Loving You

Loving You
Ruang Kepsek


__ADS_3

...“Kalau takut sama hal yang berbau mistis, nggak usah sok berani. Nanti kejadiannya kayak Niken, berhalusinasi. Mungkin.”...


...****************...


“Hei, Nak!” Niken berhenti ketika ada seorang guru yang memanggil. Ia melihat sekitar koridor yang sepi, hanya ada beberapa murid yang berlalu-lalang.


“Saya, Bu?” tanya Niken menunjuk dirinya sendiri karena melihat hanya dirinya yang berhenti.


“Iya, kamu. Tolong ke sini sebentar.”


Niken berjalan menghampiri guru tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanyanya ramah.


“Kamu tolong ikut Ibu ke ruang guru sebentar,” pintanya. Niken mengikuti dengan patuh.


“Kamu dari kelas berapa?” tanyanya sambil jalan.


“Saya dari kelas sepuluh MIPA 1, Bu.”


“Oh, masih kelas sepuluh ternyata. Pantesan belum terlalu familiar, soalnya saya cuma ngajar di kelas dua belas. Nanti guru Bahasa Indonesia kelas dua belas kamu itu saya, Bu Ira Mayana. Panggil saja Bu Ira.”


“Oh...gitu ya, Bu,” sahut Niken canggung, tak tau mau merespon seperti apa.


“Nah, Niken! Kamu tolong Ibu bawakan berkas ini ke lab bahasa yang ada di sebelah ruang kepsek. Kalo pintunya ke kunci, nanti kamu singgah dulu ke ruang tata usaha yang menyatu sama ruang kepsek untuk minta kunci atau minta tolong untuk dibukakan labnya. Kamu tau kan di mana bangunannya?”


“Tau, Bu.” Niken menerima tumpukan berkas tak terpakai lagi yang diberikan Bu Ira.


“Bisa?” tanya Bu Ira ketika melihat Niken sedikit kesusahan.


“Bisa kok, Bu.”


“Beneran? Kalau terlalu berat kamu bisa minta tolong sama temen kamu untuk bantu bawain sebagian,” saran Bu Ira.


“Nggak usah, Bu. Saya bisa bawa semuanya sendiri kok,” sahut Niken menolak.


“Yaudah, kalau gitu makasih ya udah bantuin Ibu.”


“Sama-sama, Bu. Kalo gitu saya pamit, Bu.” Niken membungkuk sopan dan keluar dari ruang guru menuju lab bahasa.


Niken bersenandung pelan di sepanjang perjalanan. Ia melihat koridor yang tak terlalu ramai karena sekarang jam pelajaran masih berlangsung.


Lalu kenapa Niken keluar? Itu karena kelas mereka sedang jam kosong. Guru Seni Budaya yang seharusnya mengajar tidak dapat berhadir karena mengikuti pelatihan. Sebenarnya mereka sudah diamanahkan untuk mengerjakan tugas, namun Niken sudah selesai. Jadi daripada bosen di kelas, Niken berniat untuk ke perpustakaan sekalian berkeliling sebentar. Ia sudah mengajak Sabyla, tapi ditolak karena Dia belum selesai. Makanya Niken pergi sendirian.


“Ini benarkan masuknya lewat sini?” gumam Niken ketika sampai di depan pintu masuk.


Jadi, ruangannya kepsek, tata usaha, dan lab bahasa itu berada di dalam bangunan yang sama. Hanya ada 2 pintu masuk, yaitu pintu depan dan belakang. Kini Niken berada di pintu masuk belakang karena lebih dekat. Jika dari pintu depan ia harus memutar lagi, kan capek.


“Ruang kepsek... lab bahasa... terus ruang tata usaha mana? Oh, di depan lagi!” gumam Niken ketika melewati setiap ruangan yang bertuliskan nama ruangan masing-masing di pintu masuk.


“Pintunya dikunci,” desah Niken ketika mencoba membuka lab bahasa. Mau tak mau ia harus melangkah lagi menuju ruang tata usaha.


Niken melihat sekeliling yang kosong. Ia memegang tengkuknya yang terasa meremang. Hawa di ruangan tersebut tiba-tiba sedikit berbeda.

__ADS_1


Niken menelan ludahnya. “Udah, Ken. Nggak usah diingat cerita Siti kemarin. Yang kamu rasain sekarang itu cuma halusinasi kamu aja karena paranoid,” gumam Niken menenangkan diri.


Niken pun melangkahkan kakinya menuju ruang tata usaha untuk meminta kunci. Ia memperhatikan gedung yang sangat besar itu. Kalian tau ciri khas bangunan Belanda? Ya, atap yang sangat tinggi padahal hanya ada satu lantai. Bahkan jika kita menambahkan lantai baru di antara atap dan lantai dasar, maka itu akan cukup sehingga membentuk bangunan 2 lantai.


“Aduh, ini lorongnya kok panjang banget sih? Emang harus ya, buat ruangan jauh-jauh kayak gini?” keluh Niken. Ia berhenti sebentar untuk membenarkan letak berkas yang mulai tak seimbang.


Tok! Tok! Tok!


“Assalamualaikum,” salam Niken sambil mengetuk pintu. Ia melongok ke dalam dan melihat hanya ada seorang Ibu penjaga TU di kursi.


“Waalaikumussalam. Masuk, Nak!” Niken masuk dengan perlahan.


“Ada perlu apa, Nak?” tanyanya ketika Niken sudah berdiri di depan meja.


“Anu, Bu... tadi Bu Ira suruh minta kunci lab bahasa untuk tarok berkas ini.” Niken menunjuk berkas yang dipegangnya dengan mata.


“Lab bahasa... bentar.” Ibu itu pun pergi ke lemari penyimpanan kunci yang berada tak jauh dari meja.


“Ini kuncinya, nanti kalo udah selesai segera kamu kembalikan. Dan ini, tulis nama dan kelas kamu.” Ibu itu menyerahkan kunci dan selembar kertas kosong berserta pulpen.


“Untuk apa tulis nama dan kelas, Bu?” tanya Niken heran.


“Biar saya tau kemana harus mencari jika kuncinya tidak dikembalikan.” Niken mengangguk paham.


“Sudah. Kalo begitu saya permisi, Bu.” Niken menyerahkan kertas yang sudah ia tulis dan pergi meninggalkan ruang TU.


“Ih, kok hawanya kayak gini lagi sih,” keluh Niken ketika merasakan bulu kuduknya kembali meremang. Ia mengeratkan pegangan pada berkas yang ia bawa.


Niken terus melangkahkan kakinya kembali menuju lab bahasa. Ia melihat dinding di sepanjang lorong yang dipenuhi dengan pajangan bingkai foto maupun sertifikat.


Ia berhenti tepat di depan pintu lab bahasa. Dengan ragu ia memasukkan kunci ke lubangnya. Baru saja Ia ingin memutar kunci itu, ia malah mendengar suara krasak-krusuk dari dalam.


Mau tau mau ia mengurungkan niatnya dan mendekatkan telinganya ke pintu. Ia ingin memastikan suara apa itu. Bukankah lab di kunci? Jadi tidak mungkin jika itu manusia. Apakah tikus atau semacamnya? Entahlah. Yang pasti ia berusaha menajamkan indera pendengarannya.


“Niken....”


“AAAAA!!!!” reflek Niken berteriak ketika ada suara yang tiba-tiba berbisik du telinganya. Niken begitu kaget hingga jatuh terduduk dan menyebabkan berkas yang dipegangnya jatuh berserakan. Ia menelungkupkan kepala, takut.


“Ken, Niken!!!” panggil seseorang pada Niken yang hampir menangis. Perlahan Niken mendongak, melihat orang yang memanggilnya.


“Ih, Kak Mahen nyebelin!” seru Niken ketika mengetahui siapa dalang kegaduhan barusan.


“Ada apa itu ribut-ribut?” tanya kepsek yang keluar dari dalam ruangannya ketika mendengar suara teriakan.


“Mahen, ada apa?”


“Oh, anu, Bu... nggak ada apa-apa. Si Niken cuma kaget kaget karena kecoak tadi. Ya, kecoak!” sahut Mahendra tersenyum canggung.


“Yaudah, kalo gitu nggak usah ribut banget. Ganggu orang lain.”


Mahendra mengangguk dan Bu kepsek kembali masuk ke ruangannya. Ia melihat Niken yang mengutip berkas yang berserakan dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“Nggak usah, nggak perlu!” Niken menepih tangan Mahendra yang ingin menolong mengutip berkas itu.


“Nggak usah marah, Ken... Kakak cuma bercanda tadi. Abisnya kamu keliatan fokus banget, jadi niat iseng Kakak kambuh.” Mahendra memberi pembelaan. Ia berjongkok dan kembali mambantu Niken.


“Terserah!” sungut Niken dan membiarkan Mahendra membantunya.


“Iya deh, Kakak minta maaf. Udah, nggak usah cemberut lagi tuh muka. Apalagi bibirnya sampe maju beberapa senti, mirip bebek.” Mahendra tertawa pelan.


“Ih, kok makin nyebelin sih!”


“Akh! Sakit, Ken!” seru Mahendra ketika menerima pukulan dari Niken menggunakan tumpukan berkas yang ia pegang. Memang tak sakit, namun rasanya lumayan juga.


“Iya, iya. Kakak nggak bakalan bercanda lagi. Udah, maafin Kakak ya.”


“Sini berkasnya!” Bukannya menjawab, Niken malah meminta berkas yang dikumpulkan Mahendra.


“Udah, biar Kakak bawa sebagian. Lagian tadi kamu keliatan kesusahan bawanya.”


Niken hanya membuang muka cuek. Ia membuka pintu lab bahasa yang terkunci kemudian langsung masuk ke dalamnya, diikut oleh Mahendra. Rasa takutnya tadi sudah tergantikan dengan rasa kesal kepada orang yang ada di sampingnya itu.


“Makasih!” ucap Niken jutek ketika mereka sudah selesai menaruh semua berkas itu.


“Iya, sama-sama. Masih ada yang perlu dibantu?”


“Nggak, makasih.”


Mahendra hanya bisa menelan ludahnya. Niken terlihat benar-benar marah padanya. Sepertinya bercandaannya tadi sudah melewati batas.


“Kakak ngapain masih ngikutin?” tanya Niken sebal karena Mahendra masih mengikutinya menuju ruang TU.


“Kenapa? Nggak boleh?”


“Nggak!” seru Niken.


“Baiklah... larangan adalah perintah,” sahut Mahendra cuek. Bibir Niken bergetar, menahan amarah. Akhirnya ia memilih untuk terus berjalan tanpa menghiraukan Mahendra. Ia yakin jika terus diladeni, maka dirinya lah yang akan terbakar emosi.


“Niken mau ke kelas. Ngapain Kakak masih ngikutin?” Kini mereka sudah berada di luar dan berniat kembali ke kelas.


“Kakak juga mau balik ke kelas, Ken,” sahut Mahendra kalem.


“Emangnya kelas dua belas ke arah sini? Bukannya beda arah ya?” ucap Niken sinis.


Mahendra yang menyadari kebodohannya hanya bisa cengengesan. “Oh, iya ya... lupa.”


Niken hanya memutar bola matanya malas. Baru saja ingin melangkah, Mahendra melihat Niken yang berdiri terpaku.


“Ada apa, Ken?” tanya Mahendra ikut melihat arah yang dipandang Niken. Kemudian mereka berdua berpandangan.


“Kak... Bukannya pas kita balik dari TU, kita baru liat Bu Kepsek keluar dari ruangan dan mau jalan ke arah TU ya?” Mahendra mengangguk pelan. Bulu kuduk mereka berdua mulai meremang.


“Kalau yang kita liat di depan itu Bu Kepsek, terus yang tadi di dalam siapa?” tanya Niken semakin pelan. Mereka berdua akhirnya hanya bisa saling tatap-tatapan.

__ADS_1


__ADS_2