Loving You

Loving You
Kak Aril


__ADS_3

...“Ada hal yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, seseorang harus lebih peka untuk mengetahui dan memahaminya. Jadi, jangan pernah mengambil kesimpulan berdasarkan satu perspektif saja.”...


...****************...


“Aduh! Kok malah hujan sih? Mana deras banget lagi,” keluh Niken yang kini berdiri di koridor depan kelasnya, melihat hujan yang turun dengan derasnya.


“Coba aja aku tadi nerima tawaran Byla untuk nebeng, nggak bakalan aku kejebak hujan kayak gini. Mana aku lupa bawa payung lagi.” Niken menghembuskan napasnya kasar, tangannya terjulur untuk merasakan air hujan yang deras.


Sabyla tadi sempat menawarkan tumpangan, tapi Niken menolak dengan alasan masih memiliki tugas yang harus diselesaikan. Sebenarnya Niken menolak karena merasa tidak enak hati, takut merepotkan.


Sekolahnya sudah pulang sejak sejam yang lalu, namun Niken memilih untuk bersantai sejenak di sekolahnya dan alhasil ia malah ketiduran. Ketika bangun, lingkungan sekolahnya sudah sepi dan hujan deras.


Niken kembali menghela napasnya. Perutnya kini terasa lapar karena tadi siang ia belum makan dan sedikit kedinginan. Ia lupa membawa jaketnya lagi tadi, padahal ia sudah melihat perkiraan cuaca kalau hari ini akan turun hujan. Lengkap sudah penderitaannya.


“Ya Allah, semoga aja tiba-tiba ada orang baik yang bisa nolong gitu,” doa Niken sambil menggosok-gosokkan tangannya, mencari kehangatan.


Belum berselang lama setelah ia berdoa, terlihat siluet seseorang yang sepertinya ia kenal. Siluet itu semakin berjalan mendekat dan membuat sosoknya semakin jelas.


“Kak Aril!” panggil Niken ketika sosok itu sudah berada dekat dengan posisinya.


“Eh, Niken! Tadi kirain siapa yang berdiri sendirian di jam segini,” sahut Aril yang terlihat sudah bersiap-siap ingin pulang. Kini ia sudah berada di hadapan Niken.


“Kok kamu masih ada di sini, Ken? Kenapa nggak pulang?” tanya Aril.


“Tadi Niken ketiduran, Kak. Terus pas bangun, nggak taunya sekolah udah sepi, mana hujan lagi,” jawab Niken sedikit mengeluh.


“Lagian kamu ngapain tidur di sekolah?”


“Bukan tidur loh, tapi ketiduran. Beda antara tidur sama ketiduran,” jawab Niken tak terima.


“Iya deh, ketiduran. Pasti kamu nggak langsung pulang kan pas bel pulang berbunyi?” tanya Aril tepat sasaran.


“Bukan nggak mau pulang, Niken cuma mau santai bentar di sekolah,” jawab Niken memberi alasan.


“Kak Aril sendiri kenapa belum pulang?” tanya Niken cepat ketika melihat Aril yang ingin kembali bertanya padanya.


“Oh, ini tadi Kakak masih ada urusan sebentar,” jawabnya.


“Urusan apa, Kak?” tanya Niken ingin tau.


“Yang pasti urusan penting. Lagian ini bukan urusan kamu kan?” ucap Aril sedikit menggoda Niken.


“Ish, Kak Aril nyebelin banget sih!” kesal Niken.


“Hahaha, iya Kakak cuma bercanda. Kamu nggak usah ngambek begitu dong,” bujuk Aril.


“Kakak tuh nyebelin! Nggak dulu, nggak sekarang, sama aja,” sindir Niken pedas. Memang benar, Aril suka sekali menggodanya hingga kesal seperti sekarang.

__ADS_1


“Yaudah, nggak usah ngambek. Tadi, ada urusan organisasi yang harus diselesaikan,” ucap Aril mengalah.


“Kak Aril ikut organisasi?” tanya Niken yang dijawab anggukan kepala oleh Aril.


“Organisasi apaan, Kak?” lanjutnya.


“Coba kamu tebak,” ucap Aril yang membuat Niken berpikir.


“Kakak ikut PMR?” tanya Niken yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Aril.


“Kalau gitu, ikut pramuka?” Aril kembali menggelengkan kepala.


“Oh! OSIS ya?” tanya Niken antusias karena merasa bahwa jawabannya kali ini benar.


“Tumben pinter,” jawab Aril.


“Niken emang pinter, Kak. Jadi bener ya tebakan Niken kalau Kakak ikut OSIS?”


“Iya, bener!”


“Akh! Sakit, Kak,” ucap Niken sambil memegang dahinya yang baru saja mendapatkan sentilan dari Aril.


“Alah, gitu aja sakit. Manja banget sih," ledek Aril yang membuat Niken semakin kesal.


“Kalau Kakak bilang nggak sakit, sini gantian Niken yang sentil dahi Kakak.” Niken sudah bersiap-siap ingin membalas, namun Aril dengan sigap menahan tangannya.


“Tau ah! Kak Aril emang ngeselin banget!” rajuk Niken.


“Utututu, merajuk dia. Nggak usah merajuk, nih untuk kamu.” Aril menyodorkan satu kotak susu stroberi dan langsung diterima Niken dengan mata berbinar.


“Ih, Kak Aril baik banget sih!” ucap Niken yang sudah meminum susu stroberinya.


“Sekarang kamu nggak marah lagi kan sama Kakak?” tanya Aril memastikan.


“Nggak kok! Lagian ngapain Niken marah? Kakak aja baik kali kayak gini,” sahut Niken cepat.


Aril hanya terkekeh pelan. Sepertinya cara itu masih mempan untuk membujuk Niken ketika sedang marah atau merajuk. Susu stroberi masih menjadi penyelamatnya untuk keadaan seperti barusan. Bersyukur tadi siang Aril belum sempat meminumnya.


“Kamu kapan pulangnya, Ken? Nunggu hujan reda?” tanya Aril mengikuti Niken yang melihat hujan.


“Iyalah, Kak. Kalau mau pulang sekarang mana bisa, masih hujan deras kayak gini,” sahut Niken yang masih asik meminum susunya.


“Yaudah, kalo gitu biar Kakak yang anterin aja mau?” tawar Aril.


“Emangnya Kakak pulang naik apa?”


“Kakak hari ini ada bawa mobil,” sahut Aril yang mendapat tatapan tak percaya dari Niken.

__ADS_1


“Kenapa kamu liatnya kayak gitu?” tanya Aril heran.


“Oh, nggak. Niken pikir, Kakak nggak bisa bawa mobil,” jawabnya acuh. Aril hanya bisa menghela napasnya.


“Jadi, gimana? Mau nggak?” tanyanya kembali.


“Ya mau dong, Kak! Masa hujan begini Niken jalan kaki? Nanti seragam Niken basah.”


“Kalo gitu, kita nunggu hujannya reda sedikit, soalnya parkiran mobil kan agak jauh. Takutnya kalau nekat nerobos hujan, seragam kita basah kuyup lagi,” saran Aril yang disetujui Niken.


Suasana hening tercipta di antara keduanya. Hanya terdengar suara hujan deras yang mengenai atap bangunan sekolah. Mereka berdua terdiam, melihat hujan yang tak kunjung reda.


“Kamu kedinginan, Ken?” tanya Aril yang melihat Niken menggosokkan tangannya.


“Hah? Oh, sedikit, Kak,” jawab Niken yang masih menggosok-gosokkan tangannya.


Aril menghela napasnya. “ Nih, jaketnya kamu pake aja!” titah Aril yang sudah melepaskan jaket yang dipakainya dan menyodorkannya ke arah Niken.


“Nggak usah, Kak! Cuma dingin sedikit aja kok. Jaketnya Kakak pake aja,” ujar Niken menolak.


“Ck! Kamu kebiasaan banget sih nolak tawaran orang lain. Udah, sekarang kamu pake aja jaketnya. Kamu nggak liat apa, tuh muka udah mulai pucat karena kedinginan?” ucap Aril tak suka. Akhirnya ia memakaikan sendiri jaket itu ke tubuh Niken karena jika menunggu Niken belum tentu akan diterima.


“Udah! Pake aja, nggak usah ngebantah,” potong Aril ketika melihat Niken yang ingin protes. Niken akhirnya terdiam. Aril jika sudah mode seperti sekarang tidak bisa dibantah karena hanya akan memancing perdebatan.


“Udah, nggak usah kayak gitu mukanya! Itu demi kebaikan kamu!” ucap Aril jengah melihat raut wajah Niken yang kesal. Niken hanya diam, tak menjawab.


“Terserah kamu mau marah atau nggak, Kakak nggak peduli. Selama yang Kakak lakuin itu demi kebaikan kamu, Kakak nggak bakalan mau mengalah,” jelas Aril yang membuat wajah Niken semakin tertekuk masam.


“Yaudah, ayo kita pulang!” ajak Aril ketika melihat hujan yang sudah sedikit reda.


“Niken, ayo! Nanti hujannya deras lagi,” desak Aril, namun Niken masih tak beranjak dari posisinya.


“Ck! Ayo buruan!” Aril akhirnya menarik lengan Niken agar mengikuti langkahnya.


“Udah, nggak usah merajuk gitu, Ken... Kamu itu udah besar, nggak usah terlalu kekanak-kanakan,” ucap Aril melembut ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.


“Niken, nggak sopan kalo ada orang ngomong malah dicuekin. Kalau ada orang yang ngomong sama kamu itu direspon, Niken,” tegur Aril kepada Niken yang masih merajuk.


“Iya, iya, Kakak yang salah di sini. Jadi, Kakak minta maaf ok? Sekarang kamu jangan marah lagi ya?” Aril kembali mengalah untuk membujuk Niken.


“Yaudah, kalo kamu nggak mau maafin,” ucap Aril menyerah dengan Niken yang masih kekeuh sama pendiriannya.


Aril menghembuskan napasnya sedikit kasar. “Rumah kamu masih di tempat yang lama kan?” tanya Aril, namun masih tak mendapatkan jawaban.


“Niken... udah cukup lah merajuknya. Iya deh, Kakak yang salah. Jadi, maafin Kakak ya?” Aril kembali meminta maaf karena merasa tak nyaman dengan keadaan di antara mereka.


“Tau ah! Udah jalanin aja mobilnya, nanti kemaleman nyampe rumah,” sahut Niken yang akhirnya membuka suaranya setelah bungkam sejak tadi.

__ADS_1


Tak ingin memperburuk keadaan, Aril pun menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankannya. Ia mengantarkan Niken terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam tanpa ada satu pun yang ingin memulai percakapan.


__ADS_2