
Aylin seharian ini tidak melihat Jayden di ruang sebelah.Aylin melihat Jayden terakhir tadi pagi, sesudah pembicaraan terakhir mereka.
Biasanya dalam sehari, Jayden dan sekretarisnya bisa beberapa kali di ruang sebelah, entah minum, atau membuat kopi.
Terkadang Aylin berpikir kalau Jayden dari ruang sebelah suka menatap ke arahnya, tetapi sesudah itu dia akan menyangkalnya sendiri.
"Dasar! ke GR an sendiri".
Ternyata seharian tidak melihat Jayden, membuat Aylin merasa ada yang hilang juga.
Tapi dia menghibur dirinya sendiri, " Bagus kalau kak Jayden marah denganku, kenapa aku harus sedih? setidaknya aku tidak usah mencari cara untuk menghindarinya lagi. Bukankah itu memang kemauanku."
Akhirnya Aylin kembali menyibukkan diri pada pekerjaannya lagi, sambil menunggu waktu pulang yang tinggal sebentar lagi.
Seperti biasa Aylin dan Bu Desy setiap pulang, termasuk yang paling on time, bisa jadi yang paling cepat keluar kantor.
Begitu jam pulang, keduanya kompak langsung memberes-bereskan barangnya, dan segera bersiap pulang dan tidak menghabiskan waktu lagi.
Tidak seperti yang lain, yang kadang masih nyantai dan ngobrol dengan teman-teman sejawatnya sesudah jam pulang kantor.
Tapi ternyata bukan Desy dan Aylin yang paling cepat keluar hari ini, saat berjalan ke depan mereka bertemu dengan Deddy, Maya dan Jayden yang sudah bersiap-siap masuk ke dalam mobil.
Melihat itu, Dessy menyapa hormat pada Jayden dan Maya. Akhirnya Aylin mau tidak mau harus ikut menyapa.
Jayden dan Maya hanya mengangguk, sesudah itu keduanya masuk ke dalam mobil, diikuti Deddy yang di depan kemudi.
"Tumben Pak Jayden dan Bu Maya pulangnya cepat banget".ucap Bu Desy.
"Namanya bos kan suka-suka", jawab Aylin tersenyum, padahal dalam hatinya agak sedih karena tadi saat menyapa Jayden, Jayden terlihat seperti tidak memperdulikannya.
Tidak lama kemudian suami Bu Desy datang menjemput Bu Desy, akhirnya tinggal Aylin sendiri yang berjalan gontai menuju tempat untuk menunggu kendaraan.
Tadi kak Denny ada menelponnya untuk mengabarkan tidak jadi menjemputnya, karena tiba-tiba ada urusan pekerjaan mendadak.
__ADS_1
Sambil menunggu kendaraan, Aylin melamun.
Aylin kadang merasa sedih dan kesal dengan hatinya sendiri, mengapa dia susah sekali move on dari Jayden.
Saat dia melihat Jayden dan Maya, Aylin merasa dia hanya seperti mainan saja buat Jayden, sekedar menghibur Jayden yang sedang kesepian dan iseng saja.
Jayden yang kadang kelihatan baik dan perhatian padanya, tapi bisa tiba-tiba menjadi dingin padanya.
Jayden sudah beberapa kali menciumnya dengan sesukanya. Dan dia seperti orang bodoh yang begitu pasrah saja menerimanya. Mungkin karena itu Jayden tidak pernah merasa bersalah padanya.
Aylin sungguh menyesalkan hal tersebut.
Untungnya tidak berapa lama kemudian kendaraan datang, akhirnya lamunan Aylin terputus.
"Ah kenapa hari ini hatiku sensitif sih, udah jangan mengingat hal-hal sedih lagi", pikirnya dalam hati menghibur diri sendiri, dan berjalan masuk dalam kendaraan.
Seperti biasa, di dalam mobil Jayden suasananya hening, tidak ada yg memulai pembicaraan, apalagi mood Jayden dari pagi sudah jelek.
Ditambah lagi Jayden sedang kesal dengan ibunya yang dengan seenaknya memberi perintah pada Maya untuk pulang bersamanya, alasannya ada yang mau dibicarakan dengan Maya.
Apalagi tadi di depan perusahaan dia sempat bertemu dengan Aylin yang kelihatannya salah tingkah.
Sedangkan Maya sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana caranya agar membuat Jayden tidak tertarik lagi pada Aylin.
Kalau Deddy karena bosnya sedang stres, diapun ikut stres, karena pekerjaannya bertambah, dan ditambah ancaman dari bos jika tidak diselesaikan dengan baik.
Entah mengapa sejak melihat cucu perempuannya di Singapura, Bu Sunjaya semakin bertambah keinginannya untuk segera melihat Jayden menikah dan berkeluarga.
Dia benar-benar sudah tidak sabar lagi kalau melihat Jayden terlalu santai dan kelihatannya sama sekali tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun.
Akhirnya satu-satunya yang terpikirkan oleh ibu Jayden adalah mendekatkan Maya dan Jayden.
Begitu Maya dan Jayden sampai, ibu Jayden langsung menyambut senang Maya, dan menggandeng tangan Maya masuk ke dalam ruang makan, dan mengajak Maya untuk makan bersama dulu.
__ADS_1
Jayden hanya bisa melihat kesal ke ibunya, yang menurutnya ibunya terlalu berlebihan.
Akhirnya sesudah selesai makan, Jayden langsung meminta ijin pada ibu dan ayahnya ke kamar, dengan alasan sakit kepala.
Deddy yang tadi diajak Jayden untuk makan bersama juga, sudah tahu gelagat bosnya ini dan sudah pasrah saat disuruh menunggu , untuk mengantar Maya pulang.
Ayah Jayden sesudah makan juga meninggalkan ibu Jayden dengan Maya, karena dia tahu istrinya suka berbincang-bincang dengan Maya mengenai masalah perusahaan.
"Koq rasanya akhir-akhir ini Jayden sering sekali sakit kepala? Memang sedang banyak kerjaan di perusahaan atau banyak masalah di perusahaan?", tanya ibu Jayden.
"Biasa saja Tante", sahut Maya.
Dalam hati Maya, dia sedang kesal pada Jayden, yang tidak memandang sebelah mata pun padanya.
Maya yakin Jayden kalau moodnya sedang jelek, pasti berhubungan dengan Aylin. Karena setahunya tidak ada masalah di perusahaan.
Dan juga tadi pagi dia juga melihat sendiri Jayden asyik berbincang-bincang dengan Aylin, tapi sesudah itu dia merasa waktu pulang tadi sepertinya Jayden malah tidak memperdulikan Aylin, sepertinya sedang marah.
"Huh.. dari jaman sekolah sampai dewasa hanya bisa mengganggu ketenangan Jayden!", sungut Maya dalam hati.
Setelah itu Ibu Jayden memberikan hadiah-hadiah yang dia bawa dari Singapura, Maya sungguh terharu dengan kebaikan ibu Jayden padanya.
"Maya, Tante mau bertanya sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Jayden? Apakah kamu menyukai Jayden? Tante ingin sekali Jayden segera berkeluarga, seperti kakak-kakaknya. Jadi ada yang mengurusnya, sehingga dia tidak seperti sekarang ini, bersifat sesukanya."
Setelah berpikir sebentar, akhirnya Maya merasa dia harus menjawab jujur, apalagi ibu Jayden sepertinya menyukainya dan mendukung dia untuk bersama Jayden.
"Saya memang menyukai Jayden Tante, tapi saya tidak tahu perasaan Jayden pada saya."
"Tidak apa-apa, biar nanti tante yang coba berbicara pada Jayden, kamu kan tahu Jayden orangnya memang agak tertutup dan kaku. Jadi mungkin dia tidak bisa menyatakan perasaannya", sahut ibu Jayden yang sok tahu dan yakin bisa mempengaruhi anaknya, karena selama ini dia tidak pernah melihat Jayden dekat dengan wanita manapun selain Maya.
Mendengar perkataan ibu Jayden, Maya akhirnya mengangguk dan tersenyum, Maya merasa setidaknya masih ada ibu Jayden yang memihak padanya, walaupun Maya tidak yakin karena Maya tahu dengan sifat Jayden yang tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun.
Setelah berbincang-bincang dan melaporkan mengenai masalah perusahaan, akhirnya Maya pamitan pulang, dan diantar Deddy yang dari tadi sudah menguap terus, karena bosan menunggu.
__ADS_1
Maya hanya bisa menghela nafas, sejak tadi Jayden sudah tidak kelihatan sama sekali sesudah makan bersama.
"Ah .. Aylin kamu sungguh penghalang ku, padahal ibu Jayden saja sudah setuju dan mendukungku. Kenapa kamu harus muncul di saat seperti ini, membuat Jayden berpaling dariku!", sesal Maya yang semakin hari semakin membenci dan dendam pada Aylin.