Loving You

Loving You
Tidak sanggup mengejar langkahmu


__ADS_3

"Siapa menelponmu, koq bisa sampai begitu senang?"


Akhirnya Jayden yang penasaran dan cemburu mendatangi Aylin di ruangannya


Aylin langsung tersadar dari lamunannya, ternyata Jayden sudah berdiri di hadapannya, dengan kedua tangannya dilipat di dadanya.


"Cika", sahut Aylin pendek, karena masih kaget dengan kemunculan Jayden yang tiba-tiba.


"Kamu pasti belum makan siang, ayo temanin kak Jay makan siang bersama!", ajak Jayden


"Sudah kak, Lin membawa bekal dari rumah", jawab Aylin berbohong.


"Lin jangan bohong, masa baru jam berapa sudah selesai makan, apalagi mendapat panggilan masuk. Kapan kamu makannya?", tanya Jayden yang tidak langsung percaya dengan penolakan Aylin, Jayden tahu kalau Aylin selalu berusaha menghindarinya.


Sesudah terdiam sejenak, Aylin menjawab lagi, "Cepat kak, soalnya Aylin makan roti saja". dalam hatinya "koq tahu aja kalau bohong?"


"Masa makan siang, cuman makan roti? Ayo makan bareng kak Jay, nanti sakit!".


Ternyata memang sulit sekali untuk menolak kemauan Jayden.


"Gak usah kak, Lin sudah kenyang", sahut Aylin lagi tetap pada pendiriannya.


"Sudah digosipin jadi simpanan, terus kalau kelihatan makan bareng lagi bisa digosipin apalagi nih!", pikir Aylin dalam hati kesal dengan Jayden yang tidak tahu situasi dan suka memaksa itu.


Baru Jayden ingin bicara lagi, muncul Maya dan ibu Jayden di pintu masuk ruangan marketing.


"Jayden, ayo makan siang bersama!", ajak ibu Jayden.


Aylin akhirnya menarik nafas lega, setidaknya Jayden tidak memaksanya lagi untuk menemani Jayden makan siang.


"Enak saja, aku cuman mau dijadiin cadangan kalau lagi gak ada yang temanin dia, untung gak kepancing", pikir Aylin yang sekarang selalu berjaga-jaga, karena mencurigai sikap Jayden yang berubah-ubah terus.


Apalagi setelah dia mendengar nasehat Cika, supaya dia lebih berhati-hati. Sepertinya nasehat dari Cika selalu tergiang-giang di telinganya. Aylin jadi punya prinsip "Sakit hati cukup sekali, jangan sampai dua kali. Sedangkan satu kali saja masih sakit sampai sekarang".

__ADS_1


Aylin sudah merasa tenang, tiba-tiba Jayden berkata ,"Ayo Lin, katanya belum makan?"


Yang langsung disambung ibu Jayden, "Ayo, kalau begitu Aylin ikut juga ya, makin ramai tante makin suka".


Jayden pun tersenyum menang, sedangkan Aylin hanya bisa menatap kesal ke Jayden. Mau tidak mau dia harus ikut, kalau tidak mau memperpanjang masalah.


Maya langsung terdiam mendengar perkataan ibu Jayden.


Karena ibu Jayden ingin Jayden lebih akrab dengan Maya, Ibu Jayden langsung menggandeng tangan Aylin dan ngobrol dengan Aylin sambil berjalan ke restoran langganannya.


Jayden yang berjalan berdampingan dengan Maya hanya bisa menarik nafas kesal, melihat ulah ibunya.


Maya tentu senang karena ibu Jayden selalu mendukungnya.


"Bu jalannya pelan dikit, Aylin kakinya terkilir", ujar Jayden memberitahu ibunya.


"Oo, maaf Lin, tante gak tahu", ibu Jayden yang dasarnya kurang peka, baru sadar kalau Aylin jalannya agak tertatih-tatih.


"Gak pa pa Tante, udah gak sakit koq", sahut Aylin merasa canggung berada di antara ketiga orang itu.


"Heran dari dulu sifatnya gak berubah sampai dewasa, mencari perhatian Jayden dengan berlagak sakit. Jayden juga bisa-bisanya ditipu. Memang hebat cewek satu ini, paling pintar menarik perhatian laki-laki dengan kelemahannya",


pikir Maya dalam hati kesal.


Maya teringat waktu jaman sekolah, Aylin memang suka mencari perhatian Jayden dengan berlagak sakit. Entah sakit perut, entah sakit kaki, pokoknya ada-ada saja, saat dia sedang berdiskusi pelajaran dengan Jayden, dengan tujuan cuman minta diantar pulang Jayden, padahal waktu itu Aylin punya sopir pribadi.


Seperti biasa, kalau setiap makan bersama, ayah Jayden sudah di restoran untuk memesan makanan terlebih dahulu, agar tidak terlalu lama menunggu makanan disajikan. Karena saat jam makan siang, restoran ini memang selalu ramai pengunjung.


"Bagus, Aylin juga ikut makan. Ayo duduk sini, samping om", ujar ayah Jayden saat melihat Aylin juga ikut makan bersama.


Aylin juga merasa senang melihat ayah Jayden juga ikut.


Aylin dulu memang lumayan dekat dengan ayah Jayden karena sifat ayah Jayden yang ramah dan suka bercanda.

__ADS_1


Jayden segera duduk di samping Aylin, akhirnya ibu Jayden mengalah berjalan memutar untuk duduk di samping ayah Jayden, agar Maya bisa duduk di samping Jayden.


Sambil menunggu makanan disajikan, seperti biasa ibu membahas masalah perusahaan dengan Jayden dan Maya.


Aylin hanya mendengarkan saja dan tidak begitu mengerti.


Akhirnya Aylin masuk dalam pikirannya sendiri, dia baru sadar ternyata perbedaannya dengan Jayden terlalu jauh.


Dia bahkan tidak mengerti tentang manajemen perusahaan, export import dan hal-hal lainnya yang sedang dibahas Maya, Jayden dan ibunya.


"Pantas saja aku selalu kalah dengan kak Jay kalau bicara, level otakku dan kak Jay terlalu jauh. Tidak seperti kak Maya yang selalu bisa mengikuti , membahas apapun bisa mengerti", pikir Aylin yang benar-benar kagum dengan kehebatan otak Maya, yang sekaligus membuatnya bertambah rendah diri.


Akhirnya makanan yang ditunggu datang juga. "Ayo mulai makan, jangan bicarakan masalah pekerjaan lagi", ucap ayah Jayden.


Makanan yang disajikan memang mengunggah selera, tapi entah mengapa nafsu makan Aylin sudah hilang sejak tadi.


Mungkin karena pikirannya yang melantur ke mana-mana yang membuatnya sedih menyadari kekurangannya.


Alhasil Aylin dari tadi hanya menunduk dan mengaduk-aduk makanannya. Dia tidak sadar kalau Jayden dari tadi memperhatikan kelakuannya.


"Ayo cepat dimakan!", ujar Jayden sambil menyendokkan brokoli yang disiram mayonaise ke piringnya. Aylin sempat tertegun, ternyata Jayden masih ingat dengan makanan kesukaannya itu.


Maya yang di samping Jayden sungguh kesal melihat Jayden yang begitu perhatian pada Aylin.


Ayah Jayden juga bingung melihat kelakuan Jayden yang penuh perhatian pada Aylin, seingatnya Jayden tidak pernah perduli pada siapapun biasanya.


"Apakah Jayden benar-benar menyukai Aylin?", pikir ayah Jayden dalam hati.


Kalau ibu Jayden seperti biasa, walaupun sedang makan masih bisa menanyakan masalah keuangan perusahaan ke Maya. Maya yang perhatiannya terpecah dua, untung masih bisa menjawab pertanyaan ibu Jayden.


Untung akhirnya Aylin bisa menghabiskan isi piringnya, dan Aylin bisa menarik nafas lega ketika acara makan yang membuat suasana canggung itu berakhir juga.


Tapi setidaknya dari acara makan siang bersama ini, semakin membuat dia tidak menyesali lagi kalau keinginan dia dulu untuk memiliki Jayden tidak kesampaian. Hari ini akhirnya dia tahu kalau dia memang bukanlah pasangan yang tepat buat Jayden, terlalu banyak perbedaan di antara mereka, apalagi sejak keluarganya bangkrut.

__ADS_1


Sepertinya dia tidak akan pernah sanggup mengikuti langkah Jayden, apalagi mengejar langkah Jayden.


__ADS_2