
Akhirnya sekarang gantian ayah Jayden yang memulai percakapan, tapi kali ini Ayah Jayden berbicara dengan Aylin.
"Aylin kamu sudah kuliah di semester berapa?" tanya Ayah Jayden.
Aylin yang sedang melamun terkejut, karena tidak menyangka dia yang tiba-tiba diajak berbicara oleh om Sunjaya.
"tidak kuliah om", sahut Aylin langsung karena kaget. Dan memang dasarnya Aylin agak telmi kadang-kadang.
Ibu Jayden kaget dan semakin kasihan, saat mendengar jawaban Aylin, dia tidak menyangka Aylin sampai tidak kuliah. Jayden pun kaget, dia tahu Aylin dulu agak kurang dalam pelajaran, tapi tidak menyangka kalau Aylin sampai tidak kuliah lagi.
Ibu Aylin pun kaget dengan jawaban anaknya.
Untung saja Aylin cepat sadar dia sudah salah menjawab, cepat-cepat dia melanjutkan lagi, "Enggak om, maksudnya saya ambil diploma 3, sekarang sudah lulus dan tidak kuliah lagi", sambil tersenyum malu karena tadi dia salah menjawab.
"Huh akibat melamun!", sesalnya.
"Iya, Aylin baru 2 hari yang lalu mengambil surat kelulusannya. Sebenarnya dia mau melamar kerja, tapi ditangguhkan dulu, gara-gara saya masuk rumah sakit", sambung ibu Aylin untuk mengatasi kecanggungan Aylin.
"kamu lulusan apa Lin?" tanya Ayah Jayden lagi.
"lulusan sastra Inggris om", sahut Aylin
Jayden yang mendengar jawaban Aylin hatinya menjadi tidak tenang, kemaren dia sudah yakin Aylin tidak mungkin memilih Accounting, karena pelajaran berhitung Aylin dulu sangat parah, dulu waktu sekolah sering meminta Jayden mengajarinya. Kadang Jayden mengajarinya sampai kesal, Aylin masih tidak mengerti.
Tapi yang disayangkan kenapa dia tidak memilih jurusan sekretaris saja, pikir Jayden, biar ibu tidak bisa lagi menolak usulnya.
Tapi Jayden tidak perduli, dia tetap bertekad untuk menjadikan Aylin sebagai sekretarisnya.
"Ibumu habis sakit Lin, dan lagipula kamu baru lulus. Biasanya untuk yang belum berpengalaman agak susah mencari pekerjaan. Agar tidak menghabiskan waktumu mencari-cari pekerjaan sebaiknya Lin bekerja di perusahaan om untuk mencari pengalaman dulu. Kebetulan di perusahaan om ada divisi yang masih kekurangan orang. Kamu juga tidak usah terburu-buru, tunggu sampai ibumu sembuh baru mulai bekerja, di sana kamu juga bisa belajar", dengan sabar ayah Jayden menerangkan pada Aylin.
"Ah jangan om, merepotkan saja", jawab Aylin menolak dengan sopan.
"Tidak merepotkan Lin, jadi om bisa mewakili ayahmu untuk menjaga kamu, Om sudah menganggapmu seperti anak sendiri", sambung ayah Jayden lagi.
__ADS_1
Mendengar perkataan ayahnya, Jayden sungguh kagum pada ayahnya yang pintar membujuk.
Aylin masih belum menyerah." Tapi Lin nanti gak enak sama pegawai lain om, kok masuknya pakai koneksi", alasan Aylin, karena dia sungguh merasa tidak enak kalau harus berhutang budi pada keluarga Jayden, apalagi dia juga belum membayar hutangnya pada Jayden.
"Gak mungkin begitu Lin, teman kak Jayden saja, kak Maya juga bekerja di sana. Bahkan ayahnya dulu waktu perusahaan nya tutup bekerja di perusahaan Tante, bahkan sampai sekarang.
Selama kita bekerja dengan benar dan bertanggung jawab tidak perlu takut penilaian orang lain, itu tidak penting", jawab ibu Jayden.
"Iya Lin, menurut ibu sebaiknya kamu turuti saja om dan Tante Sunjaya biar ibu juga bisa tenang melepasmu bekerja di luar, ibu agak khawatir kalau kamu bekerja di tempat asing, kamu kan belum berpengalaman sama sekali. Di sana ada kak Jayden juga, jadi ibu bisa lebih tenang", ucap ibunya Aylin mendukung perkataan ayah dan ibu Sunjaya.
Jayden bersorak kegirangan dalam hati, kali ini dia akan mempunyai waktu lebih banyak bersama Aylin dibandingkan Denny rivalnya.
Sedangkan Aylin yang mendengar perkataan Tante Sunjaya sempat tertegun sejenak, saat mendengar Maya bekerja di perusahaan Jayden, bahkan ayahnya Maya juga, berarti Jayden dan Maya berhubungan baik seperti perkiraannya.
Dia juga bingung untuk menolaknya lagi, apalagi ibunya juga ikut mendukung, sungguh tidak terpikirkan lagi bagaimana cara menolaknya, sementara om dan Tante Sunjaya begitu baik padanya.
"Baik om, baik Tante. Lin ucapkan terima kasih om dan Tante sudah mau membantu Aylin", jawab Aylin pasrah. "Tapi apakah ada lowongan yang cocok untuk saya Tante?", tanya Aylin pada ibu Jayden, karena dia tahu bahwa yang sering mengurus perusahaan adalah ibu Jayden.
Jayden yang langsung menjawab ," jadi sekretaris kak Jay".
,"Aylin gak cocok kak Jay, Lin tidak ngerti pekerjaan sekretaris".
Aylin menolak dengan sopan karena ada om dan Tante Sunjaya.
"huh enak banget, paling gue mau dikerjain dan diperbudak, kenapa pacarnya (dalam pikiran Aylin, Maya adalah pacar Jayden) gak dijadiin sekretaris saja" pikir Aylin dalam hati kesal.
Mungkin kak Jayden iri om Sunjaya menganggapku seperti anak sendiri dan menawari pekerjaan padaku, pikirnya lagi.
Ibu Jayden menarik nafas lega, saat Aylin menolak permintaan Jayden, karena dia tahu kalau anaknya menginginkan sesuatu pasti susah ditolak olehnya. Tapi kalau yang bersangkutan menolak, tentu Jayden tak bisa apa-apa.
Tapi ternyata Jayden belum menyerah dan mulai kesal ditolak oleh Aylin, lalu berkata,
"Kak Jay bisa ngajarin kamu sampai bisa!".
__ADS_1
"Gak mau! kak Jay kalau ngajar gak sabar dan galak. Kak Jay suka omelin Aylin telmi", kali ini kesopanan Aylin sudah hilang, sepertinya dia sudah lupa kalau ada om dan Tante Sunjaya, dia teringat waktu kecil saat diajar Jayden, Jayden galak padanya dan suka ngomel-ngomel gak sabar, karena otaknya yang agak bebal.
Ibu Jayden tersenyum menang,sambil berkata pada Aylin ,
" ya sudah gak pa pa, masih ada 2 divisi yang lagi cari staff baru, nanti kamu bisa pilih yang kira-kira sesuai denganmu. Ada masa training, kamu bisa belajar dulu, nanti Tante meminta HRD untuk mengurus prosedurnya."
"Terimakasih Tante", jawab Aylin senang karena ibu Jayden berpihak padanya.
Tapi Jayden mana mau menyerah secepat itu.
"Deddy saja seorang sopir dan lulusan SMA bisa jadi sekretaris, kenapa kamu lulusan diploma 3 tidak bisa? masa otakmu sebebal itu?", tanya Jayden penasaran.
"Pokoknya kalau sebagai sekretaris, Aylin lebih baik tidak bekerja", sahut Aylin tak peduli.
Alasan sebenarnya Aylin takut bekerja dekat dengan Jayden adalah karena dia takut perasaan sukanya pada Jayden akan muncul lagi. Lagipula hatinya suka berdebar-debar kalau dekat Jayden. Jadi sebaiknya dia menghindari Jayden jauh-jauh.
Akhirnya Jayden menatap ayahnya yang dari tadi diam mendengarkan saja, seakan meminta bantuan ayahnya. Ayahnya yang tahu anaknya meminta bantuannya, akhirnya berniat membantu anaknya berbicara, tapi dipotong oleh ibu Jayden.
"Ok, nanti saat kamu sudah siap masuk kerja, pilihlah divisi yang cocok untukmu Lin", ucap ibu Jayden memutuskan.
Dalam hatinya dia senang, dia tidak perlu merasa tidak enak dengan Maya lagi.
Dan juga bukan dia yang menghalangi kemauan Jayden.
Sedangkan ibu Aylin hanya diam dan mendengar kan saja, tapi kadang dia tersenyum saat mendengar Jayden dan Aylin yang adu mulut.
Bagi ibu Aylin sendiri, dia tidak perduli Aylin akan bekerja di divisi manapun, yang penting Aylin bekerja di perusahaan Sunjaya membuatnya lebih tenang.
Akhirnya jam setengah sepuluh keluarga Sunjaya pamit pulang, Ibu Aylin tidak lupa mengucapkan terimakasih.
Ayah dan ibu Jayden pulang dengan semangat, misi mereka berhasil.
Sedangkan Jayden benar-benar tidak semangat dan lesu saat balik ke perusahaan, karena misinya menjadikan Aylin sebagai sekretarisnya gagal.
__ADS_1
Bersambung........