
Denny akhirnya terdiam. Dia akhirnya sadar, setelah melihat tingkah laku Aylin dan Jayden tadi. Seharusnya dia sudah saatnya harus menghilangkan perasaannya pada Aylin mulai sekarang, kalau tidak ingin lebih sakit hati lagi.
Dulu sebelum kemunculan Jayden saja dia belum bisa mendapatkan hati Aylin, tapi saat itu dia masih berharap suatu hari Aylin akan menyukainya, dengan seringnya bersama.
Apalagi sekarang dengan kemunculan Jayden yang jelas-jelas sudah menunjukkan perasaan sukanya pada Aylin.
Denny masih ingat, dulu Jayden sikapnya tidak perduli pada Aylin saja, Aylin bisa begitu mengagumi Jayden dan mencari perhatian Jayden terus. Sekarang Jayden begitu berjuang untuk mendapatkan Aylin, mungkinkah Aylin menolak?
Berpikir sampai itu, Denny hanya bisa menyesalkan dia yang terlambat bertemu Aylin. Saat dia bertemu Aylin, hati Aylin sudah terisi Jayden, dan dia tidak pernah bisa menggeser kedudukan Jayden di hati Aylin. Kali ini Denny benar-benar sudah menyerah.
Denny hanya menghela nafas, dan menepuk bahu Jayden. Jayden sempat kaget dan bersiaga, dipikirnya Denny hendak memukulnya lagi.
"Aku tidak akan memukulmu. Aku mengakui, aku sudah kalah padamu, perasaan tidak bisa dipaksakan. Kamu jaga baik-baik Aylin, jangan pernah mengecewakannya lagi. Kasihan Lin, sudah banyak menderita sejak ayahnya meninggal!", ujar Denny.
"Kamu kenal aku, aku bilang aku akan bertanggung jawab menjaga Aylin, aku pasti akan memegang janjiku!" sahut Jayden.
"Baiklah, aku pulang dulu, keberadaan ku sudah tidak diperlukan lagi. Kamu tolong pamitkan aku dengan ibu Aylin", ujar Denny, sesudah itu melangkah pergi dari depan rumah Aylin.
********
"Koq kamu sampai rumah malam banget? kamu tidak ketemu kak Denny? kak Denny mengkhawatirkanmu dan menunggumu di depan".
Begitu Aylin melangkah masuk ke dalam rumah, langsung disambut pertanyaan dari ibumu.
"Ada Bu, sudah ketemu tadi di depan", sahut Aylin masih bingung mau bercerita mulai dari mana pada ibunya.
"Lho kamu pakai jas punya siapa?", tanya ibu Aylin yang kini memperhatikan pakaian Aylin.
"Ini jasnya kak Jay Bu. Kak Jay tadi jemput Lin di apartemen Bu, Lin belum mandi Bu, nanti Lin baru cerita sama ibu kalau habis mandi ya", sahut Aylin masih bingung bagaimana harus menceritakan
kejadiannya pada ibunya, dia tidak ingin ibunya khawatir.
Ibunya mengiyakan, tapi matanya masih menatap Aylin penuh tanda tanya, dia merasa ada hal aneh yang terjadi pada anaknya, belum lagi kenapa si Jay bisa menjemput Aylin, bukankah Lin sedang menghindari Jayden .
"Ah ..bingung sama urusan anak muda", pikir ibunya akhirnya memilih meneruskan menjahitnya sambil menunggu Aylin selesai mandi dan bercerita.
__ADS_1
********
Jayden menatap kepergian Denny yang berjalan lesu sambil berpikir kalau seharusnya dia berterima kasih pada Denny yang sudah menjaga Aylin selama ini, walaupun Denny pernah menyembunyikan keberadaan Aylin padanya.
Jayden juga yakin walaupun mereka bisa berteman kembali, tapi sudah tidak mungkin mereka bisa berteman seperti dulu lagi, karena kejadian ini.
Sesudah bayangan Denny hilang dari pandangan, Jayden melangkah masuk ke rumah Aylin dan mengetuk pintu.
Ibu Aylin yang menyambut kedatangan Jayden agak kaget.
"Oo nak Jay tante pikir nak Denny".
"Tadi Denny minta dipamitkan kalau dia pulang duluan", sahut Jayden.
"Oo..", ibu Aylin hanya merasa bingung, setahu dia dari Aylin, Denny pernah memukul Jayden, dan tadi Denny ingin menunggu kepulangan Aylin. Mengapa tiba-tiba Denny pulang?
Tapi ibu Aylin adalah orang yang sabar, dia tahan menyimpan pertanyaannya, dia berpikir akan menanyakannya saja pada Aylin.
Entah mengapa, kalau dengan Denny dia bisa santai mengobrol, tapi kalau dengan Jayden, ibu Aylin merasa agak segan, karena Jayden terlihat berwibawa dan jarang berbicara.
"Iya Tante, terimakasih", sahut Jayden menuju ke bangku ruang tamu, dan duduk
menunggu Aylin selesai mandi.
Ibu Aylin juga menyusul menemani Jayden duduk di ruang tamu.
"Tante, besok saya akan carikan tempat tinggal untuk Lin, karena di tempat tinggal Lin yang sekarang ada laki-laki kurang ajar. Tadi dia berniat tidak baik pada Lin", ujar Jayden merasa kesal lagi kalau teringat Tommy lagi.
Tentu ibu Aylin terkejut mendengar perkataan Jayden, tadi Aylin sama sekali tidak bercerita apa-apa.
"Maksudnya apa nak Jay? Koq tempat tinggal Lin ada laki-laki nya?", tanya ibu Aylin bingung dan khawatir.
"Teman satu apartemennya punya teman laki-laki yang kurang ajar, bermaksud mengganggu Lin, untungnya saya datang saat yang tepat, Lin tidak apa-apa tante", sahut Jayden supaya ibu Aylin tidak khawatir lagi.
"Ahh.. terimakasih, nak Jay sudah menolong Lin", ibu Aylin masih terlihat kaget dan tidak berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Aylin sudah terlihat segar sesudah mandi dan memakai baju santai keluar dan ikut bergabung di ruang tamu.
"Kamu kenapa bisa begitu ceroboh memilih teman satu tempat tinggal Lin?", tanya ibu Aylin.
"Lin tahunya sesudah tinggal bersama Bu, Setiap dia datang Lin sudah menghindar dan selalu berada di kamar Bu, Lin pikir cuman bertahan 3 bulan lagi gak pa pa, Lin tidak menyangka kalau orangnya sekurang ajar itu", sahut Aylin menunduk, sebenarnya dia malu karena Jayden dari tadi menatapnya terus.
"Kalau kamu sudah tahu begitu, harusnya kamu pindah saja, kenapa harus bertahan?", tanya ibunya lagi.
"Lin tidak menyangka orangnya akan sekurang ajar itu Bu, padahal kan kak Lenny kekasihnya", sahut Aylin lagi.
"Besok saya akan bawa Aylin mencari tempat tinggal yang aman Tante", ujar Jayden menengahi . Sebenarnya Jayden ingin Aylin kembali bekerja di perusahaannya kembali, tapi sepertinya Aylin berhenti kerja berhubungan dengan ibunya. Dan kelihatannya Aylin menyukai pekerjaannya yang sekarang, jadi Jayden tidak mau terlalu memaksa.
"Baiklah saya percayakan Lin pada nak Jay untuk mencari tempat yang aman", sahut ibu Aylin akhirnya memutuskan.
"Terimakasih untuk bantuannya nak Jay", sambung ibu Aylin.
Aylin lebih memilih diam dan tidak menolak, Aylin juga berpikir sebaiknya dia mempercayakan dirinya pada Jayden, setelah kejadian tadi entah mengapa dia merasa Jayden bisa melindunginya, dan dia merasa aman berada di dekat Jayden. Juga agar ibunya tidak terlalu khawatir lagi saat dia bekerja kembali.
"Baiklah Tante, saya pulang dulu besok saya datang lagi mencarikan tempat tinggal untuk Lin", ujar Jayden pamitan pada ibu Aylin.
"Saya antar kak Jay ke depan ya Bu", ujar Aylin yang berpikir ingin berterima kasih pada Jayden.
Ibu Aylin hanya mengangguk, Aylin dan Jayden akhirnya jalan ke depan rumah bersama.
"Kak Jay terima kasih sudah menolong Lin", ujar Aylin.
Tiba-tiba rasa iseng Jayden muncul lagi untuk menggoda Aylin
"Lin kan sudah mandi, kak Jay ingin Lin mencium kak Jay sebagai ucapan terimakasih", ujar Jayden tersenyum sambil menunjuk pipinya.
Aylin tertegun sebentar, kalau waktu kecil Aylin sudah biasa mencium pipi Jayden, entah saat ulang tahun, entah saat Aylin kadang sedang senang.
Tapi itu sudah lama, saat ini dia sudah dewasa tentu berbeda. Tapi Jayden juga sudah berkali-kali menciumnya, akhirnya Aylin menggenggam tangan Jayden dengan kedua tangannya, karena postur tubuh Jayden yang tinggi, dan Aylin menjinjit kakinya untuk mencium pipi Jayden, Aylin tidak menyangka kalau Jayden sudah menipunya, Jayden langsung menghadap ke arahnya, langsung menangkap bibir Aylin dengan bibirnya dan langsung melum** bibir Aylin.
Bersambung.......
__ADS_1