
...“Bibir mungkin saja bisa berbohong. Namun, mata akan menunjukkan semuanya tanpa ada yang terkecuali. Oleh karena itu, jika kamu ingin mengetahui seseorang berbohong atau tidak, maka tatap lah matanya.”...
...****************...
“Udah sampe. Kamu nggak mau turun?” tanya Aril ketika mereka sudah berhenti di depan pagar rumah Niken.
“Nggak mau,” sahut Niken yang membuat Aril heran.
“Kenapa nggak mau?”
“Hujan,” jawab Niken singkat.
“Mana ada hujan lagi. Cuma gerimis kecil aja kok.” Aril membuka kaca jendelanya dan melihat keluar. Memang benar hanya tersisa rintik kecil saja di luar.
“Nggak mau, basah.”
“Ya ampun, Niken! Jarak dari pagar ke dalam rumah kamu itu dekat banget loh. Lari bentar doang pasti udah nyampe, nggak bakalan basah,” seru Aril.
“Yang namanya hujan, mau deras, mau cuma gerimis, tetap aja kalau diterobos buat basah, Kak,” teguh Niken.
“Manja banget sih kamu! Perasaan dulu pas kamu kecil nggak semanja ini lah,” gerutu Aril.
“Yaudah kalau Kakak nggak suka! Besok-besok Niken nggak mau lagi kayak gini ke Kakak,” ancamnya. Kini ia kembali cemberut. Padahal Niken berencana untuk berdamai dengan Aril, tapi lihatlah sekarang! Aril kembali membuatnya kesal.
“Lah, kok gitu sih? Kan Kakak cuma bilang yang benar. Masa kamu mainnya ngancam? Nggak adil banget sih!” seru Aril nggak terima.
“Ya habisnya Kakak itu nyebelin banget! Baru aja Niken mau baikan ke Kakak, eh malah dibuat kesal lagi.”
“Ih, kok Kakak Mulu yang disalahin daritadi. Padahal Kakak itu berniat baik sama kamu loh,” sahut Aril ikut kesal.
“Tau ah! Niken ngambek,” sungut Niken.
“Yaudah, jadi sekarang kamu maunya apa? Nggak usah ngambek mulu kerjaannya. Tinggal ngomong, Kak Niken mau ini, kan enak tuh kita tanggepinnya. Ini nggak, ngambek mulu, ngambek mulu,” dengus Aril.
Aril menghembuskan napasnya panjang. “Yaudah, jadi kamu maunya gimana sekarang?” tanyanya.
“Minta payung...,” rengek Niken tiba-tiba.
“Payung?”
“Iya, payung.”
“Astagfirullah, kamu mau ngambek cuma karena masalah payung? Kalau kayak gitu kenapa nggak dibilang daritadi! Kakak mana tau kamu maunya apa kalau nggak dibilang.”
Aril sungguh tak habis pikir dengan Niken yang ada di sampingnya ini. Jelas Niken yang sekarang berbeda dengan Niken yang dikenalnya dulu. Seingatnya, dulu Niken bukan tipe anak yang suka ngambek apalagi sampai nyebelin seperti sekarang.
“Ih, kok marah sih! Kan salah Kakak juga, kenapa nggak peka coba?” bela Niken tak ingin disalahkan. See? Salahkah jika sekarang Aril rasanya ingin sekali mencubit bibir Niken agar tidak terus berbicara hal yang menyebalkan?
“Ck! Yaudah, sana kamu ambil di kursi belakang.”
“Kakak yang ambil lah...,” rengeknya.
Kesabaran Aril benar-benar diuji sepertinya. Tadi Niken marah dan ngambek tidak jelas kepadanya. Sekarang ia malah merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen.
“Ambil sendiri sana! Kamu kan punya tangan yang masih berfungsi,” ucap Aril dengan kesal.
“Ck! Emang nggak salah kalau Niken bilang Kakak itu nyebelin,” hardiknya. Akhirnya pun Niken berusaha mengambil payung milik Aril yang ada di kursi belakang. Sedangkan Aril sedang berusaha mengatur emosinya yang sudah hampir meluap.
__ADS_1
“Tunggu!” cegah Aril cepat sambil menahan pergelangan tangan Niken yang sudah berhasil mengambil payung miliknya.
“Ini apa?” tanya Aril memperlihatkan lengan Niken yang terdapat beberapa memar.
“Kakak tanya, ini apa, Niken?!!” tanya Aril marah ketika Niken tidak menjawab.
“Kalau Kakak tanya itu dijawab, jangan diam aja!”
Niken tak menjawab. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya agar tidak menatap Aril. Ia berusaha melepaskan cengkraman Aril di lengannya, namun tak berhasil. Aril mencengkramnya dengan begitu kuat.
“Kakak tanya sekali lagi, Niken. Ini kenapa?” Aril kembali bertanya dengan penuh tekanan di dalam nada bicaranya.
“Bu-bukan apa-apa kok, Kak,” jawab Niken yang masih tak berani menatap Aril.
“Kamu nggak usah bohong! Kasih tau Kakak, siapa yang berani mukul kamu sampai memar kayak gini?”
“Nggak ada siapapun kok, Kak.” Niken masih berusaha melepaskan cengkraman Aril, namun Aril semakin menguatkan cengkramannya.
“Kak, lepasin. Ini sakit...,” mohon Niken yang sudah berkaca-kaca.
“Nggak akan sampe kamu jawab dengan jujur,” tolak Aril.
“Tolong, Kak... Ini benar-benar sakit.” Niken kembali memohon.
“Nggak bakalan Kakak lepasin sebelum kamu jujur,” kekeuh Aril.
Niken menatap mata Aril dengan memelas. Hati Aril jadi goyah dibuatnya. Aril lama-lama tak tega melihat mata memelas itu.
“Oke, Kakak bakalan lepasin,” nyerah Aril yang tak tega melihat Niken yang kesakitan. Niken memegang bekas cengkraman Aril di lengannya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kakak udah lepasin tangan kamu, sekarang cerita apa yang sebenarnya terjadi,” tagih Aril.
“Niken mohon untuk kali ini aja...” mohon Niken sekali lagi ketika melihat Aril yang ingin menolak.
Aril menghela napasnya kasar ketika melihat mata Niken yang berkaca-kaca. Ia begitu lemah jika sudah melihat Niken seperti itu. Ia tak sanggup untuk memaksanya jika sudah begini.
“Oke, kamu menang. Puas sekarang?” kesal Aril karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
“Makasih, Kak,” ucap Niken pelan.
“Iya, tapi Kaka cuma biarin kamu untuk kali ini aja. Nggak ada lain kali untuk kedepannya,” peringat Aril. Niken mengangguk paham.
“Eh, Kak mau ke mana?” tanya Niken ketika Aril sudah menghidupkan mesin mobilnya.
“Mau pergi.”
“Terserah Kakak mau pergi ke mana, tapi pintunya dibuka dulu. Niken mau turun,” pinta Niken yang berusaha membuka pintu mobil yang terkunci.
“Nggak! Sekarang kamu ikut sama Kakak.”
“Ih, mau ke mana? Ini udah hampir maghrib, bentar lagi Mami pulang,” protes Niken.
“Nggak ada penolakan! Masalah izin sama Mami kamu nanti biar Kakak yang urus,” tegas Aril.
“Nggak mau... Niken mau pulang, Kak.”
“Nggak ada penolakan!” Aril pun mulai menjalankan mobilnya dan membiarkan Niken yang terus saja protes tak terima.
__ADS_1
*****
“Udah, turun kamu,” pinta Aril yang sudah membuka pintu di sebelah Niken dari luar. Ia memakai payungnya agar tidak basah.
“Cepat keluar sebelum maghrib,” desak Aril.
“Ck!” Decak Niken kesal. Dengan langkah malas-malasan ia keluar dari mobil dan berteduh di bawah payung yang Aril pakai.
“Udah, nggak usah cemberut tuh muka, nggak enak kali dipandang,” nasihat Aril.
“Bodo!” hardik Niken.
“Lagian kita di mana sih, Kak?” tanya Niken yang merasa bingung karena mereka berhenti di tempat yang tak dikenalnya.
“Ini rumah Kakak,” sahut Aril.
“Rumah Kakak?” Niken menatap Aril dengan pandangan tak percaya. Bagaimana tidak? Rumah di depannya itu sangatlah besar, bahkan lebih besar dari rumahnya.
“Santai aja liatnya, nggak usah kayak curiga gitu. Emang kenapa kalau ini rumah Kakak? Nggak yakin kamu?”
“Eh, bukan kayak gitu. Kak Aril ini berburuk sangka aja kerjaannya,” gerutu Niken.
“Ya habisnya tatapan kamu itu nunjukin dengan jelas apa yang kamu pikirkan.”
“Tau ah! Terserah,” acuh Niken.
“Yaudah, ayo masuk. Mama udah masak untuk makan malam tuh,” ajak Aril sambil masuk ke dalam rumah dan diikut oleh Niken.
“Tante ada di rumah ya, Kak? Emang nggak kerja?”
“Mama kalau hari sabtu cepat pulang.”
“Oh, gitu toh.” Niken mengangguk paham.
“Assalamualaikum, Ma! Aril pulang bawa oleh-oleh spesial nih!” seru Aril ketika masuk ke dalam rumah. Ia melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk, begitu juga Niken.
Tak lama kemudian terdengar langkah seseorang yang datang menghampiri mereka. Di depan mereka kini sudah berdiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda, tak termakan usia. Wanita itu menatap Niken dengan tatapan tak percaya.
“Ya ampun, Niken! Udah berapa tahun kita nggak jumpa?!” serunya heboh sambil memeluk Niken yang tiba-tiba merasa canggung. Dengan ragu Niken membalas pelukan itu.
“Gimana kabar kamu? Aduh, Tante kangen banget sama kamu. Si Aril tau aja kalau Tante emang lagi ingin jumpa kamu,” ucapnya heboh dan melepaskan pelukannya. Niken hanya bisa tersenyum canggung, sedangkan Aril hanya terkekeh pelan melihat ekspresi Niken yang menurutnya lucu.
“Kok si Aril bisa-bisanya nyuri start untuk jumpa kamu duluan sih! Ck, gagal deh rencana Tante untuk ketemu kamu sebelum si Aril. Ini karena kerjaan Tante yang menumpuk makanya belum sempat,” jelasnya panjang lebar. Aril hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap heboh mamanya itu.
“Eh, iya, Tante Lisa. Alhamdulillah kabar Niken baik. Alasan Niken bisa jumpa Kak Aril karena kita satu sekolah,” sahut Niken yang merasa canggung.
“Oh, jadi kalian satu sekolah?! Bisa-bisanya kamu nggak kasih tau info sepenting ini ke Mama! Dasar anak durhaka kamu ya!”
“Aduh! Sakit, Ma...” seru Aril sambil memegang kepalanya yang sakit karena mendapatkan pukulan sayang dari sang mama.
“Biarin, siapa suruh kamu nggak cerita ke Mama.” Niken tertawa geli melihat Aril yang kesakitan. Jarang-jarang dirinya melihat Aril dalam keadaan seperti itu.
“Kan biar surprise gitu loh, Ma...” bela Aril.
“Alah, pinter aja kamu cari alasan!” sahut sang mama.
“Yaudah, ayo masuk dulu! Kita makan malem bareng. Ayo, Ken!” ajak mama Aril.
__ADS_1
“Iya, Tan,” sahut Niken. Mereka pun berjalan menuju meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam hidangan untuk makan malam.