Loving You

Loving You
Tertangkap basah


__ADS_3

"Ayo Lin ikut kak Jay saja ke ruangan kakak", ajak Jayden saat mereka sudah melangkah masuk ke dalam.


Jayden tahu kalau Aylin masih merasa malu dengan pandangan pegawai-pegawainya itu.


Aylin hanya mengiyakan dan mengangguk.


Sebenarnya Aylin ingin menjumpai bu Desy, tapi saat dia melewati ruangan Marketing, kelihatan belum ada yang datang karena belum jam 09.00.


Deddy yang sedang merapikan meja Jayden langsung menyapa bosnya dan Aylin, saat Jayden dan Aylin melangkah masuk ke ruangan dan masih dalam keadaan Jayden menggandeng tangan Aylin.


"Selamat pagi bos, selamat pagi Bu Aylin"


"Selamat pagi pak Deddy", sahut Aylin agak malu, karena tangannya masih belum dilepas Jayden.


"Sudah siapin dokumen yang harus kutanda tangani belum?", tanya Jayden langsung tanpa membalas sapaan sekretarisnya.


"Sudah bos, semuanya sudah di atas meja", sahut Deddy.


"Ya udah kalau sudah beres, kamu boleh keluar saja dulu!", ujar Jayden seakan memberi tanda ke Deddy kalau dia tidak ingin diganggu, mengusir secara halus.


"Baik bos", sahut Deddy cepat dan segera keluar dari ruangan bosnya itu.


"Huh mentang-mentang sama pujaannya gue dianggap mengganggu dan diusir keluar, tapi kalau hari biasa gue sampai suntuk di dalam malah sama sekali gak boleh keluar, harus nemenin dia terus!"


pikir Deddy merasa kesal juga diusir dari ruangan.


"Ah tapi gak pa pa deh, gue yakin sudah banyak yang penasaran sama bos. Sepertinya bakal seru nih, gue ikutan nimbrung aja mumpung lagi dikasih kebebasan sama bos", pikir Deddy senang.


********


Sesudah Deddy keluar, Jayden melepas gandengan tangannya dan duduk di bangku kebesarannya dan mulai serius memperhatikan dokumen di atas mejanya.


Aylin yang memperhatikan Jayden dari samping jadi tersenyum. Dia merasa wajah Jayden saat ini seperti Jayden yang dulu, dingin, angkuh dan tanpa senyum, wajah yang dulu begitu dikaguminya.


Tetapi akhir-akhir ini sudah berubah, apalagi terhadapnya, suka menggodanya dan tersenyum.


"Sudah puas mengagumiku belum?", tanya Jayden tiba-tiba.


Aylin tentu kaget dan malu tertangkap basah sedang memandang Jayden.


"Koq bisa tahu aja ya, padahal kan lagi nulis?", pikir Aylin bingung.

__ADS_1


Aylin tidak pernah tahu kelebihan Jayden yang satu ini, kelebihan yang paling ditakuti sekretarisnya Deddy. Sepertinya matanya ada di mana-mana.


"Kenapa Lin dari tadi berdiri saja, apa gak capek? Masih gak puas lihat wajah kak Jay?", tanya Jayden menggoda.


"Ih kak Jay ke GR an!" sahut Aylin mencubit pergelangan tangan Jayden. Tapi kali ini Jayden tidak membiarkannya saja, tangan Aylin langsung ditangkap.


Rasa isengnya mulai muncul setiap melihat wajah Aylin yang menggemaskan, apalagi saat ini pekerjaannya sudah selesai.


"Tangan yang suka melakukan kekerasan gini harusnya dihukum!", ujar Jayden.


"Sudah berapa kali kamu memukul bahkan kali ini mencubit kak Jay dengan tanganmu ini", sambung Jayden lagi masih belum mau melepaskan tangan Aylin.


"Lepasin, kan kak Jay yang nakal dulu!", sahut Aylin tidak mau kalah kali ini, berusaha melepaskan tangannya dari jepitan tangan Jayden. Akhirnya Jayden malah menarik Aylin, dan duduk di atas pangkuannya.


"Kali ini kak Jay gak bakal lepasin Lin lagi!", ujar Jayden memeluk pinggang Aylin dengan kedua tangannya.


Kemudian meletakan dagunya di bahu Aylin dan mencium wangi rambutnya Aylin.


"Kak Jay lepasin, ini di kantor. Iya, Lin yang salah, please kak", ujar Aylin akhirnya mengalah dan memohon pada Jayden.


Aylin semakin lama semakin mengenal sifat Jayden yang selalu mau menang, dia tahu dia tidak akan menang melawan Jayden dengan kekerasan, jadi lebih baik dia memohon.


"Harus kulepaskan sekarang, bisa lupa diri aku!", pikir Jayden dalam hati.


Tapi sayangnya terlambat.


********


Ibu Jayden sudah beberapa hari ini merasa jarang melihat anaknya duduk sarapan bersama


"Heran apa sih yang membuatnya sibuk begitu? Apa gara-gara masuk mesin baru dia jadi begitu sibuk. Kalau dia terus seperti ini, kapan dia akan menikah? kapan aku akan punya cucu dari Jayden?", pikir ibu Jayden yang makin resah karena Jayden yang masih tenang-tenang saja.


Sesudah ibu Jayden menelpon Maya menanyakan jadwal Jayden, dan sepertinya Jayden tidak ada jadwal pertemuan dengan siapapun, akhirnya ibu Jayden memutuskan untuk ke perusahaan menengok pekerjaan Jayden.


Tentu ditambah misinya untuk mendekatkan Maya dan Jayden.


Kali ini ibu Jayden tidak lagi menunggu sampai jam istirahat makan.


Biasanya dia ingin mendekatkan Jayden dan Maya dengan cara mengajak makan bersama.


Tapi sekarang sepertinya ayah Jayden tidak begitu setuju dengan kemauannya. Sepertinya ayah Jayden lebih memihak pada Aylin.

__ADS_1


Ibu Jayden sudah salah duga, sebenarnya ayah Jayden hanya mendukung anaknya saja, apapun yang disukai Jayden, ayahnya akan mendukung.


Ayah Jayden sudah menasehati ibu Jayden untuk membiarkan Jayden memilih sendiri, dan tidak terlalu ikut campur urusan itu. Karena ayah Jayden punya keyakinan kalau Jayden pasti akan membawa Aylin pulang sebagai calon istrinya.


Tapi Bu Sunjaya ternyata punya prinsip sendiri. Dia masih belum menerima kalau Jayden tidak bisa menyukai Maya. Menurutnya keduanya adalah pasangan yang cocok, sama-sama mempunyai otak di atas rata-rata.


Bu Sunjaya dari dulu memang suka mengagumi perempuan yang memiliki otak yang pintar.


Boleh dibilang ibu Jayden adalah Kartini Modern, dia selalu mendukung emansipasi wanita. Dia sering menyumbang untuk kegiatan-kegiatan yang berguna bagi kemajuan wanita.


Karena itulah dia sangat menyukai Maya yang pintar, walaupun Maya bukan berasal dari keluarga berada.


Bu Sunjaya masih belum bisa menerima perkataan suaminya kalau Jayden menyukai Aylin yang menurutnya mempunyai otak di bawah rata-rata.


"Bahkan dia sendiri saja sudah


mengakuinya", pikir Ibu Jayden lagi.


Kelebihan Aylin cuman satu, memiliki wajah cantik, tapi zaman sudah maju, yang jelek saja bisa didandani jadi cantik, kalau tidak bisa lagi, kan tinggal operasi plastik. Apalagi Maya yang juga mempunyai wajah yang manis.


Tapi kalau otak mana bisa di upgrade? mana bisa di operasi jadi pintar? Begitulah pikiran ibu Jayden yang akhirnya tetap menganggap Maya lebih cocok jadi istri Jayden dibandingkan Aylin.


Dan pertimbangan lainnya Aylin juga masih muda, agak kekanakan dan kelihatannya kurang mandiri.


Bagaimana kelak dia bisa melayani Jayden? Jangan-jangan Jayden yang masih harus memperhatikan dia dan melayani Aylin. Malah tambah merepotkan Jayden saja!


Karena suaminya yang tidak mendukungnya, akhirnya dia tidak mau memilih jam makan siang. Tidak mungkin dia pergi makan siang tidak mengajak ayah Jayden.


Akhirnya jam 09.00 dia sudah berangkat ke perusahaan.


"Nanti kuajak minum kopi saja, si Jay kan suka ngopi, sambil ngobrol-ngobrol soal perusahaan, biar si Jay cepat sadar dan bisa melihat kelebihan-kelebihan Maya", pikir ibu Jayden senang mendapatkan ide baru.


Begitu sampai di perusahaan, dia langsung ke ruangan Maya, mengajak Maya untuk ngopi bareng, dengan alasan membicarakan masalah perusahaan.


Sesudah itu tentu langsung ke ruangan Jayden, untuk mengajak Jayden juga.


Setiap ibu Jayden ke ruangan Jayden, dia hanya mengetuk pintu tiga kali, dan sesudah itu biasanya langsung membuka pintu ruangan tanpa menunggu perintah masuk.


Kali ini juga demikian, tetapi betapa kagetnya Ibu Jayden dan Maya begitu melihat adegan di depannya, ketika pintu dibuka.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2