
"Aduh Kak Jay mau apa lagi sih!", pikir Aylin was-was dalam hati. Dia semakin lama semakin tidak bisa menebak maunya Jayden. Kalau Jayden yang dulu, diam, serius dan tidak pernah main-main.
Tapi Aylin merasa semakin hari sikap Jayden semakin aneh, suka melakukan ha-hal yang di luar dugaan.
Sebenarnya Aylin pernah berpikir untuk pindah kerja saja, tapi dia sudah terlanjur cocok dengan pekerjaannya di sini.
Apalagi kemampuan otaknya yang pas-pasan, setiap mempelajari sesuatu memerlukan waktu yang agak lama.
Belum lagi Bu Desy yang baik dan selalu sabar padanya. Akhirnya Aylin membuang jauh-jauh pikirannya untuk pindah, dan memilih untuk bertahan.
Belum lagi bagaimana dia harus menjelaskan alasan pindah ke om dan Tante Sunjaya.
"Lho ditanya koq malah ngelamun?", tanya Jayden lagi, yang menyadarkan Aylin dari lamunannya.
Ternyata Jayden sudah duduk di pinggir meja Aylin sambil menatap santai ke Aylin.
"Kak Jay gak kerja, koq santai banget?", tanya Aylin, yang akhirnya asal tanya saja, karena kebingungan.
"Kak Jay kan bos di sini, mau kerja, mau tidur, mau nyantai kan gak masalah", jawab Jayden tersenyum.
Aylin sampai terpana dengan senyuman Jayden.
"Kapan ya aku terakhir lihat senyumnya kak Jay?", pikir Aylin dalam hati, rasanya sudah lama sekali dia tidak pernah melihat Jayden tersenyum.
"Dih seenak-enaknya, sombong lagi!", cela Aylin untuk menetralkan perasaan kagumnya pada Jayden.
"Hati-hati jangan buat aku gemas padamu, tahu sendiri akibatnya", ancam Jayden.
Aylin langsung terdiam, dia tahu Jayden berani melakukan apapun, apalagi suasana masih sepi.
"Aylin lagi lihat-lihat pekerjaan Aylin, kan kak Jay tahu sendiri dan pernah ngomong kalau Lin telmi", jawab Aylin merendah, mengalihkan Jayden dari ancamannya daripada dia diapa-apain.
"Kenyataannya memang kalau Lin belajar agak lambat mengerti, tidak bisa secepat Kak Jay dan kak Maya", sambung Aylin lagi, sambil mengalihkan pandangannya lagi ke monitor.
__ADS_1
Aylin lebih memilih melihat ke monitor daripada Jayden, karena hanya akan membuat dia salah tingkah terus.
Gantian Jayden yang terdiam mendengar jawaban Aylin. Kalau dipikir lagi, ternyata dia dulu sering menyakiti Aylin dengan perkataannya yang tanpa dia sadari.
Padahal sebenarnya dia dulu juga mengajari Aylin sampai bisa, hanya saja waktu itu Jayden yang punya IQ tinggi sering tidak sabar dengan kelambatan Aylin untuk mengerti, sehingga dia kesal dan mengomeli Aylin telmi.
"Memang Lin sama sekali tidak ada kenangan sifat kak Jay yang bagus?", tanya Jayden penasaran.
Setahunya dulu waktu dia kecil cukup baik dan sayang dengan Aylin.
Mendengar pertanyaan Jayden, Aylin termenung. Sebenarnya Aylin masih ingat Jayden dulu sering menolong dia waktu kecil, karena Aylin waktu kecil aktif dan nakal. Bahkan Jayden seperti kacungnya, yang mana kalau Aylin suka memerintah Jayden dengan sesukanya. Belum lagi kalau tidak dituruti maunya, Aylin pasti menangis.
Dan nanti om atau Tante Sunjaya memarahi Jayden agar mengalah pada Aylin.
"Sifat bagus yang seperti apa ya, kak?", tanya Aylin berlagak bodoh. "Kak Jay enggak jahat dan juga enggak baik-baik banget sama Lin. Jadi Lin sudah lupa, mungkin Lin masih terlalu kecil", jawab Aylin berbohong.
Mendengar jawaban Aylin Jaydenpun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jayden benar-benar kecewa ternyata Aylin hanya ingat sifatnya yang tidak bagus.
Aylin hanya bisa menarik nafas, dia lega,walaupun sesudah melihat muka kecewa Jayden dia tidak tega, tapi mau tidak mau dia tetap harus seperti itu, kalau tidak mau terlalu dekat dengan Jayden lagi.
Maya sudah berada di ruang kerjanya dan termenung. Tadi waktu datang dan dia melewati ruang Marketing dan melihat Jayden yang sedang berduaan dengan Aylin.
Karena Maya hanya melihat dari luar saja, kelihatannya Jayden dan Aylin akrab sekali. Jayden terlihat duduk di pinggir meja dan menatap ke Aylin dan sepertinya sedang asyik berbincang-bincang.
Sampai sekarang Maya masih tidak rela dan sakit hati pada Aylin. Dia sudah bingung harus memakai cara apa agar bisa memisahkan Jayden dan Aylin.
Akhirnya Maya mengambil keputusan untuk menelpon Denny kembali, walaupun dia sudah memberitahu Denny sebelumnya, tapi sepertinya juga belum ada hasilnya, tapi menurut Maya tidak ada salahnya dicoba.
Kalau dia disuruh menyerah terhadap Jayden sekarang, dia masih tidak rela.
Kali ini Denny langsung mengangkat telpon dari Maya. Maya langsung menceritakan apa yang dilihat dia di kantor pada Denny, dia ingin Denny lebih memperhatikan Aylin. Denny hanya mengiyakan dan tidak berkata apa-apa lagi.
Selesai mengantar ayah dan ibu Jayden sampai di rumah, Deddy menuju ke kantor untuk membuat laporan kepada bosnya.
__ADS_1
"Bos, ibu dan ayah bos sudah sampai di rumah", lapor Deddy dengan semangat, karena dia baru mendapat hadiah dari ayah Jayden.
"Hem", sahut Jayden pendek, masih melihat ke jendela dan sama sekali tidak menengok ke Deddy yang sedang laporan.
"Bos kenapa lagi nih, koq mendung lagi, padahal tadi pagi gue telpon suaranya masih kelihatan lagi senang", pikir Deddy dalam hati.
"Bos hari ini gak ke mana-mana?" tanya Deddy lagi memecah kesunyian.
"kamu periksa saja jadwalku, aku lagi malas!", jawab Jayden.
"Baik bos", jawab Deddy mengiyakan, tapi dalam hati menggerutu ,"Nyesel gue tanya, malah dapat tambahan kerja lagi".
Akhirnya Deddy duduk di meja dan melaksanakan perintah bosnya dengan lesu.
Sedang Deddy serius, tiba-tiba Jayden berdiri dari kursi kebesarannya, mendatangi Deddy sambil bertanya gusar, "Kok bisa ya orang memorynya cuman ingat kejelekan orang, tapi yang bagusnya dia lupa semua!"
"Biasanya memang gitu bos, kalau kejelekan orang memang susah dilupakan, sedangkan kebaikan orang itu sangat mudah dilupakan. Kan banyak orang yang bilang sebaik-baiknya seseorang, begitu berbuat salah sekali, kesalahannya lah yang diingat, sedangkan yang baiknya dilupakan semua", sahut Deddy yang sok bijak, yang sama sekali tidak tahu permasalahan bosnya itu.
Mendengar jawaban Deddy, bertambah kesallah Jayden.
"Kamu seminggu ya periksa jadwalku, awas kalau ada yang kamu lupa, gajimu akan kupotong!", ancam Jayden.
"Aduh bos kenapa lagi? dia tanya, gue jawab juga salah", keluh Deddy dalam hati.
"Bos haus gak? gak minum?", Deddy mencoba peruntungan nya, biasa bosnya kalau dari ruang minum, moodnya jadi bagus.
Bahkan belum lama ini Deddy sudah diperintahkan Jayden untuk tidak perlu menyiapkan air minumnya lagi. Kata bosnya dia ambil sendiri saja, sekalian olahraga, gak duduk terus di kantor.
"Iya haus, kamu ambilkan untukku. Mulai besok siapkan juga minum untukku!" sahut Jayden lagi.
Deddypun tertegun, ternyata kali ini dia harus benar-benar bekerja dengan baik.
"Ah, kalau lagi ada masalah sama Bu Aylin, moodnya pasti jelek lagi", keluh Deddy pasrah.
__ADS_1