
Jayden berjalan balik ke ruangannya. Sudah banyak juga staff perusahaan yang sudah datang. Beberapa karyawan yang berpas-pasan dengan Jayden, menyapa Jayden hormat.
Karena mood Jayden sedang jelek dia sama sekali tidak menghiraukan sapaan itu, dia bergegas masuk ke ruang kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya dengan kesal.
"Semoga hari ini gak ada Meeting", kata pak Yanto bagian kepala marketing kepada asistennya, Desy.
Karena biasanya divisi yang paling sering mengadakan meeting adalah bagian marketing, bagaimanapun bagian penjualan tetap menjadi roda utama suatu perusahaan, dan pak Yanto merasa sudah lama sekali tidak ada meeting.
"Suasananya bisa horor", sambung pak Yanto lagi.
Mendengar perkataan atasannya, Desy hanya mengangguk setuju.
Ternyata yang kena duluan adalah Deddy, Deddy yang baru datang, dan baru masuk ke ruangan Jayden langsung disemprot.
"Sudah jam berapa? Koq baru datang? Sudah tidak jemput, datangnya masih siang lagi!", omel Jayden masih kesal.
Deddy yang dari kemaren sudah resah dengan posisinya, semakin resah saat diomelin Jayden.
"Aduh, serba salah, sendiri yang tidak mau dijemput, aku yang kena. Gue datang pagi-pagi juga ngapain, gak ada yang dikerjain, nanti dibilang tukang gosip lagi.Yang penting kan on time. Kayanya tamat deh riwayatku hari ini", pikir Deddy dalam hati.
Deddy diam saja, tidak menjawab kemarahan bosnya, bagaimanapun dia sudah tahu sifat bosnya, lebih baik diam saja, saat bosnya sedang marah.
Memang kemarahan Jayden tidak memerlukan jawaban, Jayden hanya melampiaskan kekesalannya saja.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya Jayden menyuruh Deddy untuk memanggil pak Yanto, kepala marketing mereka.
Deddy pun menarik nafas lega,
"Ah Sudah ada yang menggantikanku", pikir Deddy senang dan merasa lega, untuk sementara dia selamat.
Dengan semangat Deddy keluar dari ruangan Jayden, dan menuju ketempat pak Yanto untuk memanggil pak Yanto.
Pak Yanto yang dipanggil merasa cemas juga.
"Ada apa ya, Ded?", tanya Yanto yang lumayan akrab dengan Deddy , sambil berpikir apakah dia ada melakukan kesalahan.
Deddy menaikkan bahunya sambil berkata,
"Gak tahu juga, tapi yang jelas suasananya mencekam", menakuti Yanto.
__ADS_1
Yanto hanya bisa pasrah dan berjalan menuju ruangan Jayden.
Sesudah mengetuk pintu, Yanto melangkah masuk dan langsung bertanya ,
"Bapak memanggil saya? ada apa pak?"
"Hari ini akan ada staff baru di divisi kamu, kata ibu tempatmu kurang orang. Ibu yang memasukkannya ke sini, jadi nanti minta bagian HRD mengurus prosedurnya. Walaupun yang memasukkan ibu, kalau nanti sudah mulai bekerja, ada kesalahan atau apapun lapor ke aku", jawab Jayden tegas.
"Baik pak", jawab pak Yanto lega.
" Huh Deddy ini nakut-nakutin aku saja, dasar!" pikir Yanto dalam hati.
Sebelum pak Yanto keluar, Deddy masuk lagi dan melaporkan ,
"Bos, Bu Aylin sudah datang".
"Serahkan saja ke pak Yanto, dia masuk ke divisinya pak Yanto, nanti biar pak Yanto yang mengurusnya saja," jawab Jayden.
"Baik pak, saya akan mengurusnya. Saya kembali dulu" , jawab pak Yanto sopan.
Jayden hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Kemaren katanya suka sama Aylin, kenapa hari ini sifatnya dingin begitu? cocok juga dipanggil Dewa Es. Ah, tapi gak perduli, yang penting posisiku untuk sekarang ini masih aman", pikir Deddy dalam hati, Karena dia berpikir sambil melamun, dia tidak sadar kalau dia sedang menatap bosnya itu.
"Ngapain lihat aku terus? Gak ada kerjaan ya? Ayo kita ke Frame!", perintah Jayden, mengomel ke Deddy.
"Iya bos", jawab Deddy cepat-cepat mengambil kunci mobil di meja dan berjalan keluar dari ruangan yang mencekam itu. Dia harus gerak cepat, sebelum diomelin lagi.
Saat Jayden berjalan keluar dia sempat berpas-pasan dengan Aylin yang sedang berjalan beriringan dengan pak Yanto menuju ruang HRD, Jayden sempat berhenti menatap Aylin sebentar, tapi sesudah itu Jayden langsung berjalan keluar tanpa berkata apa-apa.
"Tuh kan, lebih aman disini, kak Jay sama sekali gak perduli sama aku, dia juga gak bisa ngerjain aku, aku bukan sekretarisnya", pikir Aylin menenangkan dirinya sendiri, padahal dia merasa sedih juga dicuekin Jayden. Dan dia merasa keputusannya untuk segera bekerja sudah benar.
Aylin merasa senang mendapatkan atasan seperti pak Yanto. Pak Yanto berusia sekitar 50an, dan orangnya sifatnya kebapakan.
Dia yang membantu Aylin untuk mengurus data-data Aylin di bagian HRD. Sesudah selesai di bagian HRD Aylin dibawa ke meja kerjanya.
Aylin duduk di sebelah Desy asistennya pak Yanto.
Desy juga sangat ramah, Desy berusia sekitar 35an, dan sudah mempunyai 2 anak. Anaknya sekarang diurus ibunya, cerita Desy ke Aylin.
__ADS_1
Sedangkan yang di ujung Lulu, tadi sempat kenalan, lumayan cantik rambutnya sebahu, mungkin umurnya hampir sama dengan Aylin.
"Sama sekali tidak ada ramahnya", pikir Aylin dalam hati.
"Tapi gak pa pa, ada Bu Desy dan Pak Yanto yang baik", pikirnya menghibur diri sendiri.
Aylin yang polos dan tidak berpengalaman tidak tahu kalau Lulu iri padanya yang cantik, apalagi setelah tahu Aylin masuk lewat koneksi.
Lulu kesal karena semua sales mulai memperhatikan dan mengincar Aylin yang rupawan.
Karena bagian sales kebanyakan cowok yang statusnya masih jomblo. Bahkan Ridwan sales supervisor yang merupakan incaran Lulu, dari tadi mencuri pandang terus ke Aylin.
Tentu saja Lulu jadi tidak suka pada Aylin, apalagi selama ini dia yang selalu menjadi perhatian para sales itu dan sekarang mendadak punya saingan.
"Bisa-bisa para sales itu gak keluar cari order, malah betah di kantor", sesal pak Yanto, karena Aylin yang cantik itu cukup membuat para Jomblo itu menjadi betah di kantor.
Bu Desy yang kebetulan lewat mendengar gerutuan atasannya berkata sambil tersenyum,
"Biarkan saja pak, kaya gak pernah muda saja. Nanti big bos kalau balik, semuanya juga hilang."
"Iya juga, tapi aku benar-benar salut sama big bos kita yang gak pernah tergoda cewek cantik", lanjut pak Yanto malah bergosip dengan asistennya.
"Kalau enggak gitu, gak mungkin dipanggil Dewa Es dong sama bagian produksi", jawab Desy tersenyum.
Aylin tidak mendengar percakapan kedua seniornya itu, dia sedang memperhatikan kertas yang diberikan Bu Desy padanya untuk dipelajari.
Yang jadi bahan gosip sedang dalam perjalanan menuju Frame. Frame adalah perusahaan baju jadi yang didirikan Jayden sendiri. Karena hatinya sedang kesal akhirnya dia memilih menghindari Aylin, dari pada nanti mulutnya yang tidak bisa direm membuat Aylin sakit hati lagi.
Jayden menarik nafas kesal, karena jalanan macet.
"Apa gak ada jalan alternatif lain, koq lewat sini sih! sudah lama, macet lagi", protes Jayden.
"Biasa lewat sini gak macet bos, gak tau kenapa hari ini macet bos", jawab Denny sabar, tapi dalam hatinya menggerutu, "tinggal duduk diam saja ribut, yang bawa mobil saja sabar. Susah kalau bos lagi marah, serba salah! hari ini pasti sudah susah melewati hari".
Untung tidak lama kemudian mereka sudah sampai di Frame. Deddy menarik nafas lega, sedangkan Jayden langsung berjalan ke dalam, tanpa berkata apa-apa lagi.
"Selamat aku untuk sementara ini, semoga saja di Frame gak ada yang berbuat salah, bisa habis mereka", pikir Deddy dalam hati.
Bersambung........
__ADS_1