Loving You

Loving You
Ibu Aylin lega


__ADS_3

Ibu Aylin membuka pintu menyambut kedatangan Jayden dan Aylin.


Jayden mengangguk hormat ke ibu Aylin, dan wajah Jayden juga sudah tidak setegang tadi lagi. Sedangkan wajah Aylin masih kelihatan lesu.


Ibu Aylin berpikir mungkin Aylin belum mandi jadi terlihat lesu.


"Ibu masakkan air panas untuk kamu mandi ya Lin? sudah makan belum?", tanya ibunya


"Sudah Bu, biar Aylin masak sendiri saja Bu!", sahut Aylin yang langsung meninggalkan Jayden di ruang tamu.


"Nak Jay sudah makan belum?" tanya ibu Aylin.


"Sudah tante, tadi sudah makan waktu di perusahaan", sahut Jayden.


Ibu Aylin akhirnya hanya mengangguk,


"Tante tinggal dulu ya Jay, tante mau terusin jahit, lagi ramai , biasa menjelang tahun baru".


"Iya, tante".


Ibu Aylin memang jarang bisa ngobrol lama dengan Jayden, entah mengapa dia merasa Jayden terlalu kaku dan pendiam, jadi ibu Aylin hanya ngobrol sebatas basa basi saja dengan Jayden.


Berbeda kalau ngobrol dengan Denny, ibu Aylin pasti akan terbawa suasana dan bisa ngobrol lama. Karena Denny memang pintar membuat suasana akrab.


Ibu Aylin kadang juga bingung mengapa Aylin lebih memilih Jayden dari pada Denny, padahal Aylin sempat bertahun-tahun tidak bertemu Jayden.


Tapi ibu Aylin hanya mendukung pilihan Aylin saja, dia memberi kebebasan pada Aylin, karena nanti yang akan menjalani hidup adalah Aylin sendiri, menurutnya.


Yang penting Aylin suka dan bahagia, ibu Aylin tidak mempermasalahkan siapa yang mau dipilih Aylin.


********


Begitu selesai mandi dan berganti pakaian rumah, Aylin segera mendatangi Jayden yang masih duduk diam di ruang tamu.


Rambut Aylin juga masih basah, karena Aylin takut Jayden bosan menunggu


kalau terlalu lama.


"Kenapa kamu tidak mengeringkan rambutmu dulu, nanti masuk angin, ini sudah malam!", omel Jayden.


"Gak pa pa kak, Lin takut kak Jay nunggu kelamaan, bosan", jawab Aylin dengan polos.


Mendengar jawaban Aylin, akhirnya Jayden menyesal tadi sudah omel-omel gak jelas ke Aylin hanya karena rasa cemburunya yang over dosis itu.

__ADS_1


Jayden kadang juga bingung sendiri dengan sifatnya yang kadang tidak bisa mengontrol kemarahannya.


Dia paling tidak suka kalau ada orang yang berusaha merebut barang kepunyaannya, apalagi kekasihnya.


Seperti dalam bisnis, dia paling tidak suka kalau ada yang merebut pelanggannya dari belakang, pasti akan dia saingi habis-habisan sampai dia yang jadi pemenangnya.


Karena rumah Aylin yang kecil, tentu ibu Aylin juga mendengar pembicaraan Jayden dan Aylin. Ibu Aylin akhirnya ikutan bicara juga.


"Aylin memang gitu, kurang disiplin. Pagi saja sering tidak sarapan, masih seperti anak kecil susah diatur!", keluh ibu Aylin yang malah ikut memojokkan Aylin.


"Ah ibu gak tahu situasi, ini bukan kak Denny, ini kak Jay, ibu malah ngomongin kekuranganku. Habislah aku kali ini", pikir Aylin dalam hati pasrah.


Jayden menatap intens ke Aylin, akhirnya Aylin menjadi salah tingkah.


"Ayo! bawa hair dryer mu ke sini, keringkan saja di sini, kan bisa sekalian temanin kak Jay", ujar Jayden akhirnya.


Aylin segera menuju ke kamarnya untuk mengambil hair dryer, Jayden yang membantunya mencolokkan ke stop kontak karena kebetulan tempat duduk Jayden lebih dekat.


Hanya Aylin tidak menyangka kalau akhirnya dia disuruh duduk di samping Jayden di kursi yang lebih panjang itu, Jayden yang duduk di sampingnya malah membantu Aylin mengeringkan rambutnya.


Aylin tertegun cukup lama karena tidak menyangka kalau Jayden akan melakukan hal itu, apalagi ada ibunya.


"Akhirnya ibu bisa tahu kan? kalau kak Jay itu muka tembok, yang gak punya malu. Berani-beraninya kak Jay, padahal ada ibu!" pikir Aylin dalam hati pasrah menuruti keinginan Jayden.


"Ah ternyata tidak bisa lihat seseorang dari penampilan luarnya saja.


Jayden kelihatan kaku sifatnya, dingin dan jarang bicara.


Tapi terhadap Aylin dia perhatian dan hangat, kelihatannya juga menyayangi Aylin.


Apalagi Jayden dewasa dan tegas, tentu dia lebih bisa menjaga Aylin yang kadang masih labil dan kurang pengalaman ini.


Semoga saja hubungan mereka bisa ke arah yang lebih serius", pikir ibu Aylin dalam hati merasa lega, setidaknya ada Jayden yang membantunya menjaga Aylin.


Sekitar jam 22.00, akhirnya Jayden pamitan pulang pada ibu Aylin.


"Besok kak Jay jam11.00 ke sini ya, soalnya kak Jay ada pekerjaan yang harus dilakukan dulu, kalau selesai cepat kak Jay akan datang lebih cepat", ujar Jayden saat Aylin mengantarnya ke depan.


"Iya kak, tidak usah buru-buru, Lin tungguin", jawab Aylin tersenyum.


"Memang kamu gak kangen? Koq malah disuruh jangan buru-buru?", tanya Jayden.


"Ih.. kak Jay mesti berprasangka jelek terus sama Lin, maksud Lin kalau terburu-buru takut nanti pekerjaan kak Jay ada yang salah!", ujar Aylin mencubit lengan Jayden karena kesal dan langsung cemberut.

__ADS_1


Jayden yang gemas pada Aylin akhirnya tidak tahan lagi, langsung memeluk dan mel***t bibir Aylin, seperti biasa karena geraknya yang cepat dan mendadak, tentu membuat Aylin tidak bisa menolak, bahkan sempat terlena dengan ciuman Jayden.


Tapi tentu sadarnya cepat karena Aylin ingat dia berada di depan rumah. Dengan cepat ia mendorong Jayden agar menjauh.


"Nanti dilihat orang kak!", tegur Aylin.


"Kak Jay kalau cium gak pernah ijin!", omel Aylin kesal.


"Buat apa ijin, Lin kan miliknya kak Jay, mau apa saja boleh", sahut Jayden seenaknya.


"Lagipula kalau ijin pasti tidak dikasih, alasannya banyak!", sambung Jayden menggoda Aylin dan tersenyum menang.


"Ih.. seenaknya saja, kapan Lin jadi miliknya kak Jay!",omel Aylin tersipu.


"Sudah kamu langsung masuk saja, kak Jay sendiri saja ke mobilnya, sudah malam".


Aylin mengangguk menurut.


"Pokoknya kamu itu milik kak Jay, nanti kapan-kapan ada waktu dan kesempatan kak Jay akan kasih cap kepemilikan!", ujar Jayden menggoda Aylin, dan langsung melangkah pergi agar tidak diprotes Aylin lagi.


Aylin yang agak telmi terdiam sejenak mencerna perkataan Jayden, tiba-tiba Aylin tersadar setelah bayangan Jayden menjauh.


"Huh! kak Jay benar-benar nakal, gak beda sama si buaya darat!" omel Aylin, sambil memegang kedua pipinya yang merona karena malu.


********


Begitu Aylin masuk ke dalam, ibunya langsung bertanya.


"Lho koq cepat banget Lin?"


"Oh, kak Jay bilang gak usah antar sampai parkiran mobil, sudah malam. Jadi Aylin tadi antarnya di depan pintu saja bu", jawab Aylin.


"Kak Jay, sepertinya serius padamu. Ibu lihat kak Jay sayang dan perhatian padamu. Apakah kak Jay pernah berbicara ke arah yang lebih serius? Umur kak Jay kan sudah cukup untuk berkeluarga?", tanya ibu Aylin yang tiba-tiba menjadi serius.


Mendengar pertanyaan ibunya Aylin menjadi terdiam.


Selama ini dia belum menceritakan pada ibunya kalau Jayden berkali-kali mengajaknya menikah.


Aylin belum menceritakan pada ibunya karena sepertinya ibu Jayden tidak setuju dan kurang menyukainya. Aylin takut ibunya akan khawatir kalau dia menceritakan hal itu.


"Apakah sebaiknya kuceritakan pada ibu saja ya? siapa tahu ibu bisa memberikan masukan untukku", pikir Aylin tiba-tiba.


Bersambung........

__ADS_1


.


__ADS_2