Loving You

Loving You
Pulang Bareng


__ADS_3

...“Lelaki yang baik itu tidak suka mengumbar perkataan manis dan janji-janji yang belum pasti. Jika Ia tulus, Ia akan membuktikan perasaannya melalui tindakan nyata.”...


...****************...


“Niken!” sapa Aril ketika melihat Niken yang berdiri di gerbang masuk. Niken menoleh, melihat Aril yang memanggilnya dari dalam mobil.


“Kamu nggak pulang? Ngapain berdiri di situ? Kalo mau, ayo Kakak antar,” tawar Aril.


“Nggak usah, Kak. Niken pulang sama orang lain,” tolak Niken.


“Sama siapa?”


“Sama aku,” sahut Mahendra yang tiba-tiba muncul dan memegang pundak Niken.


Aril menatap mereka dengan pandangan curiga. “Sejak kapan kalian jadi akrab banget?” tanya Aril menyelidik.


“Lah? Kok Kakak jadi pikun? Kan udah dekat sejak di Funland kemarin. Terus tadi pagi, Kakak juga kan yang nyuruh Niken bantu Kak Mahen? Jadi, wajar dong kami makin akrab,” sahut Niken malas.


“Oh, iya ya. Maaf, Kakak lupa.” Aril cengengesan.


“Jadi kamu yakin pulang sama Mahen? Beneran nggak mau sama Kakak aja?”


“Udah, Ril. Kamu pulang aja sana! Hari ini, Niken biar aku yang antar. Kamu kayak suami yang takut istrinya diambil orang aja” ucap Mahendra dengan nada mengejek.


“Sial!” umpat Aril tertawa. Sedangkan Niken yang menjadi bahan obrolan hanya mendengarkan dengan cuek.


“Yaudah, kalo gitu hati-hati kalian di jalan. Kamu juga, Mahen! Kalo besok aku liat Niken ada lecet walau pun sedikit, siap-siap berurusan sama aku,” ancam Aril.


“Posesif amat sih, Ril. Aku jadi merasa kayak orang jahat kalo kamu ngomong gitu,” sahut Mahendra malas.


“Hahaha, cuma bercanda. Tapi, aku serius tentang berurusan sama aku kalo Niken sampe lecet.”


“Kak, Niken bukan anak kecil lagi loh. Udah, Kakak pulang aja sana,” ucap Niken kesal.


“Kamu itu ya! Kakak kayak gini kan karena khawatir sama kamu,” sungut Aril.


“Iya, maaf. Udah, pulang sana!” usir Niken. Mahendra tertawa melihat wajah Aril yang tertindas.


“Ck! Iya, iya. Dasar, nggak tau berterima kasih.” Setelah itu Aril melajukan mobilnya meniggalkan 2 sejoli yang sudah tertawa geli.


“Hahaha, ternyata sejak aku perhatikan interaksi kalian berdua, aku baru sadar kalo Aril bisa bersikap kekanak-kanakan juga,” kekeh Mahendra.


“Masa sih, Kak? Kak Aril tuh emang selalu gitu sikapnya,” sanggah Niken.


“Beneran loh. Memang harus aku akui kalo Dia itu anak yang sopan dan ramah. Tapi baru kali ini aku liat Dia yang bersikap kekanak-kanakan begitu. Aku salut sama kamu.” Mahendra berucap kagum.


“Ah, Kakak bisa aja sih. Mungkin karena kami udah dekat dari kecil makanya kami udah akrab banget.”


“Ya, itu mungkin.”


“Oh, ya. Motor Kakak mana?” tanya Niken karena tidak melihat Mahendra menaiki motornya tadi.


“Ada diparkiran, ini mau diambil. Kamu mau ikut atau tunggu di sini?”


Niken berpikir sebentar. “Hmm, Niken ikut aja deh, Kak.”


“Yaudah, ayo!” Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju parkiran.

__ADS_1


“Nih, kamu pake,” titah Mahendra menyodorkan helm kepada Niken.


“Cuma satu doang? Terus Kakak gimana?” tanya Niken tapi tetap menerima helm itu.


“Udah, kamu aja yang pake.”


“Oh, oke. Tapi ada satu hal yang buat Niken penasaran daritadi,” ucapnya sambil memakai helm.


“Penasaran tentang?” tanya Mahendra menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa Kakak pake motor matic? Biasanya kan kalo cowok itu sukanya yang moge kayak ninja atau satria gitu,” jelas Niken memberikan contoh motor yang digandrungi oleh anak muda seperti mereka.


“Oh, kalo itu ada kok di rumah. Cuma males aja pake nya, sering pake matic.”


“Kenapa gitu, Kak?”


“Udah terbiasa pake matic karena aku sering antar jemput Bunda. Jadi, kalo pake motor begituan ribet banget. Matic memang jadi solusi terbaik.” Niken mengangguk paham.


“Yaudah, naik!” Baru saja Niken ingin naik, terdengar suara siulan yang menggoda mereka.


“Huk! Huk! Huk! Aduh, tenggorokan aku tiba-tiba gatel banget, Za,” seru Nabil dengan suara yang dibesarkan. Sengaja agar Mahendra mendengar.


“Huk! Kayaknya kamu benar, Bil,” sahut Ghaza yang ikutan berpura-pura batuk.


“Pantes aja waktu kita ajak pulang bareng Dia nolak. Padahal biasanya Dia duluan yang ajak kita pulang. Ternyata oh ternyata...” sindir Nabil mengejek Mahendra. Ghaza sudah terkekeh mendengar sindiran Nabil. Sedangkan Niken dan Mahendra hanya menatap mereka berdua dengan tatapan datar.


“Ya begitulah kalo punya temen. Kalo udah nemu gebetan temen ditinggalin,” kompor Ghaza.


“Habis sepah manis dibuang.”


“Terbalik, Bambang!” seru Ghaza. Mereka berdua tertawa puas karena bisa mengejek Mahendra.


“Wih, ada yang marah nih. Sans aja, Mas... Kita cuma nyamuk kok,” sahut Ghaza cuek.


“Kita punya daya apa atuh, cuma ngontrak,” sahut Nabil dan ber-tos ria dengan Ghaza.


“Kakak-Kakak kok heboh kali? Iri karena nggak bisa kayak gini? Makanya, cari juga satu biar nggak nampak kali ngenes nya.”


Jleb!!


Ucapan Niken tepat sasaran, membuat Ghaza dan Nabil langsung terdiam. Kini giliran Mahendra yang tertawa puas. Sedangkan Ghaza dan Nabil berbalik menatap mereka datar.


“Tuh, rasain,” ejek Mahendra tanpa suara. Nabil dan Ghaza menjadi kesal karena akhirnya mereka juga kena ejekan.


“Yaudah, ini udah sore banget. Kami pamit duluan Kakak-Kakak berdua. Ayo jalan, Kak!” pinta Niken yang membuat Mahendra semakin tertawa puas.


“Kayaknya kalian berurusan sama orang yang salah,” ejek Mahendra sebelum melajukan motornya.


“Sial! Gagal mau bully si curut satu itu,” kesal Ghaza ketika Mahendra sudah pergi.


“Ya, begitulah yang namanya teman...” ucap Nabil berlagak bijaksana.


*****


“Makasih, Kak. Nanti Niken bakalan ganti uangnya,” ucap Niken ketika sudah turun dari motor. Kini mereka berada di depan gerbang rumah Niken.


“Udah, nggak usah sungkan. Lagian tadi aku sekalian beli,” sahut Mahendra yang tak mempermasalahkan.

__ADS_1


Tadi, di klinik Niken kebingungan untuk membeli makanan kucing untuk Amu karena ada begitu banyak merk yang tersedia. Mahendra memberikan rekomendasi makanan kucing yang sama seperti yang ia beli.


Niken setuju. Lalu saat ia ingin membayar di kasir, Mahendra langsung mencegahnya dan membayar semua itu menggunakan uang miliknya.


“Nggak boleh kayak gitu, Kak. Niken kan jadinya nggak enak. Padahal Niken bisa bayar sendiri tadi,” ujar Niken sungkan.


“Udah, santai aja.”


“Ih, tapi Niken beneran nggak enak loh, Kak.”


Niken benar-benar merasa sungkan dengan Mahendra. Sebelumnya saat Mahendra memberikannya cemilan, ia bisa menerimanya dengan senang hati. Kenapa? Karena ia merasa ada melakukan sesuatu. Tapi sekarang keadaannya berbeda.


“Ck! Gini aja deh, kalo kamu beneran ngerasa nggak enak, lain kali traktir aja,” saran Mahendra.


“Beneran, Kak? Kalo gitu sih Niken setuju.”


“Jadi udah kelar kan?” Niken mengangguk.


“Kalo gitu aku pamit. Assalamualaikum.”


“Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan, Kak.”


Mahendra mengacungkan jempolnya. Ia melajukan motornya, pulang. Sedangkan Niken terus melambaikan tangan hingga motor Mahendra tak terlihat lagi, baru ia masuk ke dalam rumah.


*****


“Assalamualaikum, Bunda,” salam Mahendra ketika masuk ke dalam rumah. Ia menyusun sepatunya dengan rapi di dalam rak sepatu.


“Waalaikumussalam. Udah makan? Kalo belum makan dulu sana, Bunda udah masak,” sahut Bu Icha, bunda Mahendra yang sedang asik menonton di ruang tamu.


“Iya, Bun. Tapi Mahen ganti baju dulu.” Mahendra menyalami Bundanya.


“Tunggu!” seru sang bunda, membuat Mahendra yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti dan menatap bundanya dengan bingung.


“Kenapa, Bun?” tanyanya.


“Ada sesuatu yang baru terjadi?” selidik sang bunda, menatap anak bungsunya itu.


“Sesuatu? Apaan, Bun? Perasaan biasa-biasa aja kok,” sahut Mahendra bingung.


“Bohong! Pasti ada sesuatu yang bagus baru aja terjadi kan!” tuding bundanya.


“Nggak ada kok, Bun. Emangnya ada kejadian apa?” tanya Mahendra yang masih kebingungan.


“Masa sih? Kalo nggak ada sesuatu, kenapa muka kamu nampaknya sumringah banget?” Bu Icha menyipitkan matanya, mencoba menyelidiki sang anak.


“Sumringah? Nggak ada kok, Bun, biasa aja,” sahut Mahendra yang melihat wajahnya di layar hp.


“Bunda nggak percaya! Pasti ada hal bagus yang yang terjadi tapi Bunda nggak tau. Hayo ngaku!”


Mahendra tiba-tiba menjadi gugup karena terus ditatap dengan tatapan curiga dari sang Bunda.


“Ih, Bunda apaan sih. Emang nggak ada apa-apa kok!” seru Mahendra gugup.


“Oh, yaudah deh. Terserah kamu aja,” sahut Bu Icha yang langsung mengubah wajahnya datar.


“Ih, beneran nggak ada loh, Bun. Tapi, emang beneran keliatan sumringah ya, Bun?”

__ADS_1


“Tuh kan!!! Pasti beneran ada sesuatu yang terjadi tadi. Ayo cerita sama Bunda!!” seru Bu Icha cepat.


“Ng-nggak ada kok, Bun. Ya-yaudah, Mahendra masuk kamar dulu. Bye, Bunda!” seru Mahendra yang langsung ngacir masuk ke dalam kamar. Ia takut jika berlama-lama di sana, dirinya akan terus diintrogasi oleh sang Bunda. Ia tidak akan dibiarkan pergi sebelum bundanya mendapatkan jawaban yang diinginkan.


__ADS_2