
Sesudah selesai mandi Jayden duduk santai ditempat favoritnya.
Otaknya benar-benar dipenuhi Aylin. Kali ini dia benar-benar sakit kepala. Jayden pusing bagaimana dia harus melawan Denny, kalau yang diingat Aylin hanya sifat jeleknya yang dulu.
Apalagi Jayden ingat kalau dengan Denny, Aylin begitu manis dan menurut.
Teringat itu saja sudah membuat Jayden kesal dan tambah sakit kepala.
Setiap ada masalah, Jayden pasti selalu bisa menemukan jalan keluar.
Tapi entah mengapa kalau masalah yang berhubungan dengan Aylin, dia selalu menemui jalan buntu!
Bahkan tadi seharian dia tidak mau ke ruang minum, agar bayangan Aylin hilang dari kepalanya, malah yang terjadi dia terbayang wajah Aylin terus (Jayden tidak sadar kalau itu yang namanya kangen), akhirnya Jayden makin tidak konsentrasi kerja dan memutuskan pulang cepat.
Bertambah kesal Jayden, saat akan pulang, ibunya menelpon Jayden untuk mengajak Maya juga.
Untungnya saja saat pulang dia bertemu dengan Desy dan Aylin, sehingga setidaknya dia bisa mengobati kerinduannya pada Aylin.
Sedang melamun, tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara ibunya memanggilnya.
Dengan lesu Jayden bangun dari kursi santainya, membukakan pintu untuk ibunya.
Ibunya langsung masuk sambil berkata, "Belum tidur kan Jay?"
"Baru mau Bu", sahut Jayden, karena dia lagi malas bicara.
Tapi kelihatan ibunya tidak perduli, ibu Jayden langsung duduk di bangku yang ada di kamar itu. Jayden akhirnya duduk di sebelah ibunya.
"Jay, kamu tahun ini sudah umur 25 tahun, kamu sudah mapan, seharusnya kamu segera mencari calon istri, biar ada yang mengurusmu. Ibu tidak mau kamu seperti sekarang ini , sama sekali tidak memikirkan pasangan hidup, tiap hari cuman Deddy yang menemanimu ke mana-mana. Dulu kakak-kakakmu saja waktu kuliah sudah punya pacar. Kamu jangan membuat aku dan ayahmu khawatir", ucap ibunya.
"Jangan khawatir Bu, ini aku lagi cari calonnya", jawab Jayden. "Nanti kalau udah dapat, akan saya bawa ke hadapan ayah dan ibu", sambung Jayden lagi dengan santai.
Melihat Jayden menjawab dengan santai, akhirnya ibu Jayden berpikir kalau Jayden hanya asal menjawab saja, hanya untuk menenangkannya saja.
"Kamu jangan bohong, gara-gara cuman mau menyenangkan ibu saja!", omel ibunya mulai kesal.
__ADS_1
"Lho ibu suruh saya cari, sayakan sudah mengiyakan, ibu malah bilang Jayden bohong. Jayden tidak pernah main-main dengan perkataan Jayden , masa ibu tidak tahu sifat Jayden?", tanya Jayden balik, karena mulai terpancing emosinya.
"Sebenarnya calon sudah ada di depanmu, untuk apa kamu cari lagi? harusnya kamu bisa lihat, jangan sampai nanti sudah pergi darimu, baru kamu menyesal di kemudian hari", nasehat ibunya lagi.
Jayden tentu tahu siapa yang dimaksud ibunya.
"Untuk hal yang satu ini biar Jayden yang tentukan sendiri, pokoknya nanti sudah pasti, Jayden akan bawa dia menemui ibu", jawab Jayden dengan tegas, agar ibunya tidak membicarakan hal ini lagi.
Akhirnya ibunya menghela nafas kesal.
"Pokoknya ibu gak mau tahu, dalam waktu dekat kamu tidak bawa calonmu ke hadapan ibu, awas!", ancam ibunya dan beranjak pergi dari kamar Jayden.
Jayden juga menghela nafas kesal, dia benar-benar kesal, sudah otaknya penuh oleh Aylin, malah ibunya suruh dia cepat-cepat cari calon lagi, tambah bikin pusing dan tambah penuh otaknya.
Belum lagi nasehat ibunya, Jayden merasa mengena sekali pada dirinya.
Dulu dia menyia-nyiakan perhatian Aylin dan akhirnya sekarang sesudah hubungannya menjauh, Jayden menyesali semua itu.
Jayden tahu kalau sifat ibunya hampir sama dengannya, kalau keinginannya belum kesampaian pasti Jayden akan didesak lagi.
Sepertinya malam ini dia tidak bisa lagi tidur dengan nyenyak, untungnya besok hari Minggu.
Sebenarnya saat Denny menerima telpon dari Maya, Denny benar-benar marah. Akhirnya hampir seharian senyumnya sama sekali tidak kelihatan.
Denny ingin sekali bertanya pada Aylin tentang Jayden, tapi malah pekerjaannya sedang banyak.
Bahkan tadi dia berjanji untuk menjemput Aylin tidak keburu, akhirnya dia menelpon Aylin untuk pulang sendiri.
Akhirnya sekitar jam 8.00 malam, Denny dari tempat clientnya langsung menuju ke rumah Aylin.
"Kak Denny, ada apa malam-malam?", tanya Aylin begitu membuka pagar pintu.
"Kak Deny ingin mengajakmu keluar, mau ngobrol-ngobrol denganmu Lin", jawab Denny.
"Maaf kak, ibu sudah tidur, sepertinya kurang sehat, sedang pilek", tolak Aylin.
__ADS_1
"Tante sudah ke dokter?", tanya Denny lagi
"Belum kak, kalau besok masih gak sembuh baru ke dokter, kata ibu."
Mendengar jawaban Aylin, Denny mengangguk.
"Kak Denny sudah makan belum, kalau belum Lin masakin nasi goreng?" tanya Aylin, dia sungguh merasa tidak enak pada Denny, karena menolak ajakan Denny dan melihat Denny yang kelihatannya langsung ke rumahnya dari tempat kerja.
Sesudah berpikir sejenak akhirnya Denny mengangguk dan tersenyum, "Boleh juga".
Entah mengapa sesudah melihat perhatian Aylin padanya, rasa marahnya langsung hilang.
Kemudian Denny duduk sambil menunggu Aylin yang sedang menggoreng nasi, lagipula dia ingin mencoba masakan Aylin.
Karena tidak ada yang dilakukan akhirnya Denny berdiri menyender dekat tembok memperhatikan Aylin yang sedang menggoreng nasi dari belakang. Aylin sungguh tidak enak diperhatikan seperti itu, tapi tidak bisa apa-apa.
Untung akhirnya selesai juga, dan Aylin segera menyajikannya di piring, sungguh tidak enak sedang kerja diperhatikan orang pikirnya.
Belum habis berpikir, tiba-tiba Denny memeluknya dari belakang, betapa kagetnya Aylin mendapat perlakuan seperti itu, dan kemudian Denny berkata padanya, "kamu jangan terlalu dekat dengan Jayden, kakak cemburu."
Aylin yang segera sadar, cepat,-cepat menepis tangan Denny yang memeluknya, dan akhirnya pelukan Denny terlepas.
"Kak Denny jangan gitu, nanti kelihatan ibu gak enak. Lin kan sudah bilang Lin akan menjauhi kak Jay, walaupun kak Denny tidak meminta."
Menjawab seperti itu, sepertinya Aylin ingin menjelaskan dia menjauhi Jayden bukan karena Denny yang cemburu.
Sesudah itu Aylin segera menghidangkan nasi gorengnya di meja, dan mempersilahkan Denny untuk makan. Aylin juga menyiapkan minum untuk Denny, kemudian Aylin juga duduk menemani Denny yang sedang makan, seakan-akan tidak ada terjadi apa-apa.
Akhirnya mereka hanya ngobrol biasa saja, dan Denny juga sudah tidak membicarakan kejadian tadi lagi, dia hanya bercerita tentang kerjaannya yang mendadak, sehingga tidak bisa menjemput Aylin tadi.
Aylin bisa bernafas lega sesudah Denny pamitan pulang dan mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih ya, sudah masakin buat kak Denny, rasanya benar-benar enak", puji Denny
"sama-sama kak", jawab Aylin dengan sopan.
__ADS_1
"Kak Denny ingatin sekali lagi, jangan terlalu dekat dengan kak Jay, karena akan membuat orang salah sangka. Tadi kak Maya menelpon kakak untuk menegurmu", ucap Denny sebelum masuk ke mobil.
Aylin hanya mengangguk mendengar perkataan Denny.