
Sebetulnya Aylin malas menghampiri Lulu, tapi mau tidak mau dia harus menyampaikan pesannya Maya.
Saat dia berdiri di depan Lulu, Lulu menatapnya tajam.
"Ada apa berdiri depanku?" tanya Lulu judes.
"Bu Maya pesan supaya kamu ke ruangannya bawa perbaikan data", jawab Aylin.
"Lain kali kalau ada pesan tulis saja di post it, tempel saja di mejaku", jawab Lulu dengan sombong, seakan memberitahukan ke Aylin kalau dia malas berbicara dengan Aylin.
"Baiklah", jawab Aylin berusaha sabar.
"Huh kamu pikir aku suka ngomong sama kamu? Dasar!", omel Aylin dalam hati, sambil balik ke tempat duduknya lagi.
"Untung yang seperti dia cuman ada satu di kantor!", pikir Aylin lagi.
...********...
Maya sedang duduk termenung di meja kerjanya. Dia sungguh tidak mengerti dengan sifat Jayden.
Jayden kadang baik sama dia, kadang cuek dan tidak perduli.
Seperti kemaren, begitu sampai rumah, Jayden langsung masuk kamar dan tidak keluar-keluar lagi, sampai akhirnya dia pulang diantar Deddy.
Maya masih ingat saat dia kelas 12, Jayden sangat baik dan perhatian padanya, sampai Maya sempat berpikir suatu saat dia pasti akan menjadi kekasih Jayden.
Tetapi sesudah mereka kuliah, Jayden mulai menjauh dan tidak pernah mengajak dia pergi-pergi lagi. Paling hanya sebatas mengantar Maya pulang, itu saja karena kebetulan kos mereka searah.
Bahkan saat dia mengajak Jayden, Jayden lebih banyak menolak.
Maya sempat berpikir kalau Jayden sudah menyukai perempuan lain, tapi ternyata dia tidak pernah melihat Jayden berjalan dengan perempuan manapun bahkan sampai sekarang.
Itulah yang membuat Maya masih berharap Jayden akan menyukainya suatu hari.
Maya juga pernah disukai teman kuliahnya yang bernama Anton, tapi Maya menolak Anton karena dia masih berharap Jayden akan memilih dia sebagai pasangan. Apalagi ibu Jayden juga sangat mendukungnya.
Baru hari ini Maya sadar kalau ada masalah yang tidak beres pada hubungan Aylin dan Jayden.
Dia sering melihat Aylin yang berusaha menghindari Jayden, tapi Maya bisa melihat tatapan mata Jayden yang selalu mengarah ke Aylin.
Apalagi saat terakhir kali dia melihat Jayden memeluk pinggang Aylin, Maya merasa Jayden sepertinya menggunakan kesempatan itu untuk memeluk Aylin, bukan karena takut Aylin terjatuh!
Tapi setahu Maya, Jayden juga bukan pria nakal yang suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
Lamunan Maya langsung buyar saat dia mendengar ketukan pintu.
"Masuk!", perintah Maya.
"Selamat pagi Bu Maya, ini saya bawakan data perbaikan yang Bu Maya minta", kata Lulu sambil menyerahkan flashdisk ke Maya.
"Baiklah, terimakasih Lulu", jawab Maya sambil menerima flashdisk dari Lulu.
Tapi Maya belum pergi juga, malah bertanya penasaran,
"Bu, mengapa ruangan bagian penjualan dipindahkan?"
"Oo kata Pak Jayden ingin ganti suasana saja. Ok kalau tidak ada apa-apa lagi kamu lanjutkan pekerjaanmu", jawab Maya untuk mengakhiri pembicaraan dengan Lulu.
Sebenarnya Maya tidak terlalu suka dengan Lulu, hanya saja Lulu gesit dalam hal pekerjaan.
__ADS_1
Karena Maya tahu, dulu waktu pertama kali bekerja disini, Lulu selalu berusaha mencari perhatian Jayden.
Tetapi Jayden seperti biasa, sama sekali tidak pernah tertarik dengan Lulu, walaupun Lulu termasuk cantik dan suka menggoda.
Begitu Lulu keluar dari ruangan Maya, dia benar-benar merasa kesal terhadap ucapan Maya, Maya sepertinya mengusirnya secara halus.
"Huh sombong sekali dan terlalu percaya diri. Mau kulihat kalau pak Jayden sudah direbut rubah b*tina itu baru tahu rasa. Nangis darahpun sudah percuma", ngedumel Lulu dalam hati, karena dia tidak puas atas sikap Maya padanya.
...********...
"Akhirnya beres juga!", ucap Deddy.
Hari ini Deddy senang sekali, karena baru kali ini dia merasa melakukan pekerjaan yang benar-benar bermanfaat buat bosnya, selain menyetir mobil.
Dan yang jelas pundi-pundi uangnya akan bertambah lagi mulai bulan depan.
Pak Yanto yang dari tadi sudah penasaran, akhirnya mendekati Deddy dan bertanya mengapa Pak Jayden memindahkan ruangan bagian penjualan.
Deddy juga memberikan alasan yang sama seperti yang dia katakan pada Ridwan, tapi khusus pada Yanto dia tambahkan kalau itu alasan umum nya.
"Kalau begitu ada alasan khususnya ya?" tanya pak Yanto tambah penasaran.
" tentu ada....", jawab Deddy tersenyum.
"Apa?", tanya Pak Yanto.
"Maaf aku tak bisa memberitahumu, ini rahasia perusahaan ", jawab Deddy tertawa senang, karena ini memang hobinya, yaitu membuat orang penasaran.
"Dasar!" , maki pak Yanto kesal, dan melangkah pergi meninggalkan Deddy yang masih tertawa senang.
...********...
"Dasar gak setia kawan", omel pak Yanto.
"Ada apa pak?", tanya Desy, karena dia tahu biasa pak Yanto orangnya jarang marah.
Akhirnya pak Yanto juga menceritakan masalahnya pada Desy, setelah mendengar cerita pak Yanto, Desy pun tertawa.
"Ah bapak udah temanan sama Deddy lama gitu koq gak tahu sifatnya yang suka bikin orang penasaran? Lagian mau ngapain kalau kita tahu sebabnya, yang penting bukan ruangan kita yang pindah", jawab Bu Desy bijak.
"Iya ya, betul juga kamu Des", pak Yanto mengangguk setuju dengan jawaban Dessy.
Pembicaraan Pak Yanto dan Dessy juga terdengar oleh Aylin.
Aylin sebenarnya juga bingung dengan perpindahan kantor itu, Aylin sama sekali tidak tahu kalau perpindahan itu terjadi karena dirinya.
"Kak Jay ini memang makin hari makin aneh sifatnya, kayak gak ada kerjaan saja! Dulu dia tidak pernah begitu.
Mengurus hal-hal seperti itu, hanya karena takhayul. Kemaren juga habis marah-marah terus mencium aku seenaknya saja, tanpa merasa bersalah lagi.
Sebisa mungkin aku harus menghindari kak Jay yang sudah gak waras", pikir Aylin dalam hati.
Tetapi Aylin tidak tahu, kadang kalau semakin kita ingin menghindari, malah semakin bertemu.
...********...
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00, Bu Desy segera berjalan keluar.
Bu Desy biasanya jam istirahat makan bersama suaminya di luar karena tempat kerjanya dekat.
__ADS_1
Sedangkan pak Yanto diajak makan oleh Deddy, karena Deddy lagi senang bulan depan gajinya naik.
Kalau Lulu, Aylin tidak tahu sama sekali kegiatannya, yang jelas dari tadi sudah menghilang.
Akhirnya tinggallah Aylin sendirian di dalam ruangan.
Aylin hanya memakan roti karena tidak terlalu lapar.
Sesudah itu dia lanjut memperhatikan layar monitor.
Aylin tekun mempelajari pekerjaannya, karena ia tahu kemampuan otaknya yang agak lambat, jadi dia harus lebih tekun.
Sangking konsentrasinya, Aylin bahkan tidak sadar saat Jayden sudah berdiri di belakangnya.
"Apa yang kamu kerjakan saat jam istirahat?" tanya Jayden.
Aylin tersentak kaget saat mendengar suara Jayden yang begitu dekat. Ketika dia menoleh ke asal suara itu dia begitu kaget ternyata wajah Jayden begitu dekat dengan wajahnya.
Ternyata Jayden sudah membungkuk dan ikut memperhatikan layar monitor Aylin, di samping wajahnya Aylin dengan posisi kedua tangannya menekan pada meja Aylin.
Posisi Jayden yang begitu akrab membuat otak Aylin sama sekali tidak bisa berpikir, bahkan lidahnya terasa membeku tiba-tiba dan tak bisa berkata apa-apa.
Jantungnya juga berdegup kencang, tanpa bisa diatur, yang akhirnya membuat Aylin takut kalau sampai terdengar oleh Jayden.
Akhirnya Aylin hanya bisa meremas tangannya sendiri yang tiba-tiba terasa dingin juga, dengan mata yang masih menatap Jayden bingung.
Yang membuat Aylin lebih kaget lagi, tiba-tiba Jayden menggenggam tangan Aylin dan meremasnya lembut sambil berkata,
"Mengapa sekarang kamu takut padaku? Dulu kamu tidak begitu."
"Aku..aku ..tidak", jawab Aylin tergagap, karena dia tidak menyangka kalau Jayden tiba-tiba bersikap begitu lembut padanya.
Karena suasana mistis ini, Jayden dan Aylin bahkan tidak sadar, saat itu Maya yang datang, melihat kejadian itu.
Maya sempat terhenyak beberapa detik. Tapi seperti biasa, dia dengan cepat menenangkan diri dan berkata kepada Jayden,
"Jayden, Tante menyuruh kamu dan aku ke restoran depan, ada hal penting yang mau dibicarakan",
Maya berbicara seakan-akan dia tidak melihat apa-apa.
Aylin begitu kaget mendengar suara Maya, dia merasa seperti orang yang tertangkap basah berbuat hal yang tidak benar.
Dia segera menarik tangannya dari genggaman Jayden dan menunduk malu tidak berani melihat ke Maya, juga Jayden.
Aylin juga tidak bisa bergerak, karena posisi badan Jayden berada di belakangnya.
Sungguh canggung berada dalam situasi seperti itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Sedangkan Jayden dengan santai baru menegakkan badannya setelah beberapa saat dan menjawab, "baiklah".
Bahkan sebelum keluar berkata pada Aylin,
"Makan yang benar, kamu sudah kurus!"
Aylin benar-benar bingung dan terpana, akhirnya tidak menyadari keadaan sekitarnya.
Dia tidak tahu kalau saat itu Lulu juga ikut melihat kejadian itu dengan hati yang panas.
Bersambung........
__ADS_1