Loving You

Loving You
Weekend


__ADS_3

...“Tidak ada orang yang mengerti perasaan kita jika mereka tidak pernah merasakannya sendiri, baik dalam konteks yang sama maupun dengan versi yang sedikit berbeda. Jika ada orang seperti itu, maka percayalah omongan mereka hanyalah bullshit....


...****************...


“Oke, udah bagus.” Niken melihat penampilannya di cermin.


Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi, namun ia sudah selesai berkemas. Padahal semalam Aril mengatakan akan menjemputnya jam 10. Sepertinya Niken merasa begitu antusias karena sudah lama tidak pergi main keluar.


“Duh, Kak Aril masih lama nggak ya?” Niken melihat hp miliknya yang kosong, tak ada notifikasi apa pun.


“Kayaknya aku terlalu antusias deh.” Niken menggaruk kepalanya yang tak gatal, merutuki kebodohannya.


“Udahlah, bagusan liat sosmed aja sambil nunggu Kak Aril datang.”


Niken akhirnya memilih duduk di meja riasnya sambil melihat-lihat sosmed yang sebenarnya ia tak tau ingin melihat apa. Ia hanya meng-scroll setiap postingan maupun konten orang untuk menghilangkan kejenuhannya selama menunggu.


*****


“Ih, Kak Aril mana sih? Udah jam 10 lewat tapi belum ada kabar juga,” sungut Niken kesal.


Ting!


Pucuk dicinta, ulampun tiba. Baru saja Niken ingin mengirim pesan ke Aril untuk menanyakan posisinya, namun Aril sudah duluan melakukannya.


Aril :


Ken, Kakak udah nyampe di depan. Cepat kamu keluar dan buka gerbangnya.


^^^Niken :^^^


^^^Oke! Otw, Kak.^^^


Niken segera mencampakkan hpnya ke atas kasur dan berlari pelan menuju gerbang. Ia membuka pintu gerbang dengan semangat. Senyuman sumringah terpancar dari wajahnya ketika melihat mobil Aril yang sudah masuk ke halaman rumah.


“Kakak kok baru nyampe? Niken udah tungguin daritadi, tau! Dasar lama!” seru Niken kesal ketika Aril sedang menutup pintu mobilnya.


“Kakak baru aja turun dari mobil loh, Ken. Masa kamu maen marah terus?!” sahut Aril datar.


Niken cengengesan. “Hehehe, ya maaf, Kak. Lagian siapa suruh telat dari jadwal yang Kakak bilang? Kan Niken capek nunggunya,” sungut Niken.


“Iya, iya. Kakak yang salah karena telat, soalnya tadi Mama minta ditemenin belanja ke pasar sebentar. Kirain tadi nggak bakalan telat makanya nggak ngabarin. Tapi akhirnya telat juga. Kakak minta maaf,” ucap Aril.


“Oke! Kesalahan ini bakalan Niken maafin dengan satu syarat...”


“Ck! Emang apaan syaratnya?” tanya Aril malas. Ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang menggunakan jari.


“Kakak harus bawa Niken main sepuasnya hari ini. Pokoknya harus sampe benar-benar puas,” sahut Niken antusias.


Aril tersenyum tipis. “Kalau itu sih gampang. Siap! Laksanakan Tuan Putri!” sahut Aril bergaya ala-ala prajurit. Niken tertawa geli melihat tingkah Aril.


“Yaudah, yuk masuk dulu ke dalam,” ajak Niken. Mereka pun masuk ke dalam rumah.


“Duduk dulu. Kakak mau minum apa?” tanya Niken ketika mereka sudah sampai di ruang tamu. Aril duduk di sofa seperti yang Niken perintahkan.


“Emang ada air apa aja, Ken?”


“Palingan cuma teh, kopi, sama air putih doang,” sahut Niken mencoba mengingat.


“Kakak air putih aja, tapi yang dingin ya.”


“Oke, tunggu bentar.” Niken pun segera pergi ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan satu botol air mineral sedang di tangannya.


“Nih, Kak.” Niken menyodorkan botol itu ke hadapan Aril yang sedang memainkan hp-nya. Aril memandang Niken dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


“Kenapa liatnya kayak gitu?”


“Kamu beneran kasih Kakak minum kayak gini?” tanya Aril tak percaya.


“Kayak gini apaan? Kan Kakak juga sering kali minum yang beginian,” sahut Niken bingung.


Aril menghela napasnya. “Yaudah sini!” ucap Aril mengambil botol itu.


“Setidaknya tuang di gelas, lah ini?” gerutu Aril pelan ketika ingin meminum air itu.


“Apa?!” tanya Niken yang tak mendengar ucapan Aril dengan jelas.


“Nggak ada apa-apa,” sahut Aril yang membuat Niken bingung. Aril menutup botol itu dan meletakkannya di atas meja.


“Tante Army mana, Ken?” tanya Aril mengubah topik.


“Untuk apa cari Mami?” Niken menyipitkan matanya, menatap Aril dengan curiga.


“Mau minta izin lah! Masa mau cari jodoh!” gerutu Aril.


“Sans aja kali, kagak usah marah-marah.” Kini malah Niken yang menggerutu.


“Udahlah, jadi Tante ada di mana? Makin lama minta izin, makin lama kita pergi.”


“Kan salah Kakak yang Dateng telat. Tadi Mami ada di rumah, tapi sekarang udah pergi. Sekitar 15 menitan lah sebelum Kakak sampe.”


“Terus, ini gimana cara minta izinnya?? Ah, minta nomor Tante aja sini, biar Kakak minta izin lewat telepon aja.” Niken memberikan nomor maminya ke Aril.


Tut... Tut...


“Halo, assalamualaikum, Tante,” salam Aril begitu telepon mereka tersambung.


“Waalaikumussalam, ini siapa?”


“Ini Aril, Tan.”


“Jadi gini, Tan. Aril mau ngajak Niken main, boleh? Ini Aril udah di rumah untuk jemput Dia. Rencananya mau minta izin langsung sama, Tante. Jadi, boleh kalau Aril izin bawa Niken, Tan?” tanya Aril sopan.


“Oh, boleh kok boleh! Tapi nanti pas pulang kamu harus mampir dulu,” sahut Bu Army cepat.


“Oke, aman tuh, Tan. Jadi bolehkan?” tanya Aril memastikan.


“Iya, boleh.”


“Kalau gitu Aril tutup teleponnya ya, Tan. Assalamualaikum.”


“Mami kasih izin, Kak?” tanya Niken cepat ketika Aril baru saya memutuskan sambungan telepon.


“Iya, dikasih.”


“Yes! Oke, tunggu bentar. Niken ambil tas,” ucap Niken antusias dan langsung berlari menuju kamarnya.


“Ayo, Kak!” ajak Niken.


“Oh, udah selesai rupanya. Yaudah, ayo!”


Mereka pun menuju mobil dan pergi untuk menghabiskan akhir pekan. Tak lupa Niken mengunci pintu rumah dan gerbang.


*****


“Ada tempat yang mau kamu tuju, Ken?” tanya Aril di perjalanan.


“Hmm, ke mana ya??” Niken berpikir keras.

__ADS_1


“Cepetan atuh mikirnya,” ucap Aril.


“Sabar lah, Kak. Niken kan juga bingung mau ke mana!” sungut Niken.


“Yaudah... Jadi kita mau ke mana Putri Niken?” tanya Aril tertawa kecil.


“Gimana kalo kita ke Funland, Kak? Niken udah lama banget nggak ke sana. Terakhir kali pas sama Kakak,” usul Niken.


Aril terlihat berpikir sebentar. “Hmm... boleh aja sih. Yaudah, kita ke sana aja,” setuju Aril yang fokus menatap jalanan.


“Selain Funland, apa ada tempat lain yang mau kunjungi, Ken?” Aril kembali bertanya.


“Niken cuma kepengen ke situ sih, Kak. Tapi kalo Kakak ada rencana mau mampir ke tempat lain, Niken sih ngikut aja.”


“Good! Berarti nanti siap dari Funland kita singgah ke tempat lain dulu. Ada tempat yang mau Kakak kunjungi sama kamu,” ucap Aril melirik Niken yang pandangannya lurus ke jalanan.


“Iya, Kak. Yaudah, fokus ke jalan sana! Nanti kalo nabrak malah nggak jadi pergi lagi.”


“Iya, bawel banget sih,” sahut Aril berpura-pura kesal. Niken hanya diam, malas merespon.


*****


“Kok malah ke sini, Kak?” tanya Niken ketika mereka berhenti di sebuah restoran.


“Ini udah jam sebelas lewat, nggak lama lagi jam makan siang. Jadi kita makan aja dulu baru nanti pergi main ke Funland. Lagian kalo udah makan nanti kamu bisa main sepuasnya tanpa ngeluh kelaperan,” jelas Aril yang melepas selfbeltnya. Niken hanya mengangguk paham.


“Yaudah, ayo! Ngapain kamu masih duduk di situ? Nggak mau keluar?” tanya Aril yang sudah keluar dari mobil. Sedangkan Niken masih duduk dengan nyaman di kursinya.


“Jangan bilang kamu minta dibukain pintu kayak putri-putri di negeri dongeng?”


“Nggaklah!” seru Niken cepat pada Aril yang menggodanya.


“Hahaha... yaudah, ayo! Ini bukannya keluar malah bengong. Hati-hati nanti kesambet baru tau rasa,” lanjut Aril sambil tertawa pelan. Niken hanya berdecak malas dan memilih untuk langsung keluar sebelum Aril kembali menggodanya.


“Kamu mau pesan apa, Ken?” tanya Aril ketika mereka sudah duduk di salah satu meja kosong.


Niken melihat buku menunya. “Ayam geprek nggak ada ya, Kak?” tanya Niken polos dan sukses membuat Aril harus menahan diri untuk tidak tertawa keras.


“Ken, kita lagi di restoran loh bukan di warung makan. Mana ada yang begituan di sini,” jawab Aril tersenyum geli.


“Ih, nggak asik! Percuma tempatnya mahal tapi ayam geprek aja nggak ada,” cemooh Niken.


“Hush, nggak boleh bilang kayak gitu! Yaudah, Kakak samain aja ya sama pesanan Kakak,” saran Aril.


“Bolehlah,” sahut Niken tak semangat. Padahal dirinya tiba-tiba sedang ingin makan ayam geprek, tapi malah nggak ada.


“Atau kamu mau cari tempat lain, Ken?” tanya Aril ketika melihat Niken yang lesu.


“Nggak usah, Kak. Udah terlanjur ke sini, males pindah lagi,” sahut Niken.


“Beneran?”


“Iya, beneran.”


“Yakin?”


“Astaghfirullah! Iya loh, Kak,” sahut Niken yang merasa jengkel.


Aril kembali tertawa geli. “Iya-iya, cuma bercanda. Nggak usah ngegas gitu, Ken.”


“Yaudah, sana dipesan biar cepat selesai! Jadi kita bisa langsung pergi ke Funland.”


“Iya, sabar loh...”

__ADS_1


Aril menyebutkan pesanannya pada waiters. Ia memesan 2 porsi pesto chicken bake, 2 matcha ice blend, dan 1 oreo truffles.


Tak lama kemudian, pesanan mereka tiba. Aril dan Niken makan dengan khidmat. Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara.


__ADS_2