
"Baik kak, Lin merasa cocok kerja di sana kak", sahut Aylin akhirnya, Aylin berusaha bersikap wajar pada Denny, karena bagaimanapun Denny dulu sudah banyak membantunya dan baik padanya.
'Kakak bagaimana dengan programnya?", tanya Aylin untuk mengatasi kecanggungan antara mereka.
"Baik, ramai orderan. Ini habis kerjain program di tempat Dimas bekerja, makanya bisa ke rumah Dimas. Ternyata Dimas mau banggain punya rumah yang bagus", ujar Denny tersenyum , berusaha mencairkan suasana yang kaku itu.
Cika dan Dimas akhirnya bisa menarik nafas lega, mereka bersyukur ternyata Denny yang pintar bergaul itu bisa dengan cepat mengatasi kecanggungan antara dia dan Aylin.
"Huh..Aylin ini memang bebal, pada akhirnya tetap memilih Jayden yang dulu sudah pernah mengecewakannya. Coba kalau aku yang jadi dia, aku pasti memilih Denny, yang sabar dan penuh senyum itu.
Juga gak kalah ganteng sama kak Jaynya itu!", pikir Cika hanya dalam hati, tentu tidak berani mengatakan pada Aylin.
Ketika jam hampir menunjukkan pukul 18.00, Cika pun mengajak Aylin dan Denny untuk makan malam di tempat nya.
" Maaf ka, aku nanti sebentar lagi dijemput Kak Jay, kami sudah janjian untuk makan malam bersama", ujar Aylin
"Aku juga tidak bisa makan disini Cika, aku sudah janjian makan bersama teman-temanku. aku pulang dulu, lain kali aku pasti main ke rumah kalian lagi ", ujar Denny tersenyum.
"Terimakasih Den, sudah mau mampir ke rumahku", ujar Dimas.
"Aku yang harus berterimakasih karena kamu sudah mau mengundangku ke rumahmu", ujar Denny.
Akhirnya Cika dan Dimas mengantar Denny sampai di depan rumah, Aylin yang merasa tidak enak juga ikut mengantar ke depan, bahkan melambaikan tangan pada Denny sebelum Denny menjalankan mobil, seperti kebiasaannya dulu setiap mengantar kepulangan Denny.
Denny juga membalasnya, setelah itu menaikkan menaikkan kaca mobil. Di dalam mobil Denny masih sempat menatap wajah Aylin,
"Sayang sekali, kamu tidak ditakdirkan untuk mendampingiku. Harusnya 5 tahun waktu yang cukup buat aku mengejar cintamu, tanpa ada kehadiran Jayden.
Tapi aku tetap tidak bisa membuat kamu mencintaiku. Sekarang aku sudah harus benar-benar menghilangkan perasaanku itu!" ujar Denny menghela nafas, sambil menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Aylin yang sedang menatap kepergian Denny terkejut karena tiba-tiba ada yang memanggil namanya, tampak Jayden datang menghampirinya dari belakang
Entah sudah berapa lama Jayden berada di sini, pikir Aylin mulai khawatir, teringat sifat Jayden yang posesif itu.
...********...
#Flashback saat Jayden berada di perusahaan#
__ADS_1
"Bos koq balik lagi ke perusahaan? bukankah tadi bos bilang kalau ada apa-apa tanya Bu Maya, karena bos sudah tidak kembali lagi?", tanya Deddy sekretarisnya
'Aku kan bos di sini. aku mau mau pergi atau mau kembali ke sini, suka-suka aku. kenapa kamu harus bingung? ", tanya balik jayden yang hatinya masih kesal karena Jayden mengira Aylin sepertinya menyembunyikan hubungan mereka dari temannya Cika.
"Iya juga ya Bos", sahut Deddy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah.. mood-nya si bos kayaknya jelek lagi, sebaiknya aku jaga mulutku kalau tidak mau diomelin", pikir Deddy dalam hati.
Sesudah meletakkan kunci mobil dan handphonenya di ruangannya, Jayden langsung keluar dari ruangannya menuju ke tempat produksi untuk memeriksa mesin yang tadi pagi dia betulkan.
Sesudah selesai memeriksa mesinnya dan kondisi mesinnya sudah bagus, Jayden tanpa sadar melihat ke jam tangannya lagi.
"Huh, kenapa jam jalannya lambat sekali", sungut Jayden yang sudah tidak sabar menunggu jam menunjukkan pukul 17.30, agar dia bisa segera menjemput Aylin lagi dari rumah Cika.
Jayden sungguh merasa tidak puas sesudah seminggu, waktunya bersama Aylin berdua hanya sedikit.
Sesudah menjelaskan kondisi mesinnya pada Chandra, Jayden langsung kembali ke ruang kerjanya lagi.
"Pak Jayden ini makin hari makin aneh saja, dari tadi periksa mesin koq tidak tenang banget sih? Lihat jam terus!", pikir Chandra penasaran, sambil memandang kepergian bosnya itu.
Begitu sampai di ruangan, Jayden langsung disambut Deddy dengan laporan,
Jayden memang meninggalkan handphonenya di ruangan saat memeriksa mesin, agar tidak mengganggu geraknya.
Jayden tentu merasa girang karena dia mengira yang mengirim pesan adalah Aylin. Dia berharap Aylin menelpon nya untuk menjemputnya lebih cepat.
ternyata yang mengirim pesan ke handphonenya bukanlah aylin, tetapi ayahnya.
**Jay misi ayah berhasil. Ibu sudah menyetujui hubunganmu dengan Aylin, kamu persiapkan saja untuk membawa Aylin menemui ibumu**
Tentu Jayden merasa senang dengan pesan yang disampaikan ayahnya itu dan segera membalas pesan ayahnya.
**Terimakasih ayah, ayah memang benar-benar hebat membujuk ibu**
Karena pesan tersebutlah, yang akhirnya membuat Jayden semakin tidak sabar menunggu waktu untuk menjemput Aylin.
Akhirnya Jayden berangkat ke rumah Cika lebih cepat.
__ADS_1
"biar kutunggu Aylin sampai jam 18.00 saja, biar dia puas bertemu Cika", pikir Jayden, yang memarkir mobilnya tidak di depan Cika, agak di belakang. Karena di depan rumah Cika sudah ada mobil yang parkir.
Jayden yang otaknya sedang memikirkan Aylin tidak sadar kalau itu adalah mobil Denny, dia sadar sesudah melihat Aylin keluar dari dari dalam bersama Cika, Dimas dan Denny.
Namanya bukan Jayden kalau tidak cemburu, apalagi saat melihat Aylin melambai saat kepergian Denny.
"Heran ngapain melambaikan tangannya pada Denny, nanti Denny dibuat suka lagi!", gerutu Jayden dalam hati.
Jayden cemburu bukan karena curiga, Jayden cemburu apabila Aylin bersikap baik dan perhatian pada orang lain.
Kalau menuruti keinginan hatinya, Aylin hanya boleh memperhatikan dia saja.
"Awas ya kamu, sudah perhatian sama orang lain, aku malah dilupain. Akan kak Jay hukum kamu nanti!", pikir Jayden kesal lagi.
Setelah mobil Denny melaju pergi dari situ, Jayden baru turun dari mobil menghampiri Aylin dan memanggilnya.
...********...
"Kak Jay..", sahut Aylin yang kaget dengan agak tergagap.
"Halo Dimas, Cika apa kabar?", sapa Jayden tersenyum.
Cika sampai tertegun mendengar sapaan dan senyum Jayden yang mahal itu.
"Hebat juga, kalau ada maunya sifatnya bisa berubah 180 derajat", pikir Cika hanya di dalam hati yang tetap berpikiran negatif pada Jayden.
"Apa kabar Jay?, mau jemput Lin ya", sahut Dimas ramah seperti biasa.
"Iya, maaf ya Dimas saya sudah tidak mampir lagi, lain kali saya mampir sama Lin", ujar Jayden lagi.
Cika benar-benar terkesima dengan Jayden yang ucapannya sopan sekali.
"Wah sekarang malah seperti bunglon, bukan beruang kutub lagi", pikir Cika dalam hati, dan melirik penuh tanda tanya ke Aylin.
Sedangkan Aylin yang dilirik Cika tidak sadar, otaknya sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Aduh kak Jay koq tiba-tiba berubah banget. Ada apa ini? Habislah aku kali ini!", pikir Aylin yang semakin cemas, karena sifat Jayden yang tidak biasanya.
__ADS_1
Aylin akhirnya hanya bisa mere**s-re**s tangannya sendiri.
Bersambung........