Loving You

Loving You
Salah paham yang mulai terungkap


__ADS_3

Setelah basa basi dengan Dimas, yang ditatap dengan pandangan penuh tanda tanya oleh Cika, Jayden akhirnya pamitan pulang dan langsung memeluk bahu Aylin dan membawa Aylin ke tempat mobilnya diparkirkan.


Sebelum pergi Aylin sempat melambaikan tangannya ke Cika, tapi Cika sama sekali tidak membalasnya, Cika kelihatannya masih terpana melihat sifat Jayden yang berubah 180 derajat.


Sesudah membukakan pintu mobil dan Aylin sudah di dalam mobil, Jayden langsung menyusul masuk ke dalam.


Aylin yang merasa ketakutan sendiri, mere**s-rem*s tangannya sendiri.


Ternyata dugaannya benar, Jayden sudah melihat Denny.


"Mengapa kamu merasa takut? Takut kak Jay sudah melihat kak Denny?", tanya Jayden sambil menangkap tangan Aylin yang berada di pangkuan Aylin, sambil menatap intens pada Aylin.


.


"Lin sungguh tidak tahu kalau akan bertemu kak Denny di rumah Cika", sahut Aylin langsung membela diri.


"Kamu tahu apa salahmu?", tanya Jayden lagi.


Aylin yang sudah salah tingkah sejak tadi, apalagi melihat tatapan mata Jayden padanya, semakin salah tingkah.


"Lin kan sudah bilang , Lin gak tahu bisa bertemu kak Denny, jadi Lin gak salah!", ujar Aylin kesal, berusaha menutupi salah tingkahnya.


"Masih tidak tahu salahnya!", gerutu Jayden kemudian melepaskan tangan Aylin, dan menjalankan mobil.


Aylin bersyukur Jayden sudah menjalankan mobilnya, dan sudah tidak membicarakan hal itu lagi. Sekilas dia mencuri pandang ke Jayden dan melihat muka tanpa ekspresi itu, sehingga Aylin tidak bisa menebak isi hati Jayden.


"Ah ternyata susah mengerti isi hati kak Jay, apa aku yang terlalu bodoh?", pikirnya dalam hati.


Tidak lama kemudian Jayden menghentikan mobilnya di sebuah restoran.


"Ayo kita turun makan dulu, Lin belum makan kan?"


"Belum", sahut Aylin sambil menggelengkan kepalanya.


Begitu turun dari mobil, Aylin langsung menggandeng lengan Jayden dengan kedua tangannya.


Aylin bersikap manja tentu bertujuan agar Jayden melupakan kemarahannya.


Tapi ternyata usahanya sia-sia, begitu mereka sudah selesai memesan makanan dan sedang menunggu makanan disajikan Jayden kembali bertanya,


"Sudah tahu kesalahan Lin apa?"


"Huh aku gak bersalah, disuruh-suruh ngaku salah terus! dasar egois, tapi biarlah aku mengalah saja, biar masalah cepat selesai, tidak berada dalam suasana kaku lagi. Situasi begini sungguh tidak enak!", pikir Aylin dalam hati.


"Lin gak tahu salah apa, kak Jay beritahu saja biar besok-besok Lin tidak melakukan kesalahan yang sama lagi kak", sahut Aylin akhirnya mengalah.

__ADS_1


"Kak Jay gak suka Aylin melambaikan tangan pada laki-laki lain. Jangan pernah lakukan hal itu lagi! Nanti para pria itu jadi salah mengerti, apalagi kalau memang pria itu menyukaimu!", omel Jayden akhirnya mengeluarkan isi hatinya.


"Aylin tidak pernah terpikirkan sampai di situ, karena Lin sudah terbiasa kak", sahut Aylin membela diri.


"Lagipula dulu kak Denny banyak membantu Lin, bagaimanapun Lin tetap harus menghormati kak Denny", sambung Aylin.


Belum sempat Jayden berbicara, pesanan mereka sudah datang. Akhirnya keduanya makan dalam suasana hening, sesekali Aylin melirik ke Jayden, tapi Aylin tidak pernah bisa membaca isi hati Jayden, yang terlihat hanya Jayden sedang menikmati makanannya .


Akhirnya Aylin juga mencoba menikmati makanannya. Untung saja makanan pesanan Jayden enak dan sesuai selera Aylin.


"Kita ke pantai sebentar ya, buat ngobrol", ujar Jayden, setelah mereka keluar dari restoran dan menuju tempat parkir mobil.


Aylin hanya mengangguk pasrah, "Baik kak".


"Ah pasti lanjutin masalah tadi lagi!", pikir Aylin yang pusing dengan sikap Jayden yang terlalu posesif.


Pertama-tama Aylin merasa itu merupakan suatu bentuk perhatian Jayden padanya, jadi dia tidak pernah mempermasalahkannya.


Tapi lama-kelamaan dia merasa capek juga menghadapi sikap Jayden yang terlalu berlebihan.


...********...


"Aylin jawab jujur ya, Kak Denny pernah gak memeluk Lin?", tanya Jayden saat mereka menelusuri jalan di pinggiran pantai.


"Ngapain sih kak Jay nanya hal-hal yang sudah lewat?", sahut Aylin yang mulai kesal.


"Jawab jujur saja deh, biarkan saja kak Jay kalau mau marah, hal paling jeleknya paling kak Jay memutuskan hubungan, daripada aku tertekan terus, aku saja sama sekali tidak pernah menanyakan padanya tentang kak Maya", tekad Aylin dalam hati, yang mulai merasa tidak puas karena mengalah terus, hanya karena ingin menjaga hubungan mereka agar tetap awet dan agar Jayden tidak pernah bosan padanya.


"Pernah" ujar Aylin nekad.


Jayden terdiam sejenak, lalu menarik Aylin menghadap ke arahnya dengan memegang kedua bahu Aylin.


Kali ini Aylin menatap Jayden dengan berani, karena dia sudah bertekad akan menerima segala akibatnya.


Untuk apa dia berusaha mati-matian mempertahankan hubungan mereka, kalau memang Jayden tidak percaya padanya, pikir Aylin


"Mengapa?"


"Mungkin kak Denny terbawa suasana", sahut Aylin.


"Suasana apa?"


"Kak Denny meminta Lin menjauhi kak Jay, kak Denny berkata takut kehilangan Lin!"


Jayden langsung teringat Aylin dulu sering menghindari dia, langsung bertanya curiga, " Kamu mengiyakan kak Denny?"

__ADS_1


"Aduh habislah aku kali ini! sudah terlanjur, biarlah aku jujur saja sesuai kata hatiku", pikir Aylin sambil mengangguk lalu menunduk tidak berani melihat ke Jayden lagi kali ini.


"Berarti kalau dulu kak Jay gak mencarimu, kamu bakal sembunyi terus dari kak Jay?"


Aylin mengangguk kembali.


"Kak Denny pernah nyatain cinta sama Lin gak?"


Aylin mengangguk kembali, sama sekali tidak mau melihat ke Jayden lagi, hanya menunduk.


"Kalau Lin tidak terima perasaan kak Denny, mengapa Lin begitu menurut pada kak Denny?"


"Lin merasa berhutang budi pada kak Denny, kak Denny sejak pertama bertemu selalu menolong Lin, jika Lin berada dalam kesulitan", ujar Aylin kali ini.


Mendengar jawaban Aylin, Jayden hanya bisa mengepalkan tangannya menyesali kalau bukan dia yang berada di sisi Aylin, saat Aylin mengalami kesulitan.


"Lagipula ibu kak Jay menyukai kak Maya, Lin juga berpikir kak Jay juga ada hubungan dengan kak Maya, jadi sebaiknya Lin menghindar saja agar keadaan baik-baik saja. Lin juga tidak mau jadi pihak ketiga".


"Lalu kamu pikir buat apa kak Jay mendekatimu, jika kak Jay punya hubungan dengan kak Maya? Memang kau pikir kak Jay main-main?"


Jayden langsung kaget ketika melihat Aylin mengangguk kembali.


"Kalau kamu mengira kak Jay main-main kenapa kamu masih menerima Kakak?", tanya Jayden tak percaya dengan anggukan kepala Aylin.


"Tidak ada salahnya mencoba kak, paling jeleknya Lin cuman dibuang seperti kak Maya", ujar Aylin akhirnya mengeluarkan isi hatinya selama ini, yang selalu dia simpan dalam hati.


"Jadi kalau kak Jay memutuskan Lin sekarang, Lin juga tidak masalah? Lin juga terima?", tanya Jayden menatap Aylin tak percaya.


Aylin tentu kaget mendengar perkataan Jayden, tapi setidaknya tadi dia sudah siap saat dia berkata jujur.


"Ah, jangan cengeng, jangan sampai nangis, bukankah kamu sudah harus siap saat berkata jujur. Bukankah Cika sudah sering mengingatkanku agar lebih berhati-hati, aku saja tidak bisa menebak hati kak Jay, sedangkan kak Jay tahu semua kelemahanku, aku memang bodoh!", pikir Aylin menyesali kekurangannya.


Aylin akhirnya mencoba menatap Jayden walaupun dengan mata berkaca-kaca, sesudah menghela nafas menahan kesesakan hatinya, akhirnya Aylin hanya mengangguk pasrah.


Bersambung.......


...🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉...


...Jangan lupa follow author dan...


...pencet tombol favoritnya ❤️ ya,...


...Terimakasih buat vote, like dan...


...comment yang sudah mendukung...

__ADS_1


...Author 🙏🙏🤗...


__ADS_2