
Tidak puas hanya memberi cap saja Jayden memutar tubuh Aylin untuk menghadap ke arahnya.
Ketika hendak mengecup bibir yang dari tadi sudah membuat dia gemes, Aylin sudah sadar dengan perbuatan Jayden.
Aylin langsung memukul dada Jayden, dan menghindari kecupan Jayden.
"Kak Jay jahat!", omelnya kesal masih memukul dada Jayden kesal.
Jayden tentu tidak membiarkannya saja, langsung menangkap kedua tangan Aylin.
"Siapa suruh kamu cemberut sepanjang jalan, membuat kakak gemes padamu. Jadi itu hukumannya!", ujar Jayden malah menyalahkan Aylin.
"Ih..kak Jay koq mau menang sendiri saja!"
Dan Jayden selalu pintar mencari kesempatan, begitu Aylin lengah sedikit, kedua tangan Aylin yang ditangkapnya itu ditarik, sehingga Aylin terjatuh ke pelukannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Jayden langsung menunduk dan mengecup bibir yang sudah membuat dia gemes dari tadi.
Walaupun hanya sekilas, Jayden sudah merasa puas, apa yang diinginkannya kesampaian.
"Kak Jay tunggu masakan Lin dan gak ganggu Lin lagi deh! kakak sudah lapar, nanti gak jadi-jadi!", ujar Jayden tanpa merasa bersalah dan segera meninggalkan dapur sebelum diomelin Aylin lagi.
Aylin yang ditinggal masih mematung sangking kesal dengan perbuatan Jayden dan kelambatan otaknya, sehingga membuat Jayden selalu bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Huh.. kalau ada obat pencahar, aku kasih ke nasi gorengnya, biar tahu rasa kak Jay!", sungut Aylin kesal, tetapi tetap melanjutkan niat memasaknya.
Bagaimanapun dia tidak tega Jayden kelaparan, karena hanya makan roti saja.
Kemudian Aylin segera memulai mengambil bahan-bahan membuat nasi goreng istimewa yang dijanjikannya itu.
********
Menurut kata hatinya, Jayden sebenarnya ingin masuk ke dapur melihat Aylin memasak, tapi karena perutnya sudah lapar dia memilih menunggu di depan saja, dari pada nanti Aylin mengomel terus, bisa- bisa nasi gorengnya tidak jadi-jadi.
Ketika melihat bi Ina ke dapur, Jayden pun tidak tahan lagi, dia ikut mengekor di belakang bi Ina, dia tahu Aylin tidak mungkin mengomel kalau ada orang lain, karena Aylin banyak malunya.
Benar saja begitu bi Ina ke dapur mengambil air, Aylin langsung menyapa ramah pada bi Ina,
__ADS_1
"Bi Ina sudah makan belum, mau gak Lin sekalian siapin buat bi Ina?", tanya Aylin yang ternyata sudah selesai masak, dan sedang menyendoknya ke piring.
Bi Ina sempat tertegun, tidak menyangka Aylin bisa memasak, juga ramah dan sopan.
Seingatnya dulu Aylin ini gadis yang mau menang sendiri, manja dan agak nakal.
"Bi Ina sudah makan non, terimakasih", jawab bi Ina akhirnya, sambil memandang ke Aylin, takjub dengan perubahan sikap Aylin dibanding dulu.
Tanpa sadar pandangannya turun ke leher Aylin,
"Non, digigit serangga ya? Koq sampai merah gitu, bi Ina ambilin obat ya!", ujar Bi Ina yang tidak tahu situasi.
Tentu Aylin langsung malu, mukanya merona merah semua.
Tadi sebenarnya dia sudah sempat lupa karena sibuk memasak, tapi karena perkataan Bi Ina, Aylin langsung teringat insiden di dapur lagi.
Aylin hanya terdiam membisu dan malu, karena kebingungan mau menjawab apa ke bi Ina.
"Serangganya aku bi! apa perlu diobatin? Bibi kayak gak pernah muda aja, koq hal gitu aja ditanya sih!
Tuh! lihat si Aylin jadi malu kan? nanti aku yang kena, jadi sasaran kemarahan nya!" omel Jayden yang sama sekali tidak malu dengan perbuatannya itu.
Karena bi Ina sudah bekerja lama, dan juga pernah ikut membantu merawat Jayden waktu kecil.
Juga melihat pertumbuhan Jayden dari kecil sampai dewasa.
Setelah mencerna jawaban tuan mudanya, bi Ina yang akhirnya mengerti, langsung tertawa terkekeh-kekeh.
Aylin kali ini benar-benar malu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Salahnya sendiri punya pacar bermuka tembok.
"Makanya kalau tuan muda sudah kebelet nikah, cepat nikahin non Aylin! Jangan gentayangan jadi vampire!", ujar bi Ina sesudah itu melanjutkan tawanya dan beranjak pergi dari dapur.
"Dasar kebanyakan nonton film setan!", gerutu Jayden.
"Siapa yang tidak mau cepat nikahin Aylin? Ibu saja yang susah dimintain ijinnya. Nyuruh aku nikah terus, begitu ada calonnya malah gak setuju", omel Jayden dalam hati, yang langsung teringat ibunya yang masih tidak menyetujui hubungan dia dengan Aylin.
__ADS_1
"Semoga saja ayah ingat misinya membantuku agar ibu menyetujui hubunganku dengan Aylin", pikir Jayden lagi sambil menghampiri Aylin yang masih terdiam dengan muka merah karena malu.
"Heran pemalu banget sih, tapi gak pa pa deh, aku makin suka, tambah imut kalau lagi malu", pikir Jayden dalam hati tersenyum sendiri, kali ini tidak berani mengatakannya lagi, karena takut Aylin benar-benar marah
********
"Siapa nih yang ngomongin aku", ujar ibu Jayden yang mendadak batuk-batuk tanpa sebab.
"Siapa lagi? paling si Jay!", sahut ayah Jayden merasa saat ini waktu yang tepat untuk membicarakan masalah Jayden dan Aylin.
Saat ini Ayah dan ibu Jayden sedang duduk santai, setelah berjalan-jalan di Taman Merlion, yang terletak di One Fullerton ini.
Kebetulan apartemen Tony letaknya tidak jauh dari taman Merlion ini.
Ibu Jayden menghela nafas sambil melihat ke patung merlion yang menyemburkan air itu. Patung yang merupakan ciri khasnya kota Singapura itu.
"Memang ayah setuju kalau Jayden jadian dengan Aylin?", tanya ibu Jayden.
"Ayah kan sudah bilang, ayah tidak masalah Jayden mau jadian dengan siapa, selama perempuan itu benar.
Jayden hidupnya selalu kerja dan mengurusi bisnis saja, waktu sekolah juga giat belajar, akhirnya dia bisa menyukai seorang perempuan juga, aku sudah bersyukur.
Kamu tahu sendiri, Jayden jarang bergaul dan jarang mempunyai teman.
Menurutku kita biarkan dia memilih sendiri pasangan hidupnya.
Apalagi sebenarnya Aylin juga gadis yang baik, kita sudah mengenalnya sejak kecil. Bahkan sifatnya sekarang juga sudah berubah lebih baik, sudah tidak seperti dulu manja dan mau menang sendiri. Kalau soal pinter tidaknya, kan setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan seingat ayah, ibu dulu juga menyukai Aylin", ujar Ayah Jayden.
Akhirnya kekerasan hati ibu Jayden pelan-pelan melunak setelah mendapat masukan dari Tony dan suaminya.
Waktu itu mungkin hanya karena dia merasa tidak enak pada Maya, karena pernah berjanji pada Maya ingin menjodohkan Maya dengan Jayden, sehingga membuat dia terbawa emosi, pikirnya.
Sepertinya kali ini dia tidak bisa memaksakan kehendaknya, kalau dia ingin Jayden segera berkeluarga, apalagi dia sudah tahu sifat anaknya yang satu ini, keras kepala dan susah dipengaruhi.
Suasana taman Merlion yang damai dan indah membuat dia lebih bisa berpikiran jernih. Apalagi kota ini sangat terkenal dengan kebersihannya.
"Biarlah kali ini aku mengalah, mengalah untuk menang. Biar aku bisa cepat punya cucu yang tinggalnya dekat dengan aku", ujar ibu Jayden akhirnya memutuskan akan menerima Aylin sebagai menantunya.
__ADS_1
Bersambung........