
Jayden biasanya paling tidak suka menunggu. Tapi dia paling tidak suka lagi kalau keinginannya tidak kesampaian.
Karena dia sudah bertekad mau bertemu dengan Aylin, akhirnya mau tidak mau di harus menunggu Aylin pulang.
Entah mengapa akhir-akhir ini, dia sering terbayang wajah Aylin, dan sering merasa kangen pada Aylin.
Sedangkan Jayden juga jarang berbicara, akhirnya ibu Aylin ke kamar Aylin mengambil buku-buku yang ada di kamar Aylin dan memberikannya pada Jayden.
Seingatnya dulu Jayden hobi membaca.
"Siapa tahu mau dibaca, biar gak bosan Jay", kata ibu Aylin.
"Iya Tante, gak usah repot-repot", sahut Jayden sopan. Sesudah itu ibu Aylin melanjutkan menjahit lagi.
Jayden hanya tersenyum melihat buku Aylin yang lebih banyak novel romantis.
"Hobinya yang satu ini juga gak berubah", pikirJayden.
Tapi Jayden juga ada melihat beberapa karya Sydney Sheldon yang berbahasa Inggris, yang sepertinya Aylin ingin memperlancar bahasa Inggrisnya. Karena setahunya Aylin tidak terlalu suka dengan cerita detektif.
Sedang membolak balik salah satu novel Sydney Sheldon, terdengar suara Aylin, "Bu, Lin sudah pulang", sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Aylin sempat berhenti tertegun, melihat Jayden yang sedang duduk di ruang tamu.
Mobil Jayden di parkir di lapangan, karena Jayden takut mengganggu, karena jalan depan rumah Aylin tidaklah terlalu lebar. Jadi akhirnya Aylin tidak tahu kalau ada tamu di rumahnya.
"Sudah dapat barangnya?", tanya Ibunya.
"Tuh kak Jay dari tadi nungguin kamu pulang!", sambung ibunya lagi.
"Belum Bu", jawab Aylin jadi salah tingkah, karena dia merasa dari tadi Jayden menatapnya.
Aylin bahkan sudah lupa dia sudah membohongi ibunya, kalau dia pulang agak malam karena pergi membeli barang.
Sedangkan tangannya tidak membawa apa-apa, dia hanya membawa tas kecilnya saja, jadi terpaksa dia menjawab belum.
"Aduh otakku benar-benar payah! mungkin akibat kualat berbohong sama ibu", pikir Aylin dalam hati.
Akhirnya Aylin menghampiri Jayden, dan bertanya, "Ada apa kak Jay mencari Lin?"'
__ADS_1
"Kamu belum dapat barang yang kamu cari, ayo kak Jay antar kamu!", Jayden malah mengalihkan pertanyaan Aylin.
"Gak usah kak, besok-besok saja baru beli", jawab Aylin menolak.
"Gak pa pa Lin, kak Jay lagi nyantai, ayo", ajak Jayden yang pantang ditolak.
"Mumpung ada kak Jay yang temani, pergi aja Lin, biar besok gak usah pergi lagi", sela ibu Aylin yang tidak tahu situasi.
Sebenarnya ibu Aylin ingin anaknya ada hiburan juga kadang-kadang daripada di rumah terus, karena Aylin sudah jarang berpergian dan lebih banyak membantu ibunya di rumah.
Dan sepertinya Aylin juga kurang percaya diri, jadi ibunya ingin Aylin seperti dulu lagi, dengan lebih banyak bergaul.
Jadi setiap Denny mengajak pergi, ibu Aylin juga sering mendorong Aylin untuk pergi. Dan menurut ibu Aylin dia sudah mengenal Jayden sejak kecil, jadi dia tidak khawatir kalau Jayden menemani Aylin pergi.
"Ayo kamu mandi dulu biar segar, habis itu baru pergi!", perintah ibunya.
"Nak Jay gak pa pa kan tunggu sebentar?", tanya ibu Aylin pada Jayden.
"Gak pa pa tante", jawab Jayden senang, karena keinginannya didukung ibu Aylin.
Akhirnya Aylin hanya menurut dan segera menuju kamar mandi walaupun dalam hati dia sempat kesal pada ibunya yang tidak melihat situasi.
Aylin memilih mencepol rambutnya, dia sudah tidak sempat keramas lagi, karena sudah hampir jam 8 malam.
Tidak butuh waktu lama, Aylin sudah siap, dia bahkan sudah tidak berdandan sama sekali.
Jayden hanya bisa memandang Aylin terpana, karena Aylin malah terlihat muda seperti anak sekolah kalau tanpa berdandan.
"Ayo kak, cepat nanti kemalaman!", ajak Aylin kelihatan tergesa-gesa.
Akhirnya setelah pamitan dengan ibu Aylin, berdua mereka berjalan ke depan, ke tempat Jayden memarkir mobilnya.
Sampai di dalam mobil, baru Jayden memulai pembicaraan, menanyakan Aylin hendak membeli apa dan ke mana.
"Mau beli lotion kak, dimana saja boleh", jawab Aylin singkat, yang masih terbawa suasana kesal, karena dipaksa ibunya untuk pergi.
Jayden menghela nafas berusaha sabar.
"Ya udah ke mall XX ya, di situ pasti lengkap", sahut Jayden.
__ADS_1
"Gak usah, kak Jay kan paling anti ke mall! Toko kosmetik kecil juga ada jual koq", sahut Aylin mengingatkan Jayden, kalau dulu dia sering meminta Jayden mengantarnya ke mall, selalu ditolak, paling banter Jayden hanya menurunkan Aylin di depan Mall saja, tapi tidak pernah mau menemani sampai ke dalam Mall.
"Hari ini gak pa pa kita ke Mall", sahut Jayden memutuskan dan berusaha menahan kekesalannya.
Jayden kesal karena Aylin selalu mengingat kejelekannya saja.
Untungnya sesudah itu Aylin menjawab, "Terserah kak Jay saja, kalau kak Jay gak keberatan ke Mall".
Jayden langsung melajukan mobilnya ke Mall XX, tanpa berkata apa-apa lagi.
Aylin juga terlihat seperti enggan berbicara, tatapannya hanya ke depan jalan seakan sangat menikmati pemandangan.
Padahal tidak ada lagi pemandangan yang bisa dilihat, karena langit sudah gelap.
Sebenarnya Aylin bersikap ketus pada Jayden karena dia sungguh canggung pergi berdua saja dengan Jayden.
Karena canggung, ketika sampai Mall, setelah keluar dari mobil , Aylin langsung berjalan menuju ke pintu masuk Mall, tanpa menunggu Jayden. Untungnya saja kakinya sudah lumayan sembuh.
Akhirnya Jayden pun tiba di ambang kesabarannya, segera dia mengejar Aylin, dan menarik tangan Aylin. Aylin tentu kaget dan langsung berkata, "Kak Jay lepasin tangan Lin!".
Tapi mana mau Jayden perduli, Jayden malah makin mengeratkan pegangannya, agar Aylin berjalan sejajar dengannya.
"Masa kamu suruh kak Jay jalan di belakangmu, pokoknya kak Jay gak mau lepasin!" , sahut Jayden.
"Gak enak kalau dilihat orang kak", sahut Aylin lagi.
"Kita gak lagi di perusahaan, di sini gak ada yang kenal sama kita. Kak Jay gak perduli, pokoknya kak Jay gak lepasin", sahut Jayden yang bermuka tembok, yang tak perduli walau ditolak berkali-kali.
Akhirnya Aylin hanya bisa menghela nafas kesal, dia tahu percuma saja menghadapi Jayden yang keras kepala. Kalau dia masih bersikeras, malah akan jadi perhatian orang di sekitarnya.
Lagipula dulu waktu kecil kak Jay juga sering menggandengnya, jadi kali ini biarkan saja, dan di sini juga tidak ada orang yang mengenal mereka, pikir Aylin pasrah.
Akhirnya dia membiarkan Jayden menggandeng tangannya dan tidak protes lagi.
Jayden mengikuti langkah Aylin, dan tersenyum puas atas kemenangannya.
Aylin yang berpikir di sana tidak ada orang yang mengenalnya, tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Denny yang baru keluar dari Game Center.
Denny yang kecewa sesudah ditolak Aylin, sering sekali menghibur diri sendiri bermain di Game Center.
__ADS_1
Aylin yang kaget bertemu dengan Denny, menghentakkan tangannya berusaha melepaskan gandengan tangan Jayden.
Bagaimanapun dia merasa tidak enak pada Denny, karena pernah berjanji akan menjauhi Jayden.