
...“Refreshing itu terkadang memang sangat diperlukan untuk mengurai benang pikiran yang semakin kusut dari waktu ke waktu.”...
...****************...
“Kak!” panggil Niken ketika mereka suka memasuki Funland.
“Apaan?”
“Hari ini Kakak yang bayarin semuanya? Niken mau main sepuasnya, please...” mohon Niken memberikan puppy eyes nya.
“Akh! Sakit, Kak!” seru Niken sambil menahan sakit di dahinya akibat kembali menjadi sasaran sentilan dari Aril.
“Siapa suruh mukanya kayak gitu? Biasa aja, nggak usah lebay,” sahut Aril cuek. Padahal di dalam hati dirinya sedang berusaha menahan tawa.
“Ini namanya taktik, Kak! Taktik! Kalau nggak kayak gitu nanti Kakak nggak mau bayarin,” sungut Niken sebal.
“Hahaha... Oke-oke, Kakak nyerah. Hari ini kamu boleh main sepuasnya tanpa perlu khawatir biaya untuk isi koin kamu,” jawab Aril yang tak sanggup menahan tawanya.
“Hore!! Kak Aril emang yang terbaik. Makin sayang deh,” ucap Niken senang.
“Yaudah, mana kartu kamu? Ada bawakan?” Aril menengadahkan tangannya ke hadapan Niken.
“Untuk apaan?”
“Untuk makan, ya untuk diisi koinnya lah!” sahut Aril gemas.
“Sekarang?”
“Nggak! Tunggu Upin Ipin tamat TK!”
“Hihihi... nggak usah emosi, Kak. Niken cuma bercanda loh, malah dibawa serius. Nih, kartunya!” Niken memberikan kartu member miliknya yang baru di ambil dari dalam tas ke tangan Aril.
“Kamu mau ikut atau duluan pergi?”
“Niken kayaknya duluan aja, Kak.”
“Yaudah, biar Kakak sendiri yang isi koinnya. Kamu mau nunggu di mana?”
“Di dekat mesin pump aja, Kak.”
“Oke, tunggu di saja selagi Kakak isi kartunya. Ingat, jangan ke mana-mana! Kalau Kakak ke sana kamu nya nggak ada, Kakak langsung pergi ninggalin kamu di sini,” peringat Aril.
“Ngancam terus... palingan nanti kalau beneran kayak gitu yang ada malah Kakak sendiri yang panik nyariin,” ledek Niken.
“Ck! Kalau dibilang tuh bisa nggak sih nurut aja, nggak usah dibantah?” decak Aril menjadi kesal. Begitulah Niken, sangat pintar memancing emosinya.
“Iya-iya, Niken tunggu di sana. Tapi nanti kalau tiba-tiba ada om-om ganteng bolehkan Niken ikut?”
“Berani kamu?!” seru Aril pada Niken yang sudah lari menjauh setelah mengucapkan hal tadi.
“Niken canda, Kak. Nggak usah galak-galak, nanti jodohnya ditahan sama Allah supaya nggak jumpa sama Kakak!” sahut Niken mengejek. Setelah itu ia langsung berlari meninggalkan Aril yang harus menelan emosinya sendiri.
“Dasar!” ucap Aril dengan nada tertahan. Ia menghela napasnya panjang, mencoba mengontrol emosinya.
“Sabar, Ril, Sabar...” ingat Aril pada dirinya sendiri. Setelah emosinya stabil, barulah Aril pergi untuk mengisi koin di kartu Niken dan kartu miliknya sendiri.
*****
“Niken? Niken?!” panggil Aril mencari Niken.
Tadi saat dirinya pergi ke mesin pump, ia tidak menemukan keberadaan Niken. Padahal sudah diingatkan, tapi masih saja kayak gini kejadiannya. Niken selalu saja menghilang entah ke mana saat diajak ke Funland, seperti yang terjadi sekarang.
__ADS_1
Aril menghela napasnya kasar karena tak menemukan keberadaan Niken. Ia mengambil hp di saku celananya dan mencoba menelepon Niken.
Tut...Tut...
“Assa....”
“Kamu di mana?!” seru Aril ketika sambungan mereka terhubung.
“Ih, nggak usah teriak-teriak, Kak. Minimal kasih salam dulu kalau nelepon orang,” sungut Niken dari seberang telepon.
“Assalamualaikum,” salam Aril cepat.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatu. Nah, gini kan enak,” ucap Niken santai.
“Ck! Cepetan bilang kamu ada di mana sekarang?” tanya Aril.
“Lagi di stand es krim yang ada di dekat pintu masuk, Kak.”
“Ngapain kamu ke sana? Bukannya Kakak udah suruh nunggu?!” seru Aril tak habis pikir.
“Udah dibilang jangan marah-marah, nanti jodohnya ditahan supaya lama ketemu sama Kakak loh. Ini Niken lagi makan es krim, Kak. Masa pergi ke stand es krim untuk minum air kelapa? Kan nggak mungkin,” sahut Niken terkekeh pelan.
“Astaghfirullah! Kakak harus ekstra stok sabar gara-gara kamu, Ken!” gerutu Aril. Sedangkan Niken semakin tertawa geli.
“Kamu lagi sama siapa?” tanya Aril ketika mendengar suara seorang pria sedang berbicara dengan Niken. Pria itu menanyakan siapa yang sedang meneleponnya.
“Oh, sama someone, Kak,” jawab Niken sok misterius.
“Kamu nggak usah macem-macem, Ken. Bilang, kamu sama siapa sekarang?” tuntut Aril meminta jawaban.
“Makanya Kakak ke sini lah biar Kakak bisa liat sendiri siapa yang lagi sama Niken sekarang.”
“Hampir nyampe, tunggu di situ!” ucap Aril yang sudah berjalan, berniat menyusul.
Niken langsung memutuskan sambungan telepon mereka tanpa menunggu jawaban. Sedangkan Aril hanya bisa menghela napas kasar dan mempercepat langkahnya.
Aril semakin mempercepat langkahnya ketika melihat sosok Niken yang sedang duduk membelakanginya sedang asik bercanda ria dengan seorang pria yang ada di sampingnya.
“Udah puas makan es krimnya?” tanya Aril datar pada Niken yang tak menyadari kedatangannya.
“Eh, Kak Aril! Cepat amat nyampenya,” sahut Niken sedikit kaget. Ia membalikkan badannya untuk melihat Aril.
“Aril? Ngapain kamu di sini?” tanya pria yang bersama Niken tadi.
“Lah? Kok kamu di sini, Mahen?” tanya Aril bingung ketika menyadari jika sosok pria yang bersama Niken itu adalah Mahendra.
Aril menghela napas lega karena pria yang bersama Niken tidak seperti yang dipikirkannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memarahi Niken ketika mengetahui jika Niken pergi dengan Mahendra.
“Aku ke sini dengan alasan yang sama seperti kalian. Aku nggak nyangka ternyata Abang yang dibilang Niken itu kamu, Ril,” sahut Mahendra.
“Ooo...emangnya tadi Niken bilang kalo Dia pergi sama Abangnya tapi nggak ngasih tau namanya? Terus gimana kamu bisa jumpa sama anak curut satu ini?” tanya Aril sambil menunjuk Niken yang memberikan tatapan protes karena tidak terima dipanggil curut.
Mari kita kembali ke beberapa saat lalu sebelum peristiwa ini terjadi.
*Flashback
Niken menendang-nendang kakinya di udara. Ia merasa bosan karena Aril belum datang juga, padahal sudah hampir 10 menit berlalu. Lagi asik menggerutu, retina matanya melihat seseorang yang ia kenal berdiri tak jauh dari posisinya.
“Kak Mahen!” seru Niken tak tau malu.
Mahendra menyipitkan matanya untuk melihat sosok yang memanggilnya dirinya. Ketika sudah mengetahui siapa itu, barulah ia datang menghampiri.
__ADS_1
“Niken? Kamu ngapain di sini? Sendirian?” tanya Mahen ketika sudah berdiri di hadapan Niken.
“Saya pergi sama Kakak. Rencananya sih mau main itu, tapi Kakak saya belum balik,” sahut Niken, menunjuk mesin pump.
“Ngomongnya santai aja, nggak usah formal. Aneh banget rasanya pake saya ,” usul Mahendra.
“Oke! Saya eh Niken setuju sama usulan Kakak.”
“Pake aku aja, Ken,” saran Mahendra yang merasa masih agak asing seseorang memanggil dirinya sendiri dengan nama.
“Nggak sopan, Kak. Lagian kalau Niken panggil diri sendiri pake nama, itu artinya mulai sekarang kita jadi dekat,” jawab Niken menyengir.
“Emangnya kamu selalu gini ke semua orang yang dekat sama kamu, Ken?”
“Nggak juga sih... Niken cuma manggil nama untuk diri sendiri kalo itu sama orang yang lebih tua. Untuk yang seumuran pake aku-kamu sih, Kak,” sahut Niken.
“Oh, oke. Terus Kakak kamu emangnya ke mana?”
“Lagi isi koin kartu, Kak. Tapi nggak tau kenapa belum balik juga sampe sekarang.” Mahendra mengangguk paham.
“Kakak sendiri, ngapain ke sini? Sendirian?” Niken balik bertanya.
“Aku sendirian dan alasan ke sini sama kayak kalian, refreshing.”
“Terus, Kakak tadi mau pergi ke mana?”
“Rencananya mau istirahat sebentar, cari cemilan di luar.”
“Bagus! Niken boleh ikut, Kak?” tanya Niken to the point.
“Kamu mau ikut?” tanya Mahendra tak yakin.
“Iya, Kak. Emangnya nggak boleh?”
“Nggak, bukan kayak gitu. Kalau aku sih boleh aja. Tapi nanti Kakak kamu gimana? Pasti Dia nyariin kamu,” sahut Mahendra.
“Kalo masalah itu sih Kakak tenang aja. Berarti bolehkan? Yaudah, ayo kita pergi!” ajak Niken yang langsung menarik tangan Mahendra.
*Flashback end
“Begitulah ceritanya, Kak.” Niken menyelesaikan ceritanya bagaimana dirinya dan Mahendra bertemu.
“Jadi, kalian milih makan es krim? Pasti kamu kan yang jadi biangnya, Ken?” tuding Aril tepat sasaran. Ia tau bahwa Mahendra tidak terlalu suka makan es krim kecuali ada seseorang yang mengajaknya. Untuk makan dengan inisiatif sendiri? Mustahil.
“Mau gimana, Kak? Cuacanya gerah, jadi paling enak makan es krim, seger,” sahut Niken membela diri.
“Ya, ya, ya, terserah kamu!” sahut Aril marah. Sedangkan Mahendra tertawa geli melihat interaksi mereka berdua.
“Kalian akrab banget ya?” tanya Mahendra.
“Ya, kayak yang kamu liat sendiri. Apalagi curut satu ini sering banget ngerepotin orang kayak kejadian sekarang. Mau nggak mau aku harus selalu jagain Dia,” sahut Aril malas. Niken hanya mengolok-olok ucapan Aril.
“Tapi, Seingat aku kalo kamu itu anak tunggal kan, Ril?”
“Anda benar sekali! Selamat mendapatkan uang lima ratus rupiah dipotong pajak. Akh!” seru Aril memegang kepalanya yang menjadi sasaran pukulan Niken.
“Ngapain kamu pukul Kakak, Ken?” tanya Aril tak terima.
“Salah sendiri! Orang lagi nanya serius malah dibawa bercanda,” sahut Niken acuh.
“Ck, Dasar! Iya deh, iya. Jadi gini, aku sama curut satu ini udah lama dekat bahkan dari kami masih kecil. Jadi, ya gitu, sesuai kesimpulan kamu gimana hubungan kami akhirnya.” Aril menjelaskan dengan ogah-ogahan. Sedangkan Mahendra kembali mengangguk paham.
__ADS_1
“Yaudah, cukup ngomongnya. Ayo kita makan es krim satu ronde lagi terus masuk ke dalam. Niken udah kepengen main,” sungut Niken. Sedangkan Aril dan Mahendra hanya menuruti keinginan Niken.