
...“Terkadang, tidak semua pilihan orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya. Seorang anak juga memiliki tujuannya sendiri yang mungkin bertentangan dengan pilihan mereka. Oleh karena itu, pentingnya komunikasi dalam mengambil keputusan bersama.”...
...****************...
“Ini rumah kamu?” tanya Mahendra ketika sudah sampai di depan gerbang rumah Niken.
“Iya, Kak,” jawab Niken yang sudah memahami keadaan.
“Kok nampaknya sepi banget?”
“Karena belum ada orang di rumah, Kak,” jawab Niken.
“Orang tua kamu kerja?” tanya Mahendra yang diangguki Niken sebagai jawaban.
“Jadi, sekarang kamu sendirian?” tanya Mahendra lagi.
“Iya, Kak. Kalo Mami biasanya bentar lagi pulang, sedangkan Papi agak maleman pulangnya,” papar Niken.
“Ooooo, yaudah masuk sana, udah hampir maghrib juga,” suruh Mahendra.
“Iya, Kak. Makasih banget ya udah anterin saya pulang. Maaf juga karena jadi ngerepotin Kakak,” ucap Niken.
“Udah, santai aja. Lagian rumah aku juga searah sama rumah kamu.”
“Kalau gitu saya masuk ya, Kak? Sekali lagi makasih untuk tumpangannya,” ucap Niken kembali berterima kasih. Namun, baru saja Niken ingin keluar dari mobil, lagi-lagi Mahendra kembali menahan lengan Niken.
“Ada apa lagi, Kak?” tanya Niken kembali heran. Niken sampai berpikir kalau Mahendra itu memiliki kebiasaan menahan lengan orang secara tiba-tiba.
“Di luar masih hujan, kamu pakai payung aku aja dulu,” ucap Mahendra sambil mengambil payung yang terletak di kursi belakang dan memberikannya kepada Niken.
“Nggak usah loh, Kak. Dekat kayak gini masa harus pakai payung? Lari sebentar juga langsung nyampe,” jawab Niken menolak tawaran itu.
“Udah, nggak usah keras kepala kamu! Nggak usah dibuat ribet, tinggal ambil dan pakai, simpel.” Mahendra masih kekeuh memberikan payung hitamnya kepada Niken.
“Tapi, Kak...”
“Udah, ambil aja. Lagian kamu besok masih ada orientasi dan hukuman yang harus kamu laksanakan. Jadi, kalau besok kamu sakit gimana kamu mau ngelakuin itu semua?” Mahendra pun akhirnya menarik tangan Niken dan memberikan payungnya dengan sedikit memaksa.
“Udah, nggak usah banyak mikir. Sekarang kamu pakai, besok pagi balikin di sekolah,” lanjut Mahendra tak memberi kesempatan untuk Niken kembali menolak.
__ADS_1
“Yaudah deh, Kak. Kalau gitu saya pinjam dulu payungnya,” ucap Niken tak enak hati.
“Iya. Yaudah sana masuk,” suruh Mahendra.
“Iya, Kak. Makasih banyak ya sekali lagi,” ucap Niken Kembali berterima kasih ketika sudah keluar dari dalam mobil.
“Iya, santai aja. Kalau gitu aku pamit pulang ya?” pamit Mahendra sambil menghidupkan mesin mobilnya.
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan,” ucap Niken. Setelah itu, Mahendra pun pulang dan Niken masuk ke dalam rumahnya ketika sudah tidak melihat mobil Mahendra.
“Assalamualaikum,” salam Niken ketika masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumussalam,” jawab seseorang yang membuat Niken kaget. Orang itu berdiri dekat dengan pintu masuk dengan bersedekap tangan.
“Eh, Mami. kapan pulang kerja, Mi?” tanya Niken yang sudah sadar dari rasa kagetnya. Tumben sekali jam segini maminya sudah ada di rumah. Biasanya maminya baru pulang selesai maghrib.
“Dari mana aja kamu?” tanya maminya. Bukannya menjawab pertanyaan dari Niken, maminya malah mengajukan pertanyaan juga.
“Baru pulang dari sekolah, Mi.” Niken menjawab sedikit ragu karena ia melihat wajah maminya kini yang terlihat marah. Niken meletakkan sepatunya yang sudah di lepas di rak sepatu yang ada di dekat pintu.
“Pulang sekolah, pulang sekolah! Terus aja kamu bohong!” bentak maminya yang membuat Niken kembali kaget.
“Udahlah, nggak usah bohong lagi kamu!! Udah jelas-jelas tadi Mami liat kamu pulang sama cowok!” bentak maminya lagi.
“Itu kakak kelas Niken, Mi. Tadi jumpa di jalan, karena hujan jadi kakaknya nawarin tumpangan,” ucap Niken masih berusaha membela diri.
“Alasan aja kamu! Bilang aja kamu emang kecentilan sama cowok!” tuding maminya.
“Ya Allah, Mi! Niken ngomong yang sebenarnya, Niken nggak bohong!” ucap Niken yang mulai ikut menaikkan oktaf suaranya, tak terima dengan tuduhan tak berdasar sang mami. Mata Niken juga sudah mulai berkaca-kaca.
“Alah! Terus aja kasih alasan! Ngaku aja kalau kamu memang kecentilan sama cowok!”
“Mami! Kenapa Mami selalu aja nuduh Niken berbuat sesuatu yang Niken sama sekali nggak lakuin? Udah Niken bilang kalo itu adalah kakak kelas Niken di sekolah.” Niken kini berbicara dengan air mata yang sudah mengalir, tak tahan dengan tuduhan yang diberikan maminya.
Selalu saja begini, maminya sering sekali menuduh ia melakukan hal yang pada kenyataannya tidak pernah sama sekali dilakukannya, tuduhan tak berdasar. Maminya juga suka mengambil kesimpulan dari apa yang diyakininya tanpa mau tau kebenarannya.
“Kalau dia Kakak kelas kamu kenapa sampai mau ngasih tumpangan pulang? Padahal kalian pasti baru berkenalan tadi pagi kan?” Maminya masih teguh dengan pendapatnya.
“Karena Kakaknya kasian liat Niken pulang jalan kaki, Mi. Apalagi di luar lagi hujan,” ucap Niken kembali membela diri.
__ADS_1
“Kamu ini kalau dibilangin ngebantah terus!”
”Niken bukan ngebantah sama Mami. Niken cuma jelasin yang sebenarnya supaya Mami nggak selalu berprasangka buruk ke Niken.” Air mata Niken tak hentinya mengalir. Ia terus berusaha menghapus air matanya itu.
“Kan emang kenyataannya kayak gitu! Kamu itu kalau udah ada cowok kecentilan banget.”
“Ya Allah, Mi! Kapan Niken kecentilan sama cowok? Sedangkan Niken aja selalu di rumah dari dulu karena Mami sama Papi nggak izinin Niken keluar. Gara-gara itu Niken bahkan juga sampe nggak punya temen.” Niken akhirnya mengeluarkan isi hatinya yang sudah sangat lama ia pendam.
“Sekarang Niken udah SMA, Mi. Niken juga mau punya temen biar bisa main bareng, nugas bareng, dan cerita bareng. Kalau nggak sekarang, mau sampe kapan Niken kayak anak anti sosial terus, Mi?” Niken menarik napasnya dalam. Air matanya masih terus mengalir tanpa suara.
“Niken kepengen hidup normal kayak anak lain, Mi. Niken capek dikekang terus, dipaksa ngelakuin hal yang Niken nggak suka. Niken juga kepengen sekali-kali ngelakuin hal yang Niken inginkan. Apa belum cukup kekangan yang Mami sama Papi kasih ke Niken selama ini?”
“Apa belum cukup, Mi?!” tanya Niken lagi. Akhirnya pertahanannya runtuh, isakan mulai terdengar dari bibirnya.
“Niken capek, Mi. Niken capek! Niken manusia, Mi, bukan boneka. Niken juga kepengen ngelakuin sesuatu secara bebas tanpa harus diatur setiap pergerakannya,” ucap Niken dalam tangisnya.
Ia sudah terduduk di lantai, tak kuasa untuk berdiri. Tenaganya sudah habis digunakan untuk mengeluarkan semua emosi yang sudah dipendamnya selama ini. Sedangkan maminya kini hanya terdiam melihat keadaannya yang terlihat miris.
“Udah selesai kamu ngomongnya?” tanya maminya ketika sudah terdiam beberapa saat.
“Udah siap ngomongnya?!!” tanya maminya sekali lagi, kini dengan suara yang dinaikkan satu oktaf.
“U-udah, Mi,” jawab Niken yang sudah sesenggukan.
“Kamu bilang kami ngekang kamu? Buat kamu merasa jadi kayak boneka? Kalau nggak suka nggak usah tinggal di rumah ini, simpel. Kamu pergi aja sana, cari tempat tinggal kamu sendiri!”
Setelah mengetakan hal itu, maminya pun pergi meninggalkan Niken dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Niken kini semakin terisak akibat perkataan sang mami. Hatinya sangat terluka mendengar perkataan itu.
“Hiks, hiks.” Niken terus terisak.
Setelah beberapa lama, tangisannya mulai mereda. Niken akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan dengan langkah yang gontai, tak bertenaga.
Setelah sampai ke dalam kamarnya, Niken langsung meletakkan tasnya secara asal. Ia merebahkan tubuhnya secara telentang di atas tempat tidur. Ia masih begitu sedih dengan perkataan maminya tadi.
“Mami kok kejam banget sih?” tanya Niken pada dirinya sendiri. Air matanya kembali mengalir, namun dengan cepat ia menghapusnya.
“Semoga kejadian hari ini cuma mimpi,” harap Niken.
Tak lama kemudian, akhirnya ia pun tertidur. Sepertinya ia sangat kecapekan dan tenaganya sudah cukup banyak terkuras hari ini. Apalagi barusan dia mengeluarkan begitu banyak emosi yang benar-benar menguras tenaga.
__ADS_1
Untuk sekarang biarlah dia istirahat dengan tenang dan nyaman. Biarkan dia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sudah sangat lelah. Dengan begitu, semoga saja besok keadaannya akan jauh lebih membaik. Semoga saja.