
...“Banyak orang yang mengatakan jika kita terlalu banyak tertawa di siang hari, maka kita akan menangis di malam harinya. Dan katanya, itu sebanding dengan tawa kita di siang hari.”...
“Wah, nggak terasa aja udah hampir maghrib.” Niken merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu asik bermain. Ia menatap langit yang sudah hampir berganti warna menjadi gelap.
“Ken, kayaknya Kakak ajak kamu ke tempat yang direncanain lain kali aja, deh. Liat tuh, langitnya udah mau gelap,” ucap Aril yang berjalan di belakang.
“Oh, yaudah. Niken nggak masalah sih, Kak. Lagian Niken udah puas karena di ajak ke sini. Kalo Kakak udah tau mau pergi kapan, nanti bilang aja ke Niken.”
“Oke. Kalau gitu mau shalat dulu baru pulang ke rumah, Ken?” tanya Aril.
“Boleh aja. Kalo Kak Mahendra mau ikut nggak?” tanya Niken pada Mahendra yang berjalan di samping Aril.
Loh? Mereka kok jadi bertiga? Mau tau alasannya? Itu semua karena Niken. Selesai makan es krim, Niken mengajak Mahendra untuk bergabung dengan mereka.
Sebenarnya Mahendra dan Aril merasa keberatan dengan hal itu, namun akhirnya Niken berhasil membujuk mereka berdua. Dan beginilah hasilnya! Mereka menghabiskan waktu bersama walau sempat tidak sepakat di awal.
Mau tak mau mereka harus mengakui kalau hal itu cukup menyenangkan. Bahkan Aril dan Mahendra lah yang paling semangat untuk bermain seperti tembak-tembakan, balapan, hoki, dan lain lagi. Sedangkan Niken hanya aktif di pump dan basket, sisanya ia hanya menjadi penonton atas keaktifan Aril dan Mahendra.
“Aku kayaknya pulang duluan, deh. Soalnya Bunda udah suruh pulang,” tolak Mahendra.
“Oke, kalo gitu hati-hati, Kak. Salam juga untuk Bunda Kakak.”
Mahendra mengacak-acak rambut Niken. “Iya, nanti aku sampein. Makasih untuk hari ini. Kamu juga, Ril, Makasih,” ucap Mahendra yang sudah menghentikan acakannya pada rambut Niken.
“Yaudah, pergi sana! Rambut Niken jadi rusak karena Kakak!” usir Niken sebal karena rambutnya berantakan.
“Sini Kakak rapiin,” tawar Aril yang langsung disetujui Niken. Ia membiarkan Aril menyisir dan merapikan rambutnya menggunakan jari-jarinya.
“Kalo gitu aku pamit duluan, assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam,” sahut Aril dan Niken bersamaan.
“Udah rapi.”
“Oke, bagus! Makasih, Kak,” ucap Niken tulus.
“Iya, sama-sama. Yaudah, ayo ke masjid sebelum azan maghrib,” ajak Aril yang disetujui Niken.
Syukur saja tak jauh dari Funland terdapat masjid sehingga mereka tak perlu bersusah payah pergi mencari apalagi jaraknya lumayan jauh. Seperti saat zuhur dan asar tadi, mereka bisa dengan mudah untuk menunaikan kewajibannya.
Mereka pun pergi ke masjid bersama dan berpisah menuju area masing-masing. Tempat wudhu laki-laki di sebelah kiri masjid, sedangkan perempuan di sebelah kanan.
*****
“Mami kamu suka bakso nggak, Ken?” tanya Aril saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Mami kurang suka sih, Kak, tapi mau,” sahut Niken.
“Kalo gitu, Mami kamu sukanya apa?”
“Mami lebih suka Kakak sih.”
__ADS_1
“Hah? Maksudnya apaan?” tanya Aril bingung.
“Nggak ada. Mami lebih suka martabak.”
“Rasa?”
“Apa aja boleh, asalkan martabak.”
“Oke, kalo ada tukang martabak di jalan nanti kita singgah,” sahut Aril.
“Alah, kalo Kakak yang bawa pasti Mami bakalan makan tuh semua, nggak peduli mau itu cuma gorengan,” gumam Niken pelan.
“Kamu ngomong apa barusan, Ken?” tanya Aril yang tak mendengar jelas gumaman Niken.
“Nggak ada, Kak. Udah, cepatin nyetirnya biar cepat sampe rumah. Niken udah capek, mau istirahat,” sahut Niken mengelak.
Aril mengendikkan bahunya, tak ingin ambil pusing. Ia terus melajukan mobilnya dan membiarkan Niken yang menyenderkan kepalanya ke jendela mobil yang tertutup. Lama-kelamaan Niken malah ketiduran. Aril yang menyadari itu hanya tersenyum tipis dan membiarkan saja.
*****
“Ken! Bangun, Ken!” panggil Aril membangunkan Niken sambil menepuk pelan pipinya.
“Engh... udah nyampe, Kak?” tanya Niken dengan wajah yang tampak kelelahan.
“Iya, udah sampe di rumah kamu. Yaudah, ayo keluar! Bisa? Mau Kakak bantu papah karena masih ngantuk?” tanya Aril perhatian.
“Nggak usah, Kak. Niken jalan sendiri aja,” tolak Niken. Ia mengucek matanya yang masih agak kabur karena baru bangun. Setelah itu, baru ia keluar dari mobil.
“Masih jam setengah sembilan sih. Tapi kamu kayaknya capek banget, jadi nanti langsung lanjut tidur aja. Besok juga senin kan?”
Niken mengangguk paham. Mereka baru saja ingin membuka pintu, tapi Bu Army sudah duluan membukakannya untuk mereka berdua.
“Ternyata kalian udah balik. Ayo, masuk ke dalam!” ajak Bu Army senang. Niken dan Aril bergantian menyalami Bu Army.
“Yaudah, kamu langsung ke kamar aja. Ganti bajunya, cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, terus langsung tidur. Jangan lupa doa sebelum tidur,” ucap Aril.
“Iya, Kak. Kalo gitu Niken ke kamar duluan, Kak, Mi,” pamit Niken.
“Ayo duduk, Ril!” ajak Bu Army ketika Niken sudah pergi.
“Assalamualaikum,” salam Aril sambil melepas sepatunya.
“Oh, ini untuk Tante.” Aril memberikan martabak yang dibelinya tadi.
“Apa ini, Ril?”
“Martabak, Tan. Niken bilang kalo Tante suka, jadi Aril beliin deh.”
“Ih, kamu itu emang yang terbaik lah! Tau aja kalo Tante lagi kepengen makan martabak.” Aril hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
“Jadi, gimana tadi acara mainnya?” tanya Bu Army setelah selesai menaruh segelas teh di meja yang ada di hadapan Aril.
__ADS_1
“Boleh diminum, Tan?”
“Oh, boleh! Minumlah! Tante emang buat ini untuk kamu minum,” sahut Bu Army mempersilahkan. Ia duduk di sofa yang ada ada di depan Aril dan dibatasi oleh meja.
“Jadi, gimana?”
“Ya gitu, Tan. Seru. Udah lama sejak terakhir kali Aril pergi ke Funland bareng Niken. Jadi, tadi senang karena udah bisa pergi bareng lagi,” jawab Aril. Ia kembali menyeruput teh hangatnya perlahan.
“Si Niken tadi nggak ngerepotin kamu kan di sana?”
“Nggak kok, Tan. Malahan Niken yang hidupin suasana, makanya bisa seru. Pokoknya kalah seru kalo cuma pergi sendirian ke Funland dibandingkan pergi sama Niken.”
“Baguslah! Kalo kamu mau, ajak aja si Niken. Jadi kamu bisa sering mampir ke sini. Tante udah lama banget kangen sama kamu.”
“Hahaha, akan Aril coba usahakan untuk sering mampir ke depannya kalo nggak ada jadwal kegiatan yang bentrok,” sahut Aril sopan.
“Seingat Tante, kapan kamu balik ke sini, Ril? Kok Tante nggak ada dapat kabar apa pun?” Pertanyaan Bu Army membuat Aril berhenti dari kegiatan meminum tehnya. Ia berdeham pelan sebelum menjawab.
“Kalo Mama sama Papa baru beberapa bulan yang lalu, Tan. Tapi, kalo Aril udah setahun lebih,” jawabnya pelan.
“Selama itu?! Tapi kamu nggak pernah mampir ke sini?!” seru Bu Army tak percaya. Aril tersenyum canggung.
“Bukannya nggak mau, Tan. Kemarin itu ada beberapa problem sedikit yang buat Aril nggak bisa mampir. Tapi sekarang udah selesai kok, makanya Aril bisa mampir,” sahut Aril cepat.
Bu Army sebenarnya masih ingin menanyakan hal itu lebih lanjut, namun diurungkan ketika melihat Aril yang merasa tidak nyaman. Akhirnya Bu Army memilih untuk mengganti topik.
“Terus, Mama sama Papa kamu gimana kabarnya sekarang? Bilang sama mereka untuk ikut mampir ke sini lain kali.”
“Alhamdulillah Mama sama Papa sehat, Tan. Insyaallah nanti bakalan Aril sampein pesan Tante,” sahut Aril tersenyum sopan.
“Padahal sebelum ketemu sama kamu, Tante udah nyiapin bahan obrolan. Tapi gitu udah jumpa, eh malah lupa semuanya,” keluh Bu Army ketika tiba-tiba suasana hening tercipta di antara mereka.
“Hahaha, wajar itu, Tan. Udah lama nggak jumpa, tapi pas jumpa lagi malah rada canggung,” kekeh Aril.
“Haha, kamu benar, Ril,” ucap Bu Army setuju.
“Kalo gitu Aril boleh pamit, Tan? Soalnya ini udah malem, besok juga senin. Jadi...” Aril pamit dengan ragu.
“Oh, udah mau pulang? Boleh kok, lagian ini emang udah malam. Udah dihabiskan tehnya?”
“Udah, Tan,” sahut Aril kalem.
“Yaudah, kalo kamu mau pulang hati-hati di jalan. Sering-sering lah mampir ke sini ke depannya, Tante bakalan tunggu kamu.”
“Iya, Tan. Kalau gitu Aril pamit, assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Aril menyalami Bu Army sebelum pulang. Setelah itu baru ia naik ke mobil dan menjalankannya.
“Aril pulang, Tan!” pamitnya sekali lagi saat sudah di depan gerbang.
__ADS_1
“Iya, hati-hati di jalan. Ini malam,” sahut Bu Army yang melambaikan tangannya. Aril mengangguk, kemudian kembali melajukan mobilnya hingga tak terlihat lagi.