirnya, tapi dia tidak perduli, lama-lama dia jadi terbiasa disindir Lulu.


"Memang kak Maya hebat, lagipula kak Maya memang dari dulu pintar.Kadang aku iri kak Maya bisa punya otak yang encer. Ah andai aku bisa sepintar kak Maya...", pikir Aylin dalam hati.


"Pantas saja kak Jay memilih kak Maya, karena mereka cocok dalam segala hal", pikir Aylin merasa menyesal dengan kemampuan otaknya yang pas-pasan.


...*******...


Seperti kemaren lagi, hari ini begitu jam pulang kerja, Aylin buru-buru bersiap pulang, dia ingin menghindari pertemuan dengan Jayden.


Untungnya Bu Desy juga punya hobi yang sama, yaitu setiap jam pulang kerja paling cepat keluar dari perusahaan


Jadi Aylin punya teman untuk berjalan bersama ke depan.


Hari ini kak Denny tidak datang menjemput. Kemaren dia sudah memberitahu Aylin karena dia mau bertemu clientnya sore hari, jadi dia tidak sempat menjemput.


Aylin mengiyakan, lagipula ini bukan kewajiban kak Denny, pikirnya dalam hati.


"Gak pa pa kak, di sana mudah cari kendaraan umum, kak Denny tidak usah repot-repot menjemput Lin tiap hari", jawab Aylin saat Denny berkata tidak bisa menjemputnya.


Sesudah Bu Desy dijemput suaminya, Aylin langsung berjalan menuju tempat pemberhentian bus, karena dia memilih naik bus saja biar lebih irit.


Belum sampai tujuannya, tiba-tiba dia mendengar bunyi klakson mobil.


Aylin langsung menoleh ke arah suara, betapa terkejutnya dia saat melihat Jayden yang duduk menyetir mobil, memandang padanya, dan memberhentikan mobil di sampingnya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2