
Aylin diam sambil mengikuti Jayden dari belakang. Aylin sibuk menata hatinya agar bisa bersikap biasa biasa saja pada Jayden.
Agar hatinya tidak berdebar-debar terus setiap berada di dekat Jayden.
Sedangkan Jayden berjalan agak cepat, karena terbawa rasa kesalnya karena dibentak oleh Aylin.
Dia juga kesal setiap Aylin diajak bicara jawabannya pendek saja. Seperti tadi saat dia menanyakan Aylin mau makan apa, Aylin cuman menjawab terserah.
Aylin menatap punggung Jayden dan berusaha berjalan cepat, agar tidak tertinggal jauh.
"Huh, mau ngerjain aku, gak bakal bisa!", keluh Aylin dalam hati.
Tetapi entah karena melamun saat berjalan, atau karena dari semalam dia belum makan dan kurang tidur, saat terantuk sesuatu Aylin langsung terjatuh dalam keadaan berlutut.
"Aduh!" tanpa sadar Aylin berteriak karena sakit.
Jayden kaget dan segera menoleh ke belakang, segera menghampiri Aylin dan berjongkok, untuk membantunya berdiri.
Gerombolan anak SMA yang tadi di belakang Aylin mengomentari ,
"Mas kalau punya pacar cantik digandeng, jangan jalan sendiri. Sudah jatuh gitu digendong dong", ujar anak SMA iseng itu memprovokasi Jayden.
Jayden yang biasa berprinsip dan mengambil keputusan sesuai kata hatinya, kali ini malah terpengaruh ucapan anak SMA tadi.
Aylin kaget dan malu sekali, sampai pipinya bersemu merah semua, saat Jayden posisinya seperti siap menggendongnya.
Aylin segera mendorong dada Jayden, sambil berkata,
"ihh, siapa pacarnya.emang anak kecil pakai digendong segala" sambil berusaha berdiri, padahal biasanya Aylin paling tidak tahan sakit.
Sedangkan bayangan anak SMA tadi juga sudah tidak kelihatan.
Jayden juga tersadar, mengapa dia bisa dipengaruhi anak SMA tadi, sambil memegang tangan Aylin, tapi kali ini cuman membantunya berdiri.
Karena salah tingkah, Jayden mengomel, "Dasar ceroboh, matamu ke mana kok bisa sampai jatuh!"
Setelah mengomel, Jayden menyesal juga kenapa selalu tidak bisa berkata yang manis.
"Emang aku mau ?" sahut Aylin matanya sudah mulai berkaca-kaca, karena kesal, malu dan lututnya terasa perih.
Jayden sebenarnya ingin berkata manis, tapi kok susah sekali, pikirnya. Dengan menyesal dia menatap Aylin dari atas ke bawah melihat apakah ada luka, Aylin yang ditatap Jayden menjadi salah tingkah dan jantungnya berdebar kencang.
__ADS_1
Jayden yang dasarnya posesif, saat melihat lutut Aylin yang berdarah dan melihat gaun yang dipakai cukup pendek (pendek versinya Jayden), langsung
berkata lagi,
"Makanya kalau pakai rok jangan pendek-pendek, kalau panjangkan gak akan terluka parah, cari masalah sendiri saja!"
Jantung Aylin tambah berdetak kencang, kali ini bukan karena apa-apa, tapi karena kesal dan benar-benar marah.
"Dasar manusia tak berperasaan!", ketus Aylin, tapi kali ini bukan dalam hati lagi, Jayden pun mendengarnya dengan jelas.
Lalu Aylin dengan marah mengibaskan tangan Jayden yang masih menggandengnya, dia lebih memilih jalan terpincang-pincang dari pada digandeng Jayden.
Jayden terdiam dan tak berkata apa-apa lagi.
Dia benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi Aylin. Mengapa mulutnya selalu tidak bisa direm kalau ketemu Aylin, padahal dia biasanya jarang ngomong kalau bukan hal penting dan tidak pernah mengurusi urusan orang lain
Akhirnya Jayden membawa Aylin ke toko dimsum yang dekat rumah sakit. Setelah mendapat tempat duduk, Jayden mengeluarkan alkohol, kapas dan obat yang dibeli di minimarket sebelah.
Sambil menunggu pesanan, Jayden bermaksud membantu Aylin mengoles lukanya, Aylin pun menolak dan berkata dengan sopan dan menjaga jarak,
"Biar saya oles sendiri kak Jay, terimakasih."
Karena dia tidak mau kontak fisik dengan Jayden. Dia takut detak jantungnya terdengar Jayden.
Suasana menjadi hening, masing-masing dengan pikiran sendiri.
Tiba-tiba Jayden teringat kemaren dia ingin menanyakan tentang pak Hutomo yang gak kelihatan.
"Ayahmu kok gak kelihatan Lin, apakah sedang sibuk?", tanya Jayden, dia berharap ketegangan antara mereka bisa terurai.
Saat itu Aylin yang sudah membersihkan lukanya dengan alkohol, sedang mengoles lukanya dengan obat sempat terhenti sejenak, sesudah itu melanjutkan lagi sambil menjawab,
"Ayah sudah meninggal lama, kami pindah belum lama, ayah meninggal tidak lama kemudian", tanpa melihat ke arah Jayden, sepertinya dia lebih suka melihat lukanya daripada menatap Jayden.
Kali ini Jayden benar-benar kaget, dia tidak menyangka perubahan hidup Aylin begitu drastis.
Kali ini dia menatap intens ke wajah Aylin, tapi yang ditatap berlagak tidak tahu dan masih serius mengobati lukanya.
"Kenapa dulu kamu tidak cerita?", tanya Jayden.
"Untuk apa? apakah perlu mengumumkan kebangkrutan keluargaku?Lagipula apa Kak Jay perduli?Kita ini tidak punya hubungan apa-apa kak, kita cuman teman, itupun waktu kecil saja.
__ADS_1
Dulu saja kakak menghindari ku, apalagi saat keadaanku seperti ini. Apakah aku harus memohon-mohon kak Jay untuk memperhatikan ku? tanya Aylin bertubi-tubi karena dia dari tadi sudah kesal, sehingga akhirnya dia mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya selama ini.
Aylin bersyukur dia sudah tidak secengeng dulu, setidaknya dia tidak meneteskan air mata di depan Jayden. Dia tidak mau dikasihani. Dia punya harga diri.
Malah Jayden yang jadi terdiam tidak bisa menjawab sepatah katapun. Tiba-tiba dia sadar kenapa sikap Aylin berubah padanya, ternyata dulu dia telah menyakiti hati Aylin, bahkan sekarang Aylin sudah menganggap dia bukan siapa-siapa lagi, hanya pernah kenal saja.
Benar kata orang, hati wanita susah ditebak.
Dia yang terlalu percaya diri, dia menganggap Aylin masih seperti dulu, masih menyukai dia, ternyata sekarang sudah tidak, bahkan jangan-jangan sudah membencinya.
Semua rencana yang sudah disusun dari semalam, agar hubungannya dengan Aylin lebih membaik, akhirnya tak ada satupun yang dia ingat lagi.
Tidak lama kemudian pesanannya datang, mereka makan dalam diam, Aylin bersikap seperti biasa, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, kelihatannya begitu menikmati makanannya.
Jayden hanya memotong-motong makanannya, tapi tidak ada sepotong pun yang dimakan. Naf*su makannya sudah hilang sejak tadi.
Terakhir dia hanya meminum kopi yang dipesannya, sebelum mereka beranjak pergi.
Sampai di ruang inap ibu Aylin, Jayden seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak berkata apapun. Entah apa yang ada di pikirannya, pikir Aylin.
Jayden menunggu sampai ibu Aylin diperbolehkan pulang, saat Aylin mau membayar uang rumah sakit, ternyata sudah dilunasi oleh Jayden.
Karena ada ibunya, Aylin tidak berkata apapun, lagipula kalau dia harus membayar semua termasuk uang muka kemaren sepertinya uangnya tidak cukup.
Saat Jayden mengantar mereka pulang, Aylin juga tidak protes, karena dia ingin membicarakan biaya rumah sakit ibunya.
Selama perjalanan ke rumah suasana di dalam mobil hening, jarang terjadi obrolan, ibu juga tidak bertanya-tanya, karena melihat Jayden konsentrasi mengemudi.
Sampai di rumah Aylin, Jayden hanya bantu membawa barangnya ke dalam, setelah itu Jayden langsung berpamitan kepada ibu Aylin. Ibu Aylin pun mengucapkan terimakasih, dan menyuruh Aylin mengantar Jayden ke depan pagar.
Aylin menggunakan kesempatan itu untuk membicarakan masalah biaya rumah sakit ibunya pada Jayden.
"Kak Jay, aku akan membayar uangmu sesudah aku bekerja dan tabunganku cukup ya? Terimakasih kak Jay sudah membayarnya dulu", kata Aylin dengan sopan dan agak malu.Sebenarnya dia malu dan tak mau berhutang budi, tapi karena keadaan dia tidak bisa apa-apa.
Jayden hanya menatap Aylin sebentar, lalu berkata ,
"Terserah kamu, kak Jay pulang dulu" sesudah itu Jayden berjalan ke mobilnya tanpa menoleh lagi.
Aylin dari dulu sudah terbiasa dengan sikap Jayden yang dingin, Kemaren dan hari ini saat Jayden bersikap perhatian padanya, hatinya begitu senang dan berdebar-debar.
Aylin pikir sesudah bertahun-tahun perasaannya pada Jayden sudah hilang ditelan waktu. Ternyata waktu Jayden bersikap dingin padanya tadi, membuat hatinya sakit lagi.
__ADS_1
Ternyata setelah bertahun-tahun perasaannya kepada Jayden masih sama, pikir Aylin dengan sedih.
Bersambung........