
Aylin tidak langsung menuju ke ruangannya, melainkan ke toilet dulu.
Hatinya begitu kacau, dan dia perlu menenangkan dirinya dahulu kalau tidak ingin yang lain curiga.
Sampai di toilet dia memandang bayangan dirinya di cermin. Dia melihat kedua pipinya yang masih agak memerah karena malu, nafasnya juga masih tidak beraturan karena jantungnya yang berdebar-debar. Untung saja tadi dia masih bisa keluar dari ruangan itu.
Aylin menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan hatinya Dia tidak menyangka kak Jayden akan menciumnya, dan dia merasa menyesal tadi telah terbawa suasana itu, dan tidak melawan sama sekali, bahkan begitu pasrah jatuh ke pelukan Jayden. Padahal Jayden menganggapnya cewek penggoda.
"Dasar cowok gak berperasaan, sudah punya pacar masih mencium perempuan lain", keluhnya dalam hati bertambah kesal pada Jayden.
Dan Aylin bingung Jayden sepertinya sama sekali tidak merasa bersalah padanya ataupun pada Maya.
"Dasar manusia egois, bermuka tembok, tak tahu malu. Aku mau menggoda siapa saja bukan urusannya!", Aylin mengeluarkan sumpah serapahnya agar hatinya menjadi lebih tenang dan lega.
Beberapa menit kemudian sesudah dia merasa sudah lebih tenang, dia segera berjalan keluar dari toilet.
Aylin merasa dia sebaiknya menghindari Jayden, jam sudah hampir menunjukkan pukul 17.00, sebaiknya dia cepat-cepat bersiap untuk pulang saja, agar tidak bertemu Jayden dan Maya.
Begitu masuk ruangan dan melewati Lulu, Aylin sudah langsung dikomentari oleh Lulu, "Dasar cewek penggoda!"
Mendengar kata "cewek penggoda", Aylin benar-benar terbawa emosi.
Kali ini kesabarannya sudah habis total.
"iya, aku memang hobi menggoda!" jawabnya pada Lulu.
Lulu yang tidak menyangka dia dibalas Aylin kali ini, kaget dan langsung terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Saat itu Pak Yanto tidak ada dalam ruangan, yang ada hanya Bu Desy. Bu Desy yang dari tadi mendengar percakapan itu, langsung memberi tanda jempol pada Aylin sambil tersenyum.
Bu Desy sebenarnya selama ini memang tidak terlalu suka dengan sifat Lulu yang suka iri, dia menyayangkan wajah Lulu yang cantik itu, tetapi tidak disertai hati yang cantik.
Aylin segera menuju ke mejanya untuk melanjutkan rencananya. Merapikan mejanya dan bersiap-siap pulang, supaya tidak bertemu dengan Jayden dan Maya lagi.
"Sudah jam pulang, Lin", kata Bu Desy.
"Iya Bu Desy, ini sudah siap-siap pulang, takut ketemu macet", jawab Aylin memberikan alasan.
__ADS_1
"Ayo keluar bareng, ibu juga mau cepat sampai rumah, kangen sama si kecil", kata Bu Desy mengajak Aylin jalan keluar bersama.
Aylin tentu merasa senang punya teman untuk jalan keluar bersama, rasanya lebih aman.
Dia segera mengiyakan dan mengangguk setuju.
Lulu semakin panas melihat Aylin yang cepat sekali sudah akrab dengan Bu Desy.
Apalagi saat Aylin melewati ruangan berkumpulnya para jomblo-jomblo itu, yang kebetulan ruangannya bersebelahan dengan ruangan Marketing.
Ada beberapa sales yang masih kembali ke kantor, dan menggoda Aylin. "Mau diantar pulang gak?"
Tambah panas hati Lulu mendengar ucapan para jomblo itu, karena saat itu dia tepat berada di belakang Aylin dan juga hendak pulang.
Sampai di luar Aylin tidak menyangka kalau Deny sudah menunggunya. Ternyata usahanya dari kemaren sia-sia untuk menghindari Denny.
"Kak Denny koq datang jemput? tidak sibuk?" tanya Aylin basa basi.
"Tidak, kan baru pulang, jadi masih santai", jawab Denny tersenyum.
"Huh, sudah punya cowok ganteng masih saja menggoda yang lain, dasar rubah b*tina!" pikirnya dalam hati, kesal sendiri.
"Ini Bu Desy, atasan Aylin", Aylin memperkenalkan Bu Desy pada Denny. Denny tersenyum dan mengangguk hormat.
Tidak lama kemudian Bu Desy juga dijemput suaminya, yang katanya bekerja tidak jauh dari tempat kerja mereka.
Sesudah Bu Desy dijemput, Aylin juga masuk ke mobil Denny untuk pulang.
Aylin tidak tahu kalau saat itu Deddy, Maya dan Jayden juga keluar bersama menuju ke parkiran mobil, juga sempat melihat Denny yang menjemput Aylin.
Dalam perjalanan pulang Denny mengajak Aylin berbicara tentang hal-hal umum saja. Denny juga sama sekali tidak menyinggung masalah Aylin menghindarinya, walaupun dia tahu kalau Aylin menghindarinya sesudah kejadian malam itu
Denny yang pintar membuat suasana akrab akhirnya membuat Aylin tidak canggung lagi padanya.
Sesudah dari tadi lebih banyak dia yang bertanya tentang pekerjaan baru Aylin, akhirnya Aylin mulai bisa bertanya-tanya padanya juga, tentang rencananya sesudah pulang Indonesia.
Dan akhirnya mereka bisa mengobrol santai seperti dulu lagi, biasa lagi tanpa rasa canggung.
__ADS_1
...********...
Berbeda lagi dengan keadaan dalam mobil Jayden, suasananya beku, sama sekali tidak ada yang memulai pembicaraan.
Deddy yang disuruh menyetir mobil, Jayden beralasan kepalanya sedang sakit, padahal biasa bosnya itu kalau memerintah tidak pernah memberikan alasan apapun.
"Mengapa tiba-tiba jadi sopan padaku?" pikir Deddy dalam hati tak mengerti.
"Mungkin benar juga kepalanya sedang sakit, wajahnya boleh ganteng tapi auranya menyeramkan. Bahkan Bu Maya saja diam dan tidak berani mengajaknya berbicara", pikir Deddy lagi.
Deddy tidak tahu kalau Jayden memberitahu sakit kepala memang disengaja, agar terdengar Maya, supaya Maya tidak mengajaknya berbicara.
Bahkan kalaupun mengenai masalah perusahaan, karena dia sedang malas bicara.
Maya yang sudah tahu sifatnya Jayden akhirnya hanya membisu sepanjang perjalanan.
Maya sudah tahu dari dulu kalau Jayden malas berbicara pasti beralasan sakit kepala.
Dalam hati Maya terus berpikir apa yang sudah dilakukan oleh Aylin, sehingga membuat Jayden sepertinya sedang marah dan moodnya jelek seperti itu.
Tadi dia sempat melihat wajah Aylin yang agak memerah dan sikapnya yang juga salah tingkah.
"Heran dari kecil selalu mengganggu Jayden, padahal udah punya Denny", pikir Maya dalam hati merasa kesal pada Aylin, karena Maya tadi sempat melihat Denny yang menjemput Aylin.
Padahal Maya tidak tahu kalau Jayden lah yang sudah mengganggu Aylin.
Bahkan Maya merasa kalau perasaannya pada Jayden yang paling tulus.
"Dulu begitu tergila-gila dan mengidolakan Jayden, tetapi secepat itu hatinya berubah. Tidak bisa lihat cowok ganteng. Tapi bagus juga, setidaknya suatu hari Jayden akan menyadari perasaanku yang tak pernah berubah dan benar-benar tulus padanya", pikir Maya dalam hati.
Deddy melihat lagi ke belakang lewat spion. Walaupun bosnya suka memarahinya, dia khawatir juga dengan keadaan bosnya jika seperti itu. Bagaimanapun juga bosnya cukup baik padanya dan royal padanya selama ini.
Tapi ternyata wajah bosnya dari tadi tidak berubah, bahkan kali ini tidak menangkap basah Deddy yang mengintipnya dari spion. Padahal biasa matanya ada dimana-mana.
"Kasihan, ternyata benar-benar sedang sakit kepala berat", pikir Deddy dalam hati.
Bersambung........
__ADS_1