
Aylin begitu sampai rumah langsung menuju kamar mandi.
"Siapa yang mengantarmu pulang Lin?" tanya ibunya sambil mengikuti di belakang Aylin.
"Oo itu pak Deddy Bu, sekretarisnya kak Jay. Saya mandi dulu Bu, tadi kehujanan.Nanti kalau sudah mandi baru saya cerita ya Bu", jawab Aylin
"Baiklah", ucap ibunya sambil menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Setelah selesai mandi dan makan malam Aylin mulai bercerita ke ibunya mengapa dia pulang agak malam. Dia bercerita kalau menengok Jayden karena mendengar kabar kalau Jayden menabrak tiang sesudah pulang dari rumah mereka.
Tapi tentu Aylin tidak menceritakan perhatian Jayden padanya.
Ibunya mengangguk-angguk mengerti.
"Kamu betah kerja di sana tidak? tanya ibunya tiba-tiba.
"Kenapa Bu?" tanya Aylin curiga mengapa ibunya tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Oo kak Denny yang menanyakan, katanya kalau Lin tidak cocok dia bisa bantu carikan kerjaan yang cocok buat Lin", jawab ibunya.
"Kalau menurut pendapat ibu, ibu lebih suka Aylin bekerja dimana?", tanya Aylin lagi.
"Ibu tentu lebih suka kamu bekerja di perusahaan Sunjaya. Ibu lebih tenang, apalagi ada kak Jayden di sana, dia bisa menjagamu. Tapi kalau kamu tidak cocok ibu tidak akan memaksamu", jawab ibu Aylin.
Begitu mendengar ibunya menyebutkan nama Jayden, Aylin langsung teringat pada Jayden yang begitu perhatian padanya.
Dan sepertinya hubungannya sudah baik-baik saja. Aylin hanya berharap kalau besok dia bekerja, semoga tidak ada perasaan canggung lagi pada Jayden.
Sehingga dia bisa bekerja dengan nyaman di sana.
Apalagi pak Yanto dan Bu Desy baik padanya.
"Saat ini betah Bu", jawab Aylin akhirnya
...********...
Sepanjang jalan Deddy menjadi sasaran kemarahan Maya.
Ada saja kerjaan Deddy yang dicari kesalahannya.
Deddy sampai pusing meladeni Maya, akhirnya Deddy gak tahan lagi dan menyahut, "Bu Maya kalau gak mau kecelakaan di jalan sebaiknya jangan ngomel-ngomel lagi!"
Kesabaran Deddy akhirnya habis dan dia pasrah kalaupun Maya mau mengadukannya pada Bu Sunjaya.
Akhirnya Maya terdiam dan tidak bicara lagi sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Begitu sampai di depan rumah Maya, Maya keluar mobil juga sama sekali tidak mengucapkan terimakasih pada Deddy. Deddy sungguh kesal dengan tingkah laku Maya.
"Pantes saja bos gak bisa suka, bersamanya seperti di neraka, enak sama Aylin, nurut, sopan dan cantik lagi. Susah kalau perempuan otaknya terlalu pintar!", omel Deddy yang memang sudah sentimen pada Maya, sambil menginjak gas mobil pergi dari tempat itu.
Begitu sampai di rumah, Maya langsung ke kamar melampiaskan kekesalannya, Dia membanting handbag dan filenya di atas kasur sampai bersebaran.
Sebenarnya Maya sudah curiga dengan hubungan Aylin dan Jayden, tapi dia tetap tidak bisa menerima kenyataan itu.
Terbayang terus di kepala Maya bagaimana Jayden
begitu mesra pada Aylin, dia sungguh tidak bisa terima.
Mengapa Jayden yang dulu tidak perduli pada Aylin, sekarang malah bisa menyukai Aylin.
Tiba-tiba Maya teringat, Chandra pernah bercerita padanya kalau pernah bertemu Denny teman sekelas Maya yang sekarang pacaran dengan Aylin.
"Mentang-mentang punya wajah cantik dia manfaat kan untuk menggoda pria sesukanya, padahal sudah punya kekasih. Sungguh serakah", pikir Maya yang makin tidak suka dengan Aylin.
"Aku harus memikirkan apa yang harus kulakukan agar Jayden jangan sampai diambil perempuan itu", pikir Maya mulai mencari cara.
Dia tidak rela, dia sudah menunggu Jayden bertahun-tahun, dan selalu berada di samping Jayden, tapi dia dikalahkan oleh Aylin yang baru muncul setelah beberapa tahun menghilang.
Akhirnya sepanjang malam, dia mulai memikirkan bagaimana caranya mencegah kedekatan Aylin dan Jayden.
Sedangkan Jayden saat ini tentu saja dalam keadaan mood yang bagus lagi.
Padahal sudah beberapa hari ini dia memikirkan bagaimana caranya agar Aylin memaafkannya dan tidak marah lagi atas perbuatannya di mobil.
Bahkan dia berpikir kalau kali ini dia sudah benar-benar kalah dari Denny.
Ternyata belum! sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya.
Kalau dipikir lagi sepertinya sekretarisnya Deddy yang berjasa besar. "Aku harus berterimakasih padanya.", pikir Jayden.
Apalagi tadi dia sudah bisa menjalin keakraban dengan Aylin kembali.
Dan kelihatannya Aylin tidak menolaknya lagi.
Bahkan Aylin hari ini juga sangat menurut padanya,
Hanya saja tadi Aylin menolak tidak mau menunggunya, agar dia dapat mengantarnya pulang. Tapi alasan yang diberikan Aylin juga masih masuk akal, pikir Jayden senang.
"Awas kau Denny, aku akan merebut Aylin kembali padaku. Lagipula aku yakin Aylin memang sudah ditakdirkan buatku, dia adalah milikku", pikir Jayden yang sudah percaya diri lagi.
Bahkan dia sudah lupa kalau dulu dia pernah berharap agar Aylin bukan jodohnya.
__ADS_1
Akhirnya Jayden mengambil telponnya
"Halo Deddy?" panggil Jayden.
"Apa bos?" tanya Deddy dengan suara yang seperti baru bangun tidur.
"Besok pagi datang jemput aku seperti biasa ya!" jawab Jayden.
"Siap bos", jawab Deddy dengan semangat.
"Ah akhirnya... aku bisa bebas dari cewek sadis itu", pikir Deddy senang, dia benar-benar merasa sudah disiksa oleh Maya selama ini.
Bahkan akhir-akhir ini dia jarang nonton drama lagi, karena sampai rumah sudah capek dan langsung tidur.
Besok paginya belum jam setengah sembilan, Jayden dan sekretarisnya Deddy sudah sampai di perusahaan.
Kedua-duanya penuh semangat, Jayden moodnya sedang bagus, sedangkan Deddy sudah kangen berkeliling lagi setelah 4 hari dia merasa seperti dipingit oleh Maya.
Begitu Chandra tahu Jayden sudah datang, segera Chandra mendatangi Jayden untuk melaporkan mesinnya yang agak masalah, sudah diservis, tapi hasilnya masih kurang optimal.
Jayden melihat jam masih pagi, langsung turun ke produksi untuk memeriksanya.
"Tumben biasanya paling hobi kotak katik mesin, hari ini pakai lihat jam segala", pikir Chandra heran.
Tidak butuh waktu lama akhirnya selesai.
"Pak Jayden, hari ini jam istirahat Dimas mau datang kasih undangan nikah", lapor Chandra.
"Baiklah, nanti suruh langsung ke ruanganku saja" jawab Jayden.
"Ok Pak", sahut Chandra mengiyakan, bingung melihat bosnya yang terburu-buru pergi dari ruang produksi.
Ternyata Jayden sudah dua kali bolak balik ke ruang marketing, tapi Aylin belum datang. Akhirnya Jayden kembali ke ruangannya dengan kecewa.
Akhirnya ketika jam menunjukkan jam 9.00 tepat Jayden pun datang kembali menuju ruang Marketing.
Karyawan di ruang Marketing bersyukur untung mereka tidak datang terlambat. Pak Yanto, Lulu, Desy dan Aylin sudah duduk di tempat masing-masing.
Aylin malah sedang serius memperhatikan layar monitor Desy, mempelajari sesuatu.
Melihat Jayden datang ke ruang Marketing, pak Yanto segera bangun dari tempat duduknya dan mendekati Jayden dan bertanya, "Ada apa pak Jayden?"
"Gak pa pa, ada yang mau aku bicarakan dengan Aylin", jawab Jayden langsung.
Semua yang berada di ruang Marketing kaget mendengar jawaban Jayden, bahkan Aylin juga kaget mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung........