
Mendengar pertanyaan ayahnya, Jayden terdiam sejenak. Dalam hati dia berpikir darimana dia harus mulai menceritakannya.
"Sebenarnya bukan tidak suka yah, aku hanya berusaha menghindari perasaanku pada Aylin", sahut Jayden akhirnya.
"Maksudnya?", tanya ayah Jayden masih tidak mengerti.
"Sebenarnya dari dulu ada rasa suka pada Aylin, tapi aku tidak suka dengan sifatnya yang suka memerintah, suka mengatur dan mau menang sendiri.
Jadi aku membuang rasa sukaku padanya.
Waktu itu aku tidak mengerti hubungan ayah dan ibu, aku hanya berpikir aku tidak ingin seperti ayah yang malah lebih banyak mengurus masalah rumah, sedangkan ibu berbisnis. Ayah juga selalu mengalah pada ibu, kalau aku harus seperti ayah, aku merasa tak sanggup.
Saat itu aku tidak mengerti kalau ayah melakukannya karena memang benar-benar mencintai ibu. Aku berpikir aku tidak ingin bernasib sama seperti ayah.
Apalagi saat itu aku sepertinya melihat Lin hampir sama dengan ibu, anak tunggal, kaya, dan mau menang sendiri.
Akhirnya aku membuang rasa sukaku pada Lin, dan mengalihkan ke tempat lain. Mungkin saat itu pikiranku juga belum dewasa", cerita Jayden.
Mendengar cerita Jayden, ayah hanya mengangguk-angguk, dan kemudian bertanya lagi,
"Kapan kamu mulai sadar kalau kamu menyukai Aylin?"
"Waktu Aylin pergi dari sini, aku mulai merasa menyesal dan kehilangan. Sebetulnya 5 tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan Aylin, tapi Aylin lari dan menghindariku.
Aku benar-benar menyesali kejadian itu, bahkan sampai sekarang, mengapa aku tidak berada di sisi Aylin, saat Aylin menghadapi hidup yang sulit.
Untungnya saja perasaan Aylin padaku tidak pernah berubah", ujar Jayden tersenyum, yang langsung teringat lagi dengan pujaannya itu.
"Ah.. baru tidak bertemu sebentar saja sudah kangen, bagaimana harus menunggu sampai seminggu?", pikir Jayden dalam hati.
Ayah Jayden menepuk bahu Jayden dan berkata,
"Baiklah, ayah sudah mengerti. Ayah pasti akan membantumu untuk berbicara dengan ibu. Yang penting kamu dan Lin juga tidak salah paham lagi. Hargailah kesempatan kedua ini, mulai sekarang kamu juga bisa melindungi Aylin, yang sudah berlalu jangan disesalkan lagi", nasehat ayahnya.
Jayden mengiyakan dan mengangguk mendengar nasehat ayahnya.
__ADS_1
Jayden merasa beruntung dia bisa bertemu Aylin kembali, Aylin yang perasaannya tidak berubah, yang masih menyukainya, dan lebih beruntung lagi hati dan perasaan Aylin tidak diambil temannya Denny.
********
Karena lelah sudah seharian pergi dengan Jayden, Aylin langsung tiduran di kasur setelah selesai mandi.
Tempat kost nya benar-benar nyaman, ada kamar mandi dalam dan ada AC.
Hanya saja harganya mahal.
Menurut Aylin sebetulnya gaji dia bekerja tidak cocok untuk menempati kamar seperti ini. Tapi susah menolak keinginan Jayden, lebih baik dia mengiyakan saja daripada diajak menikah terus.
"Heran, menikah versinya kak Jay koq mudah banget ya?"
Akhirnya pikirannya mengembara membayangkan Jayden, tanpa sadar teringat Jayden yang melu**t bibirnya yang membuat dia sampai kehabisan nafas.
"Huh, kak Jay memang nakal, suka menyerangku tiba-tiba, besok-besok aku harus lebih berhati-hati lagi!"
Lamunannya terputus saat ada telpon masuk untuknya, segera Aylin mengangkat telpon tanpa melihat nama si penelpon.
"Ah kata siapa?", tanya Aylin mendengar suara Cika yang heboh dari seberang.
"Si Olivia yang kasih tahu aku, katanya waktu malam sebelum lu libur, dijemput sama cowok yang bilang kalau dia pacarmu. Ayooo siapa? ngaku gak? kak Denny ya? katanya tinggi, ganteng dan mirip artis Korea apa ya? gue lupa!"
Aylin terdiam dan baru sadar pantas saja Jayden bisa ke Apartemen waktu itu, dan Aylin sama sekali belum pernah bertanya pada Jayden bagaimana dia bisa sampai ke apartemen, karena Aylin tidak mau mengingat kejadian itu lagi, membuat dia takut lagi kalau teringat.
Dan dia tidak mungkin berbohong pada Cika, karena Cika satu-satunya best friend dia.
"Itu kak Jayden", sahut Aylin pelan, dia masih ingat Cika yang sangat tidak suka pada Jayden.
Sesudah agak lama baru terdengar suara Cika, mungkin Cika kaget pikir Aylin merasa serba salah juga.
"Koq bisa si beruang kutub?"
"Aku juga bingung ka, semuanya terjadi begitu saja", sahut Aylin yang bingung mau mulai cerita dari mana.
__ADS_1
"Kamu yakin si beruang kutub serius padamu? tidak mempermainkanmu? terus si Maya mau dikemanakan? Koq gampang banget berubah-ubah?", tanya Cika yang memang paling anti pada Jayden sejak dulu. Cika merasa tidak rela Aylin jadian dengan Jayden yang dulu suka menyakiti Aylin. Koq seperti gak ada cowok lain lagi di dunia ini.
"Koq kamu semudah itu menyerah padanya? Bagaimana kalau nanti dia menganggap remeh kamu, kalau semudah itu dia mendapatkanmu? Sedangkan dia saja dengan mudah membuang si Maya!" omel Cika yang merasa tidak puas.
"Kata kak Jay dia tidak ada hubungan apa-apa dengan kak Maya", sahut Aylin yang bingung mau menjawab pertanyaan Cika yang mana dulu.
"Lantas kamu percaya dengan begitu saja? Kamu jangan lupa kita dulu sama-sama pernah melihat bagaimana dia begitu perhatian sama si Maya, bahkan lebih membela si Maya. Juga menggandeng si Maya, sedangkan kamu tahu sendiri kalau si beruang kutub tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, apalagi sampai menggandeng.
Bukannya kamu bilang padaku, kalau kamu pernah menggandeng tangannya saat kamu ulang tahun saja langsung ditepis dia? Padahal kamu kan teman mainnya waktu kecil, dari itu saja kamu bisa tahu dia begitu anti disentuh perempuan!", omel Cika mengingatkan Aylin.
Aylin memang memiliki sifat yang tidak pendendam, jadi saat orang berubah baik padanya, dia menjadi lupa akan keburukan orang itu, berbeda dengan Cika yang pendendam, yang akan selalu mengingat seseorang yang pernah menyinggung dia.
Dan sifat jelek Aylin adalah mudah dipengaruhi, apalagi yang mempengaruhinya adalah best friendnya yang selalu membela dia.
"Sebenarnya kupikir kejadiannya memang terlalu cepat juga, karena waktu itu kak Jayden menolongku dari pacar kak Lenny yang kurang ajar itu, akhirnya aku terbawa suasana, merasa kak Jay begitu melindungi aku dan memperhatikan aku", ujar Aylin yang lalu menceritakan kejadian yang dialaminya, di apartemen Lenny itu.
Mendengar cerita Aylin, tentu saja Cika kaget kalau Tommy begitu kurang ajar.
"Aku ada beberapa kali bertemu dan sekedar menyapa saja sih, gak nyangka saja orangnya bisa seperti itu, tapi kadang aku berpikir kalau Tommy itu jangan-jangan sudah berkeluarga, kalau dilihat dari umurnya dan pekerjaan nya, berhubungan sudah lama dengan Lenny tapi tidak ada kelanjutannya", ujar Cika yang memang lebih berpengalaman daripada Aylin yang polos itu.
"Kamu harus lebih berhati-hati Lin kalau hidup sendirian, kamu terlalu cantik, jadi gampang membuat cowok tergoda!", sambung Cika lagi menasehati temannya itu.
"Ah, sembarangan kamu, koq aku dicap cewek penggoda sih, aku kan gak pernah goda cowok-cowok itu!", protes Aylin
"Gue kan gak bilang gitu, maksud gue cowok-cowok kegatelan yang tergoda sendiri dan berniat jahat padamu, apalagi sekarang kamu lembut dan gak galak, tambah senanglah mereka mengincarmu!", ujar Cika yang memang ceplas ceplos.
"Tapi kak Jay sudah mencarikan ku tempat kost yang aman dan nyaman, dan memang kost khusus perempuan".
Setelah itu Cika dan Aylin bercerita tentang pekerjaan dan teman-teman kerja di aquleaf saja, sudah tidak membahas tentang Jayden lagi.
"Ya udah ya Lin, gue selalu berharap yang baik buat kamu, ucapanku soal Jayden jangan dimasukkan dalam hati, gue memang tidak terlalu suka dengan Jayden, tapi kalau kamu memang sudah suka dan Jayden serius pada kamu, gue akan mendoakan yang terbaik untukmu", ujar Cika.
"Terimakasih ka, perkataan mu memang banyak yang betul. Aku pasti akan mempertimbangkan masukan kamu. Aku tahu kamu menyayangiku", ujar Aylin mengakhiri pembicaraannya dengan Cika di telpon.
Bersambung........
__ADS_1