Loving You

Loving You
Aylin bersedia


__ADS_3

"Sudah makan belum?", tanya ibu Aylin begitu melihat Jayden dan Aylin memasuki rumah.


"Sudah Bu", jawab Jayden dan Aylin kompak.


"Ibu sudah makan juga kan?", tanya Aylin merasa bersalah, karena akhir-akhir ini dia sudah jarang menemani ibunya.


"Sudah dong, ibu selalu makan tepat waktu, tidak seperti Lin. Nak Jay harus sering lebih perhatiin Lin, sukanya diet. Ibu heran gadis-gadis jaman sekarang, sukanya terobsesi seperti bintang Korea, yang mempunyai body kurus dan kaki panjang!", ujar ibu Aylin yang malah jadi mengomel. Mungkin karena seharian tidak ada teman berbicara, jadi melampiaskannya.


"Iya Bu, akan saya perhatikan Bu. Tapi body nya Lin ideal koq, saya suka", jawab Jayden memuji kekasihnya, tanpa merasa bersalah.


Aylin tentu malu dengan jawaban Jayden, dan langsung mencubit lengan Jayden kesal.


"Huh harus cepat diusir pulang nih, omongannya bahaya, nanti ibu bisa salah sangka dengar omongan kak Jay", pikir Aylin dalam hati.


Memang ibu Aylin sempat terperangah mendengar jawaban Jayden, tapi sesudah itu tersenyum melihat Aylin yang mencubit Jayden.


"Sepertinya Jayden ini isi hatinya apa langsung dikeluarkan tanpa disaring dulu", pikir ibu Aylin dalam hati.


"Kak Jay gak capek? seharian bawa mobil bolak-balik anterin Aylin, juga betulin mesin di pabrik, gak pulang istirahat saja?", tanya Aylin sok perhatian, padahal ingin mengusir Jayden pulang.


"Kak Jay ada yang mau dibicarakan sama ibu, sebaiknya Lin saja yang cepat masak air dan mandi dulu!", ujar Jayden yang malah balik memberi perintah ke Aylin.


Aylin akhirnya mendekatkan wajahnya ke kuping Jayden,


"Kak Jay jaga omongan ya, Awas kalau asal ngomong!", ancam Aylin berbisik, takut terdengar ibunya.


"Ok lah! kak Jay kira Aylin mau mencium kakak!", ujar Jayden menggoda Aylin, walaupun pelan, tapi terdengar oleh ibu Aylin.


Ibu Aylin hanya tersenyum melihat kelakuan Jayden dan Aylin.


"Ih.. kakak!", ujar Aylin langsung kesal dan pergi dengan wajah cemberut, sedangkan Jayden tersenyum senang sudah berhasil menggoda Aylin. Entah mengapa akhir-akhir ini menggoda Aylin menjadi hobi barunya.


...********...


"Bu, dalam waktu dekat ini saya akan melamar Aylin menjadi istri saya. Umur saya sudah cukup sudah berkeluarga, saya ingin menikahi Aylin secepat mungkin Bu, saya harap ibu bisa memberikan restu", ujar Jayden yang langsung berubah serius, ketika Aylin sudah di kamar mandi.


"Apakah nak Jay yakin? apakah tidak terlalu cepat, kalian berhubungan juga belum terlalu lama. Apakah tidak lebih baik nak Jay lebih mengenal Aylin lebih dulu?"

__ADS_1


Ibu Aylin tidak menyangka kalau jayden akan secepat itu melamar Aylin dan langsung ingin menikah.


"Saya yakin dan saya sudah siap Bu. Walaupun kami berhubungan belum lama, tapi kami berdua sudah mengenal sejak kecil, jadi menurut saya tidak ada masalah lagi", sahut Jayden dengan yakin.


Mendengar perkataan Jayden, tentu ibu Aylin tidak bisa menolak lagi.


"Baiklah, ibu pasti merestui kalian, tapi semuanya tergantung Aylin. Dia yang akan menjalani kehidupan, biarlah Lin yang mengambil keputusan sudah siap atau belum. Ibu pasti akan selalu mendukungnya.


Hanya pesan ibu, nak Jay bisa lebih sabar menghadapi Lin ya, karena kadang sifatnya masih kekanakan dan manja, maklum anak tunggal", ujar ibu Aylin akhirnya pasrah.


Sebenarnya ibu Aylin masih merasa tidak rela kehilangan Aylin, nanti sesudah Aylin menikah, Aylin tentu tidak akan tinggal bersamanya lagi.


Sejak Aylin bekerja saja, dia sudah sering merasa kesepian. Tapi untuk kebahagiaan Aylin tentu dia harus merelakannya. Apalagi Aylin sudah menemui orang yang disukainya.


"Ya, itulah resikonya punya anak gadis, begitu dewasa dia menjadi milik sang suami!", pikir ibu Aylin.


"Bagaimana kedua orang tuamu nak Jay, apakah mereka juga sudah merestui?", tanya ibu Aylin yang tiba-tiba teringat Aylin yang pernah bercerita kalau ibu Jayden lebih menyukai Maya dibandingkan dengannya.


"Sudah Bu, kedua orang tua saya sudah merestui hubungan saya dengan Lin, apalagi ayah saya dari dulu sangat menyukai Aylin", sahut Jayden yang lebih menonjolkan ayahnya, karena Jayden yakin Aylin pasti pernah bercerita tentang ibunya yang mulanya tidak menyetujui hubungan mereka.


"Baiklah, ibu pasti merestui kalian, nanti kalau Aylin keluar biar kalian berdiskusi dulu".


"Ayo duduk sini!", ujar Jayden sambil menepuk bangku sebelahnya.


Aylin hanya menurut, dengan segera menghampiri Jayden dan duduk di sebelah Jayden.


"kak Jay berkata pada ibumu, kalau kak Jay mau segera melamar Lin. Nanti setelah ayah dan ibu kak Jay pulang dari Singapura", ujar Jayden.


Aylin langsung tertegun mendengar pernyataan Jayden.


"Tapi bagaimana dengan ibu kak Jay?", tanya Aylin bingung.


"Kan kak Jay sudah bilang kalau ibu sudah setuju, Lin juga sudah pernah berjanji pada kakak kalau ibu kak Jay setuju, Aylin bersedia!", ujar Jayden menagih janji pada Aylin, karena dia takut Aylin berubah pikiran.


"Ini Lin baca sendiri saja chat dari ayah kak Jay, kalau Lin gak percaya!", sambung Jayden lagi memberikan handphonenya pada Aylin, agar Aylin membaca sendiri.


Sesudah membaca isi teks nya Aylin hanya terdiam dan tak berkata apa-apa.

__ADS_1


"Lin kenapa? Apakah ada masalah? Kamu tidak senang ibu menyetujui hubungan kita?", tanya Jayden bingung melihat Aylin yang terlihat tidak terlalu senang menerima kabar itu.


" Lin tidak menyangka secepat itu kak", sahut Aylin akhirnya.


"Tapi Lin sudah berjanji pada kak Jay, kalau Lin bersedia kalau kakak mendapatkan restu dari ibu, lagipula ibu Kak Jay juga sudah ingin kakak segera menikah. Bukankah Lin juga tahu itu?", tanya Jayden.


Ibu Aylin yang mendengar percakapan Aylin dan Jayden hanya bisa menghela nafas melihat Aylin yang kadang masih suka ragu-ragu dalam mengambil keputusan.


"Iya kak, Lin tahu. Lin bersedia koq menikah sama kak Jay, Lin hanya sedang berpikir bagaimana nanti kalau bertemu ibu kak Jay, Lin malu", sahut Aylin akhirnya.


Jayden akhirnya menarik nafas lega,


"Ngapain Lin malu sama ibu kak Jay, nanti kan kak Jay pasti temanin Lin saat bertemu ibu, juga ada ayah yang mendukung", ujar Jayden tersenyum.


"Bolehkah Lin bekerja lagi sesudah menikah nanti?", tanya Aylin berharap.


"Tidak boleh!", sahut Jayden.


"Boleh ya kak? Lin suka bekerja di sana!", ujar Aylin merajuk pada Jayden dan menggoyangkan pergelangan tangan Jayden, dia sudah lupa kalau ada ibunya.


"Lin nurut saja sama kak Jay, Lin lihat Cika temanmu yang judes itu saja nurut sama suaminya, disuruh berhenti kerja, berhenti".


Kali ini rayuan Aylin tidak efek lagi.


"Tapi kan Lin nanti seperti Cika, kesepian kalau tidak ada kegiatan. Nanti kalau kak Jay kerja Lin juga suntuk gak ada kerjaan kak", rajuk Aylin lagi.


"Kakak akan memberimu kesibukan, biar gak suntuk", sahut Jayden lagi.


"Kesibukan apa?", tanya Aylin bingung.


"Kamu kan harus melayani kak Jay, dan yang jelas kak Jay akan segera memberimu Jay junior biar Lin tidak kesepian lagi!", sahut Jayden.


Aylin terdiam sejenak, sesudah mencerna kata-kata Jayden, Aylin yang telmi langsung memukul bahu Jayden


"Ih ..kak Jay dasar gak malu!", omel Aylin kali ini sadar kalau ibunya juga ikut mendengarkan pembicaraan mereka.


Sedangkan Ibu Aylin hanya tersenyum mendengar percakapan Jayden dan Aylin.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2