
...“Setiap orang paling tidak suka jika mereka dihukum. Namun, ada kalanya seseorang menyukai hukuman yang ia terima dan hal itu hanya akan berlaku jika ada seseorang yang spesial dibaliknya. ”...
...****************...
“Ken, tadi malam kamu nangis?” tanya Sabyla ketika mereka sedang berada di dalam barisan.
“Eh, nggak kok,” jawab Niken mengelak.
“Nggak usah bohong kamu. Itu mata sembab banget loh,” ucap Sabyla sambil menyipitkan mata, menyelidik.
“Emang nampak banget ya sembab ya?” tanya Niken. Ia kini memegang matanya untuk memastikan dan ternyata memang masih terasa bengkak seperti yang Sabyla katakan.
“Banget malahan,” jawab Sabyla.
“Padahal tadi pagi udah aku kompres pake es batu, tapi kayaknya nggak terlalu mempan ya?”
“Iya, masih sembab banget tuh mata kamu.”
“Hah, padahal aku udah lama loh kompresnya, hampir satu jam,” desah Niken.
“Kamu lagi ada masalah?” tanya Sabyla.
“Ya gitu lah,” jawab Niken sambil mengendikkan bahunya.
“Terserah kamu sih mau cerita atau nggak, aku nggak mau terlalu ikut campur. Yang penting kalau kamu mau cerita ada aku yang siap jadi pendengar,” ucap Sabyla.
“Byl, kok baik banget sih,” ucap Niken yang terharu mendengar perkataan itu.
“Biasa aja kali, nggak usah alay.” Ucapan itu sukses membuat Niken menyengir tidak jelas.
“Bercanda, Byl. Jutek amat sih jadi orang, nanti nggak ada yang suka loh,” ucap Niken menggoda Sabyla.
“Udah, sana kamu pergi, udah hampir jam 8. Jangan bilang kamu lupa sama jadwal hukuman kamu,” ucap Sabyla dengan bergaya seolah-olah sedang mengusir. Kemarin Niken memang menceritakan tentang hukumannya dari amplop putih itu, makanya sekarang ia tau.
“Hehehe, tau aja kamu, Byl. Aku hampir aja beneran lupa.” Niken tersenyum dengan wajah tanpa dosanya dan membuat Sabyla hanya bisa menggelengkan kepala.
“Udah sana, minta izin terus. Nanti kalau kamu terlambat yang ada hukumannya makin di tambah lagi,” peringat Sabyla.
“Yaudah, aku izin duluan ya, Byl.”
“Yaudah, kamu pergi sana.”
__ADS_1
“Jangan kangen aku, Byl,” ucap Niken menggoda dan hanya dibalas dengan tatapan malas oleh Sabyla.
Niken kini hanya bisa tertawa tidak jelas, senang karena sudah menggoda Sabyla. Niken pun akhirnya meminta izin kepada kakak pelaksana yang menjadi mentor di grupnya. Walau ada sedikit masalah, tapi akhirnya dia diizinkan untuk pergi.
***
“Udah lama nunggu kamu?” tanya seseorang yang ternyata Mahendra dan membuat Niken berhenti dari aktivitasnya bermain hp.
“Eh, nggak kok, Kak. Saya juga baru 10 menitan nunggu di sini,” jawab Niken.
“Sorry ya, tadi masih ada urusan soalnya,” ucapnya meminta maaf.
“Santai aja, Kak. Nggak lama aja pun nunggu nya, kecuali tadi sampai sejam baru saya mungkin bakalan marah.”
“Yaudah, kalau gitu sekarang kamu ikut aku ya.” Tanpa aba-aba Mahendra langsung menarik lengan Niken untuk mengikutinya. Ini kali kedua Mahendra melakukan itu.
“Saya mau dibawa ke mana, Kak?” tanya Niken, namun tetap mengikuti Mahendra.
“Udah, ngikut aja. Ini tugas kamu yang pertama selama masa hukuman,” jawab Mahendra yang membuat Niken diam, mengerti.
“Sekarang kamu tolong aku untuk ngurus semua berkas ini,” ucap Mahendra ketika mereka sudah sampai di dalam sebuah ruangan. Niken tidak tau ruangan apa itu, mungkin OSIS? Yang terpenting kini di atas meja sudah penuh dengan berkas-berkas yang sedikit berantakan.
“Mau bantuin ngurus gimana, Kak?” tanya Niken tidak mengerti.
“Ini ngerjainnya sekarang, Kak?”
“Nggak! Bulan depan! Ya, sekarang lah Niken...” ucap Mahendra sedikit gemas.
“Nggak usah marah-marah, Kak. Saya kan nanya baik-baik.”
“Pertanyaan kamu nggak bermutu,” dengus Mahendra.
“Sekarang kamu kerjakan terus semuanya, aku mau ke ruangan kesiswaan untuk mengurus berkas yang lain. Aku mau saat aku balik nanti, semua berkas sudah tersusun rapi di dalam kardus. Paham kamu?”
“Paham, Kak. Tapi, Kakak kapan baliknya?”
“Untuk apa kamu tau?” tanya Mahendra menyelidik.
“Ya, mana tau nanti tiba-tiba baru 5 menit Kakak udah balik. Kalo kayak gitu gimana saya mau nyelesain semuanya, Kak,” jawab Niken.
“Kamu itu sebenarnya bodoh, bego, atau gimana sih? bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu.” Mahendra hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
“Kan jaga-jaga, Kak. Kalo beneran kayak gitu kan saya yang bakalan kalang kabut. Mana berkasnya banyak banget lagi, nggak cukup dengan waktu sesingkat itu, Kak,” sahut Niken.
“Terserah kamu, capek aku ngeladeninnya.” Mahendra pun akhirnya memilih meninggalkan Niken sendirian.
“Kak! Jadi berapa lama Kakak baru balik?!” tanya Niken berteriak karena Mahendra yang berjalan semakin jauh.
“Yang pasti nggak bakalan kurang dari 30 menit!” jawab Mahendra ikut berteriak, namun tidak menoleh ke belakang dan memilih untuk terus berjalan.
“Oke, kalau 30 menit kayaknya cukup,” ucap Niken semangat. Ia mulai menggulung lengan bajunya agar memudahkannya untuk melakukan pekerjaan. Tak lupa ia menyanggul rambutnya yang tadi diikat kuncir kuda seperti biasa.
Niken mulai melihat tumpukan berkas itu satu persatu. Setelah melihat, barulah ia pisahkan setiap berkasnya sesuai tahun seperti yang diperintahkan oleh Mahendra.
Niken melakukan tugasnya itu dengan tekun, ia terlihat begitu serius. Ia memeriksa setiap berkas dengan teliti agar tidak ada kesalahan.
Niken tak mengetahui sudah berapa lama ia melakukan tugasnya itu, yang pasti kini tangganya mulai terasa pegal. Ia pun menghentikan tugasnya itu sejenak.
“Hah, ternyata lebih banyak dari yang aku kira. Mana berkasnya banyak banget yang kecampur lagi, kan jadi capek harus diliat satu persatu supaya nggak ada yang keselip,” ucap Niken menghembuskan napasnya. Ia kini bersandar pada kursi yang didudukinya.
“Ih, udah hampir 50 menitan aja nih. Nggak terasa banget, pantes aja tangannya sampai kebas begini,” ucap Niken ketika melihat jam tangannya.
“Udah ah, ayo semangat, Ken. Tinggal sikit lagi bakalan siap,” semangat Niken untuk dirinya sendiri setelah istirahat beberapa saat. Ia pun mulai melanjutkan kembali tugasnya yang sempat tertunda.
Niken sangat fokus dengan kerjaannya itu. Sampai perutnya mulai keroncongan, ia lapar. Dirinya kemarin hanya makan sandwich sebagai sarapan dan minum segelas jus alpukat. Sedangkan hari ini ia hanya memakan 2 lembar roti panggang, jadi wajar jika kini ia kelaparan.
“ Hah, akhirnya selesai juga semuanya,” ucap Niken sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.
“Hah, aku laper banget sekarang. Mau keluar untuk beli makanan, tapi Kak Mahen belum balik. Nanti ruangannya nggak ada yang jaga,” desah Niken.
“Kak Mahendra kemana aja sih sampai belum balik juga? Padahal tadi dibilangnya sekitar 30 menitan, tapi sekarang udah satu jam lebih belum nampak juga batang hidungnya,” tanya Niken pada dirinya sendiri.
Niken pun melepas sanggulnya dan membiarkan rambutnya tergerai dengan bebas. Rambutnya hitam lebat dan terasa lembut ketika di pegang. Niken mengipasi dirinya sendiri menggunakan tangan karena gerah setelah melakukan tugasnya.
“Aku laper banget...,” rengek Niken pada dirinya sendiri.
“Kak Mahen kok lama banget sih?! nggak tau apa kalo orang udah lapar banget kayak gini?” gerutu Niken sebal.
Niken terus menggerutu sebal karena Mahendra yang masih tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal kini sudah 20 menit berlalu sejak Niken menyelesaikan tugasnya.
“Ya Allah! Ih, kok geram banget ya liatnya!” ucap Niken yang semakin sebal. Perutnya terus saja keroncongan minta diisi.
“Tau ah, kesel banget! Bagusan aku tidur aja daripada marah-marah nggak jelas kayak gini,” ucap Niken kembali menggerutu.
__ADS_1
Akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja daripada terus menunggu dengan perasaan kesal karena menunggu Mahendra yang tak kunjung kembali. Sebenarnya ia bisa saja langsung pergi dari ruangan itu. Namun, karena rasa tanggung jawab mau tak mau ia harus menunggu sampai Mahendra kembali karena selama Mahendra tidak ada, dia lah yang bertanggung jawab atas ruangan itu.
Niken mulai memejamkan matanya, berusaha tidur untuk menghilangkan rasa kesal dan laparnya. Tak lama kemudian, ia sudah terlelap ke dalam alam mimpinya. Ia tidur dengan posisi badan yang disandarkan di kursi dan tangan yang disilangkan di atas perutnya.