
...“Takdir Tuhan tidak ada siapa pun yang tau. Yang terpenting, kodrat kita sebagai manusia adalah ikhtiar, doa, dan tawakal.”...
...****************...
“Byl, aku pulang duluan ya?” tanya Niken ketika orientasi telah selesai. Orientasi mereka untuk hari ini sudah dicukupkan dan mereka sudah boleh pulang.
“Kamu pulangnya dijemput atau pulang sendiri?” tanya Sabyla yang sedang merapikan isi tasnya.
“Aku pulang sendiri, Byl,” jawab Niken.
“Bawa motor?”
“Nggak, jalan kaki.”
“Oh, jarak rumah kamu dekat ya sama sekolah?”
“Hemm, lumayan,” jawab Niken sedikit ragu.
“Lumayan gimana? Lumayan jauh maksud kamu?” tanya Sabyla dengan sebelah alis yang dinaikkan.
“Ya gitulah,” jawab Niken.
“Mau aku anterin? Mumpung aku lagi bawa motor,” tawar Sabyla.
“Eh, nggak usah, Byl. Aku pulang sendiri aja, soalnya masih ada tempat yang mau aku singgahi,” tolak Niken.
“Beneran? Kamu yakin?” tanya Sabyla memastikan.
“Iya, beneran,” ucap Niken meyakinkan.
“Yaudah, kalau gitu aku pulang duluan ya,” pamit Sabyla yang sudah memakai tas ranselnya.
“Iya, hati-hati di jalan,” ucap Niken.
“Oke.” Setelah itu, Sabyla pun pulang dan meninggalkan Niken sendirian di dalam kelas karena teman sekelasnya yang lain sudah pulang daritadi. Tadi mereka berdua terlalu asik bercanda ria hingga lupa waktu.
Lingkungan sekolah sudah sepi, hanya ada penjaga sekolah. Langit sudah mulai kelabu, pertanda hujan akan turun. Niken yang kini hanya tinggal sendirian pun memutuskan untuk pulang.
Niken tak pulang ke rumah terlebih dahulu, melainkan pergi ke klinik hewan. Ia ingin melihat kondisi kucing yang ditolongnya tadi pagi.
“Permisi,” ucap Niken ketika masuk ke dalam klinik.
“Permisi, Kak. Kucing yang tadi pagi saya bawa ada di mana ya?” tanya Niken pada resepsionis.
“Atas nama siapa, Kak?”
“Atas nama Niken Diva Putri, Kak,” jawab Niken.
“Baik, Kak. Mari saya antar,” ucapnya dengan ramah.
__ADS_1
Niken pun mengikuti langkah resepsionis itu. Ia melihat-lihat hewan lain yang sedang dalam perawatan seperti kucing, kelinci, dan hewan lucu lainnya.
“Silahkan Kakak masuk ke dalam ruangan untuk bertemu dengan dokter,” ucap resepsionis mempersilahkan Niken masuk ke dalam ruangan.
“Terima kasih, Kak,” ucap Niken sopan dan dibalas anggukan oleh sang resepsionis, setelah itu dia pun meninggalkan Niken.
“Permisi, Dokter,” sapa Niken setelah duduk di kursi yang ada di hadapan sang dokter.
“Atas nama Niken?” tanya dokter itu.
“Benar,” jawab Niken.
“Kucing kamu sudah diobati. Saya sarankan supaya kucing kamu masih dirawat dalam pantauan kami selama beberapa hari ke depan. Tapi, jika kamu ingin membawanya pulang tidak masalah,” jelas dokter sambil memberikan kucing milik Niken yang kini sedang tertidur dengan pulas di dalam kandangnya.
Niken membuka kandang dan mulai mengelus-elus bulu kucing itu, lembut. Sepertinya kucing itu bukanlah kucing terlantar. Saat Niken menemukannya tadi pagi, dapat terlihat bahwa tubuhnya begitu terawat walau dipenuhi dengan luka. Niken tak mengerti mengapa ada orang yang begitu kejam menyiksa hewan sampai seperti itu.
“Kalau begitu, lebih baik kucingnya masih dirawat aja, Dokter. Nanti kalau udah beneran sembuh, baru dibawa pulang,” putus Niken.
“Baiklah, kalau begitu Niken pamit dulu, Dokter. Udah jam setengah 6, udah sore banget,” pamit Niken, tak lupa ia mencium kucing barunya itu sebelum pergi. Niken pun keluar dari ruangan itu.
“Sudah mau pulang, Kak?” tanya resepsionis ketika Niken berjalan menuju pintu keluar.
“Ah, iya, Kak. Kalau nggak pulang sekarang takutnya nanti kemaleman,” sahut Niken.
“Tapi di luar lagi hujan, Kak.”
“Rumah saya dekat kok, Kak. Cuma sekitar 10 menitan juga udah nyampe,” jelas Niken.
Baru saja Niken ingin membuka pintu, ternyata sudah ada seseorang yang duluan membukanya dari luar sehingga membuat mereka saling berhadapan. Niken yang duluan sadar siapa orang itu, tiba-tiba menjadi gugup.
“Eh, Kak Mahendra. Mau ngapain, Kak?” tanya Niken canggung.
“Loh, Niken? Kamu ngapain di sini?” Mahendra balik bertanya.
“Saya lagi jenguk kucing, Kak,” jawabnya.
“Kucingnya kenapa?” tanya Mahendra yang terlihat sedikit khawatir.
“Luka, Kak. Tapi nggak tau kenapa bisa kayak gitu, soalnya baru nemu tadi pagi pas mau berangkat ke sekolah.”
“Jadi gimana keadaannya sekarang?” tanya Mahendra lagi.
“Alhamdulillah udah baikan, Kak. Tapi, kata dokternya masih perlu dirawat beberapa hari lagi,” jelas Niken.
“Semoga cepat sembuh ya.” Niken mengaminkan doa itu.
“Kakak suka banget sama kucing ya?” tanya Niken penasaran karena melihat ekspresi Mahendra. Dia terlihat begitu sedih ketika mendengar bahwa kucing itu terluka, seolah-olah ikut terluka.
“Hehe, nampak banget ya?” tanya Mahendra sedikit menyengir yang dibalas anggukan oleh Niken.
__ADS_1
“Iya, aku suka banget sama kucing. Mereka itu imut dan lucu. Pas dipeluk-peluk juga nyaman. Di rumah aku juga punya 3 kucing, ada yang warna putih, abu-abu, dan hitam. Kalau yang putih namanya Pixie, yang abu-abu namanya Lorex, dan yang hitam namanya Broca,” cerita Mahendra dengan antusias. Mau tak mau Niken jadi tersenyum melihatnya.
“Eh, sorry, malah keasikan cerita,” tutur Mahendra meminta maaf karena merasa tak enak hati terlalu antusias dalam bercerita, padahal mereka baru berkenalan tadi pagi.
“Santai aja, Kak. Kalau saya juga suka sama kucing, tapi kayaknya nggak sampai sesuka Kakak deh,” ucap Niken.
“Iya, tapi mereka memang beneran lucu banget,” ucap Mahendra yang membuat Niken semakin tersenyum dibuatnya. Kini rasa gugup yang menghinggapinya sudah tiada karena pembawaan sikap Mahendra yang seru.
“Oh iya, Kakak ngapain ke sini, Kak? Kucing Kakak sakit juga?” tanya Niken sambil mencari-cari kucing yang mungkin dibawa Mahendra, tapi hasilnya nihil karena memang tidak ada dibawa olehnya.
“Nggak kok, cuma mau beli makanan untuk mereka. Stok yang sebelumnya udah hampir habis,” jelasnya.
“Oooo, gitu ya, Kak. Yaudah lanjutin deh, Kak, kegiatannya,” ucap Niken mempersilahkan.
“Kalo gitu saya pamit duluan ya, Kak, soalnya udah mau malem,” pamit Niken dan langsung beranjak dari posisinya. Tapi, baru saja ia ingin membuka pintu, tangannya ditahan oleh seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Mahendra.
“Kenapa, Kak?” tanya Niken heran. Mahendra melepaskan tangannya.
“Di luar masih hujan, tunggu reda dulu baru pulang,” cegah Mahendra.
“Rumah saya dekat kok, Kak. Sekitar 10 menitan juga udah nyampe,” ucap Niken.
“Tapi, hujannya masih deras banget tuh di luar. Memangnya kamu pulangnya naik apa?” tanyanya.
“Jalan kaki, Kak,” jawab Niken sedikit ragu untuk memberitahu.
“Kamu mau sakit?! Udah tau hujan deras malah mau pulang jalan kaki hujan-hujanan. Nanti kalau sakit baru tau rasa kamu!” ucap Mahendra tiba-tiba menjadi sedikit marah. Entahlah, dirinya juga tak tau mengapa tiba-tiba merasa marah.
“Ta-tapi, saya harus pulang sekarang sebelum malam, Kak,” ucap Niken sedikit takut. Kini Mahendra terlihat sedikit menyeramkan.
“Eh, sorry, jadi kelepasan. Sorry banget ya,” ucap Mahendra meminta maaf karena begitu tak enak hati atas sikapnya barusan.
“Eh, iya, Kak. Nggak usah dipikirin,” jawab Niken.
“Kalau gitu, kamu tunggu dulu di sini sebentar.”
“Untuk apaan, Kak?” tanya Niken heran.
“Udah, tunggu aja dulu, cuma sebentar kok. Siap ini aku bakalan ke sini lagi,” ucap Mahendra. Setelah itu dia langsung pergi ke dalam meninggalkan Niken yang masih terheran-heran. Tak sampai 10 menit, Mahendra kini sudah berdiri di hadapan Niken.
“Ayo!” ajaknya sembari menenteng satu kantong plastik berukuran sedang.
“Ayo kemana, Kak?” tanya Niken yang masih terheran-heran.
“Kamu biar aku yang antar pulang, kebetulan aku ada bawa mobil,” ucapnya.
“Hah?!” Niken masih mencoba mencerna keadaan.
“Udah, ayo cepetan! Tadi katanya harus pulang sekarang sebelum malam,” ucap Mahendra yang langsung menarik tangan Niken untuk masuk ke dalam mobilnya yang diparkir di depan klinik. Niken yang masih belum mencerna keadaan sepenuhnya hanya bisa mengikuti tarikan Mahendra.
__ADS_1
“Jangan lupa pake sabuk pengaman kamu,” ucap Mahendra mengingatkan. Niken hanya bisa menurutinya dalam diam.
Sepertinya Niken masih belum memahami keadaan dengan benar. Bahkan ketika Mahendra menanyakan alamat rumahnya, ia langsung memberikannya tanpa rasa curiga sama sekali. Niken terlihat sedikit linglung dengan keadaan yang sedang dialaminya.